Chapter 6

1480 Kata
Vivian, kenalkan, ini Niara yang akan menjadi model di Video Clip terbarumu. Dan Niara, ini Vivian Salsadila" Sang sutradara – Yogi- memperkenalkan keduanya saat rapat akan diselenggarakan. "Mohon kerja samanya Vivian" Niara membungkuk canggung di depan Vivian. "Ah, Iya. Mohon kerjasamanya juga, Niara" Vivian Ikut membungkuk. Vivian diam-diam mematai wanita cantik berbalut kemeja putih sesiku dengan jeans biru didepannya. Vivian harus akui, wanita pilihan Zach ini benar-benar pujaan laki-laki. Kulitnya putih, rambut sebahu, sopan, dan sepertinya menyenangkan. Tak berbeda dengan Vivian, Niara juga diam-diam menilai Vivian dari ekor matanya, "Baiklah, silahkan duduk kembali. Produser sudah mempercayakan konsep video clip ini padaku, jadi, seperti biasa, kita akan membahas ini lebih dahulu." Yogi memulai rapat soal konsep yang akan di tunjukan di video clip terbaru Vivian. Vivian tidak bisa berkonsentrasi dengan hadirnya Niara di ruangan. Siapa sangka ucapan Galang dua minggu lalu menjadi kenyataan, semuanya! Mulai dari Karir Niara meroket karena scandal video ciuman panasnya bersama Zach Rodriguez yang tersebar kemana-mana dan tentang agensi tempat Vivian bernaung yang mengincar Niara sebagai umpan untuk bisa dekat dan berbisnis dengan Zach Rodriguez. Ini gila. Vivian bahkan tidak pernah menyangka hal ini, agensi seraksasa ini masih bermain kotor dengan menggunakan umpan perempuan. Selama rapat dilaksakan, Vivian hanya mengiyakan tanpa benar-benar menyimak apa yang ditanyakan kepadanya. Semua konsep yang diterangkan oleh sang sutradara hanya Vivian angguki tanpa tahu maknanya. Dua jam lebih rapat itu baru usai, para kru yang akan bekerja lusa dalam proyek video clip Vivian mulai meninggalkan ruangan satu persatu, meninggalkan Vivian, Niara, sutradara, manager Davi, dan asisten sutradara diruangan. "Niara, apa tuan Ace tau anda datang kesini?" Yogi bertanya amat sangat ramah, berbeda 180 derajat dari dirinya yang baru saja memimpin rapat dengan tegas. "Huh? Haruskah dia tahu?" Niara merapikan penampilannya sebelum berdiri meninggalkan ruangan. "Apa anda sedang bertengkar dengan tuan Ace?" sambung Yogi lagi. "Tidak, tuan Yogi. Aku rasa dia tahu, mengingat bagaimana sifatnya, tentu dia tau tanpa harus ku beritahu lebih dahulu" Niara memberi senyum bersahaja untuk pertanyaan yang mulai mengganggunya. "Baiklah kalau begitu. Ah… dan Niara, tolong sampaikan salam tuan Sam – CEO- pada tuan Ace" "Ya, akan kusampaikan. Dan, Vivian, sampai bertemu lusa." Niara langsung beranjak pergi tanpa menunggu respon dari Vivian yang tersenyum jengah kearah sang sutradara. "The power of money" desis Vivian. "Itulah kenapa kau harus kaya Vi. Lihat bagaimana mereka memperlakukan si model itu hanya karena dia menjabat sebagai kekasih Ace" respon Davi yang tidak sengaja mendengar ucapan Vivian yang tepat disampingnya. "Dia bukan kekasihnya!" marah Vivian pada Davi. Sementara yang terkena marah tanpa sebab hanya melongo memandang Vivian yang sudah berjalan keluar ruangan. *** Vivian bukan si dungu yang tidak tahu situasi. Dia paham betul kalau selama beberapa minggu ini dia di awasi, entah dapat insting darimana tapi dia sering merasa semua tingkah laku dan ucapannya dimonitor dari jauh. Memastikan Vivian tidak membangkang, atau mencoba melepas tali kekang dilehernya. Vivian juga sadar, pelaku penembakan mobilnya dua hari setelah kejadian dia mengetahui seseorang bernama Hana sudah membunuh seorang jurnalis, adalah orang suruhan Zach Rodriguez. Dan Vivian makin waspada pada apapun yang di ucapkannya. Sedikit saja mulutnya berani terbuka mengenai kejadiaan malam itu, maka nyawa Vivian adalah taruhannya. Seperti saat itu, Maria yang memaksa Vivian bercerita tentang kejadian malam itu. Maria Memasuki mobil Vivian dengan seenaknya dan memaksa Vivian bercerita setelah setengah jam lebih merengek pada Vivian agar Vivian buka suara. Baru saja Vivian menceritakan tentang suara pria berteriak ketakutan dibawah jembatan dan, DOR! Spion sebelah kanannya ditembak seseorang. Dan Vivian bukan si dungu yang tidak tahu menahu perihal itu. Tembakan pada spion mobil nya jelas menjadi alarm Vivian agar menutup rapat mulutnya. Terbukti sampai saat ini Vivian masih hidup dengan tidak membuka mulut atau berusaha menceritakan apa yang terjadi, satu-satunya hal yang bisa Vivian lakukan untuk hidup tenang adalah dengan menutup rapat mulutnya, kalau bisa, dia ingin mencuci otaknya agar ingatan saat malam itu terlupakan olehnya. Dan Vivian benar-benar sadar, dia mengikat dirinya pada iblis yang jelas-jelas bukan lawannya yang seimbang. *** "Arya, apa itu kau yang melakukannya?" Lyala bersidekap di depan meja kerja Arya, memandang garang tunangannya yang kebingungan atas kemarahan Lyala. Lyala datang bak badai ke hotel milik Arya, hal yang sangat jarang dilakukan Lyala selama ini, datang tanpa pemberitahuan lebih dahulu. "Apa yang kau bicarakan, sayang?" Arya meletakan kertas yang daritadi di bacanya diatas meja. Berjalan kearah Lyala dan ingin memeluk gadis cantik itu, namun sayang, Lyala menolaknya mentah-mentah. "Jawab saja! Apa kau yang menembak mobil Vivian?" Suara Lyala naik satu oktaf. Pertanda untuk Arya kalau tunangannya benar-benar marah kali ini. "Maafkan aku…" Arya menyesal. "Demi Tuhan, Arya! Apa kau gila? Di dalam mobil itu ada Maria dan Vivian!" Lyala memandang Arya dengan sorot tidak percaya terlihat jelas dimatanya. "Aku terpaksa sayang" "Terpaksa? TERPAKSA, ARYA DARSANA?" Lyala meledak. Bahkan Lyala mendorong bahu Arya yang berusaha merengkuhnya. "Tapi mereka tidak ada yang terluka, aku bisa pastikan itu, Honey." Arya menggunakan panggilan sayangnya untuk Lyala, berharap hal itu bisa meredakan sedikit saja kemarahan Lyala. "Kau gila! Mereka memang tidak terluka fisik, tapi pikirkan mental mereka Arya! Beruntung Vivian bisa menyetir dengan selamat sampai ke apartemen ku saat itu. Mereka ketakutan, bahkan wajah mereka pucat pasi, Arya. Dimana otak mu?" Lyala memuntahkan seluruh kemarahannya tanpa bisa dicegahnya. Fakta bahwa beberapa minggu yang lalu, orang yang hampir mencelakai adiknya adalah tunangannya sendiri membuat Lyala meradang. "Lyala, tolong dengarkan aku dulu…" "Aku kecewa padamu, Arya" Lyala berjalan menuju pintu dengan amarah yang masih di ubun-ubun. Arya tidak tinggal diam dan menarik Lyala kepelukannya. Menahan Lyala yang memberontak dalam pelukannya, memukuli, mencakar leher Arya yang tidak tertutup Freyan, bahkan kaki Lyala menendang tulang kering Arya tanpa kasihan. "Aku bersalah Lyala, aku bersalah. Maafkan aku…." Arya masih setia memeluk Lyala yang masih menyerangnya dengan brutal dalam pelukannya. "Lepaskan aku, b******k!" "Tapi aku tidak punya pilihan lain. Vivian bisa saja ditembak di kepalanya saat itu kalau aku tidak buru-buru mencegahnya, Lyala!" Arya berusaha menjelaskan. "Apa maksudmu?" Lyala berhenti memberontak, tapi matanya jelas menantang Arya. "Dari mana kau tahu hal ini?" Arya balik bertanya. "Itu bukan hal yang penting sekarang! Fakta bahwa kau ingin mencelakai adikku, benar-benar memuakkan, Arya Darsana! Kau bahkan pintar berakting ternyata, saat aku menceritakan hal yang terjadi pada Vivian dan Maria kau berlagak tidak bersalah. Wow sekali, Arya Darsana" Ejek Lyala. "Aku tidak pernah ingin mencelakai Vivian dan Maria, Lyala. Tolong dengarkan aku dulu, kumohon duduklah" Arya tau Lyala tidak akan menurutinya kali ini, jadi Arya memilih menggendong Lyala kearah sofa dan mendudukkan Lyala dengan paksa, karena lagi-lagi gadis cantik itu memberontak padanya. Lyala duduk dengan kedua tangannya tergenggam oleh Arya diatas pahanya, sementara Arya berlutut didepan Lyala. Memastikan Lyala tidak bisa lari kemana-mana. "Jelaskan!" Lyala memandang nyalang kearah Arya. "Vivian mengetahui sesuatu…" mulai Arya. "Apa yang dia ketahui sampai kau ingin melenyapkannya, tuan Darsana?" "Sayang, ini bukan tentang aku atau Maria. Vivian dalam situasi yang tidak menguntungkan saat itu. Vivian mengetahui tentang pembunuhan yang dilakukan oleh salah satu anggota Kak Zach. Dan Vivian tertangkap. Dia nyaris saja dibunuh saat itu, tapi Kak Zach entah atas alasan apa, melepaskan Vivian. Sebagai gantinya, Vivian menjaminkan dirinya dan harus tutup mulut soal pembunuhan itu, sedikit saja Vivian membuka suara, Vivian akan dibunuh" Jelas Arya. "Dan?" "Dua hari setelah kejadian malam itu, Saat dimobil, Maria memaksa Vivian bercerita tentang kejadian hari itu. Hari yang bertepatan dengan beredarnya video ciuman panas Kak Zach dan perempuan itu." Arya menunduk. Dahinya bersandar dilipatan tangan Lyala yang digenggamnya. Setelah beberapa detik, kepalanya kembali terangkat dan memandang mata Lyala yang mulai melunak. "Dan darimana kau bisa mengetahui isi pembicaraan mereka di dalam mobil?" "Freya, salah satu anggota Kak Zach menyadap mobil Vivian. Dan Freya juga yang nyaris menembak kaca mobil Vivian. Jika sedetik saja aku terlambat, maka Vivian bisa…. Kau tahu… Zach Rodriguez selalu melakukan kata-katanya" Arya mendongak melihat mata Lyala yang membola terkejut. "Jadi, mereka mengawasi Vivian?" "Benar. Dan aku bersyukur karena hanya aku yang diminta Kak Zach untuk mengawasi Vivian mulai sekarang. Sebelumnya, Freya dan aku yang ditugaskan mengawasi Vivian, tapi aku lupa kalau Freya itu sangat penurut. Dia menuruti Kak Zach dengan sangat baik, dan itu mengerikan. Aku hampir mati sakit jantung saat melihat dia mengarahkan pistolnya tepat ke kaca mobil yang berisi Vivian di baliknya." Arya bercerita lagi. "Apa yang kau lakukan saat itu?" Lyala melunak, sedikit banyak merasakan tekanan yang Arya rasakan. "Aku menarik pistol dari tangan Freya buru-buru. Kemudian menembakkannya ke kaca spion mobil Vivian. Jika aku tidak melakukannya, setelah merampas pistol Freya, bisa-bisa aku yang mati tertembak dengan pistol itu" Arya meletakkan kepalanya dipaha Lyala. Bebannya sedikit berkurang setelah selama beberapa minggu menutupi hal ini dari Lyala. "Maafkan aku…"Cicit Lyala. Tangannya mengelus rambut Arya, Lyala menyesal. "Bukan salahmu. Aku juga akan beraksi sama jika itu terjadi padaku" Arya mengangkat kepalanya dan tersenyum lebar kearah Lyala yang masih duduk manis di sofa. "Kau pasti lelah karena hal ini. Maafkan aku" Lyala mengelus sayang wajah Arya yang masih setia dengan senyum lebarnya. "Cium aku, maka kau akan ku maafkan" Arya menyeringai.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN