KEDATANGAN

1636 Kata
Setelah melangkahkan kaki dari rooftop, aku pun memasuki kelas. Aku melihat para siswa begitu terlihat antusias. Entah informasi apa lagi kini yang membuat tiap kelas geger hingga mulai berdatangan ke kelas ku. Yang pasti itu bukan hal yang berhubungan dengan ku, karena aku adalah siswa biasa di sekolah yang terbilang cukup favorit ini. Aku memilih untuk tak perduli karena memang bukan urusan ku sama sekali. Aku mulai mengeluarkan buku dari dalam tas ku hingga terdengar suara seorang gadis memanggil. Yahhh,,,siapa lagi kalok bukan Areum. Dia sahabatku satu-satunya di kelas ini. Bahkan di sekolah yang besar ini. Walaupun begitu aku bersyukur memilikinya sebagai teman. Yang menerima ku apa adanya padahal ia sangat pantas untuk mendapatkan teman yang selevel dengannya. Ya,,dia anak dari direktur di sekolah ini. Dia manja tapi memiliki hati yang sangat tulus. “ Sae Hyeon-aa” panggilnya sambil berlari kecil mendekat ke arahku. “ Kenapa?” ucapku yang masih sibuk dengan kegiatan ku memasukkan dan mengeluarkan buku dari laci dan tas ku. Jujur saja, aku rasa aku salah membawa buku karena tadi pagi terburu-buru. “Hahhh kurasa aku benar-benar gila” batinku. “ Apa kau tahu?” ia terdengar sangat bersemangat. “ Tentang apa? ” aku asal menjawab saja. Namun otakku sedang memaki diri untuk saat ini. Bagaimana bisa aku begitu sangat bodoh membawa buku untuk pelajaran besok. Sekarang harus bagaimana? Guru Sampul itu akan menyuruh ku berdiri di luar lagi sambil mengangkat kedua tangan ku tinggi tinggi. Itu sangat menyebalkan. Tangan ku rasanya hampir melepaskan diri dari tubuhku. “ Sae Hyeon-aa. Kau beruntung karena mendapatkan kabar ini langsung dari mulutku. Yahh walaupun kurasa kau adalah orang yang paling terakhir mengetahui berita ini” ia menggiring pandangan ku untuk melihat sekeliling kelas, yang ternyata memang benar. Mereka semua terlihat berkumpul membentuk simpul. Ahh aku jadi ingat. Maafkan perkataan ku tentang guru tadi. Namanya bukan simpul, hanya saja seisi sekolah memanggilnya seperti itu, karena ia tak pernah melupakan tema dan konsep bentuk sampul pada rambutnya. Aku merasa ia punya salon sendiri di rumah. Rambutnya terlihat sedikitttt,, ahh sudahlah. “Hari ini ada siswa pindahan yang sangat populer dan tampan. Dengar-dengar dia juga sangat pintar dan kaya. Aku pernah melihat foto pendaftarannya di meja ayahku. Dan kau tahu? Wajahnya seperti seorang idol” lanjutnya sambil menghentakan kakinya bergantian dengan bahagia. Wajahnya yang terlihat memerah bak buah persik itu sangat lucu. Aku hanya tersenyum melihat kelakuannya. Aku tak begitu tertarik dengan apa yang ia ceritakan, karena memang berharap berteman saja dengan orang sesempurna itu tak akan mungkin. Jadi kuanggap angin berlalu. Dan seperti yang ku liat di drama, dia adalah pemeran utama lelaki sempurna dengan sifatnya yang sombong dan akan berkencan dengan gadis konglomerat dan sangat cantik tentunya. Setau ku seperti itu. Jadi untuk kalian disana. Berfikirlah logis seperti diriku hahahaha… “ Aaa begitu? Dan kau tahu berita yang lebih panas hari ini?” ucapku dengan raut wajah yang kubuat seserius mungkin. “ Apa ada? Berita apa? Kurasa aku tak mungkin tertinggal berita penting disekolah ini” pikirnya dengan begitu lugu sambil tetap memasang muka penasaran di depanku. “ Aku tak membawa LKS ku hari ini” “LKS? Maksud mu LKS Kimia?” ucapnya dengan mata yang mulai melebar. “ Hm” ucapku singkat sambil menjambak rambut ku. “ YAA LEE SAE HYEON. Bagaimana bisa kamu tidak membawanya?" “ Kecilkan suaramu atau kita akan jadi pusat perhatian. Okeyy ” ucapku sambil mengawasi sekitar. Tidak lucu kan menjadi pusat perhatian hanya karena suara nya yang bak toak. “ Selamat pagi anak-anak” dan akhirnya guru simpul datang. Habislah riwayatku. Para murid pun langsung berlari menuju bangku masing-masing. Memecah gelombang kegosipan in the school. Entahlah disebut apa. Aku hanya asal. “ Hmmm, ibu mencium aroma mencurigakan di kelas ini. Lee Yerin. Senyum mu sangat lebar yaa pagi ini” ucap Buk Simpul dengan menatap tajam wajah salah satu murid hits di kelas ku. Semua guru tau kalau dia ke sekolah tak bisa terpisah dengan tas make up pink miliknya. Dia memang murid tercantik dikelas. “ Apa? Ahhh tidak seperti itu sonsengnim” ia tersipu malu. “ Baiklah anak anak. Mungkin sebagian besar dari kalian sudah tahu kabar di pagi hari ini. bahwasannya ada murid pindahan masuk di kelas....” belum sempat menyelesaikan kata-katanya. Murid di kelas sudah mulai ribut dengan berbisik tak sabar akan kedatangan murid baru. Aku sebenarnya tak mengerti mengapa semua orang sangat begitu antusias pada murid baru. Aku tahu dia adalah murid hits di sekolah nya dulu, tampan, kaya, dan cerdas. Tapi apakah mereka harus seantusias itu untuk menyambutnya? Aku rasa ada banyak siswa yang lain, pintar dan juga hits, yahh walaupun visualisasi mereka yang kurang mendukung. Okeyy,, Maafkan kan akuuu… “ Yaaa..” Buk simpul mencoba menenangkan mereka dengan menggubrak meja guru. “ Baiklah. Hei nak silahkan masuk” Buk Simpul pun melanjutkan dengan mempersilahkan anak murid pindahan tersebut masuk kelas. Belum sempat ku melihat tampang manusia si pembuat heboh itu. Pulpen ku terjatuh ke bawah meja. Tanpa pikir panjang aku langsung mencoba memungutnya dengan menundukkan kepala. Terdengar suara bisikan para siswa yang mengagumi ketampanan sang murid pindahan. Setelah mengambil pulpen, aku langsung meluruskan punggung ku yang sakit karena terlalu menunduk saat harus mengambil pulpen. Tak sengaja aku meluruskan pandangan dengan tangan masih di pinggang. Terpampang visual sang murid pindahan di depan ku. “Dia memang tampan, pantas saja mereka heboh” Gumam ku. Tapi pinggang ku lebih menyakitkan sekarang. Apa aku sudah tua? Kurasa aku perlu pijatan saat ini. Aku hanya menatapnya beberapa detik kemudian melanjutkan kekhawatiran tentang LKS yang tidak kubawa hari ini. Hahh,, sudahlah. “ Perkenalkan dirimu” lanjut Buk Simpul memberi kode dengan tangannya dan si Pembuat Heboh hanya mengangguk. “ Anyeonghaseo. Nama ku Kim Do Hwan. Mohon bantuannya " sedikit membungkuk memberi hormat. “Baikkk” jawab siswi dengan penuh semangat. “ Baiklah. Kim Do Hwan. Duduk di kursi kosong dekat Do Hyun” Selangkah saja si pembuat heboh menggerakkan kakinya, senyum para siswi tak pernah selesai merekah. Reaksi apa itu? Apa tulang pipi mereka baik-baik saja? “Berhenti banyak senyum dan buka Lks kalian. Semangat kalian rupanya sedang menggebu pagi hari ini” Para siswa pun membuka lks yang mereka bawa. Dan aku? Harus apa? “ Lee Sae Hyeon” “ Iya?” jawab ku spontan. “ Apa yang kau lakukan? Aku menyuruhmu membuka lks” “ Maafkan aku seonsaengnim" “ Keluar" “ Hah? " “ Saya bilang keluar. Seperti biasa” “ Baik” aku pun pasrah dan hanya dapat menuruti permintaan Buk Simpul untuk keluar dan berdiri di depan kelas dengan mengangkat kedua tangan. Apa? Seperti biasa? Seperti kata yang menandakan aku sudah mengulangi kesalahan berulang kali. Aku hanya tak membawanya 3 atau mungkin 4 kali. Aku rasa aku melakukannya tidak sesering itu. 2 jam telah berlalu. Dan selama itu aku terus mengangkat kedua tangan ku. Yahhh ,,,Walaupun kadang aku menurunkan nya. Tapi apakah mungkin seseorang bisa tahan dengan mengangkat kedua tangan nya di atas kepala selama berjam-jam? Itu sungguh hal yang mustahil. Benarkan? Aku hanya mengikuti takdir pada tubuhku. Kalau lelah, ya sudah istirahat, tapi tidak untuk menyerah. Bel istirahat pun berbunyi. Menandakan jeda belajar siswa yang biasa disebut dengan istirahat sebelum melanjutkan pelajaran. Ahh sama saja. Akhirnya aku bisa menurunkan tangan tanpa harus mengangkatnya lagi. Ini sungguh melelahkan dibanding harus menjaga toserba semalaman. Sekarang otot-otot lengan ku serasa bergelut di dalam, sangat tegang. Ibu sampul keluar setelah memberi salam d idepan kelas dan tak lupa untuk menghentikan langkah kakinya tepat di samping ku untuk mengucapkan.. “Untung saja lks itu bukan otakmu, atau kau akan menganggap dirimu tidak berguna karena tak membawanya”. Aku bahkan sudah menyiapkan diri untuk menerima pencerahan yang sama untuk kesekian kalinya. Satu persatu teman sekelas ku pun keluar menuju kantin sekolah. Aku masih sibuk berdiri di luar kelas memijat lenganku yang terasa sangat pegal saat ini. Untuk kesekian kalinya , INI SANGAT MENYIKSA. “Kau baik-baik saja?” Tanya Areum yang melihatku memijat lengan kesakitan. “Tidak” jawabku melas. “Kalau begitu. Apa aku harus membantu memijit lengan mu?” Tanya nya dengan mulai memijit lengan kiri ku khawatir. Aku tersenyum akan tingkah lucunya yang tiba-tiba menarik lenganku untuk ia pijat. “Tidak tidak. Aku baik-baik saja. Aku hanya bercanda” ucapku untuk membuatnya tenang sambil terus berjalan menuju kantin sekolah. Begitulah ketika kami bersama, berbagi segala hal yang bisa dibagi. Itu akan membuat semua nya tampak mudah. Kecuali satu hal yang tak bisa ku bagi dengan siapapun, bahkan itu Areum sekalipun. Terlihat si pembuat heboh keluar kelas melalui pintu belakang yang berkenaan ketika kami melewatinya. Bersinar. Mungkin karena visual yang ia miliki dengan proporsi tubuh sempurna, berkulit putih s**u, tinggi, kaki panjang, d**a yang bidang, dan bahu lebar seluas samudra seperti kata gadis di belakang ku yang lewat dan berbisik-bisik dengan senyum merekah bak kembang mawar yang sedang bermekaran. Tak lupa tatapan mautnya yang tak teralihkan. Apa dia robot? Kepalanya bahkan mampu berputar 90 derajat asal kau tau. Bukannya iri, aku hanya mengkhawatirkan kepalanya. “Heii perhatikan langkahmu” ucap Areum ketus terhadap para gadis yang sengaja lewat di depan kelas kami. Aku hanya menggelengkan kepala melihat tingkah laku Areum yang tampak tak suka dengan para gadis kelas sebelah yang mencuri-curi pandang pada si pembuat heboh. “Anyeong Dohwan-aa” sapa Areum sambil melambaikan tangannya manis. Dan si pembuat heboh hanya mengangguk dan tersenyum canggung. “Sepertinya dia baru belajar senyum” bisik ku kepada Areum. “Yaaaa” ucap Areum ketus sembari tersenyum kembali ke arah pembuat heboh. Aku mengerti. Mungkin ini yang dinamakan cinta pada pandangan pertama. Areum tampak bahagia saat didekat orang baru ini. Apakah benar konsepnya begini? Entahlah,,, Ketika aku menatapnya untuk memastikan visual si pembuat heboh. Tatapan kami bertemu dan aku tak dapat mengalihkan pandangan ku, karena tak bisa dibantah lagi, dia memang sangat menarik. Namun... Satu hal yang ku tahu saat ini.... “Kehidupan seperti dia yang aku inginkan” ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN