Sesampainya di rumah, Kaivandra bersandar lemah di kursi rodanya. Nafasnya pendek-pendek, tangan kirinya menekan pelipis, seolah ingin meredam rasa nyeri yang mendadak menyerang. “Leeya,” desisnya lirih, matanya menyipit menahan sakit. “Kepalaku rasanya, Ah—” Aleeya langsung jongkok di hadapannya, panik. “Mas, coba tarik napas pelan-pelan. Oke? Lihat aku… tarik napas, yuk…” Mama Vania yang baru keluar dari dapur, langsung bergegas begitu melihat putranya menunduk kesakitan. “Kaivandra? Astaga, kenapa, Nak?” “Kayaknya kambuh lagi, Tan. Tadi di depan komplek sempat—” Aleeya belum selesai bicara, Mama Vania sudah melangkah cepat ke arah meja dan mengambil ponsel. “Tante panggil dokter sekarang juga.” Suaranya tegas, tak bisa ditawar. Beberapa menit kemudian, dokter keluarga mereka, dr.

