Pria berkacamata hitam itu berjalan kearah kedua wanita yang tengah berpelukan didepannya. Hawa diluar cukup panas, membuatnya membuka 2 kancing dibagian atas kemejanya. Dengan perpaduan celana bahan yang melekat sempurna dibadan atletis miliknya membuatnya terlihat begitu menggoda dipandang mata.“Jadi ada acara apa ini? Mengapa kalian tak mengundangku kedalam pelukan kalian?” kata Alex seraya merentangkan kedua tangannya hendak memeluk kedua wanita itu.
“Sudahlah, gerah diluar. Ayo masuk kedalam.” Nasya menghindar seketika dari pelukan Alex. Dia menggeleng-gelengkan kepala, heran dengan tingkah dokter didepannya ini. Kelakuannya bahkan tak mencerminkah kewibaaan seorang dokter.
“Hei.. Hei.. Mau kemana? Come to Papa Alex, Nasya..!” Alex tertawa melihat reaksi Nasya. Selalu sama seperrti biasanya, lalu menyenggol bahu Lita.
Lita hanya tertunduk lesu, masih tersisa bulir air mata dipipinya, dia tak ingin Alex melihatnya atau dia akan tahu semua masalahnya, bahwa dia dan Rey akan segera bercerai.
“Kamu nangis, Lit?” Alex yang sejak tadi tidak begitu memperhatikan Lita, menangkap sesuatu yang berbeda dimata Lita. Dia sedang menyembunyikan sesuatu.
“Hanya sedikit perih kena debu, Lex. Jangan khawatir.” Lita segera menghapus sisa air matanya. Lalu tersenyum kearah Alex. Menampakan barisan gigi yang rapi dan putih bersih.
“Sungguh?’ Alex sedikit ragu dengan wanita yang ada dihadapannya itu.
“Hmm, ya.. Aku baik-baik saja, Alex.” Jawab Lita dengan cepat agar kecurigaan Alex padanya tak bertambah parah,”Ayo masuk! Panas diluar sini” ajak Lita seraya berdiri beranjak meninggalkan Alex.
Alex merasa ini bukan hal yang biasa. Wanita itu seperti sudah kehilangan cahaya hidupnya. Dia sudah tidak bersinar seperti dulu lagi. Wajahnya muram. Alex terus berpikir, mencari dimana letak kesalahan itu sehingga memadamkan semangat seorang Jelita sampai seperti ini.
“Lita, Aku melihat Rey bersama dengan seorang wanita di poli kandungan beberapa hari yang lalu.” Lita menghentikan langkahnya, lalu berbalik mendekati Alex.
“Biarkan saja. Itu bukan urusanmu, Alex!” Lita berkata dengan pelan namun menekan.
Alex mengerutkan dahinya, lalu memijit-mijit pelipisnya. Dia merasakan ada yang semakin mengusiknya disini. Mengapa Lita bersikap seperti ini padahal sebelumnya Lita tidak pernah bersikap dingin seperti sekarang, terlebih lagi padanya.
“Aku hanya peduli padamu, Lita. Dia suamimu. Aku merasa perlu untuk menyampaikan itu padamu.”
“Aku tahu kalau Rey mempunyai wanita lain. Aku tahu itu, Alex. Jadi tidak perlu lagi kamu repot-repot datang padaku kalau hanya ingin mengatakan tentang hal itu.” Lita membalikan badan lalu beranjak masuk kedalam toko Nasya.
Tinggalah Alex yang masih bingung bergelut dengan pemikirannya sendiri.
‘Dia sudah tahu bahwa Rey ada main dengan wanita lain, tapi mengapa dia merespon biasa saja? Ada yang tidak beres dengan semua ini’ batin Alex bergejolak. Dia sungguh tidak akan tinggal diam jika Lita disakiti seperti ini.
******
10tahun yang lalu
Alex bersama mahasiswa yang lainnya berjalan terburu-buru menuju lapangan kampus. Ada hal seru pagi ini. Lapangan kampus seluas setengah gelora bung karno itu dihias sedemikian rupa cantiknya, penuh dengan bunga mawar. Disana sudah penuh dengan mahasiwa lainjuga yang sama ingin tahunya dengan Alex.
Gadis-gadis berdecak kagum, membayangkan bahwa salah satu dari mereka yang akan menerima bucket bunga mawar merah dari pemuda yang berdiri ditengah-tengah lapangan. Rey, pemuda gagah, dengan kaos warna hitam dan celana jeans tak lupa rambutnya disisir kebelakang dengan rapih semakin memantapkan ketampanan pemuda itu.
Lita dan Nasya pun tak ingin melewatkan momen yang menghebohkan seiisi kampus mereka pagi itu. Mereka berdua menyusul langkah lebar Alex dengan tergesa-gesa.
“Alex… kenapa sih?” Tanya Nasya sambil mengatur nafas.
“Itu, Rey kan? Temen kamu.” Tunjuk Alex pada pemuda ditengah lapangan.
“Ya Tuhan! Ngapain itu anak satu disana. Bukannya dia lagi dekat sama kamu, Lita?” Nasya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah temannya ditengah lapangan.
Sedangkan disebelahn Nasya, perasaan Lita menjadi tidak karuan. Dia merasa sangat dipermainkan oleh Rey. Rey tidak pernah mengatakan kalau dia mencintai ataupun menyayanginya. Dan sekarang dia melihat Rey menyiapkan semua ini. Untuk siapa?
‘Apa ini, Rey?! Tentunya bukan untukku kan?’ Lita membatin, kepalanya tertunduk. Tangannya bergerak meraba dadanya sendiri, ada perasaan kecewa dan hampa didalam sana. Dia kecewa. Sangat kecewa pada pemuda tampan yang berdiri ditengah lapangan itu.
Bahkan seminggu terakhir Lita tak pernah menerima telpon ataupun sms dari Rey.
“Lit, ini buat kamu mungkin…” senggol Nasya pada bahu temannya. Dia melihat kekecewaan didalam raut wajah Lita.
“Bagaimana bisa, kami sudah seminggu tak pernah berkomunikasi, bahkan satu sms pun tak ada.” Lita menunduk lesu lalu membalik badannya.
Rey menangkap sekelebat bayangan Lita disisi kanan dirinya. Berjalan membalikan badannya, bergerak menjauh dari kerumunan dan menghilang dari pandangan Rey. Rey juga melihat Nasya yang tengah meletakan telunjuk didepan jidatnya. Mengarahkannya kepada Rey. Tingkah Nasya itu hanya ditanggapi senyuman oleh Rey.
Secepat kilat, segera Rey meraih microphone disampingnya yang memang sudah dia siapkan sebelumnya. Rey harus secepatnya bertindak sebelum Lita benar-benar pergi dari lapangan kampus dan semua yang telah dia siapkan ini akan menjadi sia-sia. Hal ini membuat semuanya yang ada disana riuh dengan sorakan, teriakan dan tepuk tangan. Membuat para gadis sekarang semakin melebarkan senyumnya. Berharap-harap cemas bahwa namanya yang akan dipanggil oleh anak pengusaha terkenal itu.
“Jelita Najla Halim. Tolong, berhenti ditempat kamu.” Kata Rey, membuat teriakan dan sorak sorai semakin riuh. Rey mengulangi lagi ucapannya,”Jelita Najla Halim, please stop..”
Lita menghentikan langkahnya, dia berbalik badan kearah datangnya suara. Itu Rey. Dia memanggil namanya. Apa ini berarti bahwa semua yang dia saksikan saat ini adalah untuk dirinya?
Disamping Lita, berdiri Nasya yang menggeleng-gelengkan kepalanya beberapa kali kearah Rey. Dia hampir tak percaya dengan semua ini. Dia merasa bahwa temannya itu sudah benar-benar penuh dengan kejutan gila, melakukan semua ini hanya untuk menyatakan rasa cinta, bukan melamar. Apa boleh buat kalau memang anak orang kaya, semua hal bisa saja dia lakukan.
Alex pun sama dengan Nasya, seakan tak percaya dengan yang dia lihat sekarang. Dia memandang Lita yang tepat berada disampingnya dengan mata panas,”Kamu berhubungan sejauh ini dengan Rey, Lit?”
“Iya gitu deh, kami memang dekat tapi aku tak percaya dia melakukan ini untukku, Lex…” kata Lita berbisik pada Alex. Bibirnya tak berhenti menyunggingkan senyum dengan pandangan mata terus tertuju pada Rey yang berjalan semakin mendekat kearahnya.
Hatinya sungguh berbunga-bunga. Ada perasaan senang, kaget dan terharu menjadi satu. Hal yang tadinya dia piker tak mungkin, nyatanya memang untuknya.
Setengah mata penonton tertuju pada Rey yang tengah berjalan gagah menuju pada Lita, dan setengahnya lagi tertuju pada gadis berkulit putih bersih yang mengenakan dress selutut warna kuning pucat. Wajahnya bersih dengan rona merah alami dipipi. Rambutnya hitam tebal dan dikeriting dibagian bawah. Tubuhnya langsing tinggi semampai. Hidung mancung, deretan gigi rapi dengan bibir sensual yang selalu menyunggingkan senyum kearah Rey. Benar-benar pasangan yang sempurna.
Rey berhenti tepat dihadapan Lita,“Jelita Najla Halim, maaf aku membuatmu kaget. Semua ini aku lakukan untuk kamu.” Rey berada tepat didepan Lita. Matanya menatap lekat kearah gadis cantik yang ada didepannya.
Riuh suara membahana disetiap sudut kampus, semua menyoraki adegan penuh emosi yang sedari tadi ditunggu-tunggu akhirnya dimulai.
Sedangkan mata Alex nanar menatap kearah Rey. Hatinya sungguh terasa seperti terbakar, panas. Rasanya ingin sekali dia meninju laki-laki yang ada dihadapannya ini. Namun, pastilah konsekuensi yang akan dihadapinya sangat berat bila memukul anak semata wayang Danubharata itu. Akhirnya dia hanya bisa menghela nafas panjang agar hati yang kian meradang bisa sedikit tenang.
“Maukah, kamu… mendampingi aku selamanya, Jelita. Aku sungguh-sungguh mencintai kamu. Will you marry me?” kata-kata Rey disambut seru sorak-sorai dari mahasiswa-mahasiwa seantero kampus.
Lita menutup mulutnya dengan kedua tangan, dia tak percaya akan dilamar oleh Rey. Didepan semua mahasiwa kampus, diusianya yang baru 21 tahun.
“Rey…” air mata Lita mengembang dipelupuk mata.
“Please, take it and say ‘yes’, Lit... aku berjanji akan selalu membuat kamu bahagia, aku janji sama kamu.” Rey tiba-tiba berlutut sambil menyerahkan bucket bunga mawar merah yang membuat sorakan dari seantero kampus berkali-kali menggema.
Kali ini dengan dukungan kata-kata ‘say yes… say yes…’ dari mahasiswa-mahasiswa untuk Rey.
Lita memandang kekiri kearah Nasya dan kekanan kearah Alex. Keduanya mengangkat bahu menyerahkan keputusan sepenuhnya kepada Lita. Kecuali Alex, matanya memerah. Mahasiswa jurusan kedokteran itu terlalu lama menyembunyikan perasaannya, sehingga dia harus kehilangan kesempatan berharga untuk mendapatkan cintanya. Dan kini kesempatan itu harus rela diambil alih oleh orang lain.
“Yes, Rey… I will…” Jawab Lita dengan pasti sambil meraih bucket bunga dari genggaman Rey.
Seketika Rey berdiri dan memeluk Lita, bahagia membuncah dihatinya. Pemuda itu mengeratkan pelukannya pada tubuh Lita, lalu mencium lembut pipinya sekilas. Membuat penonton benar-benar merasa iri hati melihat pertunjukan yang memang jarang-jarang terjadi dikampus itu atau bahkan mungkin juga baru pertama kali terjadi.
Sedangkan Alex refleks memalingkan pandangannya kearah lain. Pemandangan didepannya benar-benar melukai hatinya.
‘Bodoh kamu, Lex! Sekarang kamu baru menyesal bukan?” batin Alex merutuki sikap pengecutnya sendiri. Apa yang dia tunggu selama ini hingga dia harus menahan untuk menyatakan isi hatinya? Dan sekarang menjadikan Alex pesakitan karena harus melihat orang yang dia cintai menerima lamaran dari orang lain selain dirinya.
Lita, dia memang mencintai Rey, terlepas dari semua latar belakang yang Rey miliki. Toh, keadaan Lita tak jauh beda latar belakang dengan Rey. Lita adalah anak tunggal dari pemilik salah satu hotel mewah dikota ini. Keduanya benar-benar seperti pasangan yang memang seperti sudah ditakdirkan untuk bersama sedari mereka dilahirkan kedunia ini.