Season 2.
Chapter 1
.
.
.
.
Menatap kaca lemari yang cukup besar hampir seluruh tubuhnya dapat terlihat dari cermin itu, Onyx hitam kelam terkesan dingin, mata sebelah kiri tertutup pony, Senyum tipis dia tunjukkan pada dirinya sendiri. "Hnn.." Gumamnya saat dia membenarkan dasi yang dia pakai dan bersiap untuk menjalani kesibukan yang menunggunya di pagi hari.
Terlihat sempurna Sasuke Uchiha pemilik Uchiha Corp yang sangat disegani ini, walaupun ia memiliki kekurangan yang terlihat jelas di tangan kirinya. Melangkah pasti untuk keluar kamar mewahnya, membuka pintu dan menuju ruang tamu, beberapa pelayan membungkuk sebagai rasa hormat mereka padanya. Sudah 13 tahun kepergian Sakura, tapi Sasuke yakin kalau Sakura akan kembali karena bagaimanapun juga Sakura adalah miliknya, ia bertekad kali ini dia tidak akan menggunakan cara yang salah lebih menghargai yang ia cinta.
.
Sasuke Pov
.
Rumah layaknya seperti istana dan apapun yang aku inginkan selalu aku dapatkan, tapi ia yang aku cinta sampai saat ini masih belum ada disisiku walau sudah lama aku tak melihatnya lagi tapi, perasaan cintaku ini semakin dalam untuknya. Haruno, aku putuskan akan mencarimu kali ini, karena aku telah mengerti apa saja kesalahanku padamu.
Aku nikmati sarapan pagi di tengah kesunyianku, terkadang perasaan ini begitu menyiksaku rasa rindu dan penyesalanku yang susah untuk dijelaskan, selesainya aku menikmati sarapan ku, aku pun melangkah pergi keluar rumahku, sesekali memberi sedikit senyum sebagai balas hormat terhadap pelayan yang ada di rumah ini.
Mobil hitam mewah dan sangat elegan namun semua ini tak terasa nyaman bagiku sendiri andai dia bisa menikmati yang aku nikmati sekarang, hampir setiap saat aku memikirkan hal ini jika Haruno memang benar hamil pasti anakku sudah besar. Di balik kaca mobil terlihat orang yang berlalu-lalang ada kedua orang tua dan anaknya. Ketika aku melihat hal itu d**a ini terasa sesak andai dulu aku tidak begitu egois pastinya saat ini akan berbeda.
.
Sasuke Pov End.
.
"Mama!! Bangun ini sudah pagi!!"
Tokk... Tokk.. Tokk.. Terdengar nyaring suara gadis yang kini sedang mengetuk pintu beberapa kali, wanita bersurai merah muda panjang sepundak masih mengeliat menyaman kan tidurnya enggan untuk menyambut pagi. "Mmhh... 10 menit lagi," gumam wanita bersurai merah muda itu. 30 menit kemudian wanita bersurai merah muda itu beranjak dari tempat tidurnya. "Ya, ampun! Aku kesiangan lagi!" ucapnya, dan terburu bersiap ke kamar mandi, 20 menit kemudian dia pun telah siap menyambut paginya dan keluar dari kamarnya,
Menguap beberapa kali sambil melangkah menuju ruang tamu, tatapan malas ditujukan padanya dari anak kesayangannya. "Pemalas," gumam gadis usia 12 tahun yang kini sedang menyilangkan tangan di d**a, mata Onyx hitam yang menatap tajam dari balik kacamata berbingkai merah.
.
Sarada Pov.
Aku menatap tajam ke arah orangtua tunggal ku, huh, pemalas selalu saja begini tapi bagaimanapun juga aku tahu Mama selalu kerja sampai malam dari sore sampai jam 2 pagi. "Mm.. Lapar," gumam Mama yang kini berjalan ke ruang makan. Yah, semua aku yang menyiapkan seperti biasanya, aku melangkah menuju sofa dekat televisi, aku menyalakan televisi yang menyiarkan acara berita atau gosip yang selalu saja sama. Gosip seseorang yang sangat populer di Konoha City siapa lagi kalau bukan Sasuke Uchiha pengusaha sukses yang dermawan, ia sering memberi bantuan saat ada bencana. "Sarada, roti lapis buatanmu selalu enak Mama bangga padamu!" Ucapan nyaring Mama yang tak aku pedulikan, aku tetap fokus pada acara televisi yang memberitakan bahwa Sasuke Uchiha memberi dana untuk beberapa sekolah termasuk sekolahku. Tingg.... Nuuung… Suara bel di pagi hari pasti si numpang makan paman Sasori. "Sebentar!" Mama terburu menuju pintu...heh, harusnya jangan sambil mengunyah roti. "Sarada, pagi?" Paman Sasori langsung menuju dapur diikuti Mamah, kenapa selalu saja datang ke rumah apa tidak ada tempat lain? Liburan musim panas yang membosankan, aku hanya menonton televisi hampir sepanjang hari. "Sarada, apa kau tidak bosan menonton tv?" tanya paman Sasori pasti dia sudah selesai sarapan. "Mmm.. Tidak," jawabku singkat. Paman Sasori ikut duduk di sebelahku, entah kenapa ekspresinya selalu kurang suka saat aku menonton acara jika itu tentang Sasuke Uchiha? "Paman bosan melihat acara omong kosong ini. Lebih baik kita nonton anime, oke?" Aku mengambil remote tv lalu aku simpan di dekatku. "Mmm... Malas, anime hanya untuk anak kecil," jawabku.
Paman Sasori langsung diam di pojok diliputi kabut suram, tingkahnya selalu berlebihan seperti anak-anak.
"Sasori, kau kenapa?" "Sakura, Sarada membenciku."
"Ya ampun, kau ini berlebihan," jawab Mama ku sambil menepuk kening. Mama duduk di sebelahku ikut menonton acara yang aku tonton sementara paman Sasori tetap di pojok sudut bersama kabut suramnya.
.
Sarada Pov End.
.
Sakura Pov.
.
Kau selalu membuatku tersenyum walau aku hanya melihatmu di acara televisi, apa kau tahu Sasuke? Kehidupan yang aku jalani ini sangat indah banyak hal yang susah dan senang selama 13 tahun ini tapi aku tetap menikmatinya, andai kau tahu anakmu memiliki sifat yang sangat dewasa di bandingkanku, terkadang aku malu harus mengakuinya tapi nyatanya benar.
"Sakura, Sarada membenciku," ucap Sasori ikut duduk di sebelahku.
"Hah.... Kau ini selalu saja," jawabku.
Sasori tersenyum penuh arti ketika aku menoleh kekiri, entah kenapa belakangan ini sifatnya aneh?
"Sarada, ganti channel, Paman mau nonton anime," ucap Sasori
"Malas," jawab Sarada.
Aku hanya bisa menghela nafas setiap mereka berdua seperti itu, aku kembali tersenyum dan berdoa semoga kehidupan yang aku jalani ini akan selalu seperti ini.
.
.
Sakura Pov End.
.
.
Malam semakin larut, wanita bersurai merah muda panjang sebahu itu mulai menutup minimarket tempatnya bekerja, ia masih bisa tersenyum walaupun terlihat lelah.
"Huammm...ngantuk sekali."
"Sakura maaf aku telat," ucap laki-laki berambut merah yang kini sedang duduk di atas motor sport berwarna merah.
"Kau tidak terlambat Sasori, aku baru saja menutup minimarket," jawab Sakura.
"Kau kelihatan kelelahan apa tadi barang datang?" tanya Sasori.
"Iya, lumayan lelah karena barang yang datang banyak sekali, aku harus menata semua di tempat nya masing-masing mengganti yang lama," jawab Sakura panjang lebar sambil melangkah mendekat ke arah Sasori.
.
Sakura Pov.
.
Aku bekerja di minimarket yang jaraknya cukup jauh dari tempat tinggalku yah...aku bekerja dari sore hari sampai jam 2 pagi, melelahkan memang tapi mau bagaimana lagi.
Aku harus menjalani hidupku apalagi kebutuhan semakin banyak dan aku harus menabung untuk masa depan dan biaya sekolah Sarada.
Tapi, susah sekali mengatur uang apa lagi aku sendiri yang bekerja semua hampir tidak cukup selama seminggu ini pun aku tidak bisa menabung se-yen pun.
"Sakura, cepat naik sampai kapan kau mau melamun?" tanya Sasori membuatku tersadar dari lamunanku dan tersenyum, aku mulai naik ke atas motornya dan sepanjang perjalanan hanya ada kesunyian malam dan mobil yang melintas pun hanya ada beberapa, angin terasa cukup dingin malam ini.
"Sasori, kenapa kita lewat sini?" tanyaku.
"Kita ke taman sebentar santai saja, Sarada sudah tidur," jawabnya, aku hanya tersenyum mendengar ucapannya.
Sesampainya kami berdua di taman yang jaraknya 50 meter dari tempat tinggalku, kami berdua hanya duduk santai di tempat duduk cukup panjang berbahan kayu yang dicat putih di dekatnya ada mesin minuman berwarna merah tua, Cola dan Kopi dingin instan yang sesekali kami berdua nikmati disini.
"Sakura, apa kau sudah memikirkan permintaanku waktu itu?" tanyanya.
Aku melihat ke atas lalu menghela nafas pelah.
"Aku sudah memikirkannya Sasori, aku pikir mungkin aku harus menolak permintaanmu," jawabku.
"Apa kau masih mencintai si b******k itu? Yang merusak masa depanmu?" tanyanya.
Aku hanya diam sambil memejamkan mata, entah kenapa perasaanku ini sangat tidak terima dengan ucapan Sasori, walau hanya dia yang dekat denganku. Menghina dan marah pada Sasuke, itu hanya boleh diriku bukan orang lain sekalipun itu Sasori.
"Cukup...jangan bawa-bawa dia dalam pembicaraan ini, aku malas mengingat masa laluku," ucapku tegas.
"Sakura, lupa kan Sasuke! Dia itu b******k! Percuma kau terus mencintai si b******k itu."
Ucapan Sasori cukup kasar dan terus membicarakan masa lalu Sasuke.
"Cukup...Sasori," jawabku pelan sambil menunduk.
Aku melihat kedua tanganku yang menggenggam kopi instan yang tak lagi dingin yang tadi pertama aku ambil di mesin minuman.
"Sakura aku mencintaimu!" ucapnya tegas.
"Cukup."
"Aku dan si b******k Sasuke itu lebih baik diriku inikan yang serius mencintaimu selama ini."
Plaakkk...
"Jangan panggil Sasuke b******k! Itu bukan hakmu! Cukup aku yang selalu berpikir seperti itu! Juga menghujatnya setiap malam."
Aku terdiam menatap Sasori, apa yang aku lakukan barusan kenapa aku menamparnya?
"Ternyata yang aku pikirkan selama ini benar, kau masih mencintai nya padahal dia telah melakukan hal hina padamu."
Sasori menatapku tegas, aku membalas tatapannya lalu melihat ke arah lain.
"Maaf," ucapku dan beranjak dari duduk, mulai menjauh pergi darinya.
"Sakura?!"
Aku tak memperdulikan teriak kan nya memanggil namaku, aku berlari menjauhinya keluar dari taman yang sepi, aku tahu Sasori kau mencintaiku, kau orang yang baik dan selalu ada untukku tapi perasaan tak akan bisa berubah meskipun waktu terus berlalu karena aku sangat mencintai Sasuke dan membencinya.
Tinnn!!!!!!
Kitttt!!!
....
Aku hanya bisa termenung dengan tubuh yang terus gemetar, cahaya lampu mobil menyilaukan pandanganku, air mata ini terasa membasahi pipiku.
"Nona, kau tidak apa-apa?" tanya seseorang yang keluar dari mobil yang tepat dihadapanku.
"Hei, Nona kau tak apa-apa?!"
Bibir ini seakan gemetar susah untuk bicara, aku berpikir jika tadi aku tertabrak mobil bagaimana Sarada nantinya?
"Aa, aku tidak apa-apa maaf aku tadi ceroboh," jawabku, pikiran ini seakan kosong hanya memikirkan bagaimana jika tadi aku sampai tertabrak?
"Hnn...apa dia baik-baik saja?"
"Iya tuan muda Sasuke."
Aku membulatkan mata terkejut menatap seseorang yang keluar dari mobil hitam yang terlihat elegan, dia berjalan ke arahku, tatapan dingin itu kembali aku lihat walaupun penampilannya sangat berbeda, satu mata yang terlihat dingin Onyx hitam yang terlihat ramah.
"Sasu..." Aku menghentikan ucapanku menutup rapat bibirku, bodoh kenapa aku memanggilnya?
"Kau? Apa ini kau?"
Aku hanya menunduk diam, ia terus bertanya tapi aku lebih baik diam dan terus menunduk seperti ini.
"Sakura?!" Teriak kan yang membuatku menoleh ke asal suara.
"Sasori," gumamku.
Sasori mendekat sambil menatap Sasuke yang terus memperhatikanku.
"Ayo kita pergi," ucap Sasori.
Sasori menggenggam erat pergelangan tanganku, perlahan aku melangkah mengikuti Sasori yang menuntunku agar mengikutinya.
"Haruno?"
Deghh...
Aku menghentikan langkahku tanpa perintahku, Sasori menatapku intens dan menujukkan ekspresi kesalnya dan ini pertama kalinya aku melihat Sasori seperti itu, Sasuke mendekat melepaskan genggaman Sasori di pergelangan tanganku.
"Masuklah ke dalam mobil," ucap Sasuke.
Aku hanya diam.
Bugghh…
Sasori memukul pipi Sasuke, supir yang tadi hanya diam langsung memukul Sasori berkali-kali.
"Sasori! Sasuke, suruh supir mu, untuk...mhhh.."
Aku hanya diam...dia mencium bibirku...aku mendorongnya agar menjauh.
"Hentikan! Kau tetap sama saja seperti dulu!"
Srrkh...
Pelukan yang nyaman tapi aku hanya bisa diam dan bertanya dalam benakku, aku selalu bodoh dan lemah saat di dekatnya.
"Biarkan dia pergi, kau yang bernama Sasori pergilah."
Sasori hanya diam menatapku, saat aku masuk ke dalam mobil Sasuke, dari balik kaca mobil aku melihatnya seakan sedih...aku yakin seorang yang baik akan menemukan yang lebih baik.
Mobil mulai melaju, aku hanya tertunduk seperti anak kecil bersikap seperti dulu yang seharusnya telah hilang...Sasuke terus membelai rambutku saat aku duduk di sampingnya entah kenapa dia bisa berubah selembut ini.
Degh... Degh..
Jantungku terus berdegup kencang seakan ini membuat irama yang indah, rasa senang dan haru bercampur menjadi satu.
"Haruno, aku mencintaimu."
Aku menoleh untuk menatapnya dan terkejut dengan kata-kata yang seharusnya tak akan pernah aku dengar, tapi saat ini aku mendengarnya.
.
Sakura Pov End.
.
BERSAMBUNG