DARK BOY

880 Kata
Seperti biasa. Sepulang sekolah aku langsung menuju toserba untuk bergantian dengan ibu ku. Pertanyaan yang akan muncul di benak orang lain, "Mengapa tak memperkerjakan pekerja paruh waktu saja? Jadi kau dan ibumu bisa mengerjakan pekerjaan masing-masing tanpa harus memikirkan toserba". Hm! Memang benar, pekerja paruh waktu akan meringankan urusan, tapi tidak dengan perekonomian. Keluarga ku memang memiliki toserba, namun ibu ku hanya memiliki setengah hak pada toserba ini, karena toserba yang kami jalani ini cabang dari perusahaan besar di Seoul. Jadi kami tak bisa mengambil full penghasilan dari toserba. Mengerti yang ku maksud kan? Ketika diperjalanan pulang. Aku melihat nenek-nenek sedang mendorong gerobak sampah pelan, sepertinya ia kesulitan untuk menaiki tanjakan untuk menuju rumahnya. Tanpa berpikir panjang aku mendorong gerobak nya dari belakang untuk mempermudahnya. Kata orang “Jika menolong seorang nenek/kakek yang sedang kesusahan, maka keajaiban akan datang”. Hey, namun bukan itu alasan ku menolong nya, aku membantunya untuk diriku sendiri, karena ketika aku menolong kemudian berhasil membuat mereka tersenyum, itu sangat menenangkan dan membuatku bahagia, yahhh walaupun aku memang sedikit mengharapkan sebuah keajaiban itu. Tapi seperti ritual di sore hari, nenek ini memang sudah seperti langganan kegiatan sore ku. “Sae Hyeon-aa. Apa yang kau lakukan? Cepat" teriak wanita paruh baya dari pintu masuk toserba. Ya, itu ibu ku. Sepertinya ia begitu merindukanku. Berharap saja. “Iyaa. Hati-hati halmeoni” ucapku sambil bergegas menuju toserba. Aku tak ingin membuat ibu ku darah tinggi, karena itu akan berbiaya. Ahh mian. “Cepat ganti pakaian mu. Jangan memakan makanan yang masih bagus untuk di jual. Kau mengerti?” ucapnya dengan memasang tatapan tajam terhadap ku. Lihat bagaimana ia menyayangiku. Manis bukan? “Baik eomma” ucapku mengangguk mengerti bahkan sangat mengerti apa yang sedang ia coba katakan. Namun aku sudah terbiasa dengan itu. Biarkan dia mengatakan apa pun yang ingin di katakan. Karena kelak ia bahkan tak dapat melontarkan satu katapun di hadapanku, bahkan pada lelaki terhebatku yaitu APPA. TENG TENG TENG Bunyi acak lonceng angin yang tertempel cantik pada pintu masuk toserba. Aku tau biasanya hanya digunakan pada restoran, namun sekarang banyak yang menggunakannya untuk toserba. Dan aku sengaja menggunakan nya pada toserba agar aku dapat sigap dalam melayani pembeli, karena memang aku juga punya tuntutan belajar. Jika tidak ku gunakan disaat bekerja, maka akan berakhir dengan menghabiskan waktu istirahat ku dan itu sangat buruk ketika aku tidak bisa konsentrasi belajar dalam kelas hanya karena mengantuk. “ Selamat datang” ucapku sambil memperbaiki pakaian dan rambutku ketika mendengar lonceng angin bergesekan satu sama lain. Ketika aku meluruskan pandangan terhadap pengunjung, aku merasa ada sesuatu yang mengganjal. Apa aku kenal orang ini? Sepertinya aku pernah melihatnya? Aku memang tak melihat wajahnya secara langsung karena menggunakan masker dan pakaian serba hitam seperti malaikat pencabut nyawa, namun aku seperti mengenal gerak gerik dan postur tubuhnya. Ahhhhh,,,,SEPERTINYA SEPERTINYA SEPERTINYAA. Tolong otak, jangan sok sok an untuk cosplay menjadi cendikiawan. Disini tugas mu untuk melayani pembeli yang berkunjung ke toserba kecil mu ini, jadi jangan perhatikan yang lain. Okey aku konsen (batin ku). “Berikan sebungkus rokok” ucapnya setelah meletakkan 2 kaleng minuman bersoda di atas meja kasir. “Ehm, bisa lihat KTP anda?” ucapku setengah gugup karena sedikit terkejut ia tiba tiba berada dihadapan ku setelah membatin sambil menutup mata. Kemudian ia menyerahkan sebuah kartu yang ia sogoh dari kantung depan celananya. Apa ia tak memiliki dompet? Hahh aku mulai lagi. Setelah memeriksa KTP nya, lalu aku memintanya untuk membuka masker di wajahnya hanya untuk konfirmasi. Namun kau tahu apa yang ia katakan? “Apa kau merasa kartu itu tidak cukup? Berikan dan aku akan segera pergi” Woahhhhh Apa ini? Apa bongkahan es dari kutub utara sudah berpindah ke selatan? Setidaknya dia bisa bilang tidak ketika aku mengatakannya. Aku hanya tak ingin ada kesalahan saja. “Baik” dan bagaimana pun aku harus tetap bersikap sopan bukan? Ketika aku memberikan apa yang diminta, ia pun segera pergi. Namun ketika sudah beranjak keluar dari toserba. Tiba tiba suara lelaki barusan terngiang ditelinga ku. Seperti pernah mendengarnya. Tanpa berpikir panjang, aku segera menyusul dan mencari keluar toserba. “ Apa dia sudah pergi? Aku yakin dia masih ada disekitar sini” ucapku sambil menyusuri setiap jalan menggunakan penglihatan tajam ku. Dan ternyata benar saja. Ia berjalan menuju lorong gelap diseberang jalan sekitar toserba juga. Aku berjalan perlahan untuk melihat apa yang ia lakukan di kegelapan sendirian. Ketika mengintip dari jarak yang lebih dekat, ternyata ditengah lorong tersebut ada sebuah lampu gantung yang terlihat lusuh dan akan segera padam karena tua dan sebuah bangku tepat tersandar di dinding bawah lampu. Namun yang membuat ku tak kunjung beranjak pergi setelah melihat sekilas ialah cara ia membuka penutup kaleng dengan lengan yang dilingkari gelang cantik, meneguknya, dan membakar ujung batangan rokok miliknya. Itu terlihat kasar namun menyedihkan. Aku dapat merasakan ia sedang memiliki masalah tersendiri. Yahhh setiap orang pasti memilikinya. Dan itu sedikit rumit dan sulit untuk diselesaikan. Menyepelekan sesuatu adalah cara ku meringankan beban tersulit dalam hidup. Walaupun orang dewasa bilang itu adalah cara yang salah dalam menjalaninya. Ketika aku sibuk dengan pikiran ku sembari menatap dark boy. Aahh aku akan menyebutnya dark boy, karena ia terlihat sangat gelap, bukan hanya karena pakaiannya, tapi juga kepribadian yang memancarkan aura gelap, aku mendengar suara lonceng toserba berbunyi dan segera pergi dari tempat itu. ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN