“Lita, kamu harus kuat demi Noora.” Danu Halim, papa Lita yang duduk dikursi disamping sopir mulai angkat bicara.Sedangkan Lita hanya menatap kearah papanya tanpa mengatakan sepatah katapun.
“Betul itu, Lita. Kamu tidak sendiri. Walaupun tidak lagi bersama Rey, kamu masih punya kami. Jika kamu butuh sesuaatu atau teman berbagi, datanglah pada kami, Nak. Mama dan papa akan selalu support kamu dan, Noora.” Nia Halim, mama Lita pun turut menguatkan anak mereka.
Lita tersenyum kepada mama dan papanya. Menguatkan dirinya didepan kedua orang tuanya. Kalau bisa jujur, tentu bukan hal mudah melepaskan semua ini, meringankan beban luka dihatinya, semua butuh proses.
“Iya, Mam. Pap. Terima kasih untuk selalu ada disisi Lita.” Tangan Lita bergerak memeluk erat sang mama. Setitik embun membasahi pelupuk matanya. Meresapi kasih sayang kedua orang tuanya pada dirinya dan Noora. Sungguh Lita merupakan wanita yang snagat beruntung.
‘maafkan Lita karena sudah mengecewakan kalian, mam, pap..’ batin Lita berbisik.
Syukurlah kedua orangnya bukan type yang selalu mendikte anak harus begini dan begitu. Segala apapun jalan yang diambil Lita, selalu merek support asalkan semua masih pada jalur yang benar dan dapat dipertanggung jawabkan oleh Lita sendiri.
******
Krinciiiiiiing!
Suara lonceng di pintu toko Nasya berbunyi. Nia membuka pintu itu dan mengayunkan langkahnya masuk kedalam ruangan berukuran 6x10 meter itu.
Noora yang sedang memainkan bonekanya segera menoleh, berharap bahwa maminya yang akan muncul disebalik pintu.
“Oma!” sambut Noora kegirangan sambil berlari kearah Nia, Omanya.
“Aduh.. Aduh.. cucu oma sudah besar sekarang. Tambah yak an, Opa?” Tanya Nia pada suaminya yang tersenyum dibelakangnya. Sedangkan Lita berjalan dibelakang papanya.
“Iya dong, kata mami, Noora harus makan banyak biar cepat besar. Jadi setiap hari Noora makan banyak-banyak deh, Oma. Oma sama Opa juga harus makan banyak nanti ya..” dan begitulah celotehan selanjutnya menjadi sangat seru antara Danu, Nia dan cucu mereka.
Nasya tersenyum lalu menyalami kedua orang tua Lita tersebut.
Lita memeluk Nasya, sedikit lama dan erat. Nasya mengelus punggung sahabatnya lalu menggiringnya duduk menjauh meninggalkan Noora dan kedua orang tuanya.
“Mereka kelihatan bahagia banget, Sya.” Kata Lita pada Nasya yang tengah menyajikan segelas teh hangat padanya. Nasya terdiam menunggu kata-kata selanjutnya yang akan temannya ucapkan.
“Aku… sakit..” Lita terbata-bata. Menunduk memegang dadanya yang terasa amat sesak. Buliran bening menetes darri cuping hidungnya.
“Stt.. kamu harus kuat, Lita. Jangan biarkan sakit itu menguasai batin kamu. Lihat kesana” Nasya mengelus pundak temannya yang tengah menahan sesenggukan tangisnya, lalu menunjuk kearah kedua orang tua Lita dan Noora,”Mereka menyayangi kamu. Mencintai kamu, Lit.”
Lita tidak menoleh, namun batinnya membenarkan perkataan Nasya. Dia memang harus selalu kuat. Tidak ada gunanya bersikap rapuh, malah akan semakin merugikan dirinya sendiri.
Lita termenung beberapa saat. Lalu mengusap air matanya kemudian menyeruput the yang disajikan oleh Nasya.
“Jadi apa yang akan kamu lakukan setelah ini?” Tanya Nasya kemudian.
“Mungkin aku akan pindah ke Bali untuk sementara. Aku akan menenangkan diriku selama aku disana, Sya. Papa ada satu Hotel disana, mungkin aku akan membantu papa mengelolanya. Aku belum tahu, tapi sepertinya itulah rencanaku.”
“Noora?” Tanya Nasya kemudian, anak itu baru saja memasuki sekolah dasar. Akan butuh penyesuaian jika anak itu dibawa pindah.
“Aku akan membawanya. Dia hidupku saat ini, Sya.” Lita menjawab dengan pasti pertanyaan dari sahabatnya itu.
“Hmm, aku akan selalu support kamu dari sini. Kalo ada apa-apa kabari aku oke? Jangan pernah kamu lupa sama sahabatmu ini!” Nasya memeluk sahabatnya seakan ini sudah keputusan final Lita.
“Ihh, masih ada hari esok, Sya. Aku tidak akan pergi sekarang.” Lita menepuk-nepuk pundak temannya tersebuh dengan gemas sambil menyunggingkan senyum.
****
Dua bulan setelah perceraian. Setelah melalui proses yang rumit saat menjelaskan pada Noora bahwa kedua orang tuanya tidak dapat hidup satu atap lagi, akhirnya gadis kecil itu mengerti dengan berjalannya waktu.
Namun satu yang dapat Lita pastikan bahwa Noora tidak akan pernah kekurangan kasih sayang baik itu dari papi ataupun maminya. Semua dapat dengan utuh Noora dapatkan. Dan tentang kepindahannya ke Bali, Noora menyetujuinya.
Dengan cepat gadis kecil itu mengangguk. Ya, dia sangat mencintai Bali. Mungkin jika seperti ini, Lita akan tinggal di Bali untuk waktu yang tidak dapat ditentukan. Berruntung kedua orang tua Lita mendukung penh keputusannya dan menyerahkan segala urusan hotel yang baru dirintis di Bali ditangani olehnya.
Sekarang, sepertinya luka batin Lita akan dengan cepat sembuh.
Dia memutuskan untuk pergi ke Bali satu minggu lagi. Ada banyak hal yang telah Lita susun. Lita juga sudah mencari beberapa alternative sekolah yang akan dia survey nantinya setiba di Bali untuk tempat sekolah Noora. Dia yakin anaknya itu akan baik-baik saja selama berada jauh dari papinya.
Lita menyusun beberapa list kegiatan yang perlu dia lakukan selama seminggu kedepan sebelum dia benar-benar akan pergi ke Bali.
Ting! Tong!
Bel rumahnya berbunyi.
‘siapa ya?’ batin Lita bertanya-tanya. Mama dan papanya baru akan datang sore nanti setelah mereka menjemput Noora dari sekolah dan mengantarnya untuk Les renang.
Lita berjalan menuruni anak tangga berlapis kayu, melongok mengira-ngira siapa yang datang bertamu sementara barang yang akan dia bwa sudah dipacking dan dikirim ke Bali.
“Siapa?” Tanya Lita pada tamunya sebelum membuka pintu.
“Buka, Lit! Aku perlu bicara sama kamu!” Lita tahu betul itu suara Rey.
“Mau bicara apa kamu? Dirumah hanya ada aku. Tak sepantasnya kamu datang kesini, Rey! Kita sudah bercerai..” jawab Lita tanpa membuka pintu. Tangannya memegang d**a, masih tertinggal perasaan disana rupanya.
“Buka atau aku dobrak pintu ini, Lita!” suara Rey meninggi.
Lita akhirnya membuka pintu, muncul dengan baju tidur yang masih melekat dibadannya. Rey dengan muka merah padam sudah berada didepan pintu.
“Apa maksudmu membawa Noora pindah ke Bali hah?!” gertak Rey sambil mendorong tubuh Lita. Wanita itu terlihat kepayahan menahan Rey yang merangsek masuk kedalam rumahnya.
“Rey! Lepas! Aku membawa Noora kemanapun itu bukan urusanmu!” Lita menghentakan tangan Rey dari dagunya. Matanya berapi-api melihat laki-laki didepannya. Laki-laki yang sudah meninggalkannya hanya untuk wanita seperti Jihan.
Lita sudah dalam keadaan yang lebih baik dan bebas tekanan sekarang sehingga tubuhnya dapat sedikit melawan Rey. Walaupun belum bisa dikatakan begitu, tapi sudah tidak sememprihatinkan dulu lagi.
“Aku papinya! Noora lahir dari benihku, Lita! Kamu harus ingat itu! Semua yang menyangkut Noora itu menjadi urusanku!”
“Aku yang mengurusnya selama ini walaupun kamu papinya! Hak asuh juga sudah kamu berikan padaku, Rey. Apalagi yang kamu inginkan? Bukannya sebentar lagi akan lahir anak dari benihmu yang lain?” Lita melipat tangan nya kedepan d**a dan memandang Rey remeh.
“Dari mana kamu tau kalo Jihan hamil Lita?” Rey terkejut, seakan gelagapan menghadapi pernyataan yang baru saja Lita lontarkan.
“Kamu pikir aku buta? Hahaha.. aku penasaran apa mama dan papa mu mengetahui bahwa anaknya sudah menghamili gadis lain saat masih berstatus suamiku?!” Lita mengintimidasi Rey kali ini.
“Tutup mulutmu, Lita!!” Rey bergerak mendekat pada Lita. Sedangkan Lita segera bergerak menjauh, tak ingiin lagi tertangkap oleh tangan Rey.
“Aku yakin kamu tidak akan membiarkan anak itu lahir diluar nikah kan, Rey! Sekarang sudah 2 bulan sejak kita bercerai. Kamu belum juga mengenalkan Noora pada perempuan itu.” Lita semakin meremehkan Rey.
Laki-laki terlihat mendengus kesal,”b******k!” sumpah serapah keluar dari mulutnya. Rey mengusap kasar wajahnya laku berputar ditempat dan beberapa kali mengacak-acak rambutnya yang tersisik rapi.
Lita melihat tingkah mantan suaminya itu dengan perasaan aneh. Ada apa dengan laki-laki ini sebenarnya.
“Aku masih banyak urusan, Rey. Sebaiknya kamu pergi. Kamu bisa datang ke Bali jika kamu rindu pada Noora. Aku tak akan menghalangi pertemuan kalian. Kamu tahu bagaimana aku.” Lita menepuk bahu Rey, lalu beranjak pergi meninggalkan Rey diruang tamunya.
“Sepertinya anak yang dikandung Jihan bukanlah anakku, Lit…” Rey berkata dengan nada lemah, membuat Lita seketika menghentikan langkahnya. Menoleh kearah Rey terduduk bersimpuh.
Lita membalik badannya bersiap mendengarkan curahan hati mantan suaminya tersebut. Aneh mengapa Lita merasakan kesedihan Rey yang notabene nya sudah mengecewakannya? Malah sekarang mengarah ke perasaan simpati pada nasib Rey.