"Aku benar-benar bingung Fahri, apakah aku harus merasa senang atau menyesal saat ini!" ucap Alia yang sedari tadi tidak berhenti mondar-mandir didalam ruang tamu. "Aku mengerti, tapi kamu harus tenang sekarang." Fahri berdiri, ia sudah tidak tahan melihat kekhawatiran Alia yang terus saja berlalu-lalang dihadapannya. "Besok kita cari Adam ya? aku yakin tadi itu Adam." Fahri memeluk Alia, ia mengelus rambut hitam wanita itu dan mencium ubun-ubun kepala Alia. "Kita bakal cari dia ya, aku akan ambil cuti seharian buat nemanin kamu." "Makasih Fahri, jujur aku bakal senang banget kalau emang itu Adam.Dia benar-benar sudah sembuh, kamu lihatkan tadi?" Alia tidak bisa menyembunyikan raut wajah bahagianya, ia mendongakkan kepalanya keatas untuk menatap Fahri yang sedikit lebih tinggi darinya

