Alex menyusul Lita dan Nasya kemudian, masih ada rasa penasaran yang menggelayuti hatinya. Seperti masih ada yang mengganjal dalam benaknya, dia menarik tangan Lita. Menahannya sesaat, wanita 30 tahun itu menoleh sinis kearah Alex. Nasya yang melihat hal itu merusaha untuk menutupi pemandangan itu dari Noora.“Alex…” Nasya menegur Alex, memperingatkannya seakan-akan tersirat jangan terlalu dalam mencampuri urusan keluarga Lita.
Alex seperti menangkap maksud dari Nasya seegera melepaskan tangan Lita,“Maafkan aku, Lit… aku hanya khawatir padamu. Hanya itu.”
“It’s okay. aku hanya tak ingin bicara sekarang, terlebih ada Noora… cukup kami yang mengetahui dan menjalani semuanya. Kamu fokus saja sama Tari, Lex.” Alex menciut, teringat jika dirumah sudah ada wanita yang baru 6bulan dia nikahi. Wanita cantik dan baik pilihan mamanya.
“Yaa… aku mendoakan yang terbaik untukmu, Lit. kalau begitu aku pamit ya. Jaga dirimu baik-baik. Kamu juga, Sya. Bye, Noora sayang. Om pergi dulu ya..” Alex menepuk pundak Lita dan dijawab anggukan oleh Lita.
“iya, Om Alex.. byeee…” jawab Noora dengan sumringah.
Nasya memperhatikan kepergian Alex hingga menghilang dari pandangan matanya. Lita mengambil kursi dan duduk disamping anak nya yang sedari tadi memainkan boneka Barbie kesayangannya miliknya.
“Alex, sepertinya masih mencintai kamu, Lita.”
“Aku bukan tak tahu, Sya. Aku hanya tidak ingin menjadi perusak rumah tangga perempuan lain setelah rumah tanggaku sendiri rusak karena wanita lain. Cukup aku saja yang merasakan semua ini.”
Lita meletakan kedua sikunya dimeja, mengusap seluruh wajahnya dengan kedua tangannya. membenamkannya sejenak dari hiruk pikuk pikiran yang membuatnya hilang arah hidup. Dia sadar dia tak akan bisa dan tak akan kuat seperti ini terus menerus.
“Mami, Noora mau pulang..” anak kecil itu terlihat sudah jenuh sekarang. Lita mendongak, pandangannya terarah pada gadis kecilnya itu. Ia pun juga terlihat sama, kulit disekitar matanya terlihat menggelap. Tanda bahwa Lita sedang kurang beristirahat.
“Oke sayang, ayo kita pulang.” Lita menurunkan anaknya dari kursi lalu mengambil tas bersiap untuk pulang,”aku balik dulu ya, Sya..” Lia pamit kini dan disambut anggukan serta senyuman oleh Nasya.
Nasya mengantar Lita sampai didepan pintu,”Hati-hati, Lit.. kamu tenangin aja dulu pikiran kamu. Lebih baik untuk sekarang fokus sama Noora.” Lita mengangguk.
Setelah berpelukan dengan Nasya, Lita menggandeng Noora menuju kemobilnya. Dalam perjalanan, pikirannya berkecamuk. Sesulit inikah rasanya melepaskan rumah tangga yang bertahun-tahun dia bina. Ternyata move on tidak semudah yang dia bayangkan. Sangat sulit terlebih karena sekarang ada Noora. Lita harus lebih sbar menghadapi gadis kecilnya jika suatu saat dia merengek menginginkan papinya.
‘Sabar, Sayang... Kita pasti bisa melewati ini semua.’ Tangan Lita membelai lembut kepala gadis kecilnya yang sedang terlelap dikursi penumpang. Batin Lita seakan berbisik pada Noora, putri semata wayangnya. Bahwa mereka pasti kuat menerima dan menjalani takdir dari Tuhan.
******
Hari ini Lita menghadiri sidang putusan.
2 bulan bukanlah waktu yang singkat bagi Lita untuk menjaga dan mengurus anak sendiri. Terutama dia juga harus bolak balik untuk segala t***k bengek proses perceraiannya. Walaupun kedua belah pihak sudah sepakat untuk bercerai, namun rupanya itu belum cukup kuat ntuk menjadi alasan mereka untuk bercerai. Ada berbagai macam urusan dan formalitas bagi Lita yang harus dia jalani termasuk mediasi yang Lita tahu hal itu tidak berarti apa-apa bagi hhubungannya dengan Rey.
Lita mengenakan dress hitam dengan panjang selutut dengan handbag merah terang, tak lupa kacamata hitam bertengger diwajahnya. Dia ingin terliat baik-baik saja disaat-saat terakhir dia menjadi istri Rey.
Semenjak hari dimana dia menceritakan semua pada Nasya, sahabatnya itu yang selalu memberikan keyakinan dan memberikan kekuatan padanya. Membisikkan kedalam pikiran dan hati nya bahwa dia masih sangat untuk layak untuk dicintai.
Lita memasuki ruang sidang dan duduk dikursi pesakitan untuk mendengar putusan, putusan bahwa pada akhirnya dia akan menjadi janda diusia 30 tahun. Dia sengaja tidak membawa Noora karena semua ini akan menyakiti perasaan itu, dan Lita tidak menginginkan hal itu terjadi.
Disampingnya duduk Rey, dan pengacaranya. Lita sedikitpun tidak bernafsu untuk memandang lelaki yang pernah dia cintai hampir satu dekade lamanya itu. Dia hanya mergerak melepaskan kaca mata dan mengangkatnya keatas kepala. Memperlihatkan wajah bersih dan riasan natural miliknya. Hanya saja, Lita terlihat sangat kurus.
Rey meliriknya sekilas lalu membisikan sesuatu kepada Lita,”Kamu harus banyak makan setelah ini, Lit..” seringai Rey. Lita merasa sangat terhina, bisa-bisanya laki-laki ini mengejeknya di ruang siding.
“Tentu saja. Aku akan banyak makan setelah ini karena aku akan terlepas dari laki-laki brengs*k seperti kamu. Tekanan hidupku akna musnah, Rey. Percayalah! Aku akna baik-baik saja mulai saat ini.” Balas LIta menohok perasaan Rey. Laki-laki itu terdengar mengemeretakan giginya tanda bahwa dia sangat kesal dengan kata-kat Lita barusan.
Tak beberapa lama hakim hadir dan sidang pun dimulai. Semua anggota keluarga Rey tidak menghadiri sidang perceraian tersebut, sedangkan kedua orang tua Lita hadir memberikan semangat pada putri semata wayang mereka.
Mendengarkan segala segala putusan membuat Lita lega, setelah dua bulan yang sangat menyiksa batinnya. Akhirnya dia resmi menyandang status sebagai janda.
Kedua orang tua Lita memeluk anaknya, menguatkan Lita bahwa semua ini adalah yang terbaik. Lita merasa bersalah karena dia tidak menceritakan masalah apa yang menyebabkan perceraian ini terjadi sebenarnya. Karena Rey tetaplah papi dari anaknya. Biarlah semuanya dia telan mentah-mentah sendirian. dia tak mau menjadikan Rey penjahat dimata orang tua dan anaknya sendiri.
Karena tak mengetahui pokok permasalahan sebenarnya, kedua orang tua Lita pun tak pernah menyalahkan anaknya, ataupun Rey. Mereka beranggapan bahwa jika memang ini yang terbaik maka jalani saja. Semua yang telah terjadi adalah takdir, biarkan menjadi masa lalu yang seharusnya dapat diambil hikmah nya. Lita menjadi tegar sekarang, banyak yang menyayangi dirinya, dia juga memiliki anak yang sangat dia cintai disampingnya. Lita justru merasa utuh saat ini.
‘Terima kasih, Tuhan…’ batin Lita lega sekarang. Bebannya telah musnah. Tak akan ada lagi sakit hati dalam hatinya kepada Rey, Jihan atau siapapun itu. Biarkan mereka hidup dengan jalan pilihannya dan Lita juga akan menjalani hidupnya sekarang. Sebagai single mom, happy mom, atau apalah itu. Tak akan ada lagi air mata, dia berjanji.
Janji pada dirinya sendiri.
Janji pada anak cantiknya.
Janji pada kedua orangnya.
Dan janji kepada Tuhan yang telah memberikannya banyak kasih sayang.
Banyak hal yang harus disyukuri di dunia ini, yakin jika semua ini dapat berlalu seiring berjalannya waktu.
Mereka menuju ke mobil papa Lita, tapi nahas rupanya Rey parkir disebelahnya. Dari kejauhan terlihat dengan jelas seorang perempuan dengan perut menbuncit yang sangat familiar di ingatan Lita muncul dari dalam mobil.
Lita menghela nafas panjang. Menguatkan dirinya lagi dan lagi.
“Ayo pap.. kasihan Noora kelamaan dititip ditempat Nasya.” Ajak Lita kepada papanya. Dia tidak ingin kedua orang tuanya yang sudah sangat baik terhadap Rey melihat kenyataan bahwa sebenarnya mantan menantu mereka telah berselingkuh dengan mantan sekretarisnya sendiri. Yang membuat semua kehidupan anak kesayangan mereka hancur berantakan.
“Bener tuh! ayo, Pap. Mama juga sudah kangen sama cucu cantik mama.” Beruntung mama Lita juga mempunyai keinginan yang sama dengan Lita.
Merekapun masuk kemobil secara bersamaan, meninggalkan Jihan yang sekarang tengah berpelukan mesra dengan Rey. Merayakan kemenangan dan kebahagiaan atas pengkhianatan yang telah mereka lakukan.