"Tell me tell me, what do you see? In the water that's clinging onto my skin."
"Cut me, cut me. Please make it deep. If I'm covered in scars, will you look at me?"
"Kiss me kiss me. Don't leave me be. I'm a bathtub mermaid. I cannot swim but only sing."
Ocean kembali bernyanyi. Namun suaranya tidak menyadarkanku sama sekali dari kebingungan ini, justru malah semakin membuatku ingin terjun ke laut. Alunannya menarik jiwaku, meski hatiku berteriak ingin menjauh.
Wajah tampan kakunya tampak begitu megah seiring nada-nada indah menyakitkan itu keluar dari bibirnya. Kini wajahnya menghadap laut, memperhatikan ombak yang mulai pasang karena matahari sudah terbenam, seakan dia tak peduli padaku.
"Ocean..." lirihku lemas.
Ocean tidak menjawab. Nada-nada perih terus terselip keluar dari bibirnya. Aku semakin pusing mendengarnya hingga akhirnya aku duduk di pinggir dermaga, di sebelah Ocean.
"Aku tidak tahu jika suaramu... Bagus..." lirihku lagi sambil mengagumi indahnya suara makhluk di sebelahku. Rasanya detik demi detik semakin indah saja.
Tunggu, rasanya aku pernah membaca ini di buku. Nyanyian Siren... Ada sesuatu tentang nyanyian siren. Tapi apa, ya? Aku tidak ingat apa yang ditulis di buku itu.
Kudengar kata-kata bermakna sudah tidak keluar dari bibir Ocean. Kini digantikan dengan vocalise nada-nada indah tanpa kata bermakna. Tidak hanya itu, dari pandanganku yang mulai berkabut ini, aku samar melihat Ocean bergerak. Dia mendekatiku. Aku melihat sosok biru keperakannya mendekat dalam buram.
Aku tidak percaya apa yang kulihat. Tetapi samar aku melihat pigmen kulit Ocean berubah seperti manusia, meski rambutnya tetap sewarna samudera. Insang, taring dan matanya berubah serupa manusia bahkan dengan warna yang sama seperti manusia pada umumnya.
"Marine..." panggilnya, bahkan terdengar sama seperti suara manusia dan dia tahu namaku.
Tangannya menyentuh pipiku dan rasanya tidak lagi seperti ikan. Tekstur itu, kulit manusia.
Aku tidak lagi bisa membedakan kenyataan atau khayalan. Rasanya semua samar dan akal sehatku dipenuhi asap hitam.
"Ocean.. A-aku-"
BRUK
Lidahku kelu dan tiba-tiba aku tidak ingat apa yang ingin kukatakan. Bahkan sebelum aku bisa mengatakannya pun, kesadaranku sudah hilang. Dengan cepat aku jatuh ke dalam pelukan Ocean.
***
Marine di pelukanku.
Nyanyian Siren berhasil memikatnya.
Dia tidak sadar jika sedari tadi sihirku sudah melingkupinya. Dia tidak bisa melihat asap hitam yang mengelilingi dan menuntunnya ke sini.
Dan sekarang, dia jatuh. Dia jatuh dalam pelukanku!
Sesuatu menggebu dari dalamku hingga membuatku begetar hebat kegirangan. Butuh seluruh pengendalian diriku untuk bisa menahan kuku tajamku tidak menancap karena begitu senangnya aku bisa memeluk Marine. Tanpa sadar pun senyum terukir dengan sendirinya, memperlihatkan sederet taring yang semakin mengerikan dengan mata emasku.
"Marineee..." panggilku gemetar sambil mengusap surai hitam miliknya selagi wajahnya terbenam dalam lekuk leherku.
"Akhirnya kau menjadi milik-"
"Marine? Marine!"
Kata-kataku terhenti saat suara orang lain menginterupsi dari dalam rumah.
Seseorang datang. Cih, mengganggu saja!
Siluet manusia laki-laki itu sudah terlihat di depan jendela. Aku melihatnya, dia dengan hati yang serakah itu mencari Marine. Dan sialan, dia sudah melihat punggung Marine di sini meski tidak melihatku.
Gawat.
Jika aku membawa Marine sekarang, dia akan curiga dan mungkin akan membongkar tempat ini. Di bawah sini ada jalan menuju para Siren, aku tidak bisa membiarkan dia menemukannya.
