Hari ini aku bangun lebih awal dan memutuskan untuk segera berangkat sekolah setelah menyiapkan sarapan. Ayah harus pergi kerja dari pagi hingga larut malam setiap harinya. Aku kadang tak dapat menahan air mata ku ketika melihatnya pulang kerja larut malam dalam keadaan kulit tangan ataupun kaki yang lecet. Ia terlihat sangat kelelahan hingga tertidur di sofa.
Perasaan bersalah ku semakin besar mengingat bahwa aku belum dapat membantu meringankan bebannya, jadi aku hanya bisa menyalahkan diriku untuk semua yang telah terjadi.
Nasib yang tak bisa ku hindari namun harus ku perjuangkan. Aku hanya berharap berada di titik balik pada takdir yang telah kujalani. Dengan begitu, aku bisa memiliki harapan yang tinggi bersama orang-orang yang ku sayangi.
Aku berjalan perlahan sembari menghangatkan sekujur tubuh ku dibawah terik matahari pagi. Mendengar lagu favorit morning day dengan airpods yang terpasang rapat dikedua telinga ku. Saat tiba aku merasakan seseorang sedang berjalan di samping dan mengikuti tempo langkah kakiku.
Ia tersenyum dan tetap berada di samping. Aku pun melepaskan sebelah airpods, lalu membalas senyum nya agar terkesan lebih ramah.
“Lagu apa yang kau dengarkan?” Tanya nya yang memecahkan kesunyian.
“Good Bye My Love” aku melepaskan airpods untuk bisa didengarkan bersama.
“ Kenapa?”
“Hm?” tanya ku bingung.
“Kau kan tidak memiliki orang yang kau cinta. Jadi untuk apa kau mendengar lagu seperti ini?” ucapnya dengan mimik wajah yang datar kearah ku dan mengembalikan airpods nya kembali.
Aku pun menghentikan langkah ku dan hanya bisa terdiam mendengarkan lontarannya. Dari mana ia tahu jika aku belum pernah memulai percintaan. Aku bahkan tak pernah menceritakan masalah hati dengan Areum. Mengapa aku selalu menemukan ia mengetahui masalah hidup ku lebih dari dugaan.
***
Setelah 10 menit perjalanan dari gerbang sekolah ke kelas. Aku pun menempati tempat duduk dan meletakkan ransel ku pada gantungan yang tersedia di samping meja.
Ku tolehkan kepala ku ke arah sumber suara yang terdengar sedikit ribut. Dan tak heran, itu adalah suara dari meja sang pembuat heboh. Banyak yang merapat seperti lalat kearahnya. Dan bukan hanya itu, kelas sebelah yang tak pernah bertamu ke kelas ku pun jadi ikut menempel di jendela hanya untuk melihat nya.
Hidup seperti itu, apakah baik-baik saja untuknya?
Aku bergumam sembari menatap kosong.
Bukan apa. Hanya saja ku lihat ia tak memiliki ruang pribadi karena selalu mendapat perhatian orang banyak kemanapun ia pergi. Namun setelah ku lihat-lihat lagi, ia adalah orang yang humble, jadi kurasa semua itu tak apa untuknya.
“HEY”
“Eo? Yakkk!” seperti biasa, Areum selalu jahil padaku.
“Seperti nya ada yang harus kau jelaskan padaku” ucapnya sambil memasang tatapan menghakimi. Apalagi hari ini?
“Apa yang coba kau katakan? Kau tahu aku tak memiliki rahasia yang harus dijelaskan” mendengar meja sebelah tak seberisik sebelumnya, aku pun mencoba menoleh lagi. Dan menemukan sang pembuat heboh menatap kearah mejaku.
“Masih tak ada yang ingin kau jelaskan?” lanjut Areum sambil menyentuh tangan ku agar fokus dan menoleh kearahnya. Setelah merasakan sentuhan dan mendengar ucapan Aruem yang tak jelas, aku pun menoleh ke arahnya dengan wajah yang menaruh tanda tanya.
“Hm?”
“Apa kau juga mulai menyukainya?” Tanya nya dengan hati-hati.
“Siapa? Do Hwan-aa?”
“Hm. Aku melihat ada sesuatu diantara kalian”
“Eiyy. Apa maksud mu? Aku bahkan tak pernah bicara dengannya” ucapku sambil tertawa kecil.
Aku rasa ia khawatir jika aku menyukai si pembuat heboh dan harus bersaing dengannya. Sedangkan ketika ia sudah menyukai sesuatu, maka ia akan pastikan untuk mendapatkannya. Aku rasa ia juga pantas untuk semua itu. Yahh kau tahu hidup Areum itu dapat dikatakan sempurna. Jadi jika ia menjadi pasangan si pembuat heboh juga itu wajar saja. Ke khawatiran Areum sungguh sangat konyol. Aku dan berlian? Itu jauh lebih mustahil dari mempercayai ibu ku yang selalu bersikap lembut.
“Jika kau menyukai sesuatu, katakan saja padaku. Dengan begitu aku bisa membantu mu mendapatkannya” ucapnya sambil tersenyum lembut kearah ku. Inilah yang membuatku nyaman berteman dengannya. Kadang ia bisa bersikap kekanakan, kadang juga ia bisa bersikap dewasa dalam situasi tertentu.
“Hm! Akan ku lakukan. Bahkan jika harus membayar hutang pada rentenir” guyon ku.
“Kau memiliki hutang pada rentenir? Berapa? Aku bisa mentransfer nya untukmu” ucapnya dengan mimik wajah yang terlampau serius. Aku hanya dapat tertawa melihatnya memasang wajah seperti itu. Dia sangat polos.
“Yaaa hentikan. Ayo keruang ganti, jam pertama kita olahraga” lanjutku sambil menuntun kaki ke arah pintu keluar menuju ruang ganti.
“Sae hyeon-aa. Aku benar-benar akan membantu mu, kau tahu itu kan?” suaranya terdengar berlari mengejar menyusul langkah kaki ku.
Mana mungkin aku tak tahu. Kau adalah sahabat sekaligus keluarga yang selalu berada disisi ku, kapan pun aku membutuhkan seseorang. Bertemu dengan mu membuat masalah ku terasa lebih ringan. Kau memang sejauh ini tak berbuat apapun, tapi kau selalu membantu dengan tetap bersama ku, walaupun aku tak pernah benar-benar jujur. Maafkan aku. Aku memang egois.
***
“Ahhh rasanya sangat malas untuk menggerakkan tubuh ku disaat cuaca panas seperti ini. Kau tahu? Itu akan membuat pori-pori ku mengeluarkan keringat yang berlebihan” ucap Areum yang terus berjalan mundur agar tetap melanjutkan perbincangan tanpa mengalihkan pandangan dengan ku.
“Tapi itu membuat tubuh mu bugar. Kau hanya perlu sedikit menggerakkan tubuhmu jika kau memang malas melakukannya” dia memang selalu mengeluh ketika akan melakukan hal berat menurutnya. Padahal ruang olahraga dirumahnya sangat luas, tapi ia tak pernah menggunakannya. Ayahnya sangat mengkhawatirkan putrinya karena selalu malas untuk berolahraga. Maka dari itu pak Direktur selalu meminta tolong padaku agar menasihatinya secara perlahan.
“Tapi tetap saja. Itu akan melelahkan. Jika mau berolahraga, aku bisa menggunakan kursi pijat ku di rumah. Dan itu,,,,,awww” tanpa kami sadari, ternyata Areum menabrak seseorang yang berada di belakangnya tanpa sengaja. Aku juga tak menyadari karena terlalu fokus berbincang masalah keluhan yang terus menerus. Ahhh, mengapa harus dia?
Karena sadar ia menubruk badan seseorang, Areum pun berbalik badan yang untungnya ia tak jatuh karena tangan seseorang tersebut menahan badan Areum.
“Sae Hyeon-aa. Aku melupakan sesuatu. Sepertinya aku tak akan merasakan lelah sedikitpun hari ini” cetusnya yang masih memandangi lelaki tersebut tanpa mengalihkan pandangan. Yahh,, kau tahu itu. Dia si pembuat heboh. Dan sekarang Areum menempel bagaikan lem di tubuh nya.
“Kau baik-baik saja?” si pembuat heboh memecah kecanggungan di tengah lapangan. Jika sudah seperti ini, sorot mata semua orang akan teralihkan ke arah kami. Hahh entahlah, aku hanya ingin Aruem cepat sadar akan apa yang telah ia lakukan sekarang.
“Tidak. Aku tidak baik-baik saja. Aduh,,ini sangat sakit” ucap Areum sambil berusaha terlihat sedang benar-benar tersakiti. Usaha yang sangat keras.
“Tapi kurasa kau baik-baik saja” lanjut si pembuat heboh dengan tersenyum manis kearah Areum. Ohh tidak. Sekarang dia benar-benar akan sakit.
“Senyum mu sepertinya menusuk jantung ku. Kau sangat tampan”
Si pembuat heboh menatap ku, mungkin ia mencoba memberikan kode untuk mengurus Areum.
“Areum-aa. Cukup. Berdirilah dengan benar” aku tak sanggup melihat kegilaannya. Lebih baik aku membawanya segera pergi dari sini. Setelah ku coba memaksanya untuk keluar dari pelukan si pembuat heboh, ia pun kembali berdiri dengan tegak.
“Do hwan-aa. Aku ingin nomor telepon mu” dia memang sudah sadar, dan sekarang yang dilakukan nya meminta nomor telepon. Hah sudahlah.
“Hm tentu. Tapi aku tak hafal nomor nya karena baru mengganti handphone”
“Tidak apa-apa. Aku bisa menunggu sampai selesai kelas”
“Oke”
Setelah perginya sang pembuat heboh, tangan ku bergerak melayang kearah pundaknya. Tentu saja sedari tadi aku menahan untuk tak memukul.
“Yaakk. Kau tau berapa banyak orang yang memandangi mu barusan? Kau memeluknya seperti ditempelkan lem saja” ucap ku kesal karena sudah menjadi pusat perhatian, walaupun yang mereka lihat bukan aku, hanya saja aku berada diantara mereka yang membuat ku seperti nyamuk berisik yang tak berdaya.
“YA YA YAAA Su Hyeon-aa. Bagaimana riasanku? Lipstick ku? Eyeshadow ku? Ahh aku tak sempat ke kamar mandi untuk berdandan. Bagaimana ini? ” setelah sekian usaha yang kulakukan untuk membuatnya sadar. Sekarang aku yang menggila. Sudahlah. Mungkin ini yang dimaksud dengan cinta itu buta.
“Kau sepertinya memang harus banyak olahraga agar otak mu lancar” aku hanya dapat menggelengkan kepala ku dan meninggalkannya menuju tengah lapangan.
***
Setelah 30 menitan pembelajaran olahraga, akhirnya waktu untuk istirahat. Aku berjalan mencari tempat duduk yang nyaman di tepi lapangan bersama Areum yang mengintil di belakang punggung ku.
“Aku akan ke kamar mandi” ucap nya sembari merogoh ransel dan mengambil tas riasan mini miliknya. Ia begitu buru-buru hingga belum meminum seteguk air pun. Lalu aku menahan tangannya dan menyodorkan botol minum.
“Minumlah, kau baru selesai berolahraga. Itu tak baik bagi tubuhmu”
“Nanti saja. Aku akan segera kembali” ia pun berlari tanpa menerima botol yang ku sodorkan untuknya. Dia begitu keras kepala. Bagaimana lagi aku harus menjaganya.
Aku hanya dapat menunggu sampai ia kembali. Aku yakin itu tak akan lama, lagipula ia hanya memperbaiki riasan, bukan memulai dari awal.
Fokus ku teralihkan ketika tiba-tiba suara sorakan yang begitu ramai dari segala arah. Apa yang terjadi disini? Dan setelah ku telaah dengan baik dari arah pusat perhatian. Ternyata tak heran lagi, si pembuat heboh akan selalu menjadi pusat kehebohan. Kesan awal ku yang merasa prihatin padanya telah pudar, karena sepertinya dia memang menikmati nya juga.
Hanya dengan ia melempar bola basket ke ring, para gadis akan bersorak ria untuknya. Yahh, walaupun tak dapat dipungkiri juga, aura kejantanan yang soft seketika menghipnotis seluruh isi lapangan. Dan tak bisa kubayangkan jika Areum berada disini melihat pujaan hatinya merebut hati banyak gadis. Dia mungkin akan sangat banyak mengeluh namun tetap merasa bahagia karena melihat si pembuat heboh yang begitu tampan saat bermain dengan bola basket.
Ohh iya. Sudah lumayan lama ia pergi ke kamar mandi dan tak kunjung kembali hingga sekarang. Aku mengecek jam di handphone ku, dan ternyata 20 menit telah berlalu. Kemana sebenarnya dia? Tak mungkin kan ia menyewa perias hanya untuk merias wajahnya ketika menanti pertemuan dalam rangka ritual pertukaran nomor handphone atau bisa saja ID Chat.
Apa iya dia ke kelas tanpa menunggu ku? Aku membatin tentang kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi. Tapi itu rasanya sedikit tak masuk akal. Akhirnya aku memutuskan untuk menelpon nya. Setelah menantikan deringan telepon yang ku harap diterima, ternyata deringan terdengar di dalam tas milik Areum. Ia tak membawa handphone.
Hahhh,,Tak ada cara lain selain menyusul nya ke kamar mandi. Aku pun membereskan tas dan bergegas pergi. Langkah yang ku percepat menuju tujuan untuk mengetahui keadaan sebenarnya akhirnya sampai. Tanpa berpikir panjang, aku langsung masuk untuk mengecek apakah Areum masih berada di dalam. Namun ternyata nihil. Aku pun mencoba mengetok pintu toilet satu persatu untuk kembali memastikan, namun aku mendapatkan hasil yang sama.
Karena bingung harus mencari kemana, aku pun memutuskan untuk keluar kamar mandi dan menanyakan pada siswa yang sebelumnya sudah berada di depan kamar mandi.
“Sora-ya. Apa kau melihat Areum keluar kamar mandi?” Tanya ku pada teman sekelas yang sedang asik berbincang.
“Areum-ii?”
“Iya”
“Aku tidak yakin itu Areum atau bukan. Hanya saja beberapa waktu lalu aku melihat seseorang yang terlihat seperti Areum di papah menuju UKS” jelasnya sambil mencoba mengingat kejadian beberapa menit lalu.
“Dipapah kenapa?”
“Karena terjatuh dilantai dan tak bisa berdiri dengan baik”
“Sora-ya Gomawo”
Aku pun bergegas menuju UKS untuk melihat keadaan Aruem. Hah, aku sudah menduga ini. Dengan keadaan fisik nya yang lemah, ia belum meminum seteguk air pun usai berolahraga.
***