TEMPAT KARAOKE

1565 Kata
Hari ini aku melalui banyak hal. Itu sedikit melelahkan bagi ku. Perut ku yang sakit sedari tadi masih belum hilang. Dan sekarang ditambah lagi perih pada kulit kepala ku. Ibu ku masih kuat seperti dulu ternyata. Apakah pipi ku juga membengkak? Aku terus menyusuri jalan menuju rumah. Hingga beberapa saat kemudian, aku sampai tepat didepan gerbang rumah ku. Membuka gerbang dan menutupnya kembali. Ketika hendak masuk, aku menemukan ayah yang sedang duduk di teras kecil depan rumah hendak membuka sepatu. “Sudah pulang?” ucapnya sembari menunjukkan senyum termanis yang ia miliki. “Hm! Sudah” lanjut ku berjalan mendekati ayah ku dan duduk di samping nya. “Apa kau lelah?” ia menatap ku khawatir sembari memiringkan badan nya kearah ku. “Tidak” aku harus bersikap senormal mungkin. Ia sudah tampak sangat lelah seharian bekerja diluar. Aku tak ingin menambah kekhawatirannya hanya karena masalah sepele. “Kau terlihat berantakan. Lihatlah rambut mu. Hehhh kau ini. Apa kau bayi?” aku hanya tertawa kecil menatap ayah ku yang menggelengkan kepala. Ia pun merapikan rambut ku yang berantakan. Aku lupa merapikannya sebelum masuk ke area rumah. “Eiyyy. Bukankan aku masih bayi appa?” ucapku bersikap manis sembari memeluk tangan ayah. “Benar juga” kami pun tertawa bersama dengan lelucon sederhana itu. Bahagia memang sangat sederhana untuk kami yang mengharapkannya. Jadi ayah. Tetaplah tersenyum untuk ku seperti ini. Agar aku bisa menjalani hidupku. *** Dering telepon tiba-tiba terdengar dari dalam saku seragam ku. Tanpa berpikir panjang, aku pun mengangkat panggilan suara yang ternyata itu adalah Areum. Hahh, apa dia masih ingin membujuk ku untuk tetap ikut? Dia sungguh keras kepala. “Yeoboseo” ucap ku memulai pembicaraan. “Aku tidak tahu kau siapa. Tapi nama mu ada di panggilan utama” terdengar suara seseorang yang tidak ku kenal. Ia menghubungi ku menggunakan handphone milik Areum dan terdengar seperti seseorang yang kehabisan nafas. “Kau siapa? Dimana Areum?” “Itu tidak penting. Aku ingin kau menyusul sekarang ketempat karaoke di Kpop Music Town daerah Gwangjin” sambungan telepon terputus. Mengapa ia terdengar begitu tergesa-gesa. Apa sesuatu telah terjadi pada Areum? Tanpa banyak berpikir, aku pun segera keluar kamar dan menyusul menuju Gwangjin. Aku menaiki taksi karena untuk menunggu bus akan sedikit memakan waktu. Sepanjang jalan aku sangat mengkhawatirkan Areum. Aku terus memainkan jari ku tak tenang dan menyuruh supir taksi untuk mengendarai mobilnya sedikit lebih cepat. Setelah beberapa menit kemudian, akhirnya sampai tepat di depan gedung Kpop Music Town. Dengan tergesa-gesa, aku berlarian menuju kedalam gedung sembari terus menghubungi Handphone Areum untuk mengetahui mereka berada di ruangan mana. Namun setelah ku hubungi beberapa kali, tak ada sama sekali yang menerima penggilan dari ku. Jadi aku memeriksa semua ruangan dengan membuka pintu satu persatu. Namun aku tak menemukan tanda-tanda keberadaan mereka di lantai 1. Itu membuat ku semakin khawatir. Aku tak dapat menemukan mereka dan tak ada yang menerima telepon atau menelpon ku balik. Aku mencoba meyakinkan diriku bahwa mereka pasti berada dilantai 2. Sebelum kaki ku melangkah kembali mencari. Aku mendengar suara teriakan dari arah lantai atas. Beberapa orang pun terlihat berhamburan turun melalui tangga. Karena khawatir akan terjadinya sesuatu. Aku pun segera berlari menuju lantai atas. Dan ternyata benar. Mereka berada di sana. Terlihat beberapa botol yang pecah berceceran dilantai. Sebenarnya apa yang terjadi disini? “Hah. Apa? Kau tak ingin memberiku ID mu?” ucap salah satu pria yang berada di barisan paling depan. Wajahnya terlihat sangat marah. Seperti nya ia mencoba meminta ID dari salah satu gadis tersebut, namun mereka tak ingin memberikannya. Siapa juga yang ingin memberikan ID nya jika pria seperti itu yang meminta. Kasar dan sangat egois. “Yakkkk. Kau tahu? Perempuan malam seperti mu seharusnya tak jual mahal.” lanjutnya. Lalu ia mendekat dan dengan kasar menarik rambut gadis tersebut. Gadis itu tak dapat melawan. Ia hanya bisa menjerit kesakitan dan mencoba menahan tangan pria itu agar tak terlalu menyakitinya. “Yaakkk apa yang kau lakukan? Kau akan melukai kepalanya” ucap salah satu gadis yang masih berada disana. Setelah ku arahkan pandangan ku ke gadis tersebut. Aku mendapatkan Areum yang tersender ditembok dekat pintu. Ia terlihat tak sadarkan diri. “Kenapa? Kau ingin memberikan ID mu sebagai gantinya?” ia melotot kearah gadis tersebut. “Siapa yang ingin memberikannya pada pria b******k seperti mu, hah?” jawab gadis tersebut dengan berani. Namun itu malah membuatnya semakin murka. Ia melepaskan cengkeramannya, lalu mendekati gadis yang berani tersebut. Tangannya mulai mengayun hendak menampar. “Cukup” aku tentu tak bisa berdiam diri saja. Jika gadis tersebut terluka, maka Areum yang tak sadarkan diri dibawah lantai pun akan terkena imbasnya juga. Karena dia satu-satunya orang yang membentengi Areum dengan badannya yang ramping. Mendengar itu. Semua mata kini tertuju padaku. Aku tak tahu darimana datangnya keberanian yang ku miliki sekarang. Yang aku tahu. Aku hanya mengkhawatirkan sahabat ku. Perlahan aku mendekat kearah pertengkaran dan berhadapan langsung dengan sumber kekacauan. “Aku bilang cukup” aku mencoba menatap matanya agar terlihat tidak lemah. “Hahh. Lihatlah. Ada seorang gadis manis yang datang menyela” pria-pria tersebut tertawa menyeringai. Tak ada yang lucu. Namun seperti itulah tingkah laku pria b******k. “Yaakk. Gadis manis. Kau ingin ikut dengan kami? Kami kekurangan 1 gadis malam ini” saut salah satu pria yang berdiri dibelakang. “Aku bisa saja ikut” timpal ku menanggapi perkataan bodohnya. Bukankah orang bodoh akan kalah jika bertemu dengan orang yang lebih bodoh darinya? “Aaa. Benarkah?” ucapnya sumringah. “Hm. Tapi sayangnya. Aku tak bermalam dengan pria…. yang memiliki burung yang kecil” ucapku sambil menurunkan pandanganku. Mereka pun mengikuti arah pandangan ku kebawah dan spotan menutupinya. Para pria terdengar berdecak pelan. Disusul para gadis dibelakang ku yang tak bisa menahan tawa. Namun itu tak membuat mereka pergi begitu saja. Ketua mereka terlihat semakin memerah. Ia perlahan mendekati ku dengan wajah datarnya. Kini aku kehabisan cara. Aku perlahan memundurkan langkah ku ketika ia berjalan maju kearah ku. Hahh. Aku benar-benar tak tahu harus berbuat apa. Ia terus menatap kearah mata ku tanpa menghentikan langkahnya. Membuat ku semakin tak bisa berfikir. Jadi aku hanya bisa diam menunggu keajaiban yang akan datang padaku. Hingga tiba-tiba terdengar suara sirine yang menandakan petugas kepolisian datang. Kami semua terkejut. Mungkin seseorang telah melaporkan kejadian ini ke pihak berwajib untuk diamankan. “Yayayaa. Lebih baik kita pergi sekarang” ucap seorang pria menarik bahu ketuanya untuk segera pergi. Namun ketua mereka masih terlihat sangat marah dan belum puas sebelum mendapatkan apa yang ia inginkan. “Kau tak akan lolos begitu saja” ia memperingati ku dengan menunjukkan jari telunjuknya di depan mata ku, kemudian berlari menuju tangga yang mengarah kelantai bawah. Aku merasa sangat lega hingga membuat kaki ku lemas dan terjatuh ke lantai. Aku mencoba menarik nafas untuk berusaha tetap tenang. “Apa kau teman Areum yang ku hubungi beberapa saat lalu?” tanya seorang gadis yang berdiri didepan ku. Spontan aku mendongakkan kepala untuk melihat wajahnya. Ahh ternyata gadis yang menjaga Areum tadi adalah gadis yang menghubungi ku. “Thank you” lanjutnya sembari tersenyum dan menyodorkan tangannya membantu ku berdiri. “You are welcome” aku tersenyum dan menerima sodoran tangannya dan berdiri. Seketika aku menyebarkan pandangan kesegala arah. Semua orang sudah pergi dan hanya tersisa kami bertiga. Aku lupa. Areum. Kemudian aku mendekatinya yang masih tampak tak sadarkan diri. Ketika hendak duduk untuk membantunya untuk berdiri. Aku mencium aroma alkohol. “Eo. Sae Hyeon-ah kau sudah datang?” ucapnya setengah sadar. Hah, kau masih bisa tersenyum? Setelah kekacauan yang terjadi sedari tadi? Kau benar-benar pembuat masalah. Bagaimana bisa anak dibawah umur berada dibawah pengaruh alkohol. “Areum-ah. Sadarlah. Kita harus pulang. Aahh” ketika hendak memapah Areum untuk berdiri. Aku kembali merasakan perut ku yang sakit. Apa sebenarnya yang salah? “Yaaa. Gwenchana?” tanya gadis tersebut. “Hm. Gwenchana” aku tak ingin membuatnya khawatir dan berlama-lama ditempat seperti ini. “Kau bisa kembali sekarang. Aku bisa membawanya sendiri” lanjut ku. “T tapi….” “Gwenchana” “Kalau begitu aku pergi dulu” “Hm” Kini hanya tersisa kami berdua ditempat ini. Aku mencari handphone milik Areum didalam tasnya untuk menghubungi supir pribadinya. Sembari menunggu, aku mencoba memapahnya keluar dari tempat karaoke tersebut. Hahh,, Dia memiliki tubuh yang kecil namun berat badan di atas batas kemampuan ku. Hingga ketika memapahnya saja, kami beberapa kali terjatuh dibuatnya. Aku rasa dia menelan batu sebelum tidak sadarkan diri. Setelah sampai didepan gedung. Aku melihat mobil terparkir dan seorang lelaki berdiri didepannya. Kurasa itu adalah supirnya. Akhirnya aku mendekati mobil tersebut. Dan benar saja. Dia memang supir pribadi Areum. Kemudian ia membuka pintu mobil dan membantu ku menuntun Areum untuk masuk kedalamnya. “Hati-hati dijalan ahjussi” ucap ku sembari sedikit membungkuk. “Kau tak ikut bersama kami?” “Gwenchanayo. Aku bisa pulang sendiri” Akhirnya mereka pun pergi. Aku harap Areum tak akan dimarahi berlebihan oleh ayahnya. Tapi orang tua tak akan mewajarkan anaknya yang masih dibawah umur untuk mengkonsumsi alkohol. Jadi aku berharap ia mendapat teguran agar merubah gaya hidupnya. Setelah mobil tersebut tak terlihat. Tiba-tiba saja aku merasakan pusing dan sakit perut yang luar biasa. Sudah sangat lama aku menahannya. Kini aku tak bisa menahannya lagi dan berakhir terjatuh ke tanah. Namun anehnya. Aku tak merasakan sakit akibat benturan jalan pada tubuh ku. Mata ku tak bisa terbuka dan melihat dengan jelas. Aku hanya mendengar sayu-sayu dari seseorang yang mengatakan.. “Paboya” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN