Cemburu itu hal yang wajar, pemburu milik orang itu yang minta dihajar.
Barangsiapa yang tidak sakit hati melihat pasangan bermain mesra di depan mata sendiri.
"Cowok tadi deket banget sama kamu, dia siapa kamu dulunya?" tanya Demian saat Mayyada menikmati martabak dengan mulut yang penuh sehingga kedua pipinya terlihat menggelembung.
Kini mereka sudah berada di rumah kontrakan—lebih tepatnya di kamar. Sebelum menuju alam mimpi Demian dan Mayyada selalu bercerita satu sama lain. Tentang masa depan yang akan mereka lalui bersama.
"Cuma temen."
"Beneran? Tapi, kok deket gitu?"
"Beneran, cuma temen doang." Mayyada meyakinkan Demian.
"Nggak percaya." Tercetak senyum miring di bibir Demian membuat Mayyada menghembuskan nafas pelan.
"Kamu cemburu?" Mayyada tersenyum. "Dia dulu gebetan aku, waktu kencan pertama aku bawa ponakan—eh—dia malah nuduh aku janda." Lanjut Mayyada bercerita.
"Gebetan?"
Mayyada mengangguk. "Nggak percaya?"
"Bukan gitu, sih."
"Terus?"
"Kamu nggak ada mantan?" tanya Demian menatap Mayyada intens.
Mayyada tersenyum kecut. "Boro-boro mantan, baru gebetan aja udah pada kabur."
Alis Demian bertautan. "Kok gitu?"
"Iyalah, keluarga aku pada protektif semua sama aku." Mayyada mendadak sebal mengingat jaman dulu.
"Inget nggak? Bang Chandra sering minta Kak Demi martabak." Demian mengangguk. "Bang Chandra bilang kalau pengin ketemu aku harus bawa martabak, tapi, ya—tetep aja nggak ketemu soalnya aku emang nggak boleh ketemu sama cowok."
Mayyada merangkul pinggang Demian yang terus mendengarkan ceritanya. "Pengin keluar rumah aja harus bawa Chika biar nggak bisa kencan.
Kalaupun nggak bawa Chika, kadang aku suka kabur."
Tercetak senyum bahagia di bibir Demian yang mengelus pipi Mayyada dengan sayang. "Bahagianya aku bisa dapetin kamu," ujarnya.
"Pencitraan."
"Beneran tau!" Demian merangkul pinggang Mayyada. "Kamu nggak tau, ‘kan kalau Papa ngasih tantangan ke aku, nggak boleh ketemu sama kamu."
Ya, soal tantangan itu Mayyada memang tak mengetahuinya. Sebab, papanya tak ingin Mayyada berbuat nekat dengan melakukan hal yang tak diinginkannya. Walaupun tantangan itu tak berakhir sempurna, tapi papa Mayyada sudah mempercayai Demian sebagai menantunya.
Demian menyubit pelan hidung Mayyada. "Dapetin anak gadisnya yang super usil bin nyebelin ini susah."
"Kalau super usil bin nyebelin, ngapain mau?" Mayyada ngambek dengan memunggungi Demian langsung.
"Idih ngambek." Demian membalikkan tubuh Mayyada untuk menghadapnya lagi. "Kamu itu tulang rusuk aku, jadi nggak pernah tergantikan sampai kapanpun. Karena bisa dapet kamu itu juga butuh perjuangan." Seketika pipi Mayyada bersemu merah dan langsung memeluk Demian.
"Kita sayang kamu."
"Sayang kalian."
Lalu mereka pun menuju alam mimpi yang begitu membahagiakan
***
Hari ini Mayyada dan Demian menghadiri acara reuni alumni di kampusnya. Mereka hadir dengan berbarengan. Setelah tanda tangan di buku kehadiran langsung saja Demian dan Mayyada memasuki gedung aula. Di sana sudah ada para junior sebagai peramai panggung. Sesekali mereka saling bertegur sapa dengan orang-orang yang dikenalnya. Karena memang tidak semua alumni hadir—kesibukan mereka—kerja atau hal yang lainnya.
Hingga puncak acarapun dimulai dimana mantan ketua senat senior tampil untuk menyalurkan bakatnya. Dari berbagai angkatan sudah tampil secara bergantian dan acak.
"Bentar ya, aku ke toilet dulu." Izin Demian pada Mayyada yang berada di sampingnya itu menoleh dan mengangguk lalu fokus pada panggung yang berada di depan matanya untuk menanti orang yang akan tampil selanjutnya.
"Kak Gama, tolong naik ke atas panggung, Kak!" panggil MC yang tak lain adalah adik tingkatnya—Vino.
Orang yang dipanggil itu segera naik ke atas panggung dengan rasa percaya diri—no nervous. Bahkan ia melemparkan senyuman pada penonton dan yang menyambutnya hangat.
“Malam, Kak!”
“Malam.”
“Gimana nih, kabarnya?”
“Alhamdulillah, baik.”
“Alhamdulillah. Kak Gama ini lulusan tahun 2015 ya, Kak?”
“Iya, udah lima tahun berlalu nggak kerasa juga.” Kemudian MC—yang tak lain adik tingkat Gama itu mempersilakan untuk menyapa penonton dan memberikan sebuah penampilan.
"Malam semua!! Saya berada di sini akan menyanyikan sebuah lagu dan ini untuk seseorang yang berarti dalam hidup saya dan dia adalah pemilik juga penguasa hati saya." Semua bersorak histeris sedangkan Mayyada terperangah sekaligus terkejut. Demian—mantan ketua senat di kampusnya, suaminya. Ah, maklum saja jika Mayyada tak mengetahui itu. Dia mahasiswa yang kupu—kuliah pulang tanpa peduli siapa ketua senatnya jaman dulu. Hemmm, nama Gama itu didapat dari mana? Apa bisa disimpulkan nama lengkapnya Rega Demian digabung menjadi Gama—kurang nyambung tapi tetap keren. Pemikiran itu terhenti saat suara Demian—Gama menggema dengan merdunya.
Saat itulah Mayyada terpana dengan penampilan yang ditunjukkan padanya. Perfect.
Dibalik awan hitam
Engkau cantik bulan malam
Indahmu melengkapi semesta sejuta bintang
Demian mulai bersuara dengan nada yang beraturan dan penonton telah terhipnotis olehnya.
Kau seperti cahaya lebih terang dari bintang
Sinarmu menyinari di langit Amerika
Kau seperti hujan di musim kemarau
Kau seperti matahari di langit kelabu
Kau seperti kilau berlian di tanganmu
Dan bulan terbelah di langit Amerika
Dan bumi tercipta untuk kau dan aku
Suara riuh tepuk tangan meramaikan suasana, pertunjukan yang Demian tampilkan telah usai. Setelah itu Demian turun dan menghampiri istrinya, namun ketika mendekat ada seseorang yang memberi ciuman membuat langkahnya terhenti. Sedangkan Mayyada, yang tak kuasa melihatnya langsung pergi begitu saja.
Saat berada di luar gerbang Mayyada segera memberhentikan taksi lantas masuk ke dalam taksi tersebut yang sebelumnya diteriaki Demian. "May, buka pintunya!"
"Jalan, Pak!" Setelah mendapat aba-aba dari Mayyada sopir tersebut pun mengemudikan mobilnya.
Tak lama Demian segera mengambil motornya dan mengikuti jejak taksi yang ditumpangi Mayyada. Demian sempat memukul speedometer dan berteriak frustasi. Sementara Mayyada, ia telah dibanjiri air mata di pipinya.
"Pak, tolong cepat sedikit," perintah Mayyada yang sesekali menengok ke arah belakang kemudian melakukan pemesanan pada taksi online yang ditumpanginya. Dan jejak pun menghilang. Saat di lampu lalu lintas Demian harus berhenti karena lampu lalu lintas berubah merah membuatnya mendesah lesu. Tentu saja dengan begitu ia ketinggalan mobil yang ditumpangi Mayyada. Kehilangan jejak.
***
Mayyada bukan pulang ke rumah kontrakan melainkan ke rumah mertuanya. Begitu sampai Mayyada segera membayar sesuai dengan harga yang tertera pada ponselnya dan sebelum memasuki rumah Mayyada menghapus air matanya terlebih dahulu agar tak terlihat usai menangis.
"Ini, Pak!" ujar Mayyada menyerahkan beberapa uang—recehan nominal yang sesuai harga untuk membayarnya.
"Makasih, Bu." Mayyada tak menjawab dan langsung turun begitu saja.
Mayyada menghela napas terlebih dahulu lalu melangkahkan kakinya ke rumah mertuanya. Mayyada mengetuk pintu dan kebetulan langsung terbuka.
"Mayyada!" Seru mertuanya yang mengetahui Mayyada datang tiba-tiba. Mayyada menjabat tangan mertunya dan mencium punggung tangannya.
"Ma, aku boleh nginep di sini, kan?" Izin Mayyada. "Soalnya, Mas Demian lagi sibuk," imbuhnya menjelaskan.
"Ya boleh dong, Sayang." Ibu mertuanya—Susanti mengusap lengan Mayyada dan tersenyum.
"Ya udah, Mayyada langsung ke kamar ya, Bu. Udah capek."
Capek hati, imbuhnya dalam batin.
Bu Santi pun mengangguk. "Ibu mau keluar bentar jemput Ayah, Arga juga lagi keluar. Kamu di rumah sendiri nggak papa?"
"Nggak papa, Bu. Tenang aja." Mayyada tersenyum untuk meyakinkan. "Aku ke kamar dulu."
Lalu Mayyada pun segera ke kamarnya Demian dan langsung mengganti kaos milik Demian yang mungkin akan pas ditubuhnya yang kini sedang mengandung. Setelah mengganti baju Mayyada segera berbaring dan tidur.
***
"Halo, Bu," sapa Demian saat ibunya menelpon.
"Kamu lagi sibuk apa?" tanyanya di seberang sana. "Istrinya keluar rumah bukannya dianter malah sibuk sama kerja. Istrimu lagi hamil."
"Ibu tau Mayyada dimana?" tanya Demian langsung.
"Dia lagi di rumah. Kamu ini gimana, sih? Kalian ada masalah?"
"Nggak ada." Demian langsung memutuskan sambungan teleponnya secara sepihak dan segera menuju ke rumahnya. Walaupun ada rasa lega, tapi Demian mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi. Karena ia ingin segera bertemu dengan istrinya.
Ketika sampai di rumah Demian langsung insting bahwa istrinya sedang berada di kamarnya jadi Demian pun langsung menghampiri Mayyada di kamarnya.
Saat tepat di depan pintu kamarnya Demian mencoba membuka pintu kamarnya yang ternyata tak terkunci. Tanpa pikir panjang Demian langsung masuk. Begitu masuk ke dalam kamarnya, Demian mendapati Mayyada sedang tertidur meringkuk dan bekas air mata yang sudah mengering. Dapat dipastikan bahwa istrinya usai menangis.
Tanpa aba-aba Demian langsung mengganti bajunya dan ikut berbaring di samping Mayyada—memeluk Mayyada.
***
Tengah malam Mayyada terbangun, dirinya merasa haus. Saat hendak bangkit ada tangan yang melingkari perutnya membuatnya tersentak kaget dan langsung menghempaskan tangan itu. Membuat sang empu menjadi terusik dengan sikap itu.
"Ngapain disini?" tanya Mayyada sarkas saat berbalik dan mengetahui Demian yang memeluknya dengan tersenyum senang karena menemukan sang istri.
"Kan, ini rumah Ibu—berarti rumahku juga, dong," tukas Demian menjawab membuat Mayyada terdiam dan langsung bangkit.
"Kemana?" tanya Demian ikut beranjak bangun.
"Bukan urusan kamu." Lalu Mayyada keluar menuju dapur untuk mengambil minum. Namun setelah itu perutnya merasa lapar lantas membuka kulkas untuk mencari makanan yang sekiranya dapat dimakan.
Lalu setelah mendapatkan makanan Mayyada menuju ke ruang keluarga dan duduk di sofa.
Sambil menikmati buah pisang Mayyada menonton televisi yang mungkin bisa menghibur hatinya dengan volume yang kecil tentunya. Tak lama kemudian tertidur di sana.
Demian yang menunggu Mayyada tak kunjung datang langsung keluar kamar. Ketika baru menutup pintu dirinya mendapati Mayyada yang tertidur pulas di sofa ruang televisi.
Demian segera menghampiri dan menggendongnya untuk dibawa ke kamar.