OBAT MEMAR

1365 Kata
“Jadi dia putri paman?” tanya sang pembuat heboh dengan memapah ayah ku menuju rumah. “Benar. Maafkan Sae Hyeon ya. Dia memang anak yang ceroboh” “Aaa appa” aku merasa sangat buruk sekarang. “Iya tidak apa-apa paman” ucapnya sembari tersenyum ramah. “Oh iya. Bagaimana dengan tubuh mu? Itu pasti menyakitkan. Sepertinya gadis nakal ini memukuli mu terlalu keras” ucap ayah khawatir sembari memperhatikan tubuh sang pembuat heboh. “Sepertinya begitu” jawabnya dengan tertawa kecil melirik ku. Aku terus mengalihkan pandangan merasa bersalah karena sudah memukulinya. Kini kita sudah sampai tepat didepan rumah ku. Kami menghentikan langkah untuk berpamitan dengan sang pembuat heboh. “Baiklah kalau begitu, besok paman akan mengirim gadis nakal ini untuk mengobati mu” ucap ayah ku sembari menepuk pelan bahu sang pembuat heboh. Yahhh,, mau bagaimana lagi. Aku harus bertanggung jawab bukan? Lagian siapa suruh berpakaian seperti seorang penjahat. Lihatlah yang ia kenakan. Dari ujung kepala hingga ujung kaki semua berwarna gelap. Bagaimana bisa aku tidak salah paham? “Yakkk gadis nakal” teriak ayah dengan memukul lengan ku membuyarkan lamunan. “Iya aku mengerti” ucap ku spontan. “Mengerti apanya? Appa belum mengatakan apa-apa” ucap ayah ku sembari menggelengkan kepala. “Aaa” ucap ku mengangguk mengerti. Terdengar suara sang pembuat heboh sedang menertawakan ku dalam diam. Ketika aku meliriknya sinis, ia menolehkan pandangan kearah lain. Semua ini karena dia. Haishhh rasanya aku ingin mengusirnya sekarang juga. “Oh iya nak. Siapa nama mu?” tanya ayah ku dengan menatap nya lembut. “Do Hwan. Nama ku Nam Do Hwan” jawab nya dengan tersenyum. “Wahh…wajah mu tidak main-main” lanjut ayah dengan mengibaskan tangan didepan wajahnya, memperagakan betapa ia kagum pada visual pria dihadapannya tersebut. “Hah?” tanya sang pembuat heboh tak mengerti. “Kau tampan” “Hehh, tampan apanya” aku memutar bola mata jenuh. Membosankan, bahwa setiap orang memuji nya seperti itu. Hati-hati saja kepalanya bisa melampaui Pluto. Aku tak menyangka appa bisa mendengar perkataan ku dan segera menyenggol ku dengan siku nya. “Kapan-kapan kita berbincang lagi. Paman sudah tua, jadi perlu istirahat” ucapnya sembari tertawa setelah menghina diri. “Aaa paman masih sangat muda. Siapa yang bilang paman tua?” ternyata ia mengerti lelucon orang tua dan menanggapinya dengan baik. Hmmm boleh juga. “Hahahaa. Kau ini bisa saja” ucap appa malu-malu. Aku yang melihat suasana seperti ini pun turut malu. Aku hanya menggelengkan kepala ku tak mengerti. Namun aku merasa bahagia, karena appa sudah lama tak tersenyum seperti itu. Suasana yang memalukan ini ternyata tidak terlalu buruk. “Appa ayo masuk” ucap ku memeluk lengan appa dan hendak menggiringnya menuju kedalam rumah. Namun ia melepaskan tangan ku. “Apa yang kau lakukan? Harus nya kau mengobati teman mu dulu” “Hah?” “Kau harus bertanggung jawab. Jika dia pulang lalu orang tuanya melihat putra tampannya dalam keadaan banyak luka. Apa yang akan kau lakukan hah?” “Bukannya besok?” “Sekarang kau obati dulu sebelum memarnya tambah meruam” “Tapi appa ini sudah larut” aku mengarahkan layar handphone ku dihadapannya agar ia bisa melihat bahwa sekarang hari sudah menujukkan pukul 22.30. “Lihatlah. Ini sudah larut. Dan sang pembuat…aa maksud ku Do Hwan harus segera pulang kan?” ucap ku meyakinkan appa dan menatap sang pembuat heboh untuk menaruh harapan terakhir. Namun ia sama sekali tak mengeluarkan suara dan hanya berpura-pura bodoh. Ahh ya Tuhan…orang ini sangat menyebalkan. “Ck” appa mendecak menandakan aku harus menurut. “Tidak. Aku tidak mau” *** “Aku meminta rekomendasi untuk mengobati luka memar” kini aku berada di apotek terdekat untuk mencari obat untuk sang pembuat heboh. Menolak sekeras apapun akan berujung sia-sia. Menurut adalah jalan terbaik. Setelah meminta obat yang aku igninkan, lalu apoteker tersebut mengambil satu salep kecil dan memberikannya pada ku. “Ini salep untuk memar. Oleskan 2 kali sehari pada area kulit yang memar secara tipis-tipis yaa” jelasnya dengan tersenyum ramah. “Terimakasih” aku pun membalas senyum nya dan segera menuju pintu keluar setelah membayar. Ketika keluar dari apotek, mata ku langsung tertuju pada sang pembuat heboh yang sedang asik berbalas pesan dengan seseorang. Wajahnya yang terpapar sinar handphone terlihat begitu serius. Entah ia mengernyit karena silau atau ada masalah saat ia berbalas pesan. Melihatnya begitu serius, jadi aku belum berani untuk mendekat. Kurasa dia memiliki masalah yang selama ini tak semua orang tahu. Atau mungkin saja tidak. Karena hidupnya terlihat baik-baik saja selama ini. Kaki ku terpaku tanpa ada pergerakan. Menatap kosong kedepan. Hingga aku tak sadar bahwa sang pembuat heboh sudah selesai dengan aktivitasnya. Sadar akan sang pembuat heboh yang melihat ku bingung, jadi aku melangkah kan kaki untuk mendekatinya. Sampai pada langkah terakhir dan menyodorkan salep yang sudah ku beli beberapa saat lalu. Setelah ia menerima salep tersebut, aku pun duduk didekatnya, melihat ia mencoba mengobati lukanya sendiri. Tak tahu harus berbuat apa sembari menunggu, jadi aku melempar pandangan ke sembarang arah. Menyapa malam sunyi dengan pandangan membawa harapan terjadi hal baik dihari esok. Tak banyak orang yang berlalu lalang disekitar sini. Mungkin karena malam yang semakin larut. Hanya kami berdua dan beberapa toko yang masih menyala. Aku tak mengerti mengapa aku menunggunya mengoleskan luka ditempat ini. Aku pun menoleh kearah sang pembuat heboh untuk mengecek apakah ia sudah selesai mengoleskannya. Terlihat ia masih sibuk mengoleskan salep tersebut pada tangannya. “A apa itu… bekas pukulan tadi?” ucap ku setelah melihat lengannya yang ternyata lebih parah dari dugaan ku. Lebam nya membiru dan menyebar dikulit putih nya. Jika begini, aku merasa sangat bersalah. Karena kurasa itu sangat sakit. Ku fokuskan pandangan ku arah wajahnya yang mengernyit beberapa kali karena rasa sakit saat mengoleskan salep tersebut. “Tidak usah khawatir. Ini akan menghilang dalam beberapa hari” ucapnya mengangkat pandangan kearah ku. “Si Siapa yang khawatir” jawabku membuang muka. Suasana tiba-tiba berubah menjadi sangat canggung. Kami terdiam beberapa saat. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Terhanyut dengan angin malam yang menyejukkan. Hingga aku membuka suara untuk memecah keheningan. “Sepertinya kau banyak bergaul dengan bapak-bapak” “Kenapa?” “Kau sangat paham tentang lelucon untuk membuat mereka senang” “Hmm…aku tidak pernah berkumpul dengan para tetua selama ini. Bisa dibilang…. aku hanya terbiasa. Banyak dari mereka akan memaksakan kehendak untuk bisa masuk dan mengatur kehidupan mu hanya untuk membahagiakan mereka. Yaa tentu saja itu diluar kehendak mu. Seiring berjalannya waktu, aku paham bagaimana harus membahagiakan seseorang tanpa memikirkan kebahagiaan mu sendiri” jelasnya dengan tersenyum. Penjelasannya terlalu serius untuk pembahasan yang sepele. Aku terdiam dan tak tahu harus merespon bagaimana setelah mendengar ucapannya. Mencoba untuk mengerti pun percuma. Aku hanya mencari jawaban melalui sirat wajahnya yang terlihat banyak menanggung beban. “Kau kesini karena appa mu ingin kau mengobati ku. Tapi sampai sini kau tak berkutik dan hanya memandangi wajah ku. Kenapa? Kau tak bisa berpaling dari wajah malaikat ku?” ucapnya mengelus dagu membanggakan visualnya. Dia benar-benar orang tahu diri. Aku akui itu. “Yakkk. Aku kesini karena terpaksa. Bahkan kau tak menolong ku sama sekali” aku pun memperbaiki duduk ku agar berhadapan dengannya. “Jawab aku. Saat aku meminta bantuan mu waktu itu ….kau berpura-pura tak mengerti kan?’ lanjut ku mengintimidasi. “Kapan?” ucapnya tak mau mengaku. “Tidak usah pura-pura bodoh lagi. Aku memberi mu kode agar aku tak perlu mengikuti mu kemari. Dan kau hanya planga-plongo melihat ku” aku sangat kesal jika mengingatnya. Seharusnya aku bisa istirahat diatas ranjang nyaman ku saat ini. Tapi apa ini? “Kau memberi kode tak jelas. Seharusnya kau bilang padaku bahwa aku harus mengatakan, aku tidak apa-apa, aku harus pulang sekarang karena sudah larut. Jika seperti itu aku akan mengerti” jelasnya. “Y yaa benar juga” “Ya memang benar” “Ta Tapi bagaimana kau tahu bahwa aku mengingkan kau mengeluarkan ucapan seperti itu?” aku mengernyitkan dahi ku mencoba memahami perkataannya. Disaat aku sibuk menatap nya dan berpikir keras, ia tiba-tiba bangun dengan wajah yang tersenyum licik. Ahhh aku tahu…. “Yahh. Aku ketahuan” ucapnya sejenak mendekatkan wajahnya dan kemudian menjauh dari ku. “Kau memang tak bisa dipercaya” teriak ku kesal. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN