Metode – Lima

1465 Kata
Metode – Lima Pernikahan ini diperankan oleh kita berdua, jadi bisakah kita membentuk tim untuk melakukan perjuangan bersama? Aku dan kamu adalah partner hidup.   Begitu tiba di rumah, Mayyada langsung mengambil air wudu untuk salat isya'. Sebelumnya, ia menyimpan cakwe dalam lemari. Berniat untuk dimakan besok pagi. Seperti biasa, Demian dan Mayyada berjama'ah salat. Ya, selain berperan sebagai suami dan pemimpin rumah tangga—Demian juga harus mengimami salat. Ditambah lagi nantinya akan lahir seorang anak, maka ia harus bisa berperan sebagai ayah. Empat peran itu harus bisa Demian lakukan dengan sebaik mungkin tentunya sesuai dengan kapasitas masing-masing. Begitu selesai mengambil wudu, Mayyada pun menyiapkan peralatan salatnya juga Demian. Menunggu beberapa menit Demian siap mengimami salat dengan Mayyada yang menjadi makmumnya. Setelah mendengar suara iqomah yang dikumandangkan oleh Demian, setelah itu berganti suara tartil bacaan surat al-fatihah. Merdu. Cinta Mayyada untuk Demian meningkat dua kali lipat. Benar-benar menyejukkan hatinya, jadi candu baginya. Selalu merindu ingin mendengarnya selalu. Semoga Demian memang kekasihnya dunia akhirat. Jodohnya sehidup sesurga. Begitu usai salam, Demian langsung menengadahkan tangannya untuk memanjatkan doa bagi sanak keluarganya. Bersyukur atas apa yang dimilikinya saat ini. Dengan bersyukur nikmat akan bertambah, bukan nikmat bertambah baru bersyukur. Begitu selesai, Mayyada pun buru-buru melepas mukenahnya lalu melipatnya dan meletakkannya di tempat semula. Setelah itu ia bergegas mengarungi pulau kapuk, rasa kantuk sudah menderanya. Demian yang melihat Mayyada sudah berbaring itu pun segera menyusulnya. Mengambil posisi disisi lain—sebelah Mayyada. Tak perlu meminta izin Demian langsung memeluk Mayyada dan mencium puncak kepalanya. Padahal Demian tadi ingin meminta haknya sebagai bayaran martabak. Tapi melihat Mayyada yang tampak kelelahan, Demian pun memberi pengertian itu. "Gudnite, my snow wife." Demian mencium puncak kepala Mayyada, sebelum ia benar-benar terpejam untuk menyusul istrinya itu ke alam mimpi. Memang seharusnya pengertian itu diperlukan, tapi jangan hanya minta dimengerti saja melainkan juga memberi pengertian. Ya, bersikap adil dan tahu diri saja, lah. Hubungan itu tak membutuhkan sifat curang apalagi egois. Maka buang jauh sifat buruk itu. *** Kesuksesan bukan dengan adanya jabatan tinggi, akan tetapi kesuksesan itu dengan adanya banyak prestasi. Beberapa hari, hubungan mereka semakin membaik dari sebelum-sebelumnya. Karena Demian kini mengetahui kehamilan Mayyada, ia pun berinisiatif untuk membagi tugas rumahnya. Sedikit membantu, sih. Demian mencuci baju hingga melipatnya ketika kering. Lalu mengepel di tiap pekannya tapi kadang dua pekan sekali. Namun, sebelum itu ia membeli sabun dan pewangi yang menurutnya tak membuat dirinya mual. Sekarang pun, pulang dan pergi bekerja Demian mengantar-jemput istrinya. Sebab, mereka sama-sama pulang pada pukul 3 sore. Selain itu, alasan lainnya adalah Demian melarang Mayyada untuk berkendara sendiri. Sementara Mayyada, ia memasak, mencuci piring dan menyapu. Itu pun terkadang juