Satu persatu, cahaya dari api di dalam lentera yang terpaku di dinding mulai menyala secara misterius, bersamaan dengan kiprahnya yang semakin jauh menyusuri koridor gelap tersebut. Kakinya terus membawa tubuhnya ke tempat yang tak dikenalnya. Lorong mulai bercabang, membuatnya harus mengambil salah satu jalan. Irene telah kehilangan jejak lelaki berambut pirang itu sepenuhnya. Ia tersesat. Lorong-lorong sempit dengan jalur yang panjang telah menjebaknya. Jalan yang kian bercabang, membuatnya merasa seakan hanya memutar-mutar di tempat yang sama. Irene mulai berhenti menyusuri lorong. Ia kini berada di depan sebuah pintu kayu yang terpampang di salah satu sisi dinding batuan padat tersebut. Gadis itu kembali menenggak liurnya. Dia meyakinkan dirinya untuk masuk kedalam ruangan yang ada d

