Kini kami berada diruang UKS setelah Areum dan Yiren masuk keruang guru karena perkelahian tadi.
“Aku menyuruh mu menunggu ku dikantin untuk makan siang, bukan malah bertengkar dengan teman sekelasmu”
“Tapi dia mengatakan hal yang tidak masuk akal”
“Hahhh lupakan. Lihatlah rambut mu. Sangat berantakan” ucap ku sembari merapikan rambutnya yang acak-acakan.
Aku tiba-tiba teringat akan kejadian sebelumnya ketika sang pembuat heboh membantuku beberapa waktu lalu. Kurasa aku perlu menjelaskannya pada Areum. Aku tak ingin dia salah paham tentang itu.
“Hmm Areum-ah. Tentang…kejadiann tadi…ituu”
“Yaaakk tangan mu bagaimana? Apa itu masih sakit? Kita perlu kedokter bukan?” belum selesai aku menjelaskan. Ia mengkhawatirkan tentang tanganku yang terkilir. Aku tak dapat menjawab pertanyaannya karena bingung harus melanjutkan penjelasan ku atau menjawab pertanyaannya terlebih dahulu. Namun kurasa, aku perlu menjelaskan nya di lain waktu. Aku hanya perlu menunggu waktu yang tepat. Areum mungkin masih merasa bersalah tentang tangan ku. Padahal itu sama sekali bukan salahnya.
“Gwenchana. Kau seharusnya mengkhawatirkan dirimu. Lihatlah. Ada goresan di wajahmu. Akan sangat jelek jika membekas” ucap ku sembari menyingkirkan rambutnya yang menghalangi. Lalu meraih kapas dan obat merah dimeja yang sudah ku ambil dari lemari obat sedari tadi. Perlahan aku mengoles obat merah yang ku tuangkan pada kapas ke area luka diwajah Areum.
“Akk. Haruskah kau menekannya? Itu menyakitkan” ia menggerutu karena kesakitan.
“Jika tak mau terluka, seharusnya kau berpikir dua kali untuk main kasar tadi.” ucap ku menghentikan olesannya sejenak.
“Bagaimana jika ayahmu mengetahui hal ini dan memarahi mu. Kau akan beralasan apa hah? Kau tak mungkin beralasan hanya karena merebutkan pria tampan disekolah ini bukan?” aku pun melanjutkan kegiatan ku untuk mengoleskan obat merah.
“Kenapa? Kenapa tidak boleh? Lagipula ayah ku akan mengerti. Dia tak berpikiran sempit sepertimu” ucapnya bangga.
“Haishhh” aku tak habis pikir dengannya. Aku sedikit kesal karena jawaban gampangan seperti itu, jadi aku menekan lukanya dengan kapas hingga ia meringis.
“Yakkk rupanya kau ada dendam padaku” ucapnya dengan pupil yang membesar.
“Hm memang benar” mendengar jawaban ku ia pun tertawa dan mencoba membalas dengan menggelitiku. Namun aku menghentikannya dengan beralasan tangan ku terasa sakit. Lalu ia percaya. Kami tertawa setelah tahu bahwa aku hanya sedang mengelak.
“Aaa. Bagaimana diruang guru tadi?” ucapku sembari memberikan salep pada luka Areum.
“Kami kena hukuman”
“Itu wajar. Kau membuat keributan di sekolah. Jadi apa hukumannya?”
“Membersihkan halaman sekolah selama seminggu. Ahhh dari sekian banyak hukuman kenapa harus membersihkan sekolah” ia terlihat tak terima dengan hukumannya.
“Yaaa. Apa kau mau di hukum membersihkan toilet?”
“Tentu saja tidak”
“Maka dari itu berhentilah mengeluh”
“Hm tentu saja. Karena ada kau”
“Apa maksud mu?”
Ia memberikan senyuman licik kearah ku. Apa yang sedang ia pikirkan sekarang.
***
“Ahhh dasar gadis licik” gumam ku. Ternyata senyuman aneh itu bermaksud membuat ku mengerjakan hukumannya hari ini?
Kini ditanganku sudah ada sebuah karung dan tongkat penjepit sampah. Kurasa aku hanya dapat pasrah. Ia menggunakan alasan sakit kepala agar aku mau membantunya.
Aku pun menuruni tangga depan sekolah untuk menuju halaman. Sebelum itu, aku perlu menguncir rambutku terlebih dahulu agar tak mengganggu.
Setelah menguncir rambut, aku pun mulai mengambili sampah yang berada di halaman. Entah itu sampah dedaunan dari pohon sekolah atau plastik yang mungkin saja dibuang oleh siswa yang tak bertanggung jawab.
“Sekarang bahkan dia menyuruh temannya untuk menjalani hukuman” sindir Lee Yerin yang baru saja datang dengan membawa peralatan bersih-bersih.
Aku tak ingin masalah menjadi semakin runyam. Jadi aku hanya berpura-pura untuk tidak mendengar perkataannya dan melanjutkan kegiatan ku. Ketika hendak menjepit sampah dengan tongkat penjepit, tiba-tiba pergelangan tangan ku terasa sakit.
Apa karena terjatuh tadi?
Aku pun memijit pelan tangan ku agar merasa baikan. Untungnya bukan tangan kanan ku yang terluka, atau aku tak akan bisa memegang pulpen. Pekerjaan ku masih banyak. Jadi untuk apa terlalu memperhatikan hal kecil seperti ini. Sakitnya bahkan tak seberapa dengan luka yang ku dapatkan selama ini. Lalu aku pun melanjutkan mengambili sampah satu persatu. Sampahnya tidak banyak, karena memang sekolah memiliki petugas untuk bersih-bersih.
Ketika hendak berjalan menuju arean lain. Tiba-tiba seseorang menarik tangan kiri ku dengan keras. Setelah ku tolehkan kepala ku, ternyata Yerin. Aku tak tahu mengapa, namun ia terlihat sangat kesal.
“Sekarang beri tahu aku. Apa benar Areum dan Do Hwan berkencan?” ucapnya sembari menatap mata ku serius.
“Aku tak tahu”
“Heh. Kau pikir aku akan percaya?”
“Lalu apa yang kau harapkan dari jawaban ku? Aku sudah bilang. Aku tidak tahu” aku memperjelas setiap perkataan ku agar ia dapat mengerti dan membiarkan ku pergi.
“Ck. Rupanya dia menyuap mu untuk mengatakan ini. Kau dibayar berapa? Mau aku beri uang yang lebih banyak?” dia benar-benar tak percaya pada jawaban ku dan malah meremehkan ku seperti ini. Aku tak tahu harus menjawab seperti apa lagi jika ia tak mudah percaya. Jadi aku hanya menatap matanya datar hingga ia puas.
“50 juta? 100 juta? Atau 200 juta? Sebut saja. Ayah ku kaya. Jadi aku pasti akan membayar mu. Cepat beritahu aku sekarang”
“Bukannya sudah ku beritahu bahwa aku tidak tahu apapun? Dan juga,,,,aku tak butuh uang mu. Aku memang tidak kaya seperti mu. Setidaknya aku tak pernah menggunakan harta orang tua ku untuk merendahkan orang lain”
“Yaaaakkkk” ia semakin menarik keras tangan ku. Aku sedikit meringis karena itu terasa benar-benar sakit. Aku mencoba menarik tangan ku dari genggamannya. Namun percuma saja. Ketika seseorang sedang terbawa emosi, kekuatannya akan dua kali lipat lebih kuat. Jadi aku hanya bisa menahan sakit.
Tiba-tiba seseorang datang menggenggam keras tangan Yerin yang sedang menarik tangan ku. Ternyata sang pembuat heboh datang. Bibirnya tersenyum. Namun tangannya semakin mengeras dibawah sana.
“Lepaskan. Untuk apa kau melakukan ini di sekolah. Lagi pula sekarang kau sedang menjalani hukuman. Jika Sonsaengnim tahu kau terlibat lagi dalam perkelahian. Hukuman mu akan bertambah” ucapnya dengan wajah ramah dan bibir yang tersenyum lebar. Aku tak mengerti. Sebenarnya dia sedang marah atau sebaliknya. Urat tangannya semakin bermunculan dikala mengeraskan genggamannya pada lengan Yerin.
“Akk” Yiren meringis kesakitan dan akhirnya melepaskan genggamannya pada tangan ku.
“Do Hwan-aa. Bukan begitu. Dia ..dia tak mau menjawab pertanyaan ku. Tidak. Aku ingin bertanya secara langsung padamu. Apa kau …..sedang berkencan dengan Areum?”
Kurasa ini adalah pembahasan yang harus mereka bicarakan berdua. Jadi aku tak perlu ikut campur. Aku memutuskan untuk pergi dengan tenang.
Ketika mencoba melangkah pergi. Sang pembuat heboh menahan ku dengan tangannya dan menarik ku lebih dekat.
Apa yang dia lakukan?
Ini benar-benar membuang waktu ku. Ia menatap ku sejenak kemudian mengalihkan pandangan nya kembali kearah Yerin.
“Aku sedang tidak berkencan dengan siapa-siapa” ucapnya datar.
“Benarkah?” wajahnya terlihat sumringah mendengar jawaban tersebut.
“Hm. Tapi aku sudah menyukai seseorang” mendengar ucapan sang pembuat heboh. Yerin tampak sangat terkejut dan tidak terima. Aku sedikit terkejut karena pengakuan tersebut. Aku mencoba mencari jawaban pada wajah sang pembuat heboh. Jadi kurasa, Areum benar-benar sukses saat ini. Apa aku perlu memberitahukan ini padanya sekarang? Aku yakin dia sangat senang.
“Si siapa?” ia terlihat gugup sekaligus menahan amarah.
“Jika aku memberitahu mu. Apa kau bisa jamin untuk tidak menyakitinya?” sang pembuat heboh tampak tenang menghadapi Yerin. Senyum itu tak pernah luntur dari wajahnya.
Apa dia benar-benar seramah itu?
Yerin tampak sangat kesal lalu pergi begitu saja tanpa berkata apa-apa. Aku tahu cara Yerin salah dalam hal ini. Tapi bukankah sang pembuat heboh keterlaluan? Biar bagaimanapun, Yerin adalah salah satu gadis yang menyimpan perasaan padanya. Bagaimana bisa ia mengatakan hal itu dengan tenang. Dia benar-benar tak berperasaan.
Aku tak ingin membuang waktu lagi. Semua sudah berakhir, jadi sekarang aku harus pergi. Aku mencoba melangkah, namun lagi-lagi sang pembuat heboh membalik tubuh ku untuk menghadap kearahnya.
“Coba ku lihat” ia kemudian menarik tangan kiri ku yang terluka. Ia mengeceknya dengan perlahan dan teliti. Tangannya dengan lembut mencoba menyentuh area tangan ku yang terluka.
“Ku rasa tangan mu terkilir. Ini sudah mulai membiru” lanjutnya dengan terus menatap pergelangan tangan ku. Melihatnya seperti ini, kurasa dia benar-benar bisa menjaga Areum. Tapi aku sedikit khawatir jika ia berbuat baik kesemua gadis. Bahkan ia selalu menebar senyum sok manis nya kesemua gadis disekolah. Jadi bukan salah mereka jika jatuh cinta. Salah dia sendiri karena telah menebar pesona. Dan ketika mereka menyatakan perasaannya. Ia menolak begitu saja. Dasar egois.
Aku pun membuang muka karena sudah malas melihat wajahnya. Namun ketika melihat kearah tangga, terlihat Areum yang sedang mendekat dengan pandangan tak menentu seperti sedang mencari seseorang. Hah,,kurasa ia menyusulku kesini. Akan berbahaya jika ia tahu aku sedang bersama sang pembuat heboh. Jadi aku menarik tangan sang pembuat heboh untuk bersembunyi agar tak terlihat oleh Areum.
Aku membawanya bersembunyi dibalik pohon yang lumayan besar. Karena aku tak tahu harus bersembunyi dimana lagi. Halaman sekolah begitu luas. Jika pergi ketempat yang lebih jauh, ia akan menemukan kami lebih cepat sebelum mulai menghindar. Aku pun menutup mulut sang pembuat heboh agar tak bersuara. Mungkin ia bingung atas apa yang kulakukan. Itu terlihat dari wajahnya.
“Sae Hyeon-aa” teriak Areum dari tempat kami berdiri sebelumnya. Setelah mendengar teriakan Areum. Kurasa sang pembuat heboh mengerti perbuatanku.
Suara teriakan tersebut terdengar mereda. Jadi aku mencoba mengintip dari balik pohon. Namun ternyata ia masih disana dengan arah pandangan acak. Ia masih mencoba menemukan ku. Ketika sibuk memperhatikan Areum yang terlihat lelah mencariku, aku tak sadar bahwa pandangannya kini beralih ketempat persembunyian kami.
“Eok. Kamu” ucapnya dengan terkejut.
****