Pagi hari seperti biasa. Aku berjalan menyusuri trotoar dekat sekolah setelah melakukan kegiatan harian ku di rumah, seperti bersih-bersih dan membereskan rumah. Hingga aku kemudian terpaku menatap para siswa dihadapanku yang terlihat diantar oleh orang tua masing-masing menggunakan kendaraan roda empat yang mewah. Mereka terlihat bersemangat. Mendapatkan kecupan didahi dan elusan hangat dari orang yang disayanginya. Diperlakukan bagai ratu dan disayang bagai tak ingin kehilangan.
/Flashback On
Didalam mobil. Seorang gadis kecil yang manis terlihat begitu bersemangat menuju sekolah dengan diantar kedua orang yang disayanginya. Mereka bercanda dan tertawa layaknya keluarga yang begitu harmonis.
“Eomma. Kemarin ketika disekolah, salah satu teman kelas ku ada yang menangis” ucap gadis kecil tersebut.
“Kenapa?” jawab ibu nya lembut.
“Aku tidak tahu. Tapi aku melihatnya menangis usai kau datang untuk melihat ku pemetasan di sekolah kemarin”
“Lalu apa yang kau lakukan?”
“Aku dekati dan duduk disampingnya. Karena tak tahu harus apa, jadi aku hanya menepuk pelan punggungnya”
“Aaa benarkah? Kerja bagus” ucap ibunya bangga dan tersenyum padanya.
“Tapi eomma. Setelah dia berhenti menangis. Dia mengatakan bahwa ia iri padaku. Aku tak mengerti apa maksudnya. Apa aku melakukan kesalahan?”
“Sae Hyeon-aa” wanita paruh baya itu pun tersenyum sembari membalikkan tubuh putrinya agar mereka berhadapan. Ia merapikan rambut dan seragam sekolah putrinya sebelum melanjutkan pembicaraannya.
“Dengarkan eomma. Dia adalah seseorang yang hanya butuh kau dengarkan dan temani”
“Kenapa?” ucap Sae Hyeon kecil tak mengerti dengan apa yang dibicarakan ibunya.
“Karena kau tak akan mengerti jelas akan perasaan orang lain, bahkan saat ia menjelaskannya padamu. Jadi untuk membuatnya tenang, kau hanya harus tetap berada disisinya” wanita paruh baya tersebut menjelaskan perlahan pada gadis kecilnya. Ia ingin memberikan pengertian akan hal-hal yang tak bisa dilakukan oleh setiap orang.
“Aku masih belum mengerti eomma” ucapnya polos.
“Kau akan mengerti saat kau dewasa nanti nak”
Ketika sampai didepan gerbang sekolah. Mereka pun turun dari mobil. Ia mendapatkan pelukan dan elusan hangat dipermukaan kepalanya, mengucapkan salam perpisahan dengan ayah dan ibunya, lalu berjalan menuju kedalam sekolah.
/Flashback off
Aku masih bisa merasakan hangatnya pelukan dan harmonisnya keluarga ku sebelum kecelakan menimpa. Senyum itu, pelukan hangat itu, semua nya telah hilang.
Namun ada hal yang selalu berkenang. Ajaran yang dulunya tak ku mengerti, kini perlahan aku alami dan pahami.
“Sae Hyeon-aa” panggil seorang gadis di ujung sana dengan melambaikan tangan semangat. Senyumnya begitu lebar hingga membuat ku melupakan akan hal mengharukan yang baru saja datang kembali. Aku hanya bersyukur, disaat aku merasa terbebani akan suatu hal, dia selalu mampu membuatku melupakan semuanya dan menggantinya dengan senyuman. Aku mengerti kode yang ia berikan kepada ku untuk mendekat.
“Ada apa? Kenapa kau terlihat sangat manis pagi ini” ucapnya dengan mengernyitkan kedua matanya memperhatikan wajah ku.
Aku hanya menanggapinya dengan tawa kecil dan menyiku lengannya pelan. Bukannya percaya dengan apa yang ia katakan, hanya saja itu sedikit menghibur ketika mendengarnya dipagi hari. Aku bahkan lebih percaya jika esok hari, ibu ku akan membuatkan ku sarapan manis dengan senyum cantik yang ia miliki. Aku tahu ini mustahil untuk mengharapkan seseorang yang sudah tiada akan melakukan semua itu.
Kami melanjutkan berjalan hendak menuju kelas sembari melontarkan beberapa lelucon yang yang membuat kami tertawa. Hingga dikejutkan dengan seseorang yang tiba-tiba berlari melalui tengah-tengah kami. Dia berlari begitu kencang hingga kami tak bisa menjaga keseimbangan dan hampir terjatuh karenanya. Kami bingung kenapa ia melakukan itu. Namun tampak dari raut wajahnya ia terlihat mencemaskan sesuatu. Keringat dingin mulai membasahi wajahnya. Itu terlihat ketika ia berlari namun sempat menoleh kearah kami tanpa mengatakan sepatah kata pun. Aku terdiam karena dia tampak tak asing bagiku. Aku mengenalnya. Sebagai orang aneh yang selalu diam-diam masuk kekehidupan ku.
“YAAKK apa kau gila?” terlihat Areum begitu kesal. Ia merapikan seragamnya yang sedikit berantakan karena kejadian tadi.
“Setidaknya dia minta maaf. Haisshhhhh “ lanjutnya.
Aku hanya terdiam menatap gadis itu berlalu jauh. Apa lagi sekarang? Apa yang coba ia lakukan? Menabrak karena alasan terburu-buru? Itu tentu tidak masuk akal, karena disamping kami masih sangat luas tempat ia bisa berlarian semaunya. Tapi setelah ku pikir-pikir lagi. Dia sepertinya bukan orang yang akan melakukan hal sepele untuk membuat orang kesal. Mengerti maksud ku bukan?
“Ada apa?” ia menepuk pundak ku pelan.
“Kau mengenalnya?” aku bertanya asal. Siapa tau Areum memiliki sedikit informasi tentang gadis tersebut.
“Siapa? Ahhh. Kang Seul?”
“Kang Seul?”
“Hm. Dia Kang Seul dari kelas sebelah”
“Apa dia selalu bersikap seperti itu?”
“Yang ku tahu, dia memang sedikit freak”
Mendengar jawaban Areem membuat ku tertawa. Bagaimana dia bisa mengatakan orang seperti itu tanpa ragu.
“Kenapa?” ucapnya sembari tertawa terpancing karena melihat ku lebih dahulu tertawa .
“Tidak ada. Bagaimana kau bisa mengatakan seseorang seperti itu tanpa ragu?”
“Memangnya kenapa? Itu kan benar”
Aku hanya geleng-geleng dan berjalan lebih cepat untuk sampai dikelas. Diikuti Areum yang menyeimbangkan kecepatan langkah ku dan berusaha meyakinkan bahwa perkataannya memang benar.
“Sae Hyeon-ah. Kamu tidak percaya? Yakkkk”
***
“Areum-ah. Aku ke kamar mandi sebentar” ucap ku sambil bersiap berdiri dari kursi kantin.
“Tapi makanan mu belum kau habiskan”
“Aku kenyang. Jika kau selesai makan dan aku belum kembali. Tolong bawa juga nampan ku. Daaa” aku pun pergi berjalan meninggalkan kursi kantin yang kami tempati. Perut ku sedikit tak enak dari tadi malam. Entah aku salah makan atau memang sedang kedinginan. Tapi cuaca hari ini begitu cerah dan hangat. Lalu apakah aku salah makan? Mungkin saja.
Ketika hendak berbelok arah menuju kamar mandi yang masih berjarak. Aku melihat dari kejauhan dua orang sedang berdiri berhadapan. Sepertinya membicarakan hal serius. Aku melihat seorang gadis membawa kotak kado cantik dengan beberapa hiasan yang disodorkan pada seorang lelaki. Dan setelah ku perhatikan kembali, ternyata lelaki tersebut adalah sang pembuat heboh.
Hahh aku tidak tau apa semua gadis disekolah ini sudah menyatakan perasaan padanya. Namun aku kadang mendengar para gadis membicarakan hal yang sama. Bahwa mereka akan menyatakan perasaan pada sang pembuat heboh, walaupun sedikit tidak percaya diri. Dan mereka harus memberanikan diri mengatakannya secara langsung karena kabarnya sang pembuat heboh tak menyebar ID chat nya atau social media lainnya. Mereka bahkan beranggapan bahwa sang pembuat heboh tidak memiliki social media sama sekali. Jadi mereka hanya melihat foto-foto atau update an lainnya melalui akun fanbase yang mengunggah diam-diam tentangnya.
“Kenapa? Apa kau cemburu?” ucap seseorang yang tiba-tiba berada dihadapanku. Memecahkan lamunan.
“Tidak” jawabku spontan. Sejak kapan dia berada disini? Bukankah beberapa detik lalu dia berada di sana? Setelah ku memastikan tempat ia berdiri sebelumnya. Aku melihat gadis tersebut berjalan masih membawa kotak kado nya. Apakah ini artinya..?
“Hm! Aku menolaknya” apa dia bisa membaca pikiran ku?
“Kenapa?” tanya ku polos.
“Karena kurasa kau tak akan menyukai nya”
“Hahh?” aku bingung apa yang ia maksud kan bahwa aku tak akan menyukainya. Aku mencoba mencari jawaban dengan menunggu apa yang ingin ia katakan selanjutnya. Jadi aku hanya memperhatikan wajahnya sembari masih menunggu.
Namun alih-alih mendapat jawaban, ia malah menarik ku untuk menjauh dan mambawa ku berlari menuju ke tempat lain. Aku tak mengerti apa yang coba ia lakukan. Ahhh padahal aku sekarang harus ke kamar mandi. Ingin rasanya menarik tangan ku saat ini, namun tak bisa, karena ia berlari dua kali lebih cepat dariku. Aku merasa bak terbawa angin olehnya. Sepertinya berat badan ku sudah tak ada harga dirinya lagi.
Karena tak bisa menghentikan apa yang ia sedang lakukan. Aku hanya mengikuti arahan darinya. Ia menuntun ku menuju sebuah ruangan yang aku saja baru tau dan baru melihat ada ruangan seperti itu dibelakang sekolah. Ruangan tersebut terlihat seperti gudang dari luar.
Do Hwan pun membuka pintu ruangan tersebut dan menarik ku masuk kedalamnya. Aku merasa terhempas karena setelah membuka pintu, ia menutupnya kembali menggunakan badan ku yang ia tempelkan ke dinding pintu.
“Shuttttttt” ucapnya mendekati wajahnya dihadapanku. Aku bahkan hampir bisa mendengar deru nafasnya karena jarak yang begitu dekat.
***