Seperti biasa, malam ini aku sibuk dengan buku dan menjaga toserba. Aku harus belajar karena ujian sebentar lagi akan datang. Pengunjung tak terlalu ramai, karena itu aku bisa fokus menatap buku paket ku.
Malam mulai terasa semakin sunyi dan dingin. Aku mencoba menyebar pandangan ku keluar toserba untuk memantau keadaan sekitar. Namun yang ku dapatkan hanya gerakan-gerakan kecil dari sampah plastik yang terbawa oleh angin dan eongan kucing yang sedang lapar mencari makanan di dekat tumpukan kantong sampah.
Aku memutar arah pandangan ku ke mata jam yang tertempel rapi di dinding toserba. Jam menunjukkan pukul 23.05. Ternyata malam sudah larut. Aku terlalu terpaku pada buku hingga tak menyadari bahwa seharusnya toserba sudah tutup sejak pukul 22.00. Aku pun mulai beres-beres dengan memasukkan buku ke dalam tas, mematikan lampu dan tidak lupa untuk membawa makanan yang hampir expired di deretan island rak toserba.
Keluar dari toserba, aku masih melihat kucing yang sedari tadi mencari makanan namun tak kunjung mendapatkannya. Aku membuka tas ransel ku untuk mengambil makanan yang ku bawa dari toserba lalu diberikan kepadanya.
Aku membuka bungkus samgak kimbab (kimbab segitiga) dan menyodorkan dihadapan kucing agar ia bisa memakannya. Kucing tersebut terlihat lahap menyantap makanan yang ku berikan. Itu membuat ku bahagia di tengah letihnya aku seharian belajar dan menjaga toserba.
Ketika sibuk memberikan kucing tersebut makan, tiba-tiba aku mendengar suara sebuah kaleng yang terlempar keras di ujung jalan. Spontan aku menoleh ke arah sumber suara. Terlihat seseorang yang menggunakan pakaian serba hitam di ujung jalan yang gelap dengan menggenggam sebuah kaleng minuman ditangannya. Jalannya terlihat linglung tak karuan. Seperti nya dia lelaki pemabuk yang tak memiliki tempat tujuan karena tak sadar. Aku tak ingin ikut campur karena itu terlihat berbahaya. Terlebih lagi keadaan sekitar sepi dan aku hanya seorang diri. Aku pun memutuskan untuk meletakkan sisa makanan yang kuberikan pada kucing tersebut dan segera melangkah pulang menuju rumah.
Setelah beberapa menit berjalan dari toserba, aku pun sampai tepat di depan rumah. Karena memang jarak toserba dan rumah ku hanya butuh waktu 10 menit jalan kaki. Aku membuka gerbang dan membuka pintu rumah perlahan agar tak menganggu istirahat orang rumah. Ketika hendak melepaskan sepatu, aku melihat ayah ku tertidur di sofa ruang tamu. Aku pun cepat-cepat melepaskan sepatuku dan meletakkan nya di lemari sepatu.
Aku mendekati nya perlahan dan duduk tepat disampingnya. Ia terlihat begitu lelah. Terlihat sirat dahinya yang mengerut karena mengkhawatirkan sesuatu. Keringat di sekitar wajahnya pun belum mengering. Aku menatap wajah lelaki hebat di hadapanku. Tak terasa air mata ku perlahan menetes.
Appa,,,Mianhae. Aku tau kau selama ini selalu memikirkan ku di setiap saat. Tapi aku ingin kau memikirkan dirimu terlebih dahulu. Putrimu sudah besar appa. Aku bisa mengurus diriku sendiri. Setelah lulus. Aku akan membawa appa pergi dari rumah ini. Aku akan bekerja keras.Jangan khawatir appa. Aku berjanji. Kau percaya pada ku bukan?”
Batinku sembari menyentuh tangan kasar nya dan mengambil selimut di dalam lemari untuk menghangatkan tubuhnya. Aku melihat ibu tertidur pulas di atas ranjang kamar. Aku menaiki selimutnya yang terurai kebawah untuk menutupi seluruh tubuhnya. Biar bagaimana pun, dia tetaplah ibu ku dan aku harus berterimakasih untuk itu.
***
Aku meletakkan tas ransel ku di atas meja dan berganti pakaian. Tiba-tiba terdengar dering telepon dari ponsel ku. Aku berjalan mendekat dan tertera nama Areum-ii dilayar. Untuk apa dia menghubungi ku dilarut malam seperti ini?
Aku mencoba mengecek jam dilayar handphone. Sekarang sudah pukul 00.00. Tidak biasanya ia menelpon di atas pukul 22.00. Apa ada sesuatu yang ia lupakan? Apa aku membawa barang miliknya? Tapi jika seperti itu, ia bisa saja mengambilnya besok di sekolah.
Aku pun menerima telpon tanpa ragu. Mungkin saja ia merindukan ku.
“Yeobosaeyoooooo” aku terkejut mendengar suara Areum yang begitu lantang setelah aku menekan tombol loud speaker. Spontan ku jauhkan handphone dari jangkauan telinga ku. Jika tidak seperti itu. Mungkin aku tak dapat mendengar lagi.
“Yaakkk. Apa kau menghubungi ku untuk mengajak ku demo?” bisik ku. Karena ayah tertidur di depan kamar ku, aku tak ingin mengganggu nya.
“Yaaakk apa yang kau lakukan? Aku tak bisa mendengarmu” Ya Tuhan. Apa yang harus ku lakukan pada gadis ini agar ia bisa mengerti. Aku sedikit stress menghadapinya jika sudah malam begini.
“Apa kau tak bisa mengecilkan nada suara mu?” ucap ku dengan nada yang ku turunkan serendah mungkin.
“KE..NA..PAA?” dengan polosnya ia menjawabku dengan suara yang dibuat-buat menjadi lucu.
“KAU BISA SAJA MENGANGGU SEISI RUMAH” aku tak tahan dan seketika mengeluarkan suara emas ku. Persis seperti yang ku katakan tadi. Aku mengganggu penghuni rumah ini.
PAKK PAKK PAKK…
Suara gedoran yang berasal dari pintu ku. Seperti nya ibu terbangun. Itu semua karena suara ku. Jadi aku tak bisa menyalahkan gadis kecil di seberang sana. Hahhh sudahlah.
“Sae Hyeon-aa. Kenapa tidak runtuhkan rumah ini sekalian?” teriak ibu ku di luar pintu yang membuat ku takut berkutik. Itu mungkin tampak seperti lelucon. Tapi aku khawatir ia tiba-tiba membuka pintu dan melakukan lebih dari itu. Hanya trauma dimasa lalu. Setelah itu, suasana menjadi sunyi kembali. Hingga suara Areum memecahkan keterpakuan ku dari pintu.
“Sae Hyeon. Apa itu ibu mu? Apa yang ibu mu katakan?” ucapnya bingung. Areum memang belum tahu dan belum pernah bertemu ibu ku. Aku melarangnya. Setiap kali ia ingin ke rumah ku. Aku selalu memberikan alasan hingga ia tak bisa mengunjungi tempat menakutkan ini.
“Dia menyuruhku untuk meruntuhkan rumah” ucap ku datar sembari menaiki ranjang.
“Hah?”
“Lupakan. Untuk apa kau menelpon di larut malam seperti ini?” aku tak ingin memperpanjang hal tak penting ini. Apalagi Areum susah mencerna kata-kata ku. Sama saja memperumit masalah.
“Ahhh. Itu. ID Do Hwan bagaimana? Apa kau sudah mendapatkannya?”
Hahh. Ternyata dia menelpon untuk ID sialan itu. Bagaimana mengatakannya sekarang? Haruskah aku katakan bahwa aku tak mendapatkannya? Atau aku akan memintanya besok lagi untuk mu? Astaga. Aku serasa mau ditelan habis olehnya jika tak mendapatkan itu. Mengapa orang-orang sangat terobsesi dengan aplikasi sialan itu. Aku tak mengerti.
Ditengah kebingungan ku cara menanggapi Areum. Tiba-tiba suara notif pesan masuk dilayar handphone ku. Itu dari nomor tak dikenal. Nomor dari mana ini? Aku rasa tak pernah memberikan nomor ku ke siapa-siapa akhir-akhir ini.
Karena tak ingin dibuat penasaran. Aku pun membuka isi pesan tersebut. Setelah ku buka. Itu berisi pesan singkat yang mengatakan “aku lelah”. Aku tak tahu itu dari siapa dan bagaimana cara harus menanggapi pesan tersebut. Sekarang dua pernyataan yang harus ku tanggapi. Dan dua-duanya membuatku bingung.
“Yeoboseyo. Sae Hyeon-aa. Kau mendengar ku atau tidak?” ucap Areum yang menunggu jawaban dari ku.
“Areum-aa sebentar” aku mematikan sambungan telepon karena nomor yang tak dikenal tadi tiba-tiba saja menelpon ku. Aku tak ingin ia khawatir jika saja orang yang menelpon adalah orang jahat atau semacamnya.
Dengan perasaan yang tak enak, aku mencoba menerima panggilan tersebut. Sejenak setelah terhubung dengan orang misterius tersebut, semua terasa sepi, tak terdengar suara apapun dari seberang. Itu membuatku bingung dan harus bolak balik melihat layar ku untuk memastikan telepon masih tersambung atau tidak.
“Yeoboseyo” aku mencoba memulai percakapan untuk memancingnya mengeluarkan suara. Aku sedikit merasa takut karena beberapa saat ia tak mengeluarkan suara sama sekali. Apa dia orang jahat? Kalau memang benar. Apa aku harus mengganti handphone untuk menghindarinya? Tapi aku sadar. Aku tak punya uang sepeser pun. Jadi ku urungkan niat dan tetap menghadapinya. Memang apa salahnya berteman dengan orang jahat? Itu kan….hahhh tapi itu memang salah. Sudahlah.
“Aku menemukanmu”
***