PELANGGARAN

1378 Kata
Sepulang sekolah, aku dan Areum berjalan keluar gedung sekolah hendak menuju rumah masing-masing. Areum mengajak ku untuk pergi ketempat karaoke bersama teman-teman hits nya yang lain. Namun aku menolak. Karena aku tahu, aku tak akan bisa dekat dengan anak-anak lain seperti aku dekat dengan Areum. Bahkan untuk memulai percakapan dengan mereka pun rasanya sangat berat. Maklum saja, teman-teman nya merupakan siswa siswi dari sekolah paling ternama di Seoul. Mengapa mereka bisa berteman? Ya tentu saja itu perkumpulan gadis-gadis hits antar sekolah. Biasanya mereka memiliki grup chat. Tak sembarang, mereka bahkan memiliki beberapa fans karena kaya dan popular. Alasan ku tak ingin ikut dengannya bukan cuma takut akan mengganggu waktu senang-senang mereka, aku juga merasa harus pulang dan mulai belajar karena teguran yang kudapat dari wali kelas. “Kau yakin tak ingin ikut dengan ku?” tanya Areum dengan raut wajah kecewa setelah menolak ajakan nya. Ia memeluk tangan ku dengan siasat aku akan berubah pikiran dan ikut dengannya. “Maaf Areum-aa. Aku benar-benar tak bisa ikut” ucapku menatapnya dengan penuh keyakinan. Aku sungguh tak enak hati melihatnya membujuk ku seperti itu. “Hehhhh. Yasudah. Jika kau bosan di rumah, kau harus menghubungi ku dan aku akan menjemputmu” lanjutnya dengan menegakkan badannya menegaskan bahwa aku harus melakukan apa yang ia katakan. “Hm!” aku pun memberikan senyum ku dan mengangguk pelan agar ia percaya. “Kalau begitu aku pergi dulu, ummmahhhh” ia mencium pipi kiri ku dan kabur begitu saja menuju luar gedung. “Yakkkkk” aku sedikit merinding tiba-tiba mendapat kecupan aneh dari nya. Apa yang dia lakukan? Hahhhhh, pipi kuu. Namun dia hanya cengengesan sembari melambaikan tangannya dan sesekali menoleh ke arah belakang. Aku hanya mencoba mengusap pipi ku sembari melihat kepergiannya yang berlalu jauh. Aku pun terus berjalan menuju kearah rumah ku. Namun tiba-tiba saja teringat kembali akan nilai ku yang menurun. Aku harus mulai mengatur kembali waktu ku. Apa aku terlalu banyak bermain akhir-akhir ini? Aku terlalu banyak melamun hingga tak sadar sudah berada didepan halte bus. Tanpa berpikir panjang, aku pun duduk dikursi yang telah disediakan. Aku merogoh kembali ransel ku dan mengambil secarik kertas yang menunjukkan perbandingan nilai disemester awal hingga semester ini. Aku terus memperhatikan dan memikirkan cara memaksimalkan tingkat belajarku. “Apa yang kau perhatikan?” ucap seseorang yang tiba-tiba berada disamping ku dan membujurkan badannya kearah kertas yang ku pegang. Spontan aku memasukkan nya kembali ke dalam ransel. Ia pun mengembalikan posisi badannya seperti semula. Setelah ku tolehkan pandanganku kearah samping. Ternyata dia sang pembuat heboh. Apa yang ia lakukan disini Ya Tuhan. Bukankah dia kaya? Lalu untuk apa ia berada dihalte bus? Hahh terserah saja. Aku tak ingin mengucapkan satu patah kata pun. Jadi aku hanya mencoba tak menghiraukannya sembari melihat jam yang terpasang dilengan ku. Aku takut telat sampai di Toserba. Itu akan membuat ibu ku sangat marah. “Kenapa? Kau tak ingin aku melihatnya?” lanjutnya sembari menatap ku. Namun aku masih teguh dengan pendirian ku untuk tak menghiraukannya. Beberapa detik kemudian, bus pun datang dan berhenti tepat didepan ku. Aku melangkah masuk setelah pintu bus terbuka dan menempelkan kartu T-Money pada alat yang sudah disediakan disamping supir. Aku pun hendak melangkah menuju kursi belakang, namun tiba-tiba aku merasakan seseorang menarik ransel ku dari arah belakang. Seketika aku menoleh. Dan yahhh, ternyata si pembuat heboh juga masuk kedalam bus. Ia memberikan kode untuk membayarkannya juga biaya bus. Aku berniat menolak dan hendak kembali melangkah. Namun seperti dugaan, ia malah menarik ku lebih keras. “Bayarkan aku juga” ucapnya dengan tersenyum simpul kearah ku. Hehh senyum itu bahkan sangat mengesalkan. Aku pun menempelkan kembali T-Money ku pada mesin tersebut. “Orang kaya macam apa kau ini” aku bergumam sembari melepaskan tangannya yang menempel diransel ku. Ia pun mengekori ku ke kursi belakang dan duduk tepat disamping ku. “Apa tak ada tempat lain?” ucap ku kesal karena tingkahnya. Dia bisa saja mengendarai mobil mewah nya untuk pulang atau menelpon supir nya untuk menjemput. Lalu mengapa harus memilih naik bus? Dan ia sama sekali tak membawa uang. Dasar orang kaya bodoh. “Coba kau perhatikan. Apa ada tempat kosong selain disini?” ucapnya dengan memberikan kode kepada ku untuk melihat sekeliling bus. Setelah ku perhatikan, memang semua kursi sudah penuh. Jadi ya sudahlah. Terserah dia. Aku tak ingin melanjutkan obrolan lagi dengannya. Kemudian memasang headset dan memutar music dengan volume yang lebih besar dari sebelumnya. Aku tak ingin mendengar ia mengoceh disamping ku. Lalu mengalihkan pandangan ku menuju pemandangan luar. Terlihat orang-orang melakukan kegiatan masing-masing. Pegawai yang berjalan sambil terburu-buru, orang tua yang sedang menggenggam erat lengan anaknya yang mengemut manisan dengan tangan mungilnya, hingga sepasang kekasih yang berjalan di koridor sambil bergandengan menyalurkan kehangatan. Melihat pemandangan seperti ini, aku merasa sedikit lebih tenang. Hingga tiba-tiba bus mengerem mendadak. Keseimbangan ku goyah. Aku menutup mata ku untuk bersiap-siap merasakan sakitnya kepala ku yang akan terbentur dengan kaca kaca bus. Namun sepertinya sesuatu menahan kepala ku. Akhirnya, aku membuka mata dan mendapat satu telapak tangan yang dua kali lebih besar dari milik ku dan menempel di kening ku. Aku pun bernafas lega karena harus terhindar dari sakitnya terbentur benda keras. Mata ku fokus pada telapak tangan tersebut. Kurasa aku tahu siapa pemilik tangan ini. Aku pun menoleh ke arah samping. Itu milik sang pembuat heboh. Menatap ku dengan raut wajah khawatir. Aku baru saja melihat sisi lain darinya. “Kau baik-baik saja?” *** Siang hari yang cerah telah berganti menjadi malam yang gelap. Aku pun masih terpaku dengan buku pelajaran ku dan sesekali melayani pelanggan yang datang berkunjung ke toserba. Hingga tiba-tiba merasakan perut ku sakit. Apa karena maag ku kambuh? Hahhh aku baru ingat. Aku belum menyentuh makanan sedikit pun. Akhirnya aku pun memutuskan mencari makanan yang hampir expired di rak toserba untuk ku makan. Aku mengecek satu-satu barang yang sekiranya bisa ku makan untuk mengganjal perut ku sebelum pulang ke rumah. Namun setelah mengecek dengan teliti, semua barang di rak masih baru. Aku lupa, tadi pagi ibu mengecek keseluruhan barang di toserba. Mungkin ia sudah membawa semua makanan yang hampir expired untuk dijual ke pedagang kecil dan dijual lagi. Bagaimana ini? Perut ku sekarang benar-benar sakit. Kurasa aku tak punya pilihan lain selain memakan makanan yang ada. Aku pun akhirnya mengambil dua buah samgak kimbab dan 1 botol kecil air putih. Lalu aku kembali ke meja kasir dan membuka bungkus kimbab. Lahapan pertama membuat ku sedikit tenang, namun belum bisa meredakan sakit diperut ku. Ketika hendak melanjutkan makan, seseorang masuk dan tentu saja aku harus berhenti makan untuk melayani nya lebih dahulu. “Selamat datang” ucap ku sambil menggeser makanan kesamping. Usai memilih yang hendak dibeli, pelanggan tersebut pun meletakkan barang belanjaan diatas meja kasir dan mulai mengecek harga. “60.000” “Terimakasih” lanjut ku setelah mendapat bayaran. Usai pelanggan tersebut pergi, aku pun meraih kembali kimbab yang berada disamping ku. Namun sebelum dapat melahap nya kembali, tiba-tiba seseorang datang lagi. Dan kali ini bukan pelanggan, melainkan ibu ku. Aku spontan menoleh kearah jarum jam. Dan ternyata sudah waktunya pergantian sift. “Kemarikan rompinya” ucapnya sambil mengadahkan tangan kearah ku. Ketika hendak melepaskan rompi yang tengah ku gunakan, tiba-tiba ibu menyuruhku mengecek barang didalam gudang penyimpanan stok. Aku sedikit bingung. Bukankan ia sudah mengecek dan mengganti stok pada toserba, karena tidak ada barang baru yang datang selama aku berjaga sejak sore. Namun karena tak ingin banyak bertanya, aku pun menuruti perkataannya dan masuk ke dalam gudang. Aku mencoba melihat-lihat barang yang ada di hadapan ku. Jika saja ada yang perlu dirapikan atau diganti. Ditengah sibuk memperhatikan tumpukan ranjang, tiba-tiba seseorang menarik rambut ku dari arah belakang. Aku terkejut dan spontan memegangi kepala ku. Setelah ku perhatikan. Ternyata dia ibu ku. Aku tak dapat mengucapkan apapun. Jadi aku memilih diam dan menutup mulut ku. Karena dari pengalaman yang aku dapat. Berisik akan membuatnya tambah marah dan tanpa segan memukuli lebih keras dari sebelumnya. Perut ku masih terasa keram. Namun aku tak bisa menunjukkan itu padanya. “Aku sudah memberitahu mu bukan untuk tidak memakan makanan yang masih bagus? Kau sudah melanggar apa yang kukatakan” ucapnya sembari mengeraskan genggamannya pada rambut ku. Sekarang aku tak dapat membedakan rasa sakit diperut dan kepala ku. “Maafkan aku eomma” hanya itu yang bisa ku katakan saat ini. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN