SALAH PAHAM

1601 Kata
Sekarang hari sudah benar-benar gelap. Aku melirik layar handphone ku yang sudah menujukkan pukul 21.15. Aku baru saja selesai belajar di ruang belajar khusus untuk siswa. Kini saatnya aku untuk pulang. Perlahan aku berjalan menuju gerbang sekolah. Sekolah tampak sunyi dan sedikit horor dimalam hari. Hanya terdengar serpihan daun berguguran yang terbawa angin dan lambaian ranting yang menyapa. Namun karena sudah sering melakukannya, jadi aku sudah terbiasa dengan suasana seperti ini. Ketika sedang asik berjalan sendiri. Aku mendengar suara langkah kaki dari arah belakang ku. Apa seseorang baru saja pulang juga dari ruang belajar? Tapi kurasa tidak. Karena ketika hendak pulang, lampu belajar dimeja ku lah yang terakhir menyala. Langkah kaki tersebut semakin jelas dan terdengar sangat buru-buru. Aku masih ragu untuk menoleh kearah belakang. Jadi aku hanya fokus pada langkah kaki ku dan berjalan seperti biasa. Namun tiba-tiba seseorang berjalan dari arah belakang dan melewati ku. “Yee Joon-aa” ternyata dia teman sekelas ku. Aku sengaja menyapa nya karena ia tampak sangat fokus dan hanya menunduk. Dengan langkah seperti itu, aku ragu ia melihat ku. Mendengar ada yang memanggil, ia seketika menoleh kearah kebalakang dan mendapati ku. “Apa kau baru selesai belajar juga?” tanya ku. “Hm” jawabnya singkat. “Apa kau akan menaiki taksi?” “Hm” “Kalau begitu. Hati-hati dijalan” karena ia sepertinya terburu-buru. Jadi aku tak ingin mengulur waktunya dengan pertanyaan canggung ku. Tapi jujur saja, aku sedikit bingung. Apa aku salah lihat? Ku kira hanya aku yang masih berada di ruang belajar. Sudahlah aku tak perlu memikirkan hal yang tidak jelas. Bisa saja ia tidak menyalakan lampu belajar dimeja nya karena tertidur. Ya, itu bisa saja terjadi. “Baru mau pulang?” ucap satpam yang hendak berpatroli disekolah sembari menyalakan senter nya. “Iya. Aku baru saja selesai belajar” ucapku menghentikan langkah ku didekat posko satpam dekat gerbang sekolah. “Aaa begitu. Apa masih ada siswa yang didalam?” “Ku rasa sudah tidak ada” “Baiklah kalau begitu. Aku akan berkeliling dulu. Sekarang rawan peneroran dari seseorang yang tak dikenal” ucapnya hati-hati. “Maksudnya?” ucap ku tak mengerti. “Bukan apa-apa. Hanya saja, akhir-akhir ini banyak sekali yang ditemukan korban penikaman pisau dari orang tak dikenalnya. Bahkan ada yang sampai tewas dan kasusnya masih belum terpecahkan sampai sekarang” Aku hanya terdiam mendengar penjelasan pak satpam tersebut. Jika benar seperti itu. Aku jadi penasaran. Alasan dibalik ia melakukan peneroran pada seseorang yang tak dikenal apa? Bukankah seseorang yang tak dikenal hanya segelintir orang yang lewat? Namun jika ia memiliki dendam tersendiri karena terlibat suatu masalah. Jalan ceritanya akan berubah. Walaupun dengan status tak mengenal pelaku. “Kau harus pulang cepat. Malam sudah mulai larut” lanjutnya. “Baiklah. Kalau begitu. Aku pergi dulu” ucap ku sembari sedikit menundukkan kepala ku memberi hormat. “Iya. Hati-hati” ucapnya mengingatkankan ku kembali. “Anda juga” aku pun berjalan keluar menuju gerbang sekolah. Aku harus cepat-cepat sampai rumah, atau ayah ku akan khawatir. Ketika hendak berjalan menuju arah halte bus terdekat. Seseorang tiba-tiba menelpon melalui handphone ku. Aku mengeluarkan handphone dari saku rok sekolah. Ternyata itu ayah. Kurasa ia mengkhawatirkan ku karena belum pulang kerumah. Aku