Setelah beberapa menit menaiki bus. Akhirnya aku sampai didepan rumah. Awalnya sang pembuat heboh menawari ku untuk diantar pulang. Namun aku menolaknya. Karena ia harus siap-siap untuk pergi kencan dengan Areum. Hah aku jadi penasaran dengan gadis itu. Pasti ia sangat senang dan kesal secara bersamaan karena wajahnya akan membengkak usai mengkomsumsi alkohol semalam. Aku yakin ia sedang mengomel sendiri dikamarnya.
Ketika memasuki rumah. Aku mendapati ayah sedang mencoba menghubungi seseorang dan ibu ku yang sibuk menyiapkan sarapan. Ayah spontan menoleh kearah ku dan meletakkan handphonenya dimeja makan.
“Kau kemana saja? Appa sangat khawatir” ucap ayah sembari menuntun ku untuk duduk dikursi dan ikut sarapan dengan mereka.
“Hah. Kemana lagi dia bisa pergi? Palingan dia pergi bersenang-senang dengan teman-temannya dan menghamburkan uang yang ia curi dari toserba” celetus ibu ku tanpa menoleh kearah ku.
“Aku tak pernah mencuri uang dari toserba” aku harus membela diriku bukan? Karena memang aku tak pernah melakukan seperti apa yang ia katakan. Mencuri? Ayah tak pernah mengajari putrinya seperti itu.
“Lalu kau pikir makanan yang kau makan tanpa sepengetahuan ku itu apa? Mencuri bukan?”
“Tapi..” belum usai pembelaan ku. Ayah memegang bahu ku untuk mencoba menghentikan perdebatan. Ia menggelengkan kepalanya memberikan kode bahwa aku harus sabar untuk menghadapinya. Ia selalu berkata.
'Dia tetap ibu mu. Terlepas bagaimana ia memperlakukan kita. Selama ia tak menyakitimu. Kau harus menghormatinya.'
Itu ucapan ayah yang selalu ku ingat. Dia selalu mengajarkan ku untuk menghormati yang lebih tua. Ayah kau benar. Dia tidak menyakiti ku didepan mu. Jadi aku akan tetap menghormatinya.
“Ayah dan anak sama saja. Selalu saja membebani ku” lanjutnya kemudian duduk dikursi dan mulai makan. Aku mencoba terdiam menahan amarah dengan menggenggam kuat tangan ku. Menoleh memandangi wajah ayah yang terlihat mencoba baik-baik saja, kemudian meletakkan lauk diatas nasi ku.
“Makanlah” ucapnya dengan bibir yang tersenyum.
Appa mianhe. Aku masih belum bisa membawa mu pergi dari tempat ini.
Aku akan bekerja keras appa. Bersabarlah sedikit lagi.
***
Usai makan. Aku memasuki kamar dan melentangkan badan diatas ranjang ternyaman. Kasur ku memang tak seempuk milik sang pembuat heboh atau kasur Areum, tapi kasur ini merupakan saksi perjalanan hidup ku yang berat. Aku melepas lelah bersamanya.
Hari ini merupakan hari libur. Orang-orang biasanya akan keluar untuk berlibur. Menyusuri sungai Han lalu mengendarai sepeda pasangan. Atau berjalan kaki mengelilingi sekitar sungai Han dan berpegangan tangan menyalurkan kasih sayang yang mereka rasakan. Mungkin itu yang akan dilakukan Areum hari ini. Aku turut senang karena akhirnya Areum mendapatkan apa yang ia inginkan. Aku yakin para gadis disekolah sangat iri padanya. Bagaimana tidak. Untuk mendapatkan ID sang pembuat heboh saja, mereka harus berjuang dan sampai sekarang belum mendapatkan hasil.
Namun Areum, ia mengajak sang pembuat heboh untuk keluar dengan sekali tawaran dan langsung disetujui. Kurasa sang pembuat heboh juga menyukai Areum. Aku akan berpura-pura kaget jika besok pagi ia mengabari ku bahwa mereka sedang berkencan.
Ketika pikiran acak ku bermain, seseorang mencoba menelepon. Lalu aku mengangkat handphone keatas wajah ku untuk melihat nama yang tertera dilayar. Ternyata Areum. Apa dia mau pamer?
“Sae Hyeon-aa” ucap Areum setelah aku menerima panggilan darinya.
“Kenapa?” tanya ku datar.
“Sebentar. Aku akan melakukan panggilan video” sambungan pun terputus dan muncul lagi notifikasi bahwa ia melakukan panggilan video. Tanpa mengulur waktu, aku pun menerima panggilan tersebut tanpa bangun dari rebahan ku.
“Sae Hyeon-aa lihatlah wajah ku” ucapnya sembari menyentuh wajahnya.
“Kenapa lagi?” ucapku mencoba memperhatikan wajahnya. Sudah ku duga.
“Wajah ku membengkak. Padahal hari ini aku akan keluar dengan Do Hwan” ia mengerutkan kening mengeluh wajahnya tak sesuai harapan.
“Apa kau bodoh? Kau sendiri yang minum tadi malam. Itu hasil dari perbuatan mu sendiri”
“Benar. Itu memang perbuatan ku. Tapi sebentar. Dari mana kau tau jika tadi malam aku minum?” ucapnya sambil melotot bingung sekaligus terkejut.
“Teman mu menghubungi ku untuk menyusul. Dan sampai sana kau sudah mabuk berat. Bagaimana seorang gadis dibawah umur meminum minuman beralkohol hah? “
“Kau jangan memarahi ku juga. Appa ku sudah menceramahi ku sepanjang malam. Ia memaksa ku untuk sadar. Padahal kau tahu? Aku hanya meminumnya segelas kecil. Aku tak menyangka efeknya membuat ku semabuk itu” jelasnya melemah.
“Itu karena kau mengkomsumsinya untuk pertama kali. Jadi kau belum terbiasa”
“Jadi apa aku harus mencobanya lagi lain kali agar terbiasa?” tanyanya polos.
“Bukan itu maksud ku. Hah sudahlah. Jadi untuk apa kau menghubungi ku sekarang. Untuk pamer bukan?” aku lelah dengan kepolosan Areum.
“Ahh itu. Aku ingin meminta saran mu untuk pakaian ku hari ini” ia pun berlari menuju lemari untuk mengambil semua pakaian yang dimilikinya. Benar-benar seperti toko, lemarinya penuh dengan baju-baju yang mewah.
Melihatnya begitu exited. Aku pun bangun dari rebahan ku dan mencoba memilih baju yang dikeluarkannya. Berbagai macam warna dan mode yang ia tunjukkan sekarang.
“Bagaimana dengan ini?” ia menunjukkan dress pink dengan karet dibagian pinggangnya. Aku menggelengkan kepala ku.
“Yang ini?” ia menunjukkan satu persatu pakaiannya. Hingga dimana aku melihat satu pakaian yang terlihat sangat cocok dengannya, jika hendak berkencan dengan seseorang yang disukai untuk pertama kali.
Aku memilihkannya style Vallina Outfit Outerwear berwarna putih polos dengan rompi hitam dan terdapat pita cantik pada bagian pinggangnya. Dibagian lehernya terlihat seperti kerah kemeja. Ditambah dengan highheel tak terlalu tinggi berwarna hitam. Ia terlihat begitu cantik menggunakannya.
“Apa seperti ini?” ucapnya setelah menggunakan pakaian tersebut.
“Hm. Itu terlihat sangat cocok untuk mu”
“Apa aku tampak cantik?”
“Berhenti bertanya dan siap-siap saja”
“Baiklah kalau begitu. Aku akan siap-siap. Aku akan meminta bibi untuk merapikan rambut ku” ia pun berlari menuju pintu keluar.
Lihatlah dia bahkan belum mematikan panggilan video ini. Namun ketika hendak membuka pintu kamarnya, ia terlihat menghentikan langkah nya dan berbalik badan. Ternyata ia sadar belum mematikan panggilan videonya. Ia hanya tersenyum dan mengatakan..
“Aku akan mengabari mu setelah kencan ku” ia melambaikan tangannya dan panggilan pun berakhir.
***