Saling meredam ego, saling mengerti jangan dinego.
Keesokkan harinya Mayyada terbangun lebih dulu dari Demian. Pandangan pertama yang dilihatnya adalah wajah tampan Demian—Mayyada memandanginya tapi lama kelamaan merasa jengkel mengingat kejadian kemarin lantas tangannya mendarat mulus di pipi Demian—Mayyada mencubitnya.
"Awww...." ringis Demian kesakitan akibat cubitan maut.
"Sebel aku sama kamu," ujar Mayyada lalu mencubit lengan Demian yang mengaduh lagi. "Udah punya istri mau-maunya dicium sama cewek lain." Mayyada mencubit pinggang Demian. "Siapa cewek itu?" Dan Mayyada pun telah menangis.
"Iya maaf, aku salah. Cewek itu mantan aku—masalalu aku," kata Demian menghapus air mata Mayyada lalu memeluk Mayyada erat.
“Kamu emang nggak marah sama aku, tapi kamu itu bikin aku marah. Janji lagi jangan gitu,” pinta Mayyada yang langsung direspons Demian dengan anggukan kepala.
Setelah merasa ikhlas, Mayyada pun memilih bangkit untuk bergegas mengambil wudu. Namun, sebelum beranjak Demian mengatakan, “Abis salat nanti kita pulang ke rumah, ya.”
“Aku makmum kamu.” Kemudian Mayyada pun berlenggang pergi.
***
Pukul 10.37
"Masih lama, ya?" tanya Mayyada yang merasa bosan karena matanya tertutup oleh kain hitam. Karena ternyata Demian bukan mengajaknya pulang melainkan ke tempat wisata dan sehabis subuh tertunda pulang Demian mengurung Mayyada di kamar—keluar hanya untuk sarapan saja. Mereka tentu saja ingin memperbaiki hubungan—ralat—Demian menyelesaikan kesalahpahaman dengan kejelasan.
"Sabar, bentar lagi nyampe," kata Demian membuat Mayyada menghembuskan nafas.
"Dari tadi juga ngomong gitu."
"Ini beneran udah mau nyampe, 500 meter lagi. Janji!"
Tak lama mereka pun sampai di tempat tujuan Demian lantas segera membayar parkir kemudian baru membayar tiket masuk dan setelah itu memakai perlengkapan yang telah disediakan oleh pihak tempat wisata yaitu jaket tebal dan sarung tangan.
Demian menuntun Mayyada untuk masuk lalu melepaskan penutup mata Mayyada yang langsung dibuat takjub.
"Kamu seneng nggak, aku ajak ke sini?" tanya Demian yang langsung diangguki Mayyada.
"Upahnya?" Tagih Demian yang tak ingin rugi. Mayyada merogoh tasnya untuk mengambil beberapa uang coin dan diserahkan pada Demian yang melongo. Sedangkan Mayyada langsung mengitari tempat wisata yang dipenuhi dengan es salju. Banyak orang yang menikmatinya dengan bermain, berfoto ria dan lainnya.
Demian mencekal lengan Mayyada yang langsung membuatnya terhenti. "Aku nggak mau kamu dikasih ini." Demian menarik tangan Mayyada dengan menyerahkan uang yang diberikan Mayyada tadi. Mayyada menatap Demian bingung. Bilangnya upah? Batinnya.
"Ya, udah." Mayyada melanjutkan jelajahnya di tempat itu. Demian memberhentikannya lagi. Lalu membisikkan sesuatu di telinga Mayyada.
"Oke, gampang!" Lalu Mayyada melangkahkan kakinya lagi.
"Beneran?" Mayyada mengangguk. "Nggak apa?" Mayyada mengangguk lagi, dia terlalu menikmati suasana itu hingga terhipnotis. Tak konsen apa yang diucapkan Demian jadi hanya mengangguk saja.
“DP-nya cium pipi dulu, ya?” tidak ada salahnya—tapi yang salah tempat mereka.
Setelah puas menikmati wisata tersebut sore hari mereka pun pulang ke kontrakan. Dengan memakan waktu 3 jam perjalanan membuat mereka tiba di rumah pada malam hari lebih tepatnya usai isya’. Karena sebelum pulang mereka mampir ke sebuah tempat makan dan untuk salat.
"May, kamu ingat ‘kan sama janji kamu?" tanya Demian membuat Mayyada menoleh ke arahnya dengan raut wajah yang bingung.
"Janji apa?"
"Tadi pas di tempat wisata," Demian berkata. Namun cepat mengingat bahwa Mayyada takkan tahu maksudnya lalu menjelaskannya, "Kamu mau melakukan apapun."
"Emang mau apa?" tanya Mayyada polos.
"Mau kamu." Mayyada bergidik ngeri dengan langsung menghindari Demian, namun dengan cepat Demian menarik Mayyada hingga terjatuh dipelukan Demian.
***
"Kak!"
"Hemm."
"Kak!"
"Hemm."
"Kak!"
"Apa, Sayang?" Seketika menoleh dengan gerakan gemas. Padahal posisi mereka setempat, tidak berjauhan.
"Kalau dipanggil jangan kayak sapi dong, hemm doang ...." Orang ini mengelus perut buncitnya yang berusia empat bulan.
"Emang maunya kamu, gimana? Aku diem aja, nanti marah," katanya datar juga polos.
"Hiih! Makin lama makin rese ya, efek dicium cabe-cabean jadi kek gini." Tangannya mendarat mulus ke permukaan kulit sang suami.
"Sakit kali," katanya sambil mengusap bekas cubitan maut itu di bagian pipi kiri.
"Iya, maaf ... sengaja." Yang mencubit ikutan mengusapnya lalu mendaratkan sebuah kecupan singkat pada bagian itu.
"Kok sengaja, harusnya ‘kan nggak sengaja. " Mayyada pun terkekeh disusul Demian kemudian.
"May," panggilnya membuat si pemilik nama menoleh dan langsung mencium bibirnya. "Kamu cantik!"
"Dari lahir!!"
"Mayyada Cantika."
"Apa, Mas gantengku?" Posisi mereka saling berhadapan. Mayyada dengan wajah imut-imutnya sedangkan Demian dengan wajah seriusnya.
"Lihat mata aku deh," titah Demian.
"Ada apanya?"
Mayyada mengikuti titahan Demian—menatap mata sang suami yang kemudian berkata, "Ada beleknya." Tangan Mayyada bergerak untuk mengambil lalu mengusapkannya pada kaos yang dipakai Demian. Demian menghembuskan napasnya dengan geregetan, niatnya ngajak romantis selalu gagal dengan tingkah Mayyada yang menyebalkan. Alih-alih Demian malu. Bukan.
Demian langsung berbaring memunggungi Mayyada yang mengeluarkan ekspresi bingung.
"Kak."
"Kak Demian."
"Kamu udah tidur?" Tangan Mayyada mengusap lengan Demian berharap yang dipanggil menoleh ke arahnya lagi.
"Have a nice dream, ya." Mayyada mencium pipi kiri Demian lalu ikut berbaring. Kini mereka saling membelakangi satu sama lain.
Ketika mata Mayyada mencoba terlelap tiba-tiba tangan Demian melingkari perut Mayyada membuatnya langsung berbalik badan dan mencium bibir Demian dengan singkat.
"Jangan ngambekan, dong." Jari Mayyada menari di d**a Demian.
"Kamu ngeselin, sih!" Demian menggesekkan hidungnya ke hidung Mayyada membuat Mayyada tersenyum.
Demian menghentikan aktivitasnya itu beralih menatap Mayyada dengan lekat. "Kamu bisa janji sama aku?"
Mayyada menaikkan alis hingga dahi mengkerut. "Apa?"
"Selalu di sisiku sampai kapanpun, tetap jadi penyempurna hatiku selamanya." Mayyada mengangguk dan tersenyum. Lalu Demian mencium kening Mayyada dengan lama.
"Kak."
"Apa?"
"Nyanyiin lagu, dong." Demian mengangguk.
You're my dream
My sweetest dream
Please babe, don't leave me alone
You're always be...
My happy life...
Demian melirik Mayyada yang telah tertidur pulas membuat sudut bibirnya terangkat membentuk sebuah senyuman lalu Demian mencium kening Mayyada dan tertidur.
***
“Hwek.... hwek.”
Demian masih saja mengalami morning sick di usia kehamilan Mayyada yang menginjak 4 bulan ini. Membuat Mayyada sedikit ada rasa kasihan karenanya, Mayyada yang hamil tapi yang menanggung Demian.
“Hwek.... hwek.”
Mayyada memijat tengkuk Demian dengan pelan. "Aku buatin wedang jahe, ya." Tanpa menunggu persetujuan Demian, Mayyada segera membuatkan wedang jahe untuk Demian.
Demian telah selesai dan kini sedang duduk di ruang makan dengan menunggu Mayyada yang sedangkan membuatkan minuman yang beberapa bulan ini ia konsumsi.
"Ini diminum dulu." Mayyada menyerahkan secangkir wedang jahe pada Demian yang langsung menerimanya.
"Makasih." Mayyada tersenyum menanggapinya.
"Mau sarapan sama apa?" tanya Mayyada menatap Demian. "Aku tadi bikin masakan kesukaan kamu."
Demian meletakkan wedang jahenya di meja samping ia duduk, lalu menatap Mayyada dan menggeleng. "Aku nggak pengin sarapan."
Jawaban Demian membuat Mayyada mendesah lesu. "Aku suapin, ya?" Kemudian Mayyada menawari dan tanpa persetujuan Demian, Mayyada langsung mengambilkan sepiring makanan untuk Demian.
"Aku nggak pengin makan, May." Demian memelas.
"Dikit aja, biar nggak lemes," bujuk Mayyada.
"Ngomongnya dikit ntar disuruh ngabisin." Demian mencebik kesal dengan Mayyada. Karena tiap kali Demian susah makan seperti ini, akhirnya Mayyada memilih untuk menyuapi sang suami. Namun, sering kali mereka debat lantaran Demian yang menolak untuk menghabiskan sementara Mayyada selalu memaksanya dengan janji-janji.
"Janji kali ini nggak!" Demian pun akhirnya menurut.
Dengan telaten dan sabar Mayyada menyuapi Demian. Namun, baru tiga suapan Demian sudah menolaknya.
"Udah, ya." Mayyada mengangguk kali ini lalu menghabiskan sisa makanan Demian tanpa ada rasa jijik sekalipun.
Tiba-tiba ponsel Demian berdering namun diabaikan hingga berkali-kali lalu ada pesan yang masuk ke ponsel Demian membuat Mayyada geram.
"Kenapa nggak diangkat?" tanya Mayyada yang telah selesai sarapan.
"Nggak penting."
Mayyada mengerutkan dahi. "Mantan?" Lalu tersenyum, karena memang mantan sudah dianggap tak penting, bukan. "Riwehnya yang punya mantan."
"Kamu nggak cemburu?" tanya Demian yang mengetahui Mayyada yang tak marah ataupun semacamnya.
"Cemburu kenapa? Kak siapa kemarin? Gama?” Mayyada mempertanyakan. “Sekarang ‘kan udah jadi punya aku," katanya enteng dan tenang.
"Katanya cemburu—"
"Tanda cinta?" sahut Mayyada memotong ucapan Demian lantas tersenyum. "Apa perlu seorang mantan dicemburui, dia masalalu Kakak. Sedangkan aku masa depanmu, bukan?"
Demian tersenyum lantas mengangguk singkat dan mantap. "Apa perlu aku mengangkatnya?" tanya Demian hati-hati.
"Whatever." Mayyada tersenyum selang detik berikutnya ia kemudian berkata lagi, "Kalau diangkat, jelasin baik-baik kasih tau dia Kakak sudah punya istri kalau perlu kirimi dia foto pernikahan kita." Mayyada menjawabnya tanpa beban.
"Nggak usah, deh. Dia emang hama. Biarin aja," ujar Demian dengan mengotak-atik ponselnya agar tak berdering lagi. Silent.
Lalu Demian menatap Mayyada. "Kamu udah minum s**u?" tanya Demian.
"U-udah," Mayyada menjawabnya dengan gugup karena dia berbohong. Karena sejujurnya Mayyada tak pernah meminum minuman eneg itu.
"Kamu bohong, ‘kan?" Demian mengintimidasi Mayyada yang langsung menciut. Mayyada menggeleng cepat.
"Ketahuan banget." Demian mendesis tajam. "Minum s**u, May!"
"Nggak mau." Mayyada menggeleng lalu bangkit dan melangkah pergi dengan segera Demian mencekal pergelangan tangannya.
"Siapa yang suruh pergi?" Demian ikut bangkit lalu menarik Mayyada ke dapur untuk membuatkan s**u. Tanpa membiarkan Mayyada pergi Demian membuatkan s**u Mayyada dengan satu tangannya yang bebas. Demian membuka toples yang menyimpan s**u Mayyada lalu memasukkan ke dalam gelas lalu memberikan air hangat yang ada di dispenser. Setelah itu mengaduk dan memberikannya pada Mayyada.
"Minum!"
"Lepasin dulu," pinta Mayyada membuat Demian langsung menggeleng.
"Minum susunya dulu, baru aku lepas." Mayyada menghembuskan nafasnya sebal lalu meminumnya.
"Abisin susunya." Tambah Demian yang mengetahui Mayyada yang hanya meminum susunya sedikit dan itu belum sampai tenggorokan, Mayyada tak meneguknya.
Tanpa mengindahkan perintah Demian, Mayyada pura-pura menjatuhkan susunya hingga tepat mengenai kakinya yang terkena air panas itu.
"Mayyada!" sentak Demian namun tangannya aktif untuk menggendong Mayyada dibawanya ke kamar, kekuatannya kembali setelah beberap menit yang lalu mengalami mual. "Jangan bandel, kalau disuruh minum s**u ya minum," omel Demian lalu mengambil kotak P3K dan mengobati luka di kaki Mayyada dengan salep bioplasenton. Setelah itu Demian kembali ke dapur untuk membuat s**u lagi yang sebelumnya membersihkan serpihan gelas yang pecah.
"Diminum," Demian berkata lembut agar Mayyada menurut. Tapi Demian tak memberikan gelas s**u itu melainkan meminumkannya. Kali ini Mayyada menurut tanpa membantah dengan meneguk s**u itu hingga tandas, tangannya mencapit hidungnya agar tak merasakan mual. Ketika s**u itu habis Demian langsung memberikan air putih untuk menghilangkan rasa eneg ditenggorokan. Setelah itu Mayyada mendapat kecupan di keningnya.
Kenyang air, dah.