"Jika siren memakai jubah selkies, ekor siren bisa berubah menjadi sepasang kaki manusia meskipun tanpa sihir?"
"Ya, dan hanya kepada siren hal itu terjadi. Bukan untuk makhluk lain."
"Mengapa begitu?"
"Kudengar siren mempunyai relasi tertentu dengan selkies..."
Aku ingat percakapan itu.
Pupil mataku membesar membusur seiring ingatan itu muncul. Meski sudah lewat puluhan tahun sejak terakhir aku mendengarnya, tetapi tepuk tangan untuk otakku yang masih sanggup mengingatnya. Tak kusangka percakapan yang tadinya tidak penting itu kini terdengar menarik untuk dicoba.
Siren mungkin menempati peringkat teratas peri laut paling arogan. Dilihat dari begitu tertutupnya kami dengan peri laut lainnya dan begitu rakusnya kami saat makan sehingga peri laut lain takut kami mangsa. Namun Selkies memang pengecualian. Sejak kecil aku tidak pernah sekalipun melihat siren membunuh selkies. Entah relasi apa yang ada di antara kami tetapi ini sedikit memberi jalan pada niatku.
Diavo.
Salah satu selkies yang kukenal sejak kecil itu sepertinya bisa membantuku.
"Tapi berenangnya harus jauh sekali..." keluhku. Mataku mencoba menemukan ujung laut saat kepalaku muncul dari permukaan laut. Garis tipis pembeda langit dan laut itu meledekku.
Laut tampak tidak berkesudahan. Sinar terik matahari mengenai kulitku hingga rasanya menyengat. Lebih perih lagi saat ku tahu aku harus berenang hampir ratusan kilometer untuk bertemu dengan selkies. Ditambah laut di sana juga lebih dingin. Haaah...
Namun jika aku tidak melakukannya segera, Marine mungkin akan diambil lebih dulu oleh manusia b******k itu.
"Yah, mau bagaimana lagi. Harus ada pengorbanan." Kuhela nafas sejenak.
Segera setelah itu, ekorku mengayun kuat hingga seketika aku meluncur cepat ke arah yang kutuju. Kecepatan terakhirku yang kuingat adalah melewati dua samudera dalam waktu 24 jam. Semoga sebelum malam aku sudah kembali lagi ke sarang siren.
***
Benar-benar.
Tidak kusangka semuanya jauh diluar ekspektasiku. Ternyata aku sudah jauh lebih kuat sekarang. Hanya dalam waktu tiga jam kini sarang para selkies itu sudah terlihat. Aku bahkan tidak merasa lelah sedikit pun.
Aku masih terus melaju dengan kecepatan awal. Melesat seperti peluru dalam air. Terlalu cepat sampai tidak sadar sesosok bayangan seperti selkies mendekat. Aku memicingkan mata. Warna merah muda yang tadinya samar itu semakin terlihat. Sosok itu semakin dekat dan mendekat. Aku menyapukan ekorku ke samping, kuharap sempat menghindarinya.
Tapi tidak.
Waktunya tidak cukup untuk menghindar sepenuhnya.
Aku akan menabrak.
"Ugh!!"
"Kyaaa!!"
Bahu kami berbenturan. Aku tidak berhasil menghindarinya. Tampaknya aku menabraknya sedikit keras hingga dia menjerit. Apa dia kesakitan atau hanya terkejut? Aku tidak sengaja.
"Ah, hey. Kamu tidak apa-apa?" tanyaku khawatir. Selkies yang sudah terbuka "mantel" anjing lautnya sampai d**a itu, menampilkan wajah cantik khas manusianya.
"Melva!!" Suara laki-laki lain menginterupsi sebelum aku berhasil memeriksa keadaan selkies yang kutabrak. Aku pun menoleh.
"Diavo?" panggilku memastikan saat sosok iti tiba.
Kudapati seekor selkies yang berwarna tembaga yang jubahnya juga sama terbukanya menampilkan kepala manusia dengan wajah yang kukenal. Itu dia.
Diavo, teman kecilku.
"Ah, kau? Genevieve?" balasnya dengan wajah luar biasa terkejut. Ekornya berhenti menyapu air ketika bertemu mata denganku.
"Gen? Apa yang kamu lakukan disini? Bukankah sarang siren sangat jauh?"
"Diavo, aku ada permintaan."
"Huh? Permintaan apa?"
"Permisi!!"
Seketika kami menoleh pada selkies yang di panggil Melva. Ia tiba-tiba saja menganggu percakapan kami.
Melva berenang menjauh saat tampaknya baik-baik saja setelah benturan kami. Dia pergi begitu saja tanpa izin dari kami. Kulihat Diavo geram melihatnya, tetapi sepertinya selkies jantan ini menghormatiku sehingga dia tidak mengejarnya.
"Diavo, dia kenapa?" tanyaku, melirik Melva.
"Dia Melva, seharusnya menjadi betinaku. Tapi dia tidak mau mendengarkan saat kubilang ada seorang manusia mengincarnya. Dia terlalu sulit diatur."
Ah, berurusan dengan manusia juga rupanya.
"Kau tidak mengejarnya?"
"Tidak, dia akan kembali dengan menyesal nantinya. Dari pada itu, kau, Gen. Ada apa? Sudah lama tidak bertemu."
"Ya, sudah lama. Seperti yang kubilang, aku ada permintaan."
"Dan apakah permintaan itu?"
"Aku butuh jubah selkies. Aku butuh menjadi manusia." jawabku tanpa basa-basi.
Diavo terlihat sedikit terbelalak dengan jawabanku. Meski begitu matanya menyiratkan banyak makna misterius yang aku tidak mengerti. Bibirnya terus terkunci, mendiamkanku.
***
Hari ini Ocean tidak datang lagi. Aku bertanya-tanya kemana perginya hari-hari ini.
Ada ruang di hatiku yang rasanya kosong, begitu juga di pikiranku. Rasanya tidak puas. Aku pun bingung mengapa sebagian diriku terus berteriak kalau Ocean mengetahui sesuatu. Namun saat aku berusaha mencari apa itu, kini Ocean yang menghilang.
Ini sangat mengganggu. Bukan hanya pada konsentrasiku di kuliah, tetapi juga sosialisasiku. Aku sulit berbicara pada orang lain karena pikiranku terus melayang mencari apa yang hilang. Bahkan ketika dosen sudah bicara tepat di depan wajahku saja, aku bisa tertidur karena otakku lelah mencari.
Panasnya pasir pantai di kakiku hilang seketika saat kakiku terbenam di dalam air laut yang memakan sampai betisku. Sinar lembayung mendominasi suasana. Sudah mulai senja lagi, meski begitu, tidak ada peningkatan apapun terhadap kekosonganku. Aku merebahkan punggung menatap angit.
Apa yang sebetulnya terjadi? Kuingat Ocean bernyanyi. Kuingat juga sesuatu tertulis tentang nyanyian Siren. Namun saat ku cari di buku yang kupunya, hanya ada halaman kosong disana. Penjelasan itu tidak pernah ada dimana pun.
Apa sebetulnya? Apa?
Aku mulai kesal.
Laut yang berdesir membawakan kantuk padaku. Tidur di tepi pantai sudah bukan masalah. Jika seperti ini bisa membuatku ingat semuanya, maka aku akan selamanya tidur di sini.
Biarkan saja, biarkan.
• • •
Suara ikan paus!
Mataku terbuka lebar begitu jeritan pilu ikan paus menyadarkanku. Seketika aku teringat Ocean. Aku segera bangkit, kakiku pun ku tarik dari dalam laut.
Mataku mengerjap di suasana yang sudah malam ini. Kucari sumber suara itu tetapi sosok ikan paus tidak ada dimanapun. Dengan kata lain, Ocean ada disini.
Aku bangkit berdiri dan mencari lagi. Di balik karang, di bawah dermaga, atau haruskah aku menyelam dan mencarinya? Kunyalakan senter dari smartponeku dan lagi, aku tidak menemukan siapapun.
Dan akupun sadar, suara itu hilang begitu aku bangun.
"Cuma mimpi kah?" ucapku sedih.
Ocean tidak datang. Kurasa aku hanya mendengar suara itu karena aku terlalu mengharapkannya. Dengan kecewa aku pun berbalik ke rumah.
Pintu di belakang kututup. Telapak tanganku segera menahan berat kepala yang kini memikirkan banyak sekali hal. Hangatnya suhu dalam rumah kini tidak menjadi hiburan kecil lagi untukku. Aku bingung kenapa aku terus memikirkan hal ini.
Pesan-pesan dari Hans tidak ku ljawab. Sejauh yang kutahu dia juga mengalami hal yang sama denganku, tetapi dia justru mengarahkan pada hal-hal gaib berkaitan dengan setan yang justru membuatku risih. Aku tidak ingin bertemu dengannya dulu.
Aku pun bangkit, berusaha menghibur diri lagi dengan sisa tuna salad yang kubuat tadi pagi. Tanganku hampir saja menyentuh mangkuk dingin dalam kulkas itu sebelum suara ketukan pintu belakang menggangguku.
Tok tok tok
Mataku memicing curiga.
Kenapa harus pintu belakang?
Aku menatap pintu itu heran. Apakah itu Hans? Tamu normal pasti mengetuk dari pintu depan. Hanya orang-orang yang sudah pernah ke sini yang akan mengetuk dari sana, itu pun kemungkinannya hanya kecil.
Aku mengambil pisau dapurku. Berjaga-jaga jika mungkin saja itu maling. Karena setelah dipikir, Hans terlalu aneh jika ingin masuk dari sana. Meskipun jika itu maling sekalipun, tetap aneh karena dia mengetuk.
Aku bersiaga dengan pisauku. Ketukan itu terus terdengar tanpa henti. Dengan cepat, kubuka pintu dan mempersiapkan diri untuk siapapun yang ada di sana.
Seketika angin laut berhembus masuk ke dalam rumahku. Melewati posturku yang kaku melihat sosok di balik pintu. Mataku terpaku pada rambut kebiruannya yang dan warna mata layaknya senada kerlap bintang itu, tidak terasa asing. Namun pigmen kulit kuning langsat itu, rasanya seperti tidak benar.
"Ocean..?" lirihku pada laki-laki dengan mantel bulu di depanku.