Tetapi, jika aku melepaskan Marine... Kami sudah sedekat ini.
Sialan, sialan!! Manusia sialan!
"Marine!!" Manusia itu sedang berlari mendekat.
Dengan terpaksa aku melepaskan Marine dan meninggalkannya tertidur di dermaga. Aku segera menyapukan ekor raksasaku hingga berenang menjauh ke tempat aman.
Lima meter dari sana, aku memperhatikan mereka. Laki-laki yang entah siapa itu datang menghampiri Marine. Dia menyentuh Marineku dengan tangannya. Dia bahkan memeluk dan menggendong Marine ke dalam rumah.
Darahku mendidih.
Suara petir pertanda badai mulai terdengar, menyemarakan amarahku. Air laut sudah menggelap, tidak ada matahari atau bulan yang memantulkan cahaya. Laut tercemar oleh kemarahanku dan aku akan membuatnya lebih mengerikan lagi.
Begitu dia menghilang ke dalam rumah, aku kembali mendekat. Laki-laki itu menyalakan lampu dan aku bisa dengan jelas melihat Marine direbahkan di atas sofa selagi dia sibuk mencari-cari sesuatu yang bisa mengeringkan Marine.
Apa yang dia lakukan. Apa yang dia lakukan... Aku mulai kesal.
Namun, seperti batu keras yang tiba-tiba saja dipukul retak, rasanya aku demikiqn saat kulihat dengan mata kepalaku sendiri laki-laki itu mencium bibir Marine.
Marineku.
Dicium olehnya.
Dia berpikir jika Marine tenggelam dan butuh nafas buatan. Namun dengan mengambil keuntungan dia juga mencium Marine. Marineku.
BLAAARR
Amarahku naik sampai ke langit hingga petir menjawabnya. Sebuah petir keras menyambar laut di belakangku. Sejenak, laut terasa menyakitkan akibat listrik yang menjalar pada airnya begitu tersambar. Tetapi itu tidak sebanding dengan amarahku.
Mataku tetap terpaku kepada mereka. Tidak peduli dengan hujan deras yang datang tidak lama setelah petir itu menyambar. Dipikiran ku saat ini hanyalah merebut Marine ku kembali dan mencabik orang itu lalu memberikan sisa tubuh hancurnya pada serangga laut.
Petir kembali menyambar selaras dengan emosiku. Kini lebih dekat lagi dengan rumah itu, tepat di pantai nya.
Kulihat laki-laki itu bangkit dari posisinya dan ingin menutup jendela. Namun amarahku mendatangkan angin yang hebat sehingga jendela itu tetap terbuka. Kulihat dia terpelanting ke belakang. Menjijikan, dasar lemah.
Dia kembali ingin menutup jendela tetapi aku memelototinya. Mataku yang memiliki ketajaman penglihatan jauh lebih baik dari manusia, bisa melihat saat orang itu kesulitan melihatku di derasnya hujan yang turun.
Tetapi dia melihat sosokku.
Wajah herannya menyambut, malah semakin membuatku ingin mencincangnya. Bukannya mundur aku justru semakin mendekat dan siap naik ke darat.
Sungguh, jika tahu seperti ini lebih baik aku menarik Marine saja dan saat pria itu ke sini, langsung kubunuh. Aku sangat menyesal melepaskan Marine tadi. Jika tidak kulepas, mungkin aku sudah bisa membawanya ke rumahku.
Aku semakin mendekat, hampir naik ke dermaga. Orang itu sudah jelas melihatku. Wajah takutnya terukir jelas melihat sosokku yang mulai naik. Aku baru saja ingin menghajarnya sebelum suatu suara familiar memanggil.
"Genevieve!"
Aku tersentak kaget. "Ayah...?"
"Apa yang kau lakukan? Kau membuat lebih banyak manusia mengetahui tentang kita." suara ayah terdengar keras tetapi sosoknya tidak kutemukan dimanapun. Tersadar, badai ini kini tercipta bukan hanya karna amarahku.
Amarah ayah juga disana.
"Ta-tapi, ayah! Dia mengambil milikku dan membuatku marah!"
"Kau pikir kau tidak membuatku marah?!"
BLAAARR!!!
Sebuah petir yang jauh lebih besar dari sebelumnya menyambar, datang setelah bentakan ayah padaku. Aku seketika menahan egoku.
Aku mulai membenamkan diriku lagi ke dalam air dengan sedikit gentar. Ingatanku tentang amarah ayah selalu tidak bagus. Dia bisa mengahancurkan tempat ini kapanpun dia mau.
"Pulang dan biarkan aku yang mengurusi manusia laki-laki itu."
"Kau akan membunuhnya untukku?" tanyaku semangat.
"Tidak. Dia bukan manusia yang diizinkan untuk dibunuh oleh Siren. Ingatannya hanya akan hilang. Begitu juga dengan wanita manusia it-"
"Jangan! Jangan Marine! Biarkan dia tetap mengingatku! Aku janji dia tidak akan menghancurkan kita!!"
"Cukup!! Lawan aku jika kau terus ingin membantah! Jika kau pikir kau sudah bisa lebih menang dariku, lawan aku, Genevieve!"
"Tidak... Ayah..."
Aku kalah telak. Tidak mungkin aku bisa menang melawannya sekarang. Tetapi ini sangat memalukan. Kuharap insting bisa memberitahunya jika aku tidak ingin Marine disentuh siapapun lagi.
"Segera tinggalkan tempat itu sebelum wanita manusia itu kusentuh, Genevieve." perintahnya.
Aku mendongak penuh harapan pada langit yang memuntahkan hujan deras dan petir kilat. Ayah mengerti.
Kutengok ke belakang, laki-laki itu masih menatap ketakutan saat aku dan ayahku bicara. Huh, kuharap makhluk lemah sepertimu mati dimakan hiu.
Aku pun melompat ke dalam laut dan berenang cepat. Dari dalam kulihat sebuah tornado air besar yang diselingi sihir milik ayah tercipta dan ingin naik ke atas. Saat itu, aku tahu jika saat tornado itu naik, akan menyebarkan sihir yang membuat orang yang menyaksikannya lupa apa yang dia lihat.
Aku pun meneruskan kembali ke rumah.
***
"Hans...?"
Mata Hans terbuka saat aku memanggilnya. Meski sempat sulit fokus untuk sebentar, tetapi begitu dia sadar, dia menjerit.
"AAAAAAAKKHH!!!"
Aku tersentak kaget sekali. Kulihat Hans melindungi kepalanya dengan tangan dan itu semakin membuatku bingung.
"Hans. Apa? apa? Dan kenapa kamu disini?"
"A-aku... Aku...? Aku teriak kenapa ya?" tanyanya kembali.
Aku mengernyit heran. "Mana aku tahu? Lagi pula, apa yang kamu lakukan di sini?"
"Tunggu, Marine. Rasanya ada yang salah! Aku datang menyusulmu karena kau tampak marah sekali saat meninggalkanku. Lalu, saat aku datang... Aku tidak ingat, rasanya ada sesuatu yang buruk tapi aku tidak ingat apa. Bangun-bangun, aku disini...?"
Tidak mungkin. Hans mengalaminya juga? Apa dia bertemu dengan Ocean?
Aku pun mengalaminya. Apa yang terjadi setelah aku mendengar nyanyian Ocean?
"Hans, bisakah kamu pulang secepatnya?" tanyaku tidak peduli lagi darimana dia tahu tempat tinggalku.
"Tunggu, inikah ucapan terima kasihmu? Mengusirku setelah aku... Aku... Aku apakan kamu?" tanyanya lagi padaku dan itu membuatku muak.
"Jangan konyol, Hans. Pulanglah. Ini sudah pagi." pikiranku mulai khawatir Hans akan mempergunakan tempatku untuk kepentingannya.
"Tidak bisakah aku tinggal untuk sarapan dulu?" Kaki Hans menahan agar tubuhnya tidak bergerak meski kudorong.
"Tidak, tolong segera pergi. Aku mohon. Please." Tetap kupaksa Hans bergerak sampai keluar pintu. Tentu, aku setelah aku memperlengkapinya dengan semua barang-barangnya yang berceceran. Aku tidak sejahat itu kok.
"Mari-"
Blam.
Aku menutup pintu sebelum dia bisa bicara lagi. Tepat setelah itu aku merosot lemas di balik pintu. Memikiran apa yang sudah terjadi ini rasanya melelahkan sekali.
Tetapi, apa yang terjadi sebetulnya? Apa memang penyebab hilangnya ingatan kami itu adalah Ocean?