TERTANGKAP?

882 Kata
“Kamu sedang apa?” ucap ku sembari mendekatinya. Aku harap gugup ku tak terlalu kentara. “Aaa. Aku melihat kucing yang ku selamatkan kemarin sore ditaman. Mengapa dia bisa sampai sini?” ucapnya dengan mengelus perlahan punggung kucing mungil tersebut. “Ohh begitu” aku merasa lega karena sepertinya ia memang benar-benar tak menyadari keberadaan sang pembuat heboh disekitar sini. /flashback beberapa waktu lalu “Areum tidak melihat kearah sini kan?” saat ini aku merasa sangat panik karena sepertinya Areum melihat kearah tempat persembunyian ku. “Apa kau panik?” tanya sang pembuat heboh sembari menatap ku. “Tentu saja” ucapku was-was “Kenapa?” ucapnya polos. “Ku kira kau pintar” “Akk” spontan aku menutup mulutnya dengan kedua tangan ku agar ia tak mengeluarkan suara. Aku memukul nya dibagian perut karena pertanyaannya yang tak masuk akal. Tentu saja aku panik. Jika ia melihat ku dengan sang pembuat heboh bersama seperti tadi, aku tak bisa jamin bahwa ia tak akan salah paham. Ditambah lagi jika ia melihat kami dengan posisi seperti ini. Aku mencoba melihat Areum lagi dari balik pohon. Dan aku semakin panik ketika ia perlahan mulai berjalan kearah kami. Tentu saja dia akan curiga. Mana mungkin pohon yang tak terlalu besar ini bisa menutupi kami. Aku mulai berkeringat dingin karena terlalu gugup sekarang. Pandangan ku sudah mulai tak bisa dikendalikan. Kurasa aku harus menyiapkan alasan yang masuk akal saat ini, agar ia bisa mengerti. Tapi apa? Areum semakin mendekat. Ia berjalan perlahan dengan pandangan kearah bawah. Sedangkan aku semakin memperkuat tangan ku untuk menutup mulut sang pembuat heboh. Dia terlihat tak memiliki beban apapun. Padahal sekarang aku sedang berada di ujung kematian karena ketakutan. Karena ia semakin mendekat kearah kami. Jadi aku sudah harus mempersiapkan diri. Aku menarik nafas ku pelan untuk mencoba menyeimbangkan detak jantung ku yang berdetak kencang. Ketika hendak mengintip kembali. Terlihat Areum sedang duduk memperhatikan kearah semak-semak di sekitar area pepohonan. Ternyata ia melihat sesuatu dan mendekatinya. Ku pikir dia melihat kami. Jadi sembari Areum masih sibuk dengan sesuatu, aku menyuruh sang pembuat heboh untuk pergi dari sini segera. /flashback off “Kenapa. Ada apa dengan mu?” ucapnya dengan memperhatikan wajah ku. “Aku? Aku kenapa? Aku baik-baik saja kok” ucap ku mencoba terlihat baik-baik saja. Hehhh bersikaplah sewajarnya Sae Hyeon. Jeballl. “Oke. Pekerjaan mu sudah selesai?” “Pekerjaan ku? Yaakkk, itu pekerjaan mu bodoh” aku mencoba mencairkan suasana. “Kurasa kepala ku masih sakit” ia segera memegang kepalanya untuk membuatku yakin. Aku hanya bisa menggelengkan kepala ku karena tingkahnya. Setidaknya aku selamat hari ini. Aku pun melingkarkan sebelah tangan ku pada pundaknya untuk menuntunnya pergi dari tempat ini. *** Usai membersihkan halaman untuk menggantikan hukuman Areum. Kami pun memasuki kelas untuk memulai pembelajaran. Mungkin karena sekarang adalah musim panas. Aku jadi banyak berkeringat. Belum lagi setelah apa yang terjadi beberapa saat lalu. Itu membuat jantung ku hampir loncat dari tempatnya. Karena tak ada tisyu atau sapu tangan, jadi aku menggunakan tangan untuk mengusap keringat di dahi ku. “Pakai ini. Uhhh lihatlah keringat kebaikan mu ini” ucapnya sembari menghadap belakang dan menyodorkan sapu tangan miliknya. “Kebaikan kepala mu” aku mengambil sapu tangan putih yang diberikannya. “Baiklah anak-anak. Sekarang soensengnim akan memberikan kisi-kisi dari buku yang sudah di bagikan kemarin” ucap guru bahasa yang mencatat point dari buku dipapan tulis. Suasana terasa sunyi beberapa waktu karena para siswa mencatat kisi-kisi yang ditulis oleh guru untuk ujian. Hingga tiba-tiba salah satu siswa menyeletuk. “Seonsengnim. Bukankah kau bilang akan memberikan bagian yang penting? Tapi kenapa banyak sekali? Apa itu benar bagian-bagian yang penting saja?” protes salah satu siswa dikelas ku. Dia memang sedikit malas untuk belajar. Bahkan dia jarang masuk kelas. Semua orang tahu itu. Tapi untuk masalah catat mencatat, semua siswa dikelas ku memang sedikit sensitive. Yahh, mungkin bisa dibilang pemalas ringan. “Memang benar. Dan ini semua penting. Jadi catat atau kau tak lulus ujian nantinya” “Ahhhh padahal bahasa korea ku sangat lancar. Tanpa di jelaskan aku sudah mengerti” ucapnya sambil melipat kedua tangan di depan dadanya. “Yakkk. Kau tak ingat ujian bulan lalu? Bahasa korea mu lah yang terburuk” celetuk salah satu siswi yang berada di seberang meja ku. “Dasar tak tahu diri. Huhhh” suasana yang sunyi berubah menjadi sangat ricuh. Mereka saling sahut menyahut dan menertawakan satu sama lain. Hingga seonsengnim yang didepan kelas pun menggubrak meja untuk membuat mereka tenang. “Diam. Hahhh kalian ini benar-benar. Walaupun nilai kalian buruk di ujian sebelumnya. Namun kalian masih bisa belajar untuk ujian yang akan datang, sebelum papan peringkat di pajang di depan lorong pengumuman. Paham?” jelas seonsengnim. “Baik seonsengnim” serentak semua siswa. “Dan untuk penerima beasiswa. Kalian harus pertahankan nilai kalian. Kurangilah bermain” lanjutnya mengingatkan. “Baik seonsengnim” jawab ku. Benar. Aku tak memiliki waktu untuk bermain. Karena bermain bukanlah hal yang penting. Walau kadang aku masih ingin berleha-leha seperti gadis seusia ku. Di kelas ku, hanya dua siswa termasuk aku yang mendapatkan beasiswa. Aku menolehkan kepala ku kearah Yee Joon yang sedang fokus mencatat kisi-kisi. “Apa dia tidak memiliki kesulitan sedikit pun?” gumam ku. Nilainya yang tak pernah menurun dan selalu mendapatkan reward dari wali kelas. Dia begitu beruntung. ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN