Acara award yang biasa diselenggarakan oleh pihak televisi seperti ini bukan pertama kali Vivian datangi seorang diri, berjalan di karpet merah seorang diri pun bukan hal pertama dalam hidup Vivian. Sudah ratusan karpet merah dijalani Vivian tanpa pasangan di sebelahnya, semuanya terasa baik-baik saja. Tapi tidak kali ini. Ucapan Maria sore tadi membuat Vivian berpikir ratusan kali selama perjalanan menuju acara yang diselenggaran di salah satu hall terbesar di Jakarta. Rasa percaya dirinya berkurang saat melewati karpet merah tanpa ada pasangan di sampingnya. Puluhan lensa kamera yang mengarah padanya saat di Red Carpet pun tidak bisa Vivian nikmati lagi, sesuatu terasa kurang.
Saat para pemburu berita dan para fansite sibuk mengambil gambar Vivian yang masih berpose di Red Carpet, mendadak semua arah kamera beralih meninggalkan Vivian. Focus kamera sudah beralih ke arah sosok pria berkulit gelap bersama salah satu model papan atas Indonesia dengan baju gaun berwarna merah super seksi, memperlihatkan punggung mulus dan belahan dadanya.
Vivian terkesiap, matanyanya masih berkunang-kunang akibat dibanjiri blitz kamera, pandangannya masih kabur, tapi Vivian sangat hapal aura pria yang sedang menuju ke arahnya sekarang. Pria dengan aura arogan dan d******i yang kental. Zach Rodriguez, si b******k yang membuangnya begitu saja. Vivian benci mengakui ini, tapi Zach Rodriguez semakin terlihat panas dengan balutan kemeja hitam, celana bahan dan coat yang menggantung malas di bahunya.
Zach yang baru menyadari keberadaan Vivian, tersenyum miring ke arah Vivian. Senyuman yang seolah mengejek Vivian karena datang tanpa pasangan ke acara ini. Dengan sengaja Zach meletakkan telapak tangannya di pinggul sang model yang terbuka lebar. Perlakuan yang membuat Vivian memelototkan matanya tanpa bisa dicegah. Vivian yang tidak tahan, berjalan masuk ke dalam hall. Rasa kesal dan tidak percaya diri begitu tinggi dirasakan Vivian. Kehadiran si b******k Zach Rodriguez benar-benar merusak malamnya. Lebih dari itu semua, Vivian rasanya ingin meninju wajah datar seksi itu sekarang juga.
Vivian baru tahu kalau acara ini ternyata juga mengundang para pengusaha kelas kakap, mulai dari pemilik hotel, pemilik rumah sakit, pemilik agensi artis, dan masih banyak lagi pengusaha bertebaran malam ini. Tempat duduk sudah diatur sedemikian rupa, para pengusaha duduk paling depan, memenuhi tiga baris bangku dengan sofa yang nyaman. Sementara para artis yang hadir, duduk berbaris di belakang para pengusaha.
Vivian mendudukan dirinya saat salah satu kursi yang terdapat namanya di punggung kursi, kru acaranya menunjukkan tempat duduknya yang tepat berada di samping jalur orang yang berlalu lalang, pemisah antara sayap kanan dan sayap kiri. Di sebelahnya sudah duduk lebih dulu Maria yang sibuk memainkan ponselnya.
"Dimana King?" Vivian bertanya saat baru saja menghempaskan diri di bangku.
"Paling depan bersama Kak Arya," Maria menjawab tanpa melepaskan pandangannya dari layar ponselnya.
"Huh? Ada Kak Arya juga?"
"Dia salah satu yang sangat diperhitungkan, ingat? Acara ini mengundang para pengusaha bukan cuma untuk menyuguhkan hiburan, Kak. Kita sama-sama tahu." Maria menyimpan ponselnya ke dalam saku jas bagian dalam, memandang Vivian dengan wajah kebingungannya.
"Apa maksudmu?"
"Astaga … kau lebih tua tapi pengetahuanmu benar-benar minim ya, Kak?" Maria memutar bola matanya. "Sponsor! Tidak paham juga?" Maria bersabar menjelaskan.
"Huh?"
"Astaga! Sini mendekat!" Maria menarik lengan Vivian paksa ke arahnya.
"Apa? Kenapa berbisik?" Vivian bingung.
"Mau tahu info tidak?"
"Apa?"
"Para pengusaha di sini sengaja diundang bukan tanpa alasan. Mereka ada di sini untuk ditarik perhatiaannya oleh agensi-agensi artis yang butuh pasokan dana untuk artisnya. Kau tahu Niara? Model yang sedang naik daun itu? Dia disponsori oleh Ace, sebagai imbalannya, dia harus … kau tahu, ini agak kasar, bagaimana memperhalus bahasanya …." Maria Nampak berpikir sejenak.
"Jadi b***k seks Ace? Begitu?" Vivian berujar polos.
"Aku sedang mencari padanan kata yang pantas dan kau berbicara seenak jidatmu saja Kak!" kesal Maria.
"Bilang saja kalau dia menjual diri, apa susahnya?" Vivian memutar bola matanya.
"Ya, begitulah. Dan, oh! Ace juga datang saat acara di hotel dua minggu lalu, Kak." Maria berucap heboh.
"Oh ya? Yang mana orangnya?" Vivian penasaran juga akhirnya. Vivian memang tidak tahu siapa gadis bernama Niara itu, Vivian juga tidak peduli. Tapi yang namanya gossip selalu menarik untuk dikulik, 'kan? Apalagi in gossip yang sensitive.
"Yang …." Baru saja Maria akan menjelaskan detail fisik Ace. Seseorang meletakan coat hitam di pangkuan Vivian, membuat Vivian dan Maria serentak menoleh ke arah seseorang yang berdiri tepat di samping bangku Vivian.
"Ah, Halo Tuan Ace .…" Maria dengan refleks berdiri dan membungkuk ke arah lelaki berkulit gelap yang memusatkan pandangannya ke arah Vivian yang juga membalas tatapannya.
"Mana King?" Zach bertanya pada Maria tapi matanya masih berfokus pada Vivian yang sudah membuang pandangannya. ke mana saja, asal jangan ke arah si pria berkulit gelap b******k yang membuat jantung Vivian nyaris berhenti berdetak.
"Di barisan paling depan, bersama Kak Arya," Maria berujar ramah.
"Oh."
"Anda datang bersama Niara?" Maria berbasa-basi, jelas-jelas Maria melihat tangan si pria berkulit gelap masih bertengger manis di pinggul Niara. Kakinya menyenggol Vivian yang masih terdiam dengan coat milik si pria berkulit gelap berada di pangkuannya. Sinyal untuk Vivian memberi salam pada lelaki berkulit gelap yang mematai Vivian seperti ingin menelanjangi Vivian.
"Seperti yang kau lihat."
Vivian tidak berani menatap mata si pria itu lagi, dia bahkan mengabaikan senggolan kaki Maria pada kakinya. Dia sudah tidak penasaran dengan sosok Niara si model yang sedang naik daun itu. Perjumpaan di Red Carpet tadi sudah cukup jelas di memori Vivian seperti apa seksinya wanita yang menjadi pasangan si pria berkulit gelap malam ini dan mendadak darah Vivian mendidih.
"Aku tidak butuh ini!" Vivian tiba-tiba berdiri dan mengangkat tangannya yang memegang coat milik si pria berkulit gelap. Matanya memandang tajam tepat ke arahnya. Rasa takut dan terintimidasi yang semula sangat kental dirasakannya, terganti dengan amarah yang tidak bisa Vivian tutupi.
"Pakai," Zach dengan segala dominasinya. Hanya satu kata yang diucapkan dan tatapan tajam membuat Vivian yang sudah sekeras batu, kini melemah seperti jeli. Keberaniaanya menguap tiba-tiba.
"Dari pada aku, wanitamu lebih butuh." Vivian masih mempertahankan harga dirinya. Dia tidak boleh kalah kali ini. Sudah terlanjur melawan. Tanggung.
"Ku bilang, pakai!" Zach berucap datar, wajahnya jelas-jelas mengatakan agar Vivian menurut pada ucapannya.
"Pa ... pakai saja, Kak. Lagian … lagian di sini dingin. Be ... benar kata Ace, pakai saja!" Maria mulai merasakan ada hawa-hawa membunuh dari Zach, membujuk Vivian agar menurut. Maria masih ingin hidup dan Maria juga tidak ingin melihat Vivian mati muda.
"Niara, kenakan ini. Pakaianmu terlalu terbuka, udara sedang dingin, pakailah." Vivian menetang perintah Zach, lagi. Vivian menyerahkan coat milik Zach ke arah wanita itu, belum sempat tangan Niara menyentuh coat itu, coat milik Zach sudah disambar oleh Maria dan memasangkannya dengan paksa pada Vivian.
"Dia sudah memakainya, Ace. Bahkan sampai tidur pun, aku akan memastikan dia memakainya, jangan khawatir!" Maria panic. Matanya melotot ke arah Vivian seolah berkata 'Kau tidak ingin melihat matahari besok?'
Vivian berhenti memberontak saat Maria mencubit pinggangnya keras-keras, matanya melontarkan protes atas rasa sakit di pinggangnya, tapi Maria memilih tidak peduli kali ini.
"Jangan menentangku, Vivian Salsadila. Kau tidak akan suka akan tindakanku selanjutnya." Zach menarik paksa dagu Vivian sampai mendongak ke arahnya.
Maria ketakutan sekarang, acara bahkan belum mulai dan harus melihat Vivian meninggal sebagai acara pembuka, bukanlah hal yang menarik menurut Maria.
"Ace, hentikan," itu Niara. Wanita seksi itu mencicit pelan. Menarik turun tangan Zach yang mencengkram dagu Vivian dengan hati-hati.
"Kau menyakitinya," tepat saat perkataan Niara masuk ke telinganya, si pria berkulit gelap melepaskan cengkraman tangannya di dagu Vivian yang sudah pucat pasi.
Tanpa berkata apapun, Niara dan si pria berkulit gelap berlalu begitu saja. Vivian sudah berkaca-kaca, takut, terintimidasi, juga kesal karena tidak bisa membela diri membuat Vivian kalut. Kakinya lemas, bahkan Maria membantunya agar duduk dengan benar. Tatapan-tatapan penasaran tidak bisa dihindari lagi, Maria bahkan menolak bertatap mata dengan orang-orang yang melihat mereka tanpa segan.
"Kak, kau kenal Ace?" Maria mengelus bahu Vivian yang bergetar menahan tangis yang hampir pecah. Coat milik Zach masih digenggamnya dengan erat, seolah dengan meremas coat milik Zach, pemiliknya akan ikut merasakan remasan bak cekikan itu dileher Zach.
"Dia … dia si b******k itu Ri! Dia Zach Rodriguez!" Vivian mengeram pelan, wajahnya tertunduk dalam. Bahkan untuk tampil sebagai pengisi acara, Vivian kehilangan mukanya.
"Tapi namanya Ace, Kak."
"Persetan! Aku membencinya Ri, sangat membencinya!"
***
Vivian sudah selesai tampil satu jam yang lalu dan ingin langsung pulang. Rasa terintimidasi dengan hadirnya Zach bisa diatasi Vivian. Dia tampil sempurna seperti biasa. Vivian baru saja jatuh tertidur sambil menunggu sang manager dan kru Vivian membereskan semua peralatannya di belakang panggung, saat lagi-lagi Zach muncul di ruangan yang dikhususkan untuk Vivian di belakang panggung.
"Maaf, Anda ada keperluan apa?" Manager Vivian, Davi yang lebih dahulu menyadari kedatangan Zach.
"Mana Vivian?" Zach mengedarkan pandangannya mencari-cari Vivian di dalam ruangan.
"Maaf, tapi Anda ada keperluan apa?"
"Kak Davi, dia Tuan Ace, pemilik saham di stasiun TV K, dia datang ingin bertemu Vivian, apa bisa?" itu King. Lelaki bersurai blonde itu adalah salah satu pengikut setia Zach.
"Ah, Anda Ace? Maafkan kelancangan saya Tuan, silahkan masuk." Davi membungkuk sambil mempersilahkan Zach masuk bersama King dan beberapa pengawal milik King.
Ace, nama lain dari seorang Zach Rodriguez. Zach biasa memakai nama Ace untuk pekerjaanya sebagai seorang CEO multicompany. Pebisnis bersih yang tidak terlibat dalam urusan 'bawah tanah' lebih akrab dengan nama Ace dibandingkan dengan Zach.
"Tinggalkan kami," dari pada permintaan, ucapan Zach itu jelas terdengar seperti perintah.
"Kosongkan ruangan ini!" perintah King pada pengawalnya yang berdiri setia di belakangnya sejak tadi. Mendegar perintah dari tuannya, pengawal King langsung memeriksa semua ruangan dan memastikan semua orang keluar.
Tidak sampai lima menit, semua kru dan juga Davi sudah keluar dari ruangan, termasuk King yang memilih berjaga agak jauh dari pintu dengan para pengawalnya berjaga di lorong. Memastikan tidak ada yang mencuri dengar ke dalam ruangan.
Zach berjalan ke arah kiri dimana terdapat sebuah kaca dan sofa panjang berwarna putih, di sana Vivian sedang tertidur pulas, dengan coat milik Zach sebagai selimutnya. Zach tersenyum miring, mendudukan tubuhnya di karpet menghadap Vivian yang tertidur bak orang mati.
Tidak ada yang dilakukan Zach, lelaki berkulit gelap itu hanya terdiam memandangi wajah Vivian yang tertidur pulas, dengan jemari Vivian menggenggam erat coat milik Zach seolah takut coat itu akan diambil darinya diam-diam. Lebih dari lima menit Zach memandangi Vivian tertidur sampai dia sadar masih banyak hal yang harus dia kerjakan.
Zach berdiri nyaris meninggalkan Vivian sampai suara isakan terdengar, Zach kembali terduduk di depan Vivian sambil mengelus kepala si surai coklat yang terisak kecil dengan air mata mengalir.
"Mimpi buruk?" Zach terkekeh, tangannya masih setia mengelus kepala Vivian, mencoba menenangkan tangis Vivian.
"Aku membencimu hiks … aku tidak takut padamu … hiks, awas saja kau pria berkulit gelap … hiks, aku membencimu .…" Vivian menangis dalam tidurnya. Zach nyaris tertawa keras saat menyadari Vivian bahkan menantangnya dalam tidurnya.
"Anak pintar. Kau memang harus mengingatku bahkan dalam mimpi buruk mu sekalipun" Zach terkekeh pelan dan mendekatkan diri pada Vivian. Zach memberikan kecupan di bibir Vivian cukup lama sebelum meninggalkan Vivian yang mulai tenang dalam tidurnya.