8

1646 Kata
"Siren hanya boleh memakai jubah selkies yang sudah mati." Diavo membawaku melewati tatapan-tatapan selkies yang bersembunyi di celah karang dalam laut. Aku bisa melihat mata bulat hitam mereka mengikuti pergerakanku meski mereka hanya diam. Tempat ini jauh lebih sunyi daripada sarang siren. Aku ingin lebih banyak memeperhatikan sekitar, tetapi kata-kata Diavo lebih menarik perhatianku. "Sudah mati? Jadi aku tidak akan memakai jubahmu?" simpulku. "Tidak, wujudku akan berubah menjadi manusia jika kau mengambilnya dan aku akan mati di laut." Diavo berhenti. Kini kami sudah berada di tempat sepi lain yang lebih terpelosok, tak ada siapa-siapa lagi. Di depannya hanya terdapat sebuah kotak hitam besar. "Apa itu?" tanyaku curiga. "Kotak ini tenggelam saat ada kecelakaan kapal di kutub. Aku membawanya kesini. Di dalam sini, aku menyimpan jubah mendiang ayahku." Alisku berkerut mendengarnya. Saat itu juga Diavo membuka kotak hitam itu. Tangan bercakar tumpulnya menarik sebuah kulit berbulu tebal seperti mantel bulu dari sana. "Ini jubah ayahku. Kau bisa memakainya..." ucapnya dingin. Matanya hitam kelam seperti langit malam. "Apa tidak apa-apa? Aku akui aku meminjam ini untuk tujuan yang egois." balasku seraya meraih jubah itu. Terasa tebal di tanganku. "Selkies dan siren... Tercipta seperti anemon untuk makhluk laut lainnya. Kami tidak bisa memilih untuk tidak menolong kalian apapun alasannya. Namun, di sisi lain, kalian, Siren, juga sering membela kami dari predator lain." jelasnya. Kini jubah itu berpindah tangan. Kulihat mata Diavo sempat berubah getir ketika jubah ayahnya meninggalkan tangannya. Namun kembali, dia terlihat seperti tidak punya pilihan lain. "Tapi, Genevieve, menjadi manusia dengan jubah ini, ada beberapa ketentuan yang kau harus tahu." Mataku melirik tajam. "Ketentuan? Seperti?" "Pada dasarnya, siren mempunyai kekuatan sihir untuk menjadi manusia, tetapi itu hanya berlaku di laut. Untuk memancing para nelayan, untuk menjebak, lalu membunuh. Tetapi semua itu hanya berlaku ketika kalian masih terkena air laut. Kalian tidak bisa pergi jauh dari laut dengan wujud manusia kalian. Jubah selkies, digunakan oleh siren untuk bisa menjadi manusia di darat dengan jangkauan yang lebih luas." "Meski begitu, memakai jubah kami akan menyembunyikan identitas kalian. Wujudmu di darat memang akan terlihat seperti manusia dengan mantel bulu tebal, tetapi manusia lainnya tidak akan bisa menghapal wajahmu dan mengenalinya. Namun, mereka akan tetap melihatmu seperti manusia biasa." Diavo melanjutkan. "Maksudmu? Jadi dengan kata lain, jubah ini... Mengelabui mata orang lain?" Diavo mengangguk sebagai jawaban. "Siren naik ke darat sering dikarenakan tujuan yang kelam. Membunuh, mencuri, menghancurkan, apapun yang memberi celah untuk manusia mengetahui eksistensi kalian, harus dimusnahkan, bukan? Karena itu, jubah ini punya kekuatan untuk mengelabui mata manusia agar tidak bisa melihat dengan jelas wajahmu." "Hanya orang-orang tertentu yang bisa melihatmu, mungkin seperti penyihir atau seseorang dengan kemampuan spesial." lanjutnya. Kotak hitam itu ditutupnya lagi dan Diavo kini duduk di atasnya. Selkie itu menunggu responku dari semua penjelasannya. Tanganku menggenggam erat jubah tebal ini. Sesuatu sangat menggangguku. "Jika aku memakai jubah ini lalu kugabungkan dengan sihirku, apa aku bisa dikenali?" tanyaku ragu. "Wah? Ingin dikenali? Apa ada manusia yang ingin kau temui, Gen?" tanya Diavo tepat sasaran. Aku terdiam kesal, ketahuan basah. Diavo hanya tertawa getir. "Untuk pertanyaamu, jawabanku adalah; tidak tahu. Mungkin bisa, mungkin juga tidak. Mungkin jika digabungkan justru berefek dua sihir yang bertolak belakang dan justru melukaimu." tangannya terbuka selagi memberi opini. Aku justru merinding mendengarnya. "Ugh..." "Jadi...? Apa kau masih ingin memakainya, Genevieve?" tanyanya lagi, dagunya kini sudah bertumpu pada telapak tangan anjing lautnya. "Ya, tentu. Aku sudah berenang jauh ke sini dan ini pertama kalinya aku ingin merubah wujud menjadi manusia. Aku tidak bilang aku tidak bersemangat untuk ini." Bibirku tertarik menyimpulkan senyum licik. Mataku bersinar dalam kelamnya dasar laut sarang selkies. Tatapan itu disambut oleh mata hitam suram milik Diavo yang membulat. "Kau tidak apa-apa jika aku memakai kulit ayahmu?" tanyaku sedikit meremehkan. Tak kusangka, Diavo justru terkekeh. "Pakai saja, dia sudah mati. Tidak dikembalikan pun tak apa. Hanya satu yang perlu kau ingat, jangan sampai jubah itu terbakar." "Hmm... Karena?" tanyaku remeh, sambil memainkan jubah itu. "Aku tidak tahu jika ini berlaku juga untukmu atau tidak. Tapi untuk kami, jika jubah itu terbakar atau musnah, kami akan menjadi selkies yang terjebak dalam fisik manusia. Ingin pulang ke laut, tidak bisa. Terpaksa kami akan hidup dengan cara manusia. Kekuatan kami hilang dan hanya bisa menerima nasib. Lalu, kami akan mati karena stres dan depresi." "Fuh, menyedihkan." ejekku. "Betul sekali. Sama seperti kalian yang hanya bisa menjadi manusia di atas laut. Padahal laut bukan tempatnya manusia. Menyedihkan." balas Diavo. Sialan. "Haha ya, ya. Terserah. Bagaimanapun, kalian tidak punya pilihan untuk tidak menolong kami bukan? Jubah ini akan kubawa." "Tentu. Ambilah, Pangeran Genevieve. Dan tolong jangan buat ayahmu marah lagi karena gelombangnya sampai ke laut sini. Kami pikir lempengan bumi patah lagi." "Hahaha. Kalian takut?" "Tidak juga, karena kami bisa berenang menuju daratan yang aman, lalu naik sambil menunggu laut kembali tenang. Siren hanya bisa di laut. Hahaha." Makhluk ini lama-lama menyebalkan juga. "Haruskan kita meneruskan ini sampai salah satu dari kita mati?" tawarku, sedikit serius. "Hahaha, oh tidak. Aku hanya bercanda. Pada akhirnya, selkies tidak bisa ada jika siren tidak menolong kami dulu. Ini seperti balas budi kami pada kalian." "Ya, berterimakasihlah pada kami" balasku, kesal. Kembali, Diavo tertawa kecil. "Terima kasih, ya, Siren." balasnya lagi dengan senyum licik terukir di bibirnya. Ekorku menyapu usai mendengar ucapan Diavo. Kuberikan tolehan terakhir sebelum aku meninggalkan tempat itu. Kulihat Diavo masih duduk di atas kotak hitam itu di kelamnya dasar laut. Senyum liciknya masih di sana, terukir dengan mata bulat hitam seperti anjing laut. Sedikit cahaya biru menyinari, entah dari mana. Yang ku tahu, sinar matahari tidak akan sampai di sana. Ekorku mengayun lebih keras, aku meluncur sangat kencang. Dengan jubah selkies ditanganku. Aku kembali menuju tempat tujuanku. Rumah Marine. *** "Ocean..?" Marine...? Mengapa ia mengenaliku? Mataku membulat ketika kumelihat raut wajah Marine yang terkejut. Bahkan dia menyebutkan nama yang diberikannya padaku. Tangannya terulur, hampir menyentuh wajahku. Apa ini? Apa ini maksud dari senyum licik Diavo padaku? Dia menipuku dengan bilang identitasku tidak ketahuan? Tangan itu kurang dari satu senti lagi menyentuh kulitku yang kini sewarna dengan manusia. Aku membeku, tidak tahu harus berbuat apa. Kubiarkan diriku untuk disentuh Marine. Namun tidak, tangannya tidak pernah sampai ke wajahku. "Bukan... Kamu bukan Ocean..." tolaknya. Tangannya terjatuh, dan raut wajah itu berubah sedih. Dadaku seketika sesak melihatnya. "Maaf, kupikir kau temanku. Tapi tidak mungkin. Dia tidak bisa berada disini" lanjutnya lagi. Marine menyembunyikan wajah sedihnya di balik kedua telapak tangannya seketika. Mengapa ia sedih? Apa aku membuatnya sedih? Tanganku mencoba meraih kepalanya untuk kubenamkan di dadaku. Entahlah, instingku hanya ingin melakukannya. Tetapi semua terhenti ketika ia kembali mendongak. "Maaf, kamu siapa? Mengapa lewat pintu belakang? Kamu tersesat?" tanyanya beruntun. Aku masih belum sadar sepenuhnya. Kakiku seperti masih seperti ekor yang mengayun. Aku gemetaran berdiri di atas kaki ini. "Kamu gemetaran, loh. Kamu sakit?" tanya Marine lagi. Dia menyentuh tubuhku, siap untuk menopang jika aku jatuh. Namun sentuhan tangannya justru membuatku semakin tidak karuan. Aku segera menggenggam tangannya. "To...long..." ucapku lemah. Kuharap dia tidak curiga melihat seseorang dengan mantel bulu basah, bertelanjang kaki, gemetaran dan masuk lewat pintu belakang sebagai orang jahat. Orang aneh, tidak apa-apa. Asal bukan orang jahat. Sihirku tidak berlaku di sini, aku tidak bisa menyihirnya untuk percaya padaku. "Ehm. Iya, ayo masuk." silahnya. Keraguan sudah muncul di hatinya. Oh, sialan. *** "Mau minum apa?" tanyanya. Gadis itu menyiapkan sesuatu yang manusia sering pakai untuk minum. Aku memicingkan mata pada set peralatan minum yang rumit itu. "Air." jawabku seadanya. "Air saja?" tanyanya lagi. "Ya, tapi yang banyak. Pakai itu." tunjukku pada wadah yang lebih besar yang dia gunakan untuk menuang air. Marine menatapku curiga. Apa aku salah bicara? Alih-alih memakai benda yang ku tunjuk, Marine justru mengganti cangkir kecil itu menjadi mug yang lebih besar dan menuangkan banyak air ke dalamnya. Lalu dia memberikannya padaku lalu duduk di hadapanku. Aku mencicipi airnya. Tidak asin. Ini air paling tidak enak yang pernah aku coba. Aku menaruh mug itu kembali dan menyipitkan mata.Tak sadar, sedari tadi Marine melihatku. "Ehm, namamu siapa? Mengapa bisa ada di belakang rumahku? Lagi sakit, pula." tanyanya lagi. Mengpa dia selalu banyak bertanya? "Aku... Genevieve" jawabku. Marine membulatkan matanya. "Aku... Berenang.. Lalu.. Tersesat" jawabku dibuat-buat. Jika aku bilang aku adalah Ocean-nya, dia tidak akan percaya karena dia tidak tahu identitasku. Ayah juga menghapus ingatannya. "Genevieve... Namanya bagus..." pujinya terpukau. "Aku tersesat... Sampai ke sini... Lalu aku naik ke daratan... Karena kelelahan." "Oh jadi karena itu kamu gemetaran?" Jari Marine menunjukku, seperti mendapat kesimpulan. Aku lega dia percaya kebohonganku. "Genevieve boleh istirahat disini, tapi maaf, tidak bisa lama-lama... Pacarku sepertinya mau datang. Bisa merepotkan kalau dia lihat ada laki-laki lain di sini." jelasnya, getir terlihat di wajahnya. Terlihat jika dibandingkan dengan semangat, dia justru terganggu dengan kedatangan pacarnya. "Nama... Kamu..." balasku. Hal itu bisa membuatnya berhenti dari beranjak dari kursinya. "Oh iya, namaku Marine. Salam kenal ya, Genevieve" jawabnya ramah. Dia tersenyum. Dia tersenyum! Ah, aku bisa gila! "Marine... Kesal...?" tanyaku mengalihkan pikiranku sendiri. Marine menatapku, bingung. "Kesal? Tidak. Kesal kenapa?" balasnya setengah tertawa. "Pacarmu... Membuatmu... Kesal" Marine kembali terdiam. Senyumnya perlahan pudar. Aku pun menatapnya sayu. "Darimana kamu tahu...?" tanyanya curiga. Alis Marine bertaut. Kini dia semakin curiga padaku. Kekuatan hatinya terlihat dimataku. "Kau... ingin aku... Menyingkirkan pacarmu...?" balasku. Aku masih menatapnya sayu. Kuharap ini tidak terlihat sekelam itu di matanya. "Apa yang kamu katakan, Gen-" TING TONG Suara bel yang nyaring menyentakkan kami berdua. Kulihat Marine segera menenangkan degupan jantungnya usai tenang menrengar suara bel itu. Namun tidak denganku. Aku terdiam membeku menyadari siapa yang berada di balik pintu itu. Itu dia. Manusia yang mencium Marine milikku. Dia ada di balik pintu di sana. "Ah gawat, dia datang." Marine mulai panik. Aku menoleh ke belakang perlahan, melihat pintu itu dengan nanar. Sihir tidak bisa lagi menutupi mataku agar tetap menjadi mata manusia. Pupil mataku membusur tajam dan irisku memancarkan warna emasnya. Aku menatap sosok di balik pintu itu seperti mangsa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN