Jihan mulai sakit kepala melihat bagaimana gilanya Alvin berbelanja. Ah! Salah ... sebenarnya bukan hanya Alvin yang berbelanja, tapi dirinya juga mendapatkan masing-masing satu dari setiap barang yang Alvin beli. Tapi tetap saja bukan secara teknis Alvin yang sedang berbelanja. Bukan dirinya. Ia hanya mengekori Alvin dan menyetujui setiap barang yang Alvin beli. Ia setuju pun bukan karena ia tertarik. Tapi ia sudah sangat malas berdebat dan menjadi pusat perhatian orang seperti di beberapa toko yang sudah mereka lewati. “Sayang ... lihat.” Alvin muncul mengenakan sebuah topi berwarna hitam. “Cocok tidak?” Jihan mengangguk kecil. “Cocok.” Alvin tersenyum lebar, “Sini.” Alvin menariknya untuk berdiri di depan sebuah cermin kemudian memasangkan sebuah topi lain yang sama pe