tersenyum senang dan segera menerima panggilan. “Yeoboseyo. Kenapa appa?” ucap ku manja. Aku berusaha terdengar riang agar ia tahu bahwa aku baik-baik saja. “Eo putri ku” ucapnya diseberang sana. “Hm. Aku baru saja selesai belajar dan akan pulang” “Bisakah kau menyusul ketempat ayah sekarang? A..ayah sudah mengirimkan jalannya” ucap dengan suara yang bergetar. “Tunggu, appa baik-baik saja?” Tutt tuttt tuttt Tiba-tiba saja sambungan telepon terputus. Aku mencoba menghubungi nya kembali. Namun hasilnya nihil. Aku tak ingin menyerah begitu saja. Aku mencoba menghubunginya lagi beberapakali. Dan hasilnya tetap saja. Aku tiba-tiba teringat ucapan pak satpam sebelumnya, yang mengatakan maraknya terjadi kasus peneroran hingga terbunuh. Aku sudah tidak bisa berpikir jernih. Aku mencoba menenangkan diri ku dengan berpikir positif. Namun mendengar suara terakhir ayah ku yang bergetar. Sepertinya ia sedang lelah. Ditambah ia sedang tidak berada di rumah. Dalam artian, ia sedang mengalami sesuatu diluar sana. Aku segera mengecek alamat yang dikirim nya melalui pesan. Setelah kulihat. Aku bersyukur, itu tak terlalu jauh dari tempat ku sekarang. “Appa. sebenarnya apa yang sedang terjadi?” *** Setelah 10 menit perjalanan menuju alamat yang tertera. Kini aku sudah sampai pada tujuan. Tempat ini terlihat sepi. Tak ada seorang pun yang berlalu lintas. Hanya terlihat beberapa pepohonan dan semak-semak. Aku seketika menyebar pandangan ku kesegala arah. Karena ini adalah tempat yang dipenuhi tumbuhan. Aku harus mencari ayah dengan berjalan, karena semua tampak kurang jelas akibat tertutupi semak-semak tersebut. Aku berjalan perlahan sembari memanggil ayah ku, agar ia tahu aku sudah sampai. Bagaimana bisa ayah sampai ketempat seperti ini. Tempat ini sepertinya banyak dikunjungi orang-orang, namun tidak untuk malam hari. “Appa. Appa dimana?” teriakku. Namun tak ada suara ayah yang menyahut. Aku semakin khawatir karena tempat ini begitu sunyi. Apa aku salah melihat jalannya? Ketika hendak berjalan mencari lagi. Aku melihat seseorang sedang duduk dikegelapan. Ia terlihat menunduk memeriksa sesuatu. Apa itu ayah ku? Aku mencoba mengecek keseluruhan untuk memastikan apa benar orang itu adalah satu-satunya orang yang berada ditempat ini. jika benar, maka dia adalah ayah ku. Bukannya aku tak mengenali ciri-ciri ayah ku, hanya saja tempat ia duduk begitu gelap, hingga aku hanya mengetahui bahwa ada seseorang disana. Karena sepertinya tak ada orang lain lagi disini, jadi aku mendekatinya untuk memastikan. “Appa” aku mencoba memanggilnya pelan. Namun sama sekali tak ada jawaban. Mungkin tempat ku berdiri terlalu jauh, jadi ia tak mendengar panggilan ku. Tapi jujur saja, aku sekarang begitu gugup. Aku takut bahwa dia bukanlah ayah ku, melainkan penjahat yang dikatakan satpam beberapa waktu lalu. “Cobalah berfikir positif Sae Hyeon-aa. Penjahat tak akan mau menjahati gadis miskin seperti mu. Ingat itu” gumam ku. Aku hanya mencoba menenangkan diri dengan realita yang sesungguhnya. Setelah ku kumpulkan keberanian. Aku mencoba menepuk punggung nya agar ia menoleh. “Appa?” ucap menatap belakang kepala yang perlahan berputar kearah ku. “Eo putri ku” hahhhh ternyata dia memang ayah ku. Aku hampir saja lari terbirit-b***t dari tempat menakutkan ini. “Ahhh appa. Aku terkejut. Ku kira bukan kau” ucap ku lega dan berjalan kedepan ayah yang sedang duduk. “Mianhae. Appa seharusnya tak menghubungi mu setelah lelah belajar seharian” ucapnya menatap ku. “Eiyy appa. Apa maksud mu? Aku ini putri mu appa. Tentu saja kau harus menelpon ku. Memangnya siapa lagi? Si penyihir tak akan bisa dimintai bantu” “Yaaa” spontan ia menyentil dahi ku. “Akkkk” aku pun menahan sakitnya dengan tangan ku. “Jaga omongan mu. Appa sudah bilang, biar bagaimana pun dia adalah…” “Ibu ku” aku tahu apa yang ingin ia katakan. Jadi aku hanya menyambung perkataannya. “Haisshh dasar anak nakal” ucapnya menertawakan tingkah ku. “Oh iya. Kenapa appa mematikan teleponnya? Aku sangat khawatir” “Kaki ayah terluka dan tak bisa berjalan sendiri sampai rumah” ucapnya mengarahkan pandangan ke kakinya yang terluka. “Ini kenapa? Kenapa appa bisa terluka seperti ini? Apa ini benar-benar sakit?” tanya ku khawatir. “Untuk meringankan seharusnya kau bertanya satu-satu” “Aaa maaf. Kita pergi ke tempat yang terang terlebih dahulu. Aku akan membelikanmu obat” aku pun menuntun ayah untuk bangun dan memapahnya keluar dari tempat yang gelap tersebut. “Hati-hati appa” aku menuntunnya secara perlahan hingga sampai ditempat yang lebih terang disisi jalan. Setidaknya disini masih ada orang yang berlalu lalang. “Duduklah disini. Aku akan membawakan appa obat. Jangan kemana-mana” lanjut ku setelah memapahnya untuk duduk dikursi sisi jalan tersebut. Ayah tampak kesakitan. Karena memang lukanya lumayan besar. Namun bisa terlihat juga dari wajahnya, bahwa ia mencoba terlihat baik-baik saja agar aku tak terlalu khawatir. Kemudian aku berlari menuju toserba diujung jalan untuk mendapatkan obat luka. Aku bingung harus membeli obat apa. Jadi aku membeli obat sesuai insting ku saja, setidaknya aku harus membeli antibiotik agar luka yang mengeluarkan darah tidak infeksi. Aku membutuhkan waktu 10 menit untuk membeli obat tersebut dan segera kembali. Namun ketika aku kembali, Aku melihat seseorang bersama ayahku. Aku menghentikan langkah untuk mencoba mengenalinya. Dia pria dengan pakaian serba hitam. Aku tak bisa melihatnya dengan jelas. Sebentar,,,apa dia orang jahat? “Aaaa” aku mendengar ayah ku teriak kesakitan. Sepertinya memang benar dia sedang melukai ayah. Karena tak mungkin melawannya dengan tangan kosong. Akhirnya aku mengambil balok kayu yang tergeletak disisi jalan dan segera berlari menuju ayah ku. “Yaaa kau orang jahat. Apa yang kau lakukan? Rasakan ini” teriak ku sembari terus memukuli punggung nya dengan balok kayu yang sedang ku genggam. Ia terus menghindar dan membentengi diri dengan lengan nya. “Sae Hyeon-aa. Hentikan” teriak ayah ku. “Tenang appa. Biar aku yang mengurus pria gila ini” aku terus memukuli nya hingga tiba dimana ia menghentikan ku dengan menahan balok digenggaman ku. “Apa maksud mu pria gila? Dia sedang membantu appa” aku menoleh kearah ayah ku sembari tangan ku yang masih tertahan oleh pria tersebut. Lalu ayah mengiring pandangannya menuju luka nya yang telah dibalut dengan kain putih. “Bukannya appa tadi teriak kesakitan? Dia menyakiti appa kan?” tanya ku memastikan. “Tidak sama sekali. Appa hanya sedikit kesakitan saat dia mencoba membersihkan luka nya” jelasnya. Ahhh bagaimana sekarang? Aku sudah memukuli nya beberapa kali. Karena merasa bersalah, aku perlahan memutar kepala ku kearah pria tersebut. Dan betapa terkejutnya aku, karena dia bukan lain dari orang yang sangat ku kenal. “Do Hwan-aa?” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN