Chapter 5

1129 Kata
"Tapi kau mendengar sesuatu. Bagaimana ini? Aku sudah ketahuan…" suara itu berintonasi sedih. Vivian makin merinding dan matanya mulai berkaca-laca. Dalam hati dia berdoa agar Maria jangan kembali. Setidaknya jangan sekarang. "Aku bersumpah, aku tidak akan berbicara soal apapun…" Vivian nyaris terisak. Vivian yakin yang berada di kepalanya saat ini adalah pistol. "Maafkan aku, kepala coklat. Tapi bosku tidak akan suka kalau aku bekerja tidak bersih" ucap gadis dibelakang Vivian itu lagi. Gadis itu makin menekan kepala Vivian dengan pistolnya sampai Vivian menunduk dalam dengan kedua tangan terangkat. Suara pelatuk pistol yang ditarik membuat Vivian makin memejamkan matanya erat, menunggu saat Vivian akan kehilangan nyawanya sedetik lagi. Vivian sudah terisak hebat menunggu saat-saat kematiannya. "Biar aku yang membunuhnya, Hana" Suara itu. Vivian hapal suara berat itu. Wangi parfum bercampur bau darah menyerang indra penciuman Vivian membuat detakan jantungnya makin menggila. Lebih gila dibandingkan dengan Vivian yang akan kehilangan nyawanya. "Boss, maafkan keteledoranku hari ini, ini akan segera berakhir saat peluruku bersarang dikepalanya." Hana berucap penuh hormat. "Biarkan aku yang membereskannya. Kembalilah ke mobil, dan buang mayat jurnalis b******k itu sejauh-jauhnya." Zach berjalan kearah Vivian yang masih setia menunduk dengan tangan terangkat keatas. Isak tangisnya makin hebat bahkan setelah Vivian menahan tangis dengan menggigit bibir bawahnya. "Tidak menyangka bisa bertemu dengan mu dengan cara seperti ini, Vivian Salsadila" Zach makin mendekat dan mengelus kepala Vivian sambil berjalan kedepan gadis bersurai coklat yang masih menunduk itu. "Ja… hiks.. jangan membunuhku… hiks… aku… aku" Vivian gemetaran hebat, bahkan untuk mengangkaat kepalanya dia tidak berani. "Ssshhh… aku tidak suka anak yang cengeng" Zach mencengkram leher Vivian kuat, memaksa gadis bersurai coklat itu mendongak kearahnya. Mata Vivian bergetar, air mata tidak berhenti menetes dari matanya, dan lehernya tercekik. Di depannya tengah berdiri sosok yang begitu mengintimidasi, menakutkan, dan yang membuat Vivian kebingungan setengah mati. "Sa…sakit…" Vivian memegang pergelangan tangan Zach yang makin erat mencengkram lehernya, benar-benar sudah tercekik dan sulit bernafas. "Bicara yang jelas, anjing kecil…" Zach menyeringai jahat. "Lepaskan, hiks.. kumohon…" Vivian memohon, karena makin lama cengkraman tangan Zach makin kuat dilehernya. "Kau sudah tau kalau aku tidak suka anak yang cengeng, bukan? Hentikan tangis mu itu" Vivian menahan tangisnya sekuat tenaga. Bukan saatnya menantang Zach jika masih ingin hidup besok hari. "Anak pintar…" Zach tersenyum cerah, cengkramannya terlepas dan Vivian terjatuh ketanah sambil terbatuk dan memegangi lehernya yang Vivian yakin akan membiru. Belum sempat Vivian mengambil nafas sebanyak-banyaknya, Zach sudah menarik lengan atasnya dan memaksa Vivian berdiri. Berhadapan sangat dekat, dan d**a yang saling menempel tanpa jarak. "Karena kau sudah mengetahui hal yang baru saja terjadi, dengan terpaksa aku harus melenyapkanmu, Vivian Salsadila. Indonesia pasti akan sedih kehilangan seorang media darling seperti mu…" Zach berucap miris. Tangannya menarik dagu Vivian agar menatapnya, sementara Vivian sudah tidak punya tenaga untuk melawan semua d******i Zach. "Tidak, kumohon… jangan… aku berjanji akan tutup mulut" Vivian memohon belas kasihan Zach. "Apa jaminannya kau akan tetap menutup mulutmu, sayang? Tidak ada!" "Aku… aku menjaminkan diriku sendiri. Kau bisa membunuhku kapan saja kalau sampai aku membocorkan informasi soal ini" Vivian menangis lagi. Ketakutan benar-benar melahap semua kekuatan dan harga dirinya di depan pria berkulit gelap itu. "Kalau begitu, jadilah peliharaan ku yang penurut. Kau tau, majikan akan melindungi peliharaannya dengan baik jika peliharaannya itu jadi anak penurut kan?" ucapan Zach dingin tanpa perasaan, bahkan Vivian bisa merasakan ancaman nyata dari ucapan itu. "Aku berjanji akan menurut, aku berjanji" Vivian menganggukan kepalanya berkali-kali. Zach terdiam, matanya memperhatikan mata Vivian yang mulai berhenti mengalirkan air mata. Mencari tau perasaan Vivian yang sebenar-benarnya. Dan Zach sedikit mencelos saat mendapati tatapan Vivian yang terluka di balik tatapan panic dan ketakutan yang tunjukan Vivian dengan jelas padanya. Pria berkulit gelap itu mendekat dan memagut bibir Vivian pelan. Vivian yang mendapatkan ciuman mendadak dari pria berkulit gelap itu membolakan matanya, tangannya terkulai lemas di sampirng tubuhnya. Vivian benar-benar merasa bingung sekarang, bagaimana bisa pria yang sedang menciumnya ini memberikan Vivian perasaan aman dan terlindungi, sementara baru sedetik lalu Vivian akan dilenyapkan oleh orang yang sama. Ciuman itu berubah menjadi semakin menuntut, Vivian bahkan dengan suka rela membuka mulutnya untuk dijelajahi pria yang baru saja mengancam akan membunuhnya. Bahkan lebih gilanya, Vivian menikmati perlakuan pria itu. Tangan Vivian yang tadi terkulai lemas bahkan sudah mengalung dileher pria berkulit gelap itu tanpa ragu. Ciuman itu terlepas saat Vivian mulai berontak dalam pelukan Zach karena kehabisan nafas, dengan malas, Zach melepaskan tautan bibirnya dan Vivian. Vivian terengah-engah, meraup oksigen dengan rakus, sementara Zach memandangi wajah Vivian tanpa ekspresi. Tangan pria berkulit gelap itu bergerak mengusap bibir bawah Vivian yang merah membengkak akibat ciuman mereka barusan. Vivian tersentak dan memandang Zach takut-takut. "Kau milik ku, dan jangan coba-coba lari, Vivian Salsadila. Karena aku akan mencarimu bahkan ke kerak neraka sekalipun. Jadilah peliharaan yang penurut. Mengerti?" Zach bernada memerintah, alisnya tertarik satu keatas. Vivian hanya menanggukkan kepala sebagai jawaban. Kesadaran Vivian masih berada entah dimana. "Pakai ini, disini dingin" Zach melepas Jas yang di pakainya, menyampirkan di bahu Vivian dan berjalan meninggalkan Vivian yang membatu di tempatnya. Saat Zach tidak terlihat lagi, Vivian luruh ketanah lagi, kakinya lemas, perasaanya campur aduk. Perasaan gila yang Vivian tidak tau seperti apa mendeskripsikannya, takut, senang, dilindungi dan dicintai bercampur menjadi satu. Lima menit Vivian masih berlutut di tanah dengan pikiran kosong. Terlihat Maria berlari tergopoh kearah Vivian dengan bungkusan makanan ditangannya. Bahkan makanan dalam bungkusan itu sudah keluar dari kemasannya, hancur lebur didalam bungkusan. "Kak, astaga… ada apa? Apa yang terjadi?" Maria panic bukan main mendapati keadaan Vivian yang jauh lebih mengenaskan dari terakhir kali Maria tinggalkan. Maria mengguncang bahu Vivian kencang untuk mengembalikan kesadaran Vivian, dan berhasil. Vivian berkedip sekali, dan wajah lega Vivian tidak bisa disembunyikan lagi, Vivian memeluk Maria erat, ketakutan. "Kak, tidak apa, aku disini. Tenanglah…" Maria mengelus punggung Vivian yang bergetar hebat. "Maria, jangan tinggalkan aku…" Vivian bercicit ketakutan. "Tidak Kak, kau aman sekarang. Tenanglah. Jangan panic, oke?" Maria masih setia memeluk Vivian yang ketakutan setengah mati. "Bawa aku pergi dari sini Maria, kumohon…." Vivian makin bergetar dipelukan Maria. Maria kebingungan setengah mati, dia tidak tahu apa yang terjadi pada Kakaknya ini sampai trauma seperti ini. Kebingungan Maria bertambah saat mendapati jas berwarna abu gelap tergeletak ditanah di belakang Vivian. Apa baru saja ada yang datang menemui Kak Vivian? Maria membatin. "Kak, tenanglah. Ayo kita pulang sekarang. Jangan takut, aku disini…" Maria mengambil jas abu itu dari tanah dan menyampirkannya di bahu Vivian, membantu gadis bersurai coklat itu untuk berdiri dan berjalan menuju mobil Maria. Satu hal yang Vivian yakin sekarang, kehidupan Vivian tidak akan bisa kembali seperti semula. Vivian baru saja melakukan perjanjian dengan iblis. Iblis bernama Zach Rodriguez, dengan tali kekang tak kasat mata yang melilit leher Vivian, memastikan Vivian tidak membangkang, mengontrol segala hal tentang Vivian, dan memastikan Vivian menuruti perintahnya tanpa bisa membantah. Tali kekang yang sampai mati Vivian tidak akan bisa melepasnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN