Irene diam mematung di tempatnya berdiri. Ia benar-benar menjaga agar keberadaannya tidak diketahui oleh pria yang baru saja masuk kedalam sebuah tempat yang tersembunyi. Perlahan, kotak perapian kembali bergeser tertutup. Menelan pemuda itu yang sudah memasuki tempat tersebut. Irene mengerjap. Ia ragu dengan apa yang baru saja dilihatnya. Mengapa dia enggan memberi tahu kemana dia akan pergi? Pertanyaannya terlontar di dalam pikiran. Setelah Irene merasa tak ada lagi orang yang berada di ruangan tersebut, ia segera berjalan mengendap masuk kedalam ruang tamu. Ia tidak tahu apakah dengan mengikuti laki-laki tersebut, dirinya masih bisa baik-baik saja. Akan tetapi, rasa penasaran sudah begitu menguasai dirinya. Namun, ketika tubuhnya hendak melewati ambang pintu, sekelebat bayangan menem

