Syuting video clip Vivian berjalan lancar, tinggal pengambilan gambar terakhir dan semuanya selesai. Vivian menghadapkan wajahnya kearah kaca meja rias di dalam ruang make up, sementara di studio sedang ada Niara untuk pengambilan gambar terakhir. Vivian memandang wajahnya yang di make up tipis, wajahnya tampak loyo dan bahunya bahkan melorot. Benar-benar lelah.
Vivian baru menutup matanya lima detik saat suara berat itu masuk ketelinganya. Zach Rodriguez datang kelokasi syutingnya? Atau Vivian mulai berhalusinasi?
"Lelah sekali, anjing kecil?"
Vivian membuka matanya kaget, langsung duduk tegak. Pantulan Zach Rodriguez didalam kaca didepan Vivian menjadi fakta kalau Zach benar-benar datang kelokasi syuting.
"A.. ada apa?" Vivian gugup seketika. Lelah yang menyerangnya mendadak hilang entah kemana, berganti dengan jantungnya yang berdegup gila.
Zach berjalan mendekat kearah Vivian yang masih terduduk kaku di depan kaca meja rias, senyum arogan itu terpampang makin jelas saat melihat Vivian terintimidasi. Tangan Zach diletakkannya di atas bahu Vivian dan membuat gadis bersurai coklat itu terkejut tanpa bisa di tutupi lagi.
"Kau menjadi anak penurut selama beberapa minggu ini kan, anjing kecil?" Zach meremas kedua bahu Vivian. Jarak yang hanya terhalang oleh sandaran punggung kursi, sedikit menyelamatkan jantung Vivian yang sudah berdegup makin gila. Vivian yakin dia bisa mati muda di dekat pria arogan ini.
"Ya, aku tidak membuka mulutku sama sekali" Vivian menelan ludah gugup.
"Benarkah?" Zach memajukan kepalanya kedepan, sejajar dengan kepala Vivian sebelah kanan, bahkan pipi mereka hampir bersentuhan.
Vivian menundukkan pandangannya dan mengangguk sebagai jawaban, tidak berani memandang pantulan wajahnya di cermin, sementara Zach sudah menyeringai jahat tanpa Vivian ketahui.
"Kau tahu, aku tidak suka anak nakal, apa sekarang kau sedang mencoba jadi pembohong?" Zach meletakkan dagunya diatas kepala Vivian kali ini, sementara tangannya sudah memeluk bahu Vivian yang menegang di depannya. Perlakuaanya manis, tapi jelas ini intimidasi. Vivian bisa dengan jelas merasakannya, bahkan tanpa pistol mengarah ke kepalanya. Si arogan ini sedang menunjukan pada Vivian siapa yang paling berkuasa diantara mereka berdua dengan cara yang unik.
"Maafkan aku, aku… aku bahkan tidak jadi menceritakannya" cicit Vivian. Vivian tau dia sudah ketahuan berbohong. Jangan lupakan alasan penembakan mobil nya saat itu.
"Jadi kau berencana menceritakannya?" Zach pura-pura terkejut di intonasi suaranya, berbanding terbalik dengan matanya yang berkilat jahil. Mungkin mengintimidasi 'anjing kecil' ini sudah menjadi hobi barunya.
"Bu… bukan, aku tidak bermaksud begitu, hanya saja…" Vivian panic, tanpa sadar memegang tangan Zach yang memeluknya. Bohong kalau Vivian tidak merasa aman dipelukan si arogan itu, tapi Vivian juga merasakan intimidasi yang nyata dari hal itu
"Kau tahu, jika ada orang lain yang tahu, dia akan bernasib sama denganmu, Vivian Salsadila" Zach terkekeh sambil melepaskan pelukannya pada Vivian.
"M… Maria tidak tahu apapun, aku jamin hal itu tuan Ace. Jangan libatkan dia" Vivian tanpa sadar berdiri langsung menghadap Zach yang memandangnya dengan sinis. Ketakutan menghantui Vivian, membayangkan Maria akan terkena masalah sepertinya.
"Huh? Benarkah?"
"Maria tidak tahu apapun, sebelum aku sempat bercerita, seseorang menembak kaca spion mobilku, dan … dan… aku tidak membahas hal itu lagi dengan Maria setelahnya. Aku bersumpah" Vivian menjelaskan, mulai putus asa. Benar-benar merasa bodoh karena menceritakan masalah yang seharusnya tidak boleh diketahui oleh siapapun, terlebih pada Maria.
Zach membalik kursi yang tadi digunakan Vivian dan mendudukan dirinya disana, tepat didepan Vivian yang berdiri gugup.
"Apa buktinya kalau Maria benar-benar tidak tahu?" Zach mendongak menatap Vivian yang menunduk, Vivian meremas kedua tangannya, jelas-jelas ketakutan sekarang.
"A… aku tidak bisa membuktikannya, tapi aku bisa jamin kalau Maria tidak tahu apapun tuan Ace…" Vivian putus asa sekarang, bagaimana dia bisa membuat pria arogan ini percaya padanya, dia benar-benar dalam masalah sekarang.
Vivian terkejut saat pistol diarahkan tepat di dahinya, matanya bergetar memandang Zach.
"Kau sedang ingin menguji kebaikan ku, Vivian Salsadila?" Zach tersenyum jahat, moncong pistol bergerak ke kiri dan ke kanan di dahi Vivian, membuat Vivian otomatis mundur dan menabrak meja rias di belakangnya.
Vivian yang merasa terintimidasi mulai hilang akal. gadis bersurai coklat itu memegang pistol Zach dan mengarahkannya tepat kedahinya, membuat pistol yang tadinya bergerak ke kiri dan ke kanan berhenti tepat di tengah dahinya. Tangan Vivian bahkan bergetar hebat, dia ingin menangis tapi dia tau Zach benci melihat tangis, jadi gadis bersurai coklat itu menutup matanya rapat-rapat. Saat pelatuk yang ditarik Zach terdengar di telinganya, Vivian makin mengeratkan pejaman matanya.
Vivian tersentak saat kerah bajunya ditarik dan bukannya tembakkan di dahi yang di dapatkannya, melainkan ciuman panas yang jujur saja Vivian rindukan. Vivian tetap tidak berani membuka matanya karena dinginnya moncong pistol sudah berpindah ke telinga kirinya.
Ciuman itu menuntut, dan Vivian menikmatinya. Hitung-hitung ciuman selamat tinggal, setidaknya saat Vivian mati nanti, Vivian bisa mati dengan tenang. Saat tangan Zach merayap di dalam bajunya, meraba perutnya sampai kedada, Vivian kehilangan kewarasannya. Bahkan Vivian tidak memperdulikan pistol yang masih setia berada di telinga kirinya. Vivian benar-benar merasa senang karena diinginkan saat ini.
Vivian meremas rambut belakang Zach dengan berani, entah sejak kapan tangannya merayap kebelakang kepala Zach, Vivian tidak mau perduli. Tepat saat Zach menggendongnya dan mendudukan Vivian di meja rias, Vivian makin berani, bahkan Vivian melingkarkan kakinya dipinggang Zach. Sentuhan Zach di tubuhnya benar-benar membuatnya mabuk, Vivian bahkan lupa dia masih diruang make up yang kapan saja bisa dimasuki orang lain. Yang dia inginkan sekarang adalah membuktikan perasaan gila yang mengganggunya, membuktikan apakah Vivian hanya terpesona atau sudah jatuh pada tuan arogan ini.
Baju milik Vivian sudah terlepas dari tubuhnya, kancing kemeja Zach juga sudah terlepas seluruhnya. Bahkan tanda kemerahan di d**a dan leher Vivian sudah terlihat jelas. Kepala Vivian mendongak keatas menabrak kaca yang berada di belakangnya,nafasnya terengah-engah, pasrah atas apapun yang Zach lakukan atas tubuhnya. Pistol yang sedari tadi menempel di telinga Vivian sekarang tergeletak begitu saja di lantai. Kesadaran Vivian hampir hilang saat Zach membuka gesper hotpants Vivian, saat kemudian tiba-tiba ucapan Lyala melintas diotaknya.
'Zach Rodriguez punya banyak kekasih'
Detik saat pemikiran itu terlintas, Kewarasan menampar Vivian keras. Vivian mendorong bahu Zach dan berdiri goyah. Wajahnya memerah menahan marah dan nafsu yang mencampur menjadi satu.
"Aku… aku bukan jalangmu…" Vivian mencicit pelan, nafasnya masih memburu.
Zach hanya terdiam memandang Vivian yang berdiri gemetar di depannya. Keheningan menyelimuti dan menyesakkan Vivian. Dia menunduk memungut bajunya yang tergeletak di lantai disebelah kakinya, menutup tubuhnya dengan bajunya.
"Kau bukan jalangku" Zach akhirnya bersuara saat menangkap mata Vivian yang terluka.
"Ya benar, aku bukan jalangmu. Tapi peliharaanmu…" Vivian tersenyum miris. Tidak berani menatap Zach.
"Kau bukan peliharaanku" Zach berujar lagi.
"Lalu aku ini apa untukmu?" Vivian bercicit makin pelan. Mengeram marah tapi tidak berani menunjukan kemarahannya.
"Kau milikku" ucapan Zach membuat Vivian mendongak, kebingungan jelas terpampang di wajahnya.
Zach menarik baju di genggaman Vivian dan memakaikannya pada Vivian, setelah memakaikan pakaian Vivian, Zach mengkancing kemejanya dan berjalan meninggalkan Vivian yang melogo di tempatnya.
Detik saat Zach meninggalkan Vivian di ruang rias, Vivian meluruh ke lantai. Menangis sesenggukan sendirian. Merasa seperti buku yang sudah terbuka tapi tidak jadi di beli. Vivian merasa konyol sekarang.
Dia menangis sedetik, kemudian menertawai dirinya sendiri. Bahkan setelah hal itu terjadi, Zach meninggalkannya begitu saja tanpa kejelasan. 'Miliku' apanya? Vivian benar-benar merasa di permainkkan sekarang. Apa si arogan itu tiba-tiba merasa iba melihat wajah Vivian yang menyedihkan?
Vivian benar-benar merasa konyol sekarang.
***
Saat Vivian keluar ruang rias, hal pertama yang dilihatnya adalah Zach Rodriguez yang baru saja mencumbunya sedang duduk bersebelahan tanpa jarak dengan tangan Zach merangkul bahu Niara. Kenyataan makin menampar Vivian keras. Vivian merasakan dadanya berdebar keras. Setelah merasa konyol, sekarang Vivian benar-benar ingin menertawai dirinya sendiri. Baru saja dia nyaris bercinta dengan lelaki yang sudah memiliki kekasih.
Vivian berjalan melewati Zach dan Niara begitu saja, mendatangi Yogi yang menjadi sutradara untuk video clip barunya. Walaupun Vivian gugup setengah mati berada di dekat Zach, tapi Vivian bersikap seperti tidak terjadi apapun barusan. Dentuman jantungnya yang gila menyakitinya, tapi Vivian adalah pelakon peran yang baik. Semua tertutupi dengan senyum yang terlihat ceria dan berhasil mengelabui siapapun disana.
Saat semua kru sedang berpamitan akan pulang, Vivian berjalan kembali keruang rias, tanpa Vivian ketahui Niara mengikutinya dari belakang.
"Vivian?" Niara memegang bahu Vivian pelan, dan Vivian berbalik kearahnya.
"Iya?"
"A… aku tidak punya banyak waktu, ini ambillah" Niara meletakkan secarik kertas di tangan Vivian.
"Apa ini?" Vivian mengerutkan alisnya bingung.
"Itu nomer ponselku, tolong hubungi aku kapan pun kau bisa Vivian. Dan… aku melihat semuanya tadi. Ma.. maksudku bukan semuanya, aku hanya melihat sekilas lalu pergi" Niara berucap tak enak hati.
Jantung Vivian berdetak dengan gila lagi, apa Vivian ketahuan b******u dengan Zach? Tapi kenapa gadis ini tidak menghajarnya? Bukannya berita online mengatakan dia adalah kekasih Zach Rodriguez? Vivian membatin.
"Jangan sepertiku Vivian. Aku tidak bermaksud apa-apa, hanya saja, jangan biarkan dirimu terjatuh lebih dalam lagi. Ace… dia bukan orang baik, kau pantas mendapatkan yang lebih baik. Dan aku bukan kekasihnya, jadi jangan salah paham" Niara berucap simpati. Setelah mengelus bahu Vivian tanda simpati, Niara berlari kearah ruang studio. Niara membohongi Zach dengan berkata ingin ke toilet sebelum pulang.
Sepeninggalan Niara, Vivian masih terdiam memandang kertas ditangannya. Senyum lemah terpampang di wajahnya, perasaannya campur aduk. Vivian menunduk dan menggenggam kertas diitangannya, kembali tersenyum lemah.
"Aku bahkan sudah mencintainya, Niara. Kau terlambat memperingatkanku"
***
"Nona pulang ke Jakarta hanya karena mendengar dia menjalin hubungan dengan seorang model?" Frans berjalan sambil mendorong koper milik Bianca yang baru saja tiba di Jakarta.
"Jangan mulai lagi. Kau tau, tidak ada yang boleh merebut posisiku." Bianca berdecak kesal.
"Tapi posisi anda sudah digantikan oleh ratusan jalang setelah anda pergi meninggalkannya"
"Kalau dia hanya bermain dengan jalan-jalang itu, aku tidak masalah. Tapi aku tidak akan membiarkan posisiku diambil oleh siapapun. Kau
paham?" Bianca makin kesal.
"Tapi Nona…"
"Posisiku tidak sama dengan jalang-jalangnya! Aku miliknya. Dia sendiri yang mengatakannya dulu"
"Tapi itukan sudah berlalu lama" Frans memutar bola matanya malas.
"Jangan mulai berkelahi dengan ku Frans. Yang kau harus paham adalah, aku miliknya, dan Zach Rodriguez adalah milikku!"