TERSADAR

1286 Kata
“Ahhh kepala ku terasa pusing” gumam ku sembari mencoba membuka mata ku yang masih samar-samar. Mungkin efek dari bangun tidur. Aku pun mencoba bangkit dari tempat tidur dengan sedikit memijat kepala ku. Perlahan menurunkan kaki ku dari ranjang. Membuka mata ku dan mulai melihat sekitar dengan jelas. Namun yang anehnya, lantai kamar ku berubah warna. Apa aku belum sepenuhnya sadar? Atau aku salah? Tapi aku sangat yakin warna lantai kamar ku coklat, dan lantai yang ku lihat sekarang berwarna hitam. Aku mencoba menggosok mata ku perlahan. Namun tetap saja. Atau jangan-jangan……!!! Mata ku perlahan bergerak mengitari setiap sudut ruangan. Mulai dari ranjang, meja, lampu tidur, dinding kamar, hingga pintu. Ah tidak. Ini bukan rumah ku. Apa yang terjadi? Aku sedang berada dimana? Atau ini penculikan? Eiyyyyy, penculikan apa yang tempat tidurnya saja seempuk ini. Lagipula penculik pun butuh tebusan uang dengan jumlah yang besar. Keluarga ku miskin. Apa yang bisa diberikan? Jika memang penculikan. Berarti dia adalah penculik terbodoh yang aku tahu. Karena berbagai macam hal yang terus bermunculan dipiranku. Aku pun mencoba melangkah kan kaki menuju pintu untuk melihat keadaan sekitar. Ketika sedang mengintip dari celah pintu yang sedikit ku buka, aku melihat seorang pria sedang berdiri membelakangi ruangan. Dia terlihat sedang memasak. Penculik pun rajin memasak? Ahhhh kata penculik sedari tadi tak lekas hilang dari pikiran ku. Tak melihat adanya pergerakan dari pria tersebut, aku mencoba mendekat dengan berpangku pada sofa ruang tamu. Rumah ini begitu besar. Ruang tengah yang terdapat ruang tamu dan dapur. Disamping nya terdapat sebuah tangga yang mengarah kelantai atas. Berapa lantai sebenarnya rumah ini? Pasti harga nya sangat mahal. Aku ingin ayahku tinggal ditempat yang layak seperti ini. Kedepannya aku harus bekerja keras. Harus. Ketika sibuk memperhatikan seisi rumah, tiba-tiba pria tersebut berbalik arah dengan menggenggam sebuah pisau yang begitu mengkilap. Aku terkejut dan spontak merunduk bersembunyi dibalik sofa ruang tamu. Ahhh sebenarnya apa yang sedang kelakukan. Seharusnya aku bertanya mengapa bisa disini. Tapi aku malah bersembunyi tidak jelas. Kemana keberanian ku yang melawan anak-anak nakal tadi malam? Hah? Tadi malam? Bukannya aku ……? “Kemarilah! Aku sudah menyiapkan sarapan untuk mu” “K kau siapa?” ucapku yang masih berdiam diri dibalik sofa. “Berdiri jika kau penasaran” Benar juga. Tapi jika aku berdiri dan ternyata tak mengenalnya. Aku harus bagaimana?Namun karena tak mungkin terus berada diposisi seperti ini. Akhirnya aku mengumpulkan keberanian untuk berdiri. Perlahan aku menuntun tubuh ku untuk berdiri tegak. Menggerakkan mata ku guna melihat siapa pria itu sebenarnya. Ini sangat tak terduga. Mengapa aku bisa berada dirumahnya? Lihatlah senyum licik itu sekarang. Ia duduk dengan menggenggam sandwich yang sesekali ia masukkan kedalam mulutnya. Namun karena sedikit merasa tenang mengetahui dia adalah orang yang ku kenal. Jadi aku perlahan mendekati meja makan dengan makanan yang sudah disediakan diatasnya. “Ini dimana?” ucap ku dengan tatapan mengintimidasi. Aku hanya ingin kejelasan. Karena seingat ku, tadi malam aku berada di depan gedung Music Kpop Town, seterusnya aku tak ingat. “Makanan yang dibiarkan dingin itu tidak enak” ucapnya sembari melahap sandwich ditangannya. Melihatnya melahap sandwich, aku jadi mengarahkan pandangan ku pada semangkuk bubur. “Pasien harus mengkomsumsi bubur” lanjutnya. “Siapa yang sakit?” tanya ku. Setidaknya jika ingin memberikanku sarapan, buatlah yang sama seperti miliknya. Mengapa ia menyiapkan bubur? Apa ini panti jompo? “Ahh tadi malam aku menemukan mu dibawa para preman menuju motel” ucapnya yang masih sibuk dengan melahap makanannya. “Hah?” aku spontan membesarkan bola mata dan volume suaraku. “Aku hanya bercanda. Apa kau biasanya seserius ini? Hmmm..tadi malam kau pingsan setelah mengantar sahabatmu” ucapnya sembari meletakkan sisa sandwich miliknya dan menatapku. Aku mencoba mengingat kembali kejadian tadi malam. Ahh aku ingat. Tadi malam perut ku begitu sakit hingga aku tak bisa menahannya dan terjatuh. “Lalu kau menyelamatkanku dan membawa ku ketempat ini?” “Hm” ia mengangguk pelan. “Jadi suara yang ku dengar tadi malam itu ……kau? Pembuat heboh?” “Do Hwan. Nam Do Hwan. Itu nama ku. Jangan melupakannya lagi” “Kau pikir itu penting?” “Tentu saja” “Aku mendengar ucapan mu tadi malam” “Memangnya aku mengatakan apa?” “Jangan berlagak bodoh” “Tapi seingatku aku tak mengatakan apapun” “Apa kau akan terus seperti itu?” “Seperti apa” “Aku Bodoh. Kau mengatakannya tadi malam. Aku ingat jelas” “Kau yang baru saja mengatakannya” “Yakkkkkkkkkkk Nam Do Hwan” aku akhirnya kehilangan kesabaran dibuatnya. Dia seperti orang yang berbeda pada setiap suasana. “Akhirnya kau mengingat nama ku” ucapnya santai. “Ahh begitu?” aku sudah tidak bisa menahan nya lagi. Aku meraih sendok sayur yang berada didekat ku dan mengayunkan didepan matanya. Sebelum sendok tersebut menyentuh kepala nya, ia segera bangun untuk menghindar. Namun karena hindaran tersebut, aku semakin kesal dibuatnya. “Yakk. Apa kau ingin membunuh ku dirumah ku sendiri?” ucapnya sembari menatap sendok sayur yang masih ku angkat diatas kepala ku. “Aku tak masalah” ucapku sambil berlarian mengejarnya. Tak mau kalah, ia pun berlari menghindar dengan semangat. Ia terlihat begitu senang diatas penderitaan ku. Dan tentu saja itu membuat emosi ku semakin mendidih. Kami mengitari meja makan berulang kali. d**a ku terasa sesak karena kelelahan. Jadi aku memilih berhenti sejenak dan memegang dadaku. “Yaa Sae Hyeon-aa. Gwencahana?” ucap sang pembuat heboh khawatir dan segera mendekat. Dengan perlahan ia turut menunduk untuk mengecek keadaanku. Aku melihat sisi nya yang lain lagi untuk hari ini. Ketika sibuk mengecek keadaan ku. Aku pun segera membalikkan keadaan dengan menariknya kearah meja. Yahh. Akhirnya. “Aku mendapatkanmu” ucap ku sembari tertawa puas. d**a ku memang sakit, tapi tak terlalu terasa, aku sudah biasa dengan itu. Sang pembuat heboh hanya terlihat diam tak berkutik. Mungkin ia masih terkejut karena aku sudah membohonginya. Namun kurasa aku salah. Aku begitu asik dengan permainan ku sendiri hingga tak sadar posisi kami sekarang begitu ambigu. Badan sang pembuat heboh yang menempel pada meja diikuti dengan badan ku yang mencondong kedepan dan tangan yang bersender pada d**a bidangnya. Setelah sadar. Aku tak tahu harus berekspresi seperti apa. Jadi aku hanya terdiam tak berkutik memandang wajahnya. Mata kami bertemu. Aku merasa terhipnotis dengan suasana seperti ini. Terasa canggung dan tak tahu harus berbuat apa. Lihatlah pahatan indah yang berada dihadapan ku ini. Jarak yang begitu dekat membuat ku dapat melihat wajahnya dengan begitu jelas. Dia memang mengesalkan. Namun mengapa sikapnya berbeda jika berada didepan para gadis lainnya. Ia terlihat begitu ramah dan lembut. Berbeda ketika hanya dengan ku. Yahhh aku tak mungkin mengharapkan ia berbuat hal yang sama padaku. Untuk apa? Aku hanya wanita miskin yang masuk sekolah favorit dengan jalur beasiswa. Tiba-tiba suara dering telepon masuk. Kurasa itu dari handphone milik si pembuat heboh. Aku menoleh kan kepala ku kearah handphone tersebut dan ternyata benar. Itu muncul dari handphone miliknya. Dilayar tertera sebuah nama….Areum. Hah Areum? Aku seketika berdiri tegak dan menjaga jarak dengan si pembuat heboh. Aku merapikan pakaian ku lalu kembali ketempat duduk. “Ekhemm. Aku harus mengangkat telepon” ucapnya dan berlalu pergi. “Hahh” aku menghembuskan nafas kasar setelah kepergiannya. Bagaimana aku bisa bertingkah gila seperti itu. Selama ini emosi ku baik-baik saja. Namun ketika didekat si pembuat heboh, aku tak bisa mengendalikan semuanya. Tidak. Aku harus menjaga jarak dengannya. Jika Areum tau semua ini, matilah aku. Beberapa menit kemudian. Si pembuat heboh pun kembali dan meletakkan handphone nya di meja. “Aku ada janji dengan sahabatmu hari ini. Kau mau diam disini atau…” “Aku akan pulang” ucapku spontan. Aku tak ingin menganggu kencan sahabat ku hanya karena ini. Gadis itu tak seharusnya minum tadi malam agar terlihat cantik dipagi hari. Dasar bodoh. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN