“Deg… deg. Deg… deg….” Jantungku berdetak dengan sangat kencang. Aku sangat khawatir, orang ini akan melakukan hal gila kepadaku. Aku tidak percaya, aku bisa dengan mudahnya masuk ke dalam jebakannya ini. Aku benar-benar bodoh, bisa percaya begitu saja dengan orang asing yang berpura-pura baik. “Rendi… tolong lepaskan aku,” pintaku seraya berusaha sendiri membuka semua kunci kekangannya ini. Sungguh naifnya aku. Bisa-bisanya, aku masih berharap dia mau melepaskan diriku begitu saja. Padahal, tenaga dan keahliannya dalam mengunci seseorang di tempat tidur ini, sungguh sangatlah lihai. “Kenapa? Bukannya, kamu sendiri yang berpikiran bahwa kita melakukan sesuatu semalam?” Dia memancing diriku untuk mengatakan sesuatu yang memang sejak tadi sempat terlintas di benakku ini. “Ti… tidak, Ren

