Metode – Delapan

1944 Kata
Kita tidak bisa dihindarkan pada masalah yang ada, jadi yang dilakukan itu mengatasi—bukan melarikan diri.   Beberapa pekan sudah kehidupan Demian dan Mayyada selalu diganggu oleh seorang wanita yang dulu pernah singgah di hati Demian. Sering kali, wanita itu mengirim pesan, menelpon, dan lainnya. Kadang juga mengirim gambar tentang masalalu Demian dengan wanita itu, namun ketika Demian dan Mayyada berfoto bersama dan mempostingnya. Maka wanita itu akan mengirimi Mayyada foto dengan tunangannya. Jadi, ceritanya wanita itu sudah memiliki tunangan namun ketika melihat Demian malah sudah beristri dia malah tak suka. Menurutnya, hanya dia yang harus dicintai Demian. Padahal, ketika Demian masih mengejarnya dia malah berkata, "Kamu cari pengganti aku aja." Namun nyatanya ketika Demian benar-benar jauh dan tak mengharapkannya si wanita itu malah tak menerima itu. Hingga hal konyol pun terjadi. Menelepon Demian berulang kali dengan alasan ingin meminta maaf, namun ketika maaf telah diterimanya. Wanita itu malah mengejek Mayyada bahwa Mayyada tak pantas untuk Demian karena Mayyada masih seperti anak kecil, karena usia mereka yang terpaut cukup jauh dengan Demian. Bahkan wanita mengatakan Mayyada itu matre ketika Demian membelikan sesuatu apapun itu untuk Mayyada. Padahal, Mayyada tak pernah meminta apapun dari Demian—inisiatifnya saja yang ingin membelikan untuk Mayyada. Wanita itu juga berkata bahwa dirinyalah yang lebih cantik ketimbang Mayyada yang biasa saja. "Nggak ganti nomor aja?" ujar Mayyada bertanya pada Demian. Mayyada merasa risih juga lama-lama karena tiada hentinya mantan Demian menghubungi keduanya yang kadang mengaku sebagai orang lain. "Sayang, soalnya udah nggak bisa ganti-ganti. Semua orang cuma tau nomor ini, kalau ganti nanti bikin bingung," jelas Demian menatap Mayyada. "Kamu mau jalan-jalan?" tanya Demian menawarkan pada Mayyada untuk menghilangkan penat. "Boleh," jawab Mayyada antusias, karena telah lama juga tak jalan bareng berdua. Demian yang sibuk bekerja tentunya. "Ya udah, sekarang kamu mandi terus siap-siap," ujar Demian tersenyum tapi tak tersalur pada Mayyada, dia malah tampak malas. "Nggak usah mandi, ya. Dingin!" Mayyada memelas pada Demian yang langsung menggeleng tegas. "Mau aku mandiin?" tawar Demian menyeringai. Mayyada bergidik. "Nggak perlu dan nggak usah." "Ya udah, sana mandi." Mayyada cemberut. "Nggak usah mandi, sekali ini aja," pinta Mayyada. "Jorok banget," desis Demian mengejek. "Masih wangi kok!" Mayyada mencium bau badannya yang memang masih harum. "Man-di, nggak?" Mayyada menggeleng cepat. "May." "Apa?" "Mandi!" "Nggak mau!" Demian yang tampak geram langsung menggendong Mayyada untuk membawanya ke kamar mandi. "Raja tega!" teriaknya. Demian menurunkan Mayyada di kamar mandi dan segera keluar dengan mengunci pintunya sebelum Mayyada mengikutinya. "Sadis." "Kejam." "Jahat." Kata-kata u*****n itu terlontar begitu saja dari mulut Mayyada yang menggebrakkan pintu kamar mandi. "Buruan mandi!" teriak Demian. Mayyada mendengkus sebal lalu langkahnya menuju ke arah closed lantas duduk dan bersandar di sana tanpa niatan untuk mandi. Malah ... tertidur. Ck. Lima belas menit sudah Demian menunggu Mayyada tanpa ada suara. "May, kamu udah selese mandinya?" tanya Demian dengan berteriak. Tak ada sahutan apapun hanya keheningan saja. "May, aku buka pintunya, ya," kata Demian lagi lalu segera membuka pintu kamar mandi tanpa pikir panjang. Kalau pun Mayyada belum selesai biarkan saja. Begitu pintu kamar mandi terbuka mata Demian langsung mendapati Mayyada yang tertidur pulas. Membuat Demian membuang napas kesal sekaligus jengah dengan sikap Mayyada yang selalu menguji kesabarannya yang tiada henti. Namun tak tega membangunkan Demian pun segera menggendong Mayyada dan membawanya ke kamar untuk menidurkan Mayyada di kasur. Setelah itu Demian mencium kening Mayyada lalu menatap perut Mayyada yang buncit—berisi buah cintanya. Calon anaknya. Demian mengusap perut Mayyada dengan sayang. "Baik-baik di dalam sana, ayah selalu menunggumu." Demian tersenyum kala merasa ada gerakan dari perut Mayyada lalu mencium perut Mayyada. *** Sore hari Mayyada terbangun dengan entengnya. Empuk. Itulah perasaannya saat ini. Seingatnya, dia tertidur di kamar mandi bukan di ... kasur. Lalu kepalanya memutar mencari keberadaan seseorang. Nihil. Tak ada siapapun.  Mayyada segera beranjak untuk keluar dari kamarnya, matanya langsung menangkap orang yang sedang dicarinya. Demian. Dia sedang menonton televisi—film horor dan sialnya bertepatan saat Mayyada melihat ke arah layar laptop hantu itu muncul membuat Mayyada langsung menutup matanya dan berteriak. "Setan gila!" Membuat Demian terperanjat kaget dan segera memutar kepalanya untuk mencari objek penyebab hormon adrenalinnya berpacu. Saat mengetahui bahwa itu adalah Mayyada, Demian bernafas lega tapi ada sedikit kesal juga. Karena telah membuatnya berjantungan. "Sini." Demian mengajak Mayyada untuk gabung dengannya. Mayyada langsung menggeleng, dia terlalu benci dengan film yang berbau genre horor. Selama hidupnya tak pernah menonton kecuali dengan Demian karena tantangan waktu itu. Demian langsung memindahkan mem-pause lalu mengalihkan pandangannya ke arah Mayyada. "Nggak lagi nonton, sini duduk." Mayyada pun menurut dan segera mendekati Demian dengan duduk bersandingan. Tapi... Demian memencet keyboard yang kemudian film horor tadi terpampang lagi. Saat Mayyada hendak bangkit karena mengetahui Demian mem-pause dengan cepat Demian merangkul Mayyada agar tak lepas dari kungkungannya. "Aku mau mandi," kata Mayyada agar terhindar dari film horor itu. "Nggak usah, katanya masih wangi," kata Demian langsung membuat Mayyada kikuk, takut. "Ta-tapi, ini udah bau asem. Aku mau mandi," kata Mayyada sedikit menghindari tatapannya dari Demian maupun layar. "Nggak usah, nonton film aja," ujar Demian sengaja. Mayyada sedikit pasrah lalu mengarahkan kepalanya ke layar televisi dengan perasaan tegang. Sedangkan Demian yang mengetahuinya tampak tenang dengan senyum yang tersimpan dalam hatinya. Pemeran hantu itu segera muncul lagi membuat Mayyada menegang dengan langsung bersembunyi di lekukan leher Demian. "Matiin aja," lirih Mayyada meminta pada Demian yang tersenyum puas. Demian sangat mengetahui sisi kelemahan Mayyada yaitu hantu dan hewan berkaki. Mayyada sangat membenci keduanya, dari balik sifatnya yang selalu menyebalkan dan terkesan cuek itulah Mayyada yang sebenarnya. Penakut. "Kak, anterin ke kamar mandi," pinta Mayyada setelah sekian lama terdiam karena bersembunyi dari hantu sialan dalam layar tersebut. "Males, ah!" Demian pura-pura tak acuh. "Kak." Mayyada merengek, pasalnya kini Mayyada sedang menahan kencing. Kepalanya masih bersembunyi di lekukan leher Demian. Oke, cukup untuk mengerjai istrinya itu. "Ayo!" seru Demian. Mayyada segera menggandeng Demian lebih tepatnya menyeret Demian untuk mengantarkannya ke kamar mandi. Sebelum masuk Mayyada berkata, "Aku sekalian mandi, jangan ditinggalin." Demian mengangguk saja. Setelah itu Demian duduk di kursi dapur yang memang lokasinya dekat dengan kamar mandi. *** Fyi, alasan Mayyada memanggil suaminya dengan sebutan Kak itu ada artinya. Sebenarnya itu hanya panggilan biasa namun mengandung makna—singkatan kecil berarti Kau, Aku—Kita. Ah, bukan itu juga sih ... tapi Kau Adalah Kamuku. Begitu. Seperti judul lagu. Dia itu bagai mentari yang dapat dimiliki dan  disentuhnya, mentari yang memberikan akan kehangatan yang dimilikinya. Tutur katanya yang selalu membuat jantung Mayyada berdesir hangat. Pelukannya yang selalu dirindukan karena seperti mentari di senja hari. Senyumnya yang menawan membuat hati Mayyada tersentuh akan sengatan hangat darinya. Tatapan matanya yang begitu teduh dan terpancar kedamaian. Gledakk Terang saja Mayyada terperanjat kala mendengar suara dari balik pintu, sepertinya ada yang sengaja melepar sesuatu. Tak ingin penasaran, Mayyada pun segera beranjak untuk melihat ada apakah disana? Begitu pintu terbuka sempurna tatapan langsung tertuju pada bekas kaleng. Keningku mengernyit bingung lantas berjongkok untuk mengambilnya. Mayyada melihat ada tulisan yang tertempel pada bekas kaleng tersebut—ceraikan Demian atau gue akan buat hidup lo sengsara. Mayyada tersenyum sinis, ini orang banci, pecundang, pengecut. Amit-amit. Kemudian ia mengelus perutnya, jangan sampai nurun ke anaknya nanti. Setelah membaca tulisan di kaleng bekas itu, ia segera membuangnya—tak ingin Demian mengetahui akan hal ini. Mayyad akan berusaha selesaikan ini sendiri. Jangan salah tentang Mayyada yang akan takut. Jangan sampai lawan itu mengetahui bahwa kita akan takut dengan ancaman cemennya. Jika itu yang terjadi, maka sebelum berperang kita akan menyerah sebab si lawan sudah mengetahui kita dengan ancaman murahan seperti tadi. *** Sore hari Mayyada segera memasak sebelum Demian pulang dari bekerja. Cukup yang simple saja hanya ayam bumbu sambalado, sambal goreng tahu tempe, cap jay. Jangan dikira karena orang mampu tapi makanannya tak berkelas, bukan itu. Yang penting halal dan bergizi. Bukan begitu? Usai memasak Mayyada segera membersihkan serta merapikan tempat tinggalnya itu agar nyaman untuk disinggahi siapapun. Lelah, iya. Tapi, memang sebuah kewajiban—membantu serta melayani suaminya dengan baik. Karena Demian memang sedang lembur karena ada bongkaran, jadi mereka tidak pulang bareng. Setelah dirasa sudah selesai semuanya, barulah Mayyada mandi agar ketika suaminya pulang dirinya sudah cantik dan wangi. Tak seperti kemarin, sungguh memalukan. Ck. Begitu Mayyada telah selesai mandi dan semuanya, kini ia duduk di kamar sembari bermain ponsel. Sambil menunggu Demian dengan berselancar ke dunia maya untuk menghilangkan penat. Setengah jam berlalu, senja telah tiba. Sangking antengnya, Mayyada sampai tak mengetahui kepulangan Demian yang kini sedang mengendap-ngendap. Demian menutup mata Mayyada dengan kedua tangannya karena posisi Mayyada membelakangi pintu—berganti posisi. "Assalamu'alaikum cinta," ujar Demian berbisik dengan melepas tangannya yang sempat bertengger di mata Mayyada. "Wa’alaikumussalam," jawab Mayyada ketus. Demian langsung mendudukkan dirinya di samping Mayyada dengan menatapnya dari samping. "Kamu kenapa?" tanya Demian "Kenapa, kenapa?" tanya balik Mayyada dengan sedikit melirik Demian. "Kok, ketus gitu?" "Kamu selingkuh, ya?" Mayyada mengarah ke Demian dengan memincingkan matanya. "Selingkuhanku ya kamu," jawaban Demian membuat Mayyada tambah kesal. "Aku istri ke berapa?" Pertanyaan Mayyada membuat Demian bingung, merasa jadi melantur. "You is-one, no istri." Maksudnya kalau istri berarti kan is—adalah sedangkan tri—tiga. Jadi, ambil kesimpulan itu saja. Kalau istri berarti yang nomor tiga, dong, hahaha ini hanya sebuah keisengan belaka saja. Yang is-one cari jawaban sendiri. Mayyada bingung tak jelas apa maksud Demian. "Kamu tadi nyebut Cinta itu siapa? Terus bilang aku selingkuhan kamu itu aku, maksudnya apa?" Cerewetnya istrinya Demian. "Kamu emang cintaku, bukan? Berarti aku emang nggak ada selingkuhan karena cintaku cuma kamu," penjelasan Demian membuat Mayyada melega dengan cengar-cengir. Demian pun melakukan ritualnya seperti biasa—mencium kening dan mengecup bibirnya Mayyada. Sedangkan Mayyada mencium punggung tangan Mayyada. "Apa kabar jagoan?" Demian bertanya dengan mengelus perut Mayyada. Mayyada tersenyum senang, merasa bahagia. "Baik, Bapak," sahut Mayyada menjawab pertanyaan Demian. "Kok Bapak, sih?" Demian tak terima dengan panggilan itu. "Loh! Emang Bapaknya, ‘kan?" kata Mayyada menatap Demian. "Ya emang, tapi masa manggilnya Bapak, sih?" "Pak Camat dipanggil Bapak santai aja, kenapa kamu nggak?" Mayyada Mayyada. "Itu beda ceritanya Mayyadaku, Sayang." Demian jadi gemas sendiri akan sikap Mayyada. Demian mengambil napas sebentar melupakan sifat Mayyada yang selalu menyebalkan. Tak pernah peka apa yang dimaksud Demian. Usia mereka cukup berbeda jauh membuat pikiran yang juga berbeda. "Besok ada acara temen kuliah nikah, lusanya aku mau berangkat ke Jogjakarta selama tiga hari," kata Demian membuat Mayyada menoleh ke arahnya. Itu sebagian dari reward yang diberikan karyawan di tiap tahunnya jadi tidak heran lagi. "Kamu ninggalin aku?" tanya Mayyada. "Yang besok malam kamu harus ikut bahkan fardlu 'ain. Yang ke Jogja aku cuma tiga hari aja," jawab Demian memberikan penjelasan. Mayyada kembali mengingat kejadian siang tadi tentang surat kaleng yang berisi ancaman murahan. Bisa saja tidak adanya Demian membuat orang itu gencar menerornya setiap hari, itu pasti. Tapi, Mayyada tidak takut ditinggal sendirian walau rasanya sulit. Sisi lainnya bukan rasa takut yang ditanggungnya, melainkan akan menanggung rindu. Bagaimana nasibnya jika harus tidur tanpa Demian rasanya akan sulit untuk terlelap. "Mayyada." Demian melambaikan tangannya di depan Mayyada membuat Mayyada geragapan. "Ada apa?" tanya Demian sedikit khawatir. Mayyada tersenyum paksa. "Nggak ada kok." "Ya udah, aku siapin air anget buat mandi," ujar Mayyada beranjak. Sepuluh menit Mayyada kembali dengan membawa secangkir teh untuk Demian. "Diminum tehnya, terus mandi." ujar Mayyada menyerahkan teh ke Demian yang langsung menerima dan meminumnya sedikit. Setelah itu mandi. Sementara Mayyada menyiapkan baju untuk Demian setelah itu mengambil air wudu. Karena waktu maghrib telah tiba. Lalu Mayyada menunggu Demian mandi sesambil menggelar dua sajadah dan memakai mukena. Tak lama Demian telah keluar mengambil baju yang disiapkan Mayyada—baju koko serta sarung. Lalu keluar lagi dan salat berjama'ah dengan istrinya, Mayyada. Setelah salat berjama'ah mereka makan malam bersama.                          
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN