ID CHAT

1206 Kata
Mengetahui bahwa Areum masuk UKS setelah terjatuh di kamar mandi, aku segera menyusul dengan sedikit tergesa-gesa. Tak memikirkan tas yang masih ku diamkan di kursi lapangan tadi. Sesampainya di depan ruang UKS. Aku membuka pintu dengan bruntal hingga terdengar suara dencitan dan getaran di sekitar jendela UKS. Penghuni ruangan itupun menyingkap gorden pembatas dan melihat ku dengan sedikit tatapan membunuh. Ahh maafkan aku. Aku hanya ingin memastikan keadaan sahabat ku. Aku tak berniat menganggu kalian. Percayalah. Aku pun menundukkan kepalaku lalu meminta maaf dengan isyarat menyatukan kedua telapak tangan didepan d**a. Aku melihat Areum menyingkap gorden dan memanggilku santai dengan suara yang dibuat-dibuat. Hahh itu membuat ku ingin muntah saja. Wajahnya terlihat memelas dan memegang kepalanya. Aku menutup pintu dan mendekati ranjang istirahat tempat Areum berada. “Yaaakk. Sudah ku katakan untuk mengisi energi mu dengan air dulu sebelum ke toilet” ucapku sembari memecah pandangan ke seluruh badan Areum untuk melihat apa ia terluka atau tidak. “Sae Hyeon-ah. Bagaimana ini?” “Kenapa? Apa ada yang sakit?” aku memutar pundaknya perlahan untuk memeriksa apa yang ia rasakan. “ID Chat” ucapnya melemah. “ID Chat? Areum-ah lihat keadaan mu sekarang! Kau tak seharusnya memikirkan hal yang tidak penting dulu” rasanya kesal sekali melihat ia masih bisa memikirkan hal lain ketika ia sendiri masih belum pulih seperti ini. Sepertinya memang benar kepala nya bermasalah. Aku tak mengerti Ya Tuhan. “Tidak. Ini sangat penting. Ini masalah hati. Jadi aku harus kembali ke lapangan sekarang juga. Atau mungkin dia sudah kembali ke kelas” ucapnya sambil bergegas turun dari ranjang. Melihat apa yang dilakukan Areum benar-benar membuatku memijat kepala. Aku tahu ini masalah hati. Tapi keadaannya sekarang tidak mendukung sama sekali. Bahkan masalah hati itu lah yang membuat keadaannya seperti sekarang. Yang dapat kulakukan hanya mencegahnya agar ia bisa istirahat terlebih dahulu. Dia benar-benar menyebalkan sekarang. Apa yang harus ku katakan jika pak direktur bertanya. Haruskah ku katakan bahwa putri kesayangan nya yang manis melupakan kesehatannya demi masalah hati? Tak mungkin bukan? “Kau tidak bisa pergi ke luar sekarang. Kau harus istirahat” larangku dengan memasang jari telunjuk untuk memperingatinya. “Tapi aku ingin ID itu hari ini. Hmm kalau begitu bagaimana dengan ini?” ucapnya memasang wajah serius yang terlihat sedikit ragu-ragu. Aku curiga akan apa yang ingin ia katakan. Biar ku tebak. Ey tidak mungkin bukan…… Ahh pasti bukan. Ku mohon jangan yang itu. Aku sungguh tidak bisa. “Karena kau tak membiarkan ku pergi. Jadi…apa kau…” “Tidak tidak tidak. Aku tahu apa yang ingin kau katakan” “Sae Hyeon-ah ku mohon. Atau kau ingin aku saja yang pergi?” gertaknya dengan menuruni ranjang. “Apa tidak ada cara lain? Kau bisa memintanya besok bukan?” aku benar-benar tak bisa berurusan dengan Do Hwan. Jadi aku mencoba untuk membujuk nya terlebih dahulu. Aku hanya berharap ia berubah pikiran. “Baiklah. Kalau begitu biar aku yang pergi” “Oke. Aku akan meminta ID nya untuk mu” spontan ku. Oh tidak. Dia tidak berubah pikiran sama sekali. Sekarang apa yang harus ku lakukan. Ini benar-benar merepotkan dari pada hukuman guru sampul. Bagaimana aku harus memintanya? *** Aku berjalan perlahan menuju ruang kelas. Aku masih memikirkan cara untuk memulai percakapan dengan si pembuat heboh. Walaupun citra si pembuat heboh adalah lelaki tampan yang ramah. Tetapi tetap saja. Aku tidak terbiasa dengan orang sepertinya. Apalagi harus memulai percakapan dengan langsung meminta ID. Itu sama saja seperti meminta uang pada ahjuma yang kau temukan dijalan zebra cross. Sungguh tidak masuk akal. Aku terus sibuk berperang dengan isi otak ku, hingga menubruk seseorang yang berada didepan karena tak fokus. Aku terkejut dan hampir terjatuh kelantai, namun masih bisa ku tahan keseimbangan ku. Tahu bagaimana kaget nya aku bukan? Tentu kalian juga pernah merasakannya. Aku mengangkat kepala ku perlahan yang sedari tadi ku tundukkan. Dan terpampang sang visual dihadapan ku. Ya, dia si pembuat heboh yang saat ini membuat ku hampir gila hanya karena ID Chat. Aku hanya bisa terdiam memandangi pahatan indah yang dihadapan ku. Bukan karena terpanah atau apapun itu. Aku hanya menyiapkan kata-kata yang terdengar bagus ditelinga ketika meminta ID nya. Tapi bagaimana? Seperti apa? Hahh perasaan seperti ini membuatku hampir gila. “Kenapa? Apa ada yang salah?” ucapnya sambil tersenyum sembari memiringkan kepalanya bingung. “Aa. Tidak. Maksud ku…hm” aku seketika merasa menjadi orang gagap. “Kurasa ada yang ingin kau sampaikan. Kalau begitu. Kita bicara disana” ucapnya sambil menghembuskan nafas pelan sembari memasukkan kedua tangan kesaku celana miliknya. Ia menuntun ku pergi ke sebuah tempat duduk ditaman kecil samping lapangan sepak bola. Aku hanya mengekorinya bak anak ayam yang tak ingin pisah dengan induknya. Aku menatap tubuh jenjang nya dari belakang. Wahh, betapa tingginya dia setelah berdekatan seperti ini. Tinggi ku bahkan tidak bisa melebihi bahunya. Seketika aku bertekad untuk rajin berolahraga. Tapi seperti yang kalian tahu. Itu hanya berlaku didetik ini saja. Aku tak ada waktu untuk berleha-leha walaupun untuk olahraga sekalipun. Ketika sampai tujuan, ia mempersilahkan ku untuk duduk terlebih dahulu dan disusul dia yang duduk disamping ku. Aku sebenarnya masih bingung apa yang harus di katakan terlebih dahulu. Tapi ku kumpulkan keberanian agar semuanya cepat berakhir. Lee Areum, kau harus bayar semua penderitaan ku ini. “Hm. Karena kau sepertinya sudah tahu apa yang ingin ku katakan. Aku langsung saja ke intinya. Aku ingin meminta ID mu” ucapku sambil membalikkan arah tubuh ku kesamping menghadapnya. “Untuk mu?” tanya nya dengan menatap mataku. “Bukan. Untuk sahabat ku” “Ahh jadi dia sahabat mu. Kalian terlihat sangat dekat” ucapnya sambil membenarkan posisinya menghadap depan lagi seperti semula. “Jadi?” ucapku ragu. Karena sepertinya ia lupa akan topik pembahasan. “Aku tak membawa handphone ku” lanjutnya santai. Apa ini? Apa aku harus kembali lagi besok untuk memintanya? “Apa? Bukankah kau sudah berjanji untuk memberi Areum ID mu?” aku sedikit terpancing oleh perkataannya. Sebenarnya apa yang ia coba lakukan? Para remaja sekarang tak akan pisah dengan handphone. Tapi dia? “Aku bilang nanti. Dan sekarang posisi ku tak membawa handphone dan aku tak hafal ID ku” Bagaimana bisa aku berurusan dengan iblis setengah malaikat ini Ya Tuhan. Sifatnya sangat menjengkelkan, tapi wajahnya begitu tampan. Aku hanya menarik nafas dan ku hembuskan kasar agar ia tahu bagaimana kesalnya aku sekarang. Aku mempersiapkan diri untuk bicara baik-baik dengannya. Ku sisir rambut ku kebelakang telinga agar angin masuk kesegala arah. Tujuannya ya tentu saja untuk mendapatkan kesabaran yang lebih dalam lagi. “Kurasa kau harus mengambil nya dikelas sekarang juga” ucapku dengan menarik sudut bibirku agar terlihat ramah dengan senyuman. Aku meminta nya untuk mengambil handphone nya dikelas, karena aku yakin ia menyimpannya ditas. “Aku tidak membawanya kesekolah” ucapnya datar. “Hah?” aku sudah tak bisa berkata-kata lagi. “Handphone mu” lanjutnya dengan mengadahkan satu tangannya dihadapan ku. “Untuk apa?” tanya ku polos. “Kau mau ID ku bukan?” Tanpa berpikir panjang, aku memberikan handphone yang ku letakkan di atas telapak tangannya. Terlihat ia sedang mencoba menghubungi seseorang. Ketika sambungannya terputus tanpa adanya pembicaraan, ia memberi handphone ku dan tersenyum manis. “Aku menggunakan cara ku. Kau akan mendapatkan nya nanti” ucapnya sembari berdiri dan melangkah pergi. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN