Aku terdiam membeku mendengarnya. Kepalaku serasa melayang, sekujur punggungku mulai terasa dingin. Aku menatapnya nanar seiring siren asing itu dengan tegap terlihat begitu percaya diri dengan senyum anehnya. Pendamping? Apa maksudnya? "Jangan dengarkan dia." perintah Ocean langsung. Genggaman tangannya pada tanganku mengerat, seperti memberikan kekuatan untukku tetap tenang, meski tanpa memalingkan tatapan geramnya pada Trista. "I-itu siapa? Temanmu?" Kubertanya pada Ocean, tetapi ia hanya diam. Tatapannya semakin geram padanya, enggan bicara. "Bukankah aku sudah mengenalkan diri? Aku Trista. Aku akan menjadi-" "Jangan mimpi. Aku bahkan hampir lupa kalau kau hidup." potong Ocean langsung. Trista terkekeh. "Kalau begitu aku akan membuatmu ingat kembali, semua-tentang-kita." godan

