TEGURAN

954 Kata
“Shuttttttt” ia mendekati wajahnya dihadapanku. Aku bahkan hampir bisa mendengar deru nafasnya karena jarak yang begitu dekat. Aku tak bisa mengeluarkan satu patah katapun. Juga tak mengerti apa yang telah terjadi. Terlebih lagi dengan jarak kurang dari satu jengkal dengannya. Aku begitu gugup jika berada dalam suasana seperti ini. “Apa disini terlalu panas?” ucapnya sambil memperhatikan wajah ku yang sesekali ku tundukan karena sedikit tak nyaman berhimpitan seperti ini. Aku masih belum menyadari maksud dari perkataannya. “Wajahmu memerah. Apa kau sakit?” lanjutnya dengan perlahan menempelkan telapak tangannya di kening ku guna mengecek suhu badan. Sebelum tangannya benar-benar menempel, aku memundurkan kepala ku. Tak ingin suasana bertambah canggung karena itu. “Ahhh. Aku baik-baik saja. Tempat ini sedikit sesak” mendengar perkataan ku, ia pun memberi jarak kembali dengan memundurkan badan nya agar tak terlalu dekat dengan ku. Aku menarik nafas lega sembari menyentuh pipi ku yang memanas. Sesekali aku melihat ke arah iris mata lelaki itu. Bahkan ditempat gelap ia terlihat begitu tampan. “Kenapa kau membawa ku kesini?” aku harus menanyakan ini, karena sedari tadi aku menunggu, ia tak menjelaskan apapun padaku. “Ahhh. Aku melihat sahabatmu. Seperti nya dia berusaha menghubungi mu” Aku pun mengecek handphone untuk memastikan perkataan sang pembuat heboh tadi. Ternyata benar. 10 panggilan tak terjawab. Aku khawatir ada sesuatu yang salah, jadi aku mencoba menghubungi nya kembali. Namun sebelum layar menunjukkan dapat terhubung dengan Areum. Sang pembuat heboh menarik handphone dari genggaman ku dan mematikan layar. “Yaaaak. Apa yang kau lakukan?” aku berusaha menarik kembali handphone ku dari tangannya. Tapi seperti yang kalian tahu. Dia terlalu tinggi untuk bisa ku gapai. Aku berusaha loncat untuk dapat meraihnya, tapi tetap saja tidak bisa. Yang ada sang pembuat heboh tertawa kegirangan karena dapat tontonan badut gratis yang sedang loncat-loncat dihadapannya. “Kamu ketawa?” lanjutku. “Tidak” “Berhenti membodohi ku” “Kamu nangis?” “Tidak” “Berhenti membodohi ku” “Yakkkkkk. Berikan handphone ku” aku kembali mencoba meraih tangannya dengan sekuat tenaga ku. Ia membuat ku kesal lama-lama. Bagaimana bisa gadis-gadis disekolah tergila-gila dengan pria tampan tak berakhlak seperti ini. Karena lelah sedari tadi berusaha meraih tangannya yang begitu tinggi, akhirnya aku menyerah. Aku hanya terdiam memandangi wajahnya kesal. Aku sudah tak bisa melihatnya lagi sebagai pria tampan seperti malaikat. Melihat tingkah ku yang diam tak berkutik. Ia pun mendekati ku dengan ekspresi wajah yang diubah menjadi soft. Ia menurunkan tangannya. Dan bodohnya, bukannya mencoba mengambil handphone ku kembali. Aku malah sibuk memandangi nya yang berjalan perlahan mendekat ke arah ku. Setelah mendekat dan berhenti tepat didepan mata ku, ia perlahan mengangkat sebelah tangannya yang kemudian ia letakkan dipermukaan kepala ku. Ia merendahkan badannya agar kami bisa sejajar. Aku menatap pergerakan mulutnya yang perlahan mengatakan “Berhenti bertingkah seperti itu” Aku tak mengerti tingkah apa yang dia maksud. Yang aku tahu. Aku justru kesal dengan tingkah nya yang tiba-tiba saja menjahili ku. Melihatnya sibuk menatap ku. Aku diam-diam mengambil handphone ku yang berada di tangannya. Dan yahhh, aku berhasil. Ternyata dia tidak sekuat itu untuk bisa menggengam sebuah handphone. Kemudian aku menepis tangannya yang masih menempel dikepala ku. Itu membuat rambut ku berantakan. Aku sedikit merapikannya dan segera pergi dari tempat itu. Ketika aku hendak pergi, aku mendengar teriakannya yang mengatakan “Aku hanya berusaha menyelamatkan mu dari amarahnya harimau” Hah. Kau pikir itu lucu? Aku pun seketika membalikkan tubuh ku menghadap belakang untuk melihat wajahnya. Aku melihatnya tersenyum licik. Itu menyebalkan. Lalu aku pun pergi dari tempat itu tanpa menoleh ke arah belakang lagi. *** Dengan membawa perasaan sedikit kesal. Aku kembali ke kelas setelah membuang-buang waktu bersama orang yang tidak jelas. “Yaaaa Sae Hyeon-aa, kau kemana saja. Aku berusaha menghubungi mu tapi kau tak mengangkat panggilannya” “Aaaaa ituu….” Tak tahu apa yang harus ku katakan padanya saat ini. Aku berusaha mencari alasan sembari menarik kursi untuk duduk. “Aku sedang dikamar mandi” lanjut ku. Ahhh padahal aku sama sekali belum ke kamar mandi. Aku bahkan lupa harus melakukan apa. “Seonsengnim mencari mu. Kau harus ke ruang guru sekarang” “Benarkah?” aku pun bangkit dari tempat duduk dan hendak menuju ruang guru. Setelah beberapa menit berjalan menuju ruang guru yang berada dilantai 1. Aku pun mengetuk pintu dan meminta izin untuk masuk. Mendapatkan kode dari wali kelas dan segera melangkahkan mendekat ke meja nya. “Aku dengar Seonsengnim memanggilku. Ada apa?” “Iya benar. Bagaimana materi pelajaran hari ini?” “Seonsengnim. Apa ada masalah?” “Bapak tahu kau selalu mendapat nilai yang bagus, maka dari itu kau mendapatkan beasiswa full disekolah ini” ucap wali kelas yang masih membuat ku bingung arti dari perkataannya. Apa sebenarnya yang ingin disampaikan. Aku hanya menunggu penjelasannya lebih lanjut. Ia terlihat mengambil secarik kertas dari map yang ia letakkan didalam lacinya dan memberikannya padaku. “Lihatlah. Bapak tak tahu kau mengalami kesulitan apa akhir-akhir ini. Tapi kau bisa lihat sendiri. Di semester ini nilai mu mulai menurun. Yang Seonsengnim khawatirkan adalah terancamnya beasiswa mu hingga kau lulus nanti” ucapnya khawatir sembari menatap ku yang masih terpaku pada secarik kertas yang menunjukkan hasil usaha ku yang mulai merendah. “Bapak hanya ingin kau mengesampingkan hal lain dulu sebelum kau lulus. Apa kau mengerti maksud bapak?” “Baik Seonsengnim. Terimakasih. K kalau begitu… saya pamit” aku pun menundukkan kepala ku memberi hormat dan keluar dari ruangan tersebut. Aku harus lebih berusaha lagi dari sebelumya. Aku tak ingin ayah khawatir akan dana yang keluar untuk ku jika beasiswa itu ditarik. Karena memang, untuk orang yang tak mampu seperti ku, aku harus mengandalkan beasiswa, dan itu bisa ku dapatkan hanya dengan berusaha keras. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN