"Kak King! Astaga! Apa yang terjadi? Apa Kak Vivian di hajar oleh Ace? Apa Kak Vivian sekarat sekarang?" Maria bertanya heboh, bahkan King belum duduk dengan benar didalam mobil.
"Vivian baik-baik saja sayang…" King memasangkan seatbelt untuk Maria sebelum menyalakan mesin mobilnya.
"Lalu? Apa yang dilakukan Ace? Kenapa kalian lama? Aku khawatir pada Kak Vivian" Maria masih sibuk di kursinya, menarik-narik jas King, menuntut penjelasan,
Cup…
King menarik lengan Maria dan memberikan kecupan di bibir Maria agar bocah itu bisa diam ditempat. Cara yang selalu berhasil agar Maria bisa lebih tenang.
"Kak Zach tidak melakukan apapun pada Vivian , Love. Aku tidak tau pastinya, tapi saat aku masuk keruangan Vivian saat Kak Zach sudah pergi, Vivian sedang tertidur pulas. Apa itu sudah cukup menjelaskan kalau Vivian baik-baik saja, Love?"
"Tapi, kau sudah memastikan kalau badan Vivian masih utuh kan, Kak?" Maria bertanya, kali ini lebih tenang karena sudah dicium King.
"Dia masih bernafas, dan aku yakin tidak ada lebam apapun di badannya"
"Kau yakin Kak?"
"Love, Kak Zach tidak pernah memukul lawannya. Itu buang tenaga, kalau dia tidak suka, dia langsung membunuhnya dengan pistol" King menjalankan mobilnya pelan tanpa menyadari Maria yang berubah pucat.
"Ja… jangan-jangan… Kak Vivian…" Maria mulai berpikiran negative. Isi kepalanya seolah membenarkan ketakutannya. Vivian bukan tidur pulas, tapi mati.
"Tidak, sayang. Jangan berpikir yang bukan-bukan. Kita tunggu Vivian di apartemennya, oke? Dan aku yakin Vivian tertidur, bukan mati. Jadi jangan mulai mendramatisir keadaan." Final. King mengakhiri perdebatan dengan kelinci kesayangannya yang masih setia dengan mata terbuka selebar-lebarnya.
"Kak King, apa Ace dan Zach itu orang yang sama?"
"Yup. Perbedaannya Cuma Ace adalah putih, dan Zach adalah hitam."
***
Vivian terbangun saat merasakan tubuhnya diguncang pelan, pemandangan pertama yang dilihat Vivian saat terbangun adalah wajah managernya yang mengernyit. Wajah super penasaran yang ditahan-tahan. Ingin melontarkan jutaan pertanyaan tapi segan.
"Apa sudah selesai?" Vivian mendudukan diri, mengabaikan wajah sang manager yang penasaran entah untuk hal apa.
"Acaranya bahkan sudah selesai setengah jam yang lalu, Hall juga sudah mulai kosong. Ayo pulang" Ajak Davi sambil membantu Vivian berdiri.
"Benarkah? Kenapa kau tidak membangunkan ku, Kak? Astaga…."
"Kau tidur nyenyak sekali. Sepertinya selimut barumu sangat nyaman" Sindir Davi.
Vivian melihat coat yang sudah melorot dipangkuannya, coat milik Zach yang membuat Vivian tenang hanya dengan mencium wangi maskulin yang tertinggal di coat. Bahkan dia tertidur dengan sangat nyenyak.
"Kak! Jangan menyindirku, oke? Kalau ada yang ingin kau tanyakan, tanyakan saja." Kesal Vivian.
"Tidak ada yang ingin ku tanyakan, Vi. Ayo pulang. Oh, jangan sampai selimut barumu tertinggal" Ejek Davi.
"Aku tidak membutuhkan ini!" Vivian makin kesal melihat wajah Davi yang mengejeknya. Vivian membuang coat hitam itu begitu saja kelantai dan pergi meninggalkan Davi yang tertawa dibelakangnya.
"Hey! Vi! Selimut kesayanganmu tertinggal!"
"Aku membencimu, Kak!"
Davi masih tertawa sambil mengambil coat yang terjatuh kelantai, melipatnya dengan rapi dan menyampirkannya di siku tangannya.
"Dasar konyol. Sok tidak perlu, padahal selama tidur dia memeluk coat ini erat-erat" Davi geleng-geleng kepala dan berjalan menyusul Vivian keluar ruangan.
Vivian berjalan mondar-mandir di studio milik Galang sambil membaca headline majalah hari ini, disana terdapat berita yang menghebohkan soal Ace dan Niara. Juga foto keduanya yang tengah berciuman yang sengaja di blur pihak majalah.
"Vi, aku capek melihatmu berjalan mondar-mandir" Galang mengeluh. Sudah hampir lima belas menit Vivian mondar-mandir, dan mengganggu konsentrasi Galang dalam membuat lagu.
"Jangan lihat kalau begitu!" Vivian marah. Entah apa salah Galang. Yang seharusnya berhak marah seharusnya malah Galang, hey! Itu studio Galang!
"Kau ini kenapa? Sebelum melihat majalah itu kau masih baik-baik saja" Galang menghentikan pekerjaannya dan memperhatikan Vivian yang sudah menggigit kuku-kukunya.
"Kau lihat ini Kak! Headline majalah ini!" Vivian histeris. Kenapa Galang bisa sesantai ini. Ini berita heboh! Ayolah!
"Itu Ace yang sedang berciuman dengan Niara si model itu, lalu?"
"Kak! Ini berita heboh!"
"Dan?"
"Aish! Mereka berkencan? Yang benar saja? Si Niara itu kan baru saja berada di puncak karirnya. Kenapa dia berani sekali! Bisa-bisa karirnya hancur Kak!" Vivian histeris lagi.
"Karirnya akan hancur kalau dia diberitakan berkencan dengan pria sembarangan. Dia berkencan dengan Ace ngomong-ngomong. Aku yakin karirnya makin melejit. Pengusaha dibidang industry hiburan pasti mengincar Niara untuk dijadikan model, dengan begitu mereka bisa selangkah lebih dekat dengan si Milyarder itu kan?"
"Huh?" Vivian memadang Galang kebingungan.
"Kau tau, koneksi. Mereka membutuhkan Niara untuk dijadikan alat mereka bisa berhubungan dengan Ace."
"Sepicik itu?" Vivian takjup.
"Bahkan yang kudengar, perusahan kita akan memakai Niara untuk jadi model di Video Klip mu selanjutnya"
"WHAT?"
"Kak Vivian ….." Maria berlari mengejar Vivian yang baru saja keluar dari studio Galang. Selain bertetangga, Vivian dan Maria juga merupakan artis yang bernaung di agensi yang sama.
"Maria! Kemari, ada berita heboh!" Vivian menarik Maria paksa kearah lorong yang jarang dilewati orang, mereka berdua berdiri berhadapan dengan wajah penuh antusiasme, seolah tak sabar ingin menyampaikan sesuatu yang mereka punya.
"Aku duluan!" Maria berbinar-binar penuh antusiasme.
"Baiklah, jadi, apa yang kau punya?"
"Coba tebak!"
"Tidak sekarang Ri, aku sedang malas bermain tebak-tebakan. Apa kau mengetahui sesuatu?" Vivian memutar bola matanya jengah.
"Tentu! Ini bahkan lebih heboh dari seluruh Headline berita hari ini Kak! Lihat ini." Maria menyerahkan ponselnya pada Vivian.
Vivian tidak banyak bertanya, gadis bersurai coklat itu langsung memutar video di ponsel Maria. Jantung Vivian seolah tertumbuk melihat video kedua orang yang tertangkap kamera sedang berciuman panas di belakang mobil, video yang kualitasnya buruk karena pencahayaan yang kurang. Tapi Vivian yakin seratus persen tidak akan salah orang, itu video Niara dan Zach.
Vivian mengembalikan ponsel Maria saat sudah tidak tahan melihat video itu yang makin lama makin panas, tangan Vivian bergetar saat video itu menampilkan Zach sedang mengeluskan tangannya kebelahan d**a Niara yang terekspos, berputar ulang dikepalanya. Vivian tidak berniat melihat lebih lanjut lagi.
"Kak, ini belum selesai…" Maria menyodorkan lagi ponselnya, dan Vivian menolak dengan halus.
Focus mata Vivian bergetar, entah perasaan apa ini. Tapi Jantung Vivian berdenyut hebat dan membuat dadanya nyeri. Tangan Vivian yang bergetar di sembunyikannya di balik punggung agar tidak terlihat oleh Maria.
"Darimana kau mendapatkannya, Ri?" Vivian mencoba mengontrol suaranya yang bergetar.
"Dari chat grup ku bersama teman-teman ku Kak. Ini sedang heboh di bicarakan! Kau tak apa, Kak?" Maria baru menyadari perubahan wajah Vivian. Wajah sedih yang entah sejak kapan terpampang begitu saja di wajahnya.
"Kak? Hey! Kenapa menangis?" Maria bertambah panic saat wajah datar sarat kesedihan dihapannya itu meneteskan air matanya.
"Maria, kau tau aku membencinya kan? Tapi kenapa aku menangis karena hal ini?" Vivian tidak menangis sesunggukan, air matanya mengalir begitu saja. Dia benci seperti ini, tapi dia tidak bisa menahan air matanya agar tidak turun sembarangan.
"Kak, kau kenapa?" Maria lagi-lagi menjadi saksi Vivian menangis karena pria b******k bernama Zach Rodriguez.
"Air matanya tidak mau berhenti, bagaimana ini?" Vivian panic sendiri.
Vivian sudah kalut sejak mendapati headline majalah yang tidak sengaja terlihat oleh matanya di meja Galang. Mati-matian Vivian meyakinkan diri kalau hal itu bukan apa-apa, hal itu tidak akan berefek apapun padanya, hal itu tidak akan mempengaruhi Vivian karena memang Vivian tidak pantas menangisi hal seperti ini.
Tapi yang terjadi malah sebaliknya. Jika mengingat pertemuan pertama dengan Zach, hal itu bukanlah hal yang berjalan baik. Zach bahkan menembakan pistol kepintu agar Vivian berhenti dan menurut. Hal selanjutnya yang membuat Vivian nyaris melayang adalah kata-kata Zach yang mengatakan Vivian miliknya, kemudian Vivian terhempaskan begitu saja bagai sampah.
Dan semalam, Vivian kembali di buat melayang karena Zach menyerahkan coat nya untuk Vivian gunakan, padahal jelas-jelas Niara yang lebih membutuhkan coat itu dari pada dirinya. Vivian berpakaian formal, segalanya tertutup, berbeda dengan wanita yang datang bersama Zach yang berpakaian terbuka. Dilihat dari segi mana pun, jelas Niara yang harusnya menggunakan coat milik Zach. Bahkan Vivian bermimpi dicium Zach, dan membuat tidurnya semakin nyenyak.
Kemudian pagi harinya, Vivian terhempas lagi. Kali ini lebih keras daripada saat Zach dengan sengaja melepaskan gendongannya dan membuat Vivian mencium lantai.
"Kak, ayo pulang" Maria menarik Vivian dan menarik topi hoodie Vivian untuk menutupi wajah Vivian yang memerah karena menangis.
***
"Bagaimana video itu bisa tersebar?" Zach bertanya dengan tenang kepada Tom- informan Zach- yang berdiri dengan santai sambil memainkan pulpen ditangannya.
"Lain kali berhati-hatilah, boss" Tom menasehati.
"Aku bertanya, bukannya meminta nasehat" Zach memandang tajam kearah Tom.
"Well, jangan marah dulu, oke? Aku sudah dapat info, kalau video itu tersebar lewat situs berita online yang tampaknya memang sengaja melakukannya. Video itu dihapus setelah lima detik di upload. Oh, jangan remehkan kekuatan netizen boss, mereka gila!"
"Apa tujuannya?"
"Uang? Kerja sama?"
"Dari pada kerja sama, aku lebih suka menghancurkannya" Zach menggosokkan kedua tangannya, pertanda buruk kalau Zach benar-benar akan bertindak.
"Aku siap membantu boss. Selalu "
"Info soal Vivian Salsadila? Kau sudah mendapatkannya?" Zach bertanya dengan mimic dingin tapi matanya penuh antusias.
"Update terbaru, Vivian Salsadila terlihat bersama Maria Ghana baru saja keluar dari gedung agensi mereka. Yang menarik adalah…" Tom sengaja menggantung kalimatnya untuk menarik perhatian Zach lebih lagi.
"Apa?"
"Dia terlihat sangat manis boss. Wajahnya dan hidungnya memerah, sepertinya habis menangis. Aku jadi ingin melindunginya" Tom bermimik sedih, seolah empati terhadap Vivian yang kedapatan habis menangis.
"Katakan itu lagi, kau akan mati di tanganku" Zach berujar sambil membaca kertas yang diserahkan Tom saat datang keruangannya.
"Wah, Posesif sekali…." Ejek Tom.
"Mau kepala, perut, atau d**a?" Zach sudah bersiap menarik pelatuk pistol yang mengarah ke Tom.
Pemuda keturunan cina itu berubah panic.
"Boss, kau tau aku bercanda kan? Ayolah. Turunkan itu. Kau menyeramkan" bujuk Tom.
"Ya, aku juga bercanda" Zach menurunkan pistolnya dan kembali sibuk membaca. Terkadang Tom tidak paham atas selera humor boss arogannya ini.
Vivian merenung didalam mobil bersama Maria yang setia menyetir tak tentu arah. Vivian tidak ingin pulang, setidaknya jangan sekarang. Dia masih kebingungan sendiri dengan perasannya yang berubah labil jika menyangkut pria berkulit gelap b******k itu.
"Kak, aku lapar" akhirnya Maria bersuara, memecah keheningan yang terjadi sejak tadi.
"Ayo cari makan. Tapi kita makan di mobil saja ya? Aku sedang tidak ingin berada di luaran, Ri."
Maria akhirnya memarkirkan mobilnya dekat jembatan yang mengarah ke sungai. Didekat sana ada penjual ayam goreng enak yang menjadi langganan Maria. Kedai yang buka sampai tengah malam.
Jam sudah menunjukan pukul setengah dua belas malam, Maria meninggalkan Vivian yang sedang duduk disamping badan mobil yang mengarah ke sungai. gadis bersurai coklat itu terduduk sambil merenung lagi, berkhayal yang bukan-bukan, memutar kembali seluruh kenangan selama hidupnya. Hening yang menenangkan dengan udara segar, dan suara air mengalir tampaknya merupakan hal yang sangat Vivian butuhkan saat ini.
Ketenangannya tidak bertahan lama karena mendadak Vivian mendengar suara ribut-ribut dibawah jembatan, dan suara seorang pria yang seperti memohon ampun. Vivian berdiri dan memanjangkan lehernya kearah bawah jembatan yang minim cahaya. Detik berikutnya suara pria yang memohon itu tidak terdengar lagi bersamaan dengan suara tembakan dari arah bawah jembatan.
Vivian membulatkan matanya, jantungnya berdetak kencang. Kenangan soal Vivian yang nyaris terkena tembakan berputar lagi di kepalanya. Kakinya luruh ketanah, tidak sanggup membopong tubuhnya lagi.
"A… apa itu?" tangan Vivian bergetar, bola matanya bergerak liar.
Vivian baru saja akan berlari saat bau anyir darah tercium disekitarnya. Vivian membeku. Vivian melihat bayangan seseorang tepat di belakangnya.
"Wah, aku ketahuan…" suara lembut gadis yang berdiri di belakang Vivian terdengar ceria, berbanding terbalik dengan Vivian yang sudah pucat pasi. Bahkan membalikkan kepalanya untuk melihat siapa dibelakangnya, Vivian tidak sanggup.
"Bagaimana ini?" lanjut suara itu lagi, suara yang jelas-jelas berpura-pura ketakutan.
"A… aku tidak melihat apapun, aku bersumpah!" Vivian panic saat merasakan benda dingin dan keras berada di kepalanya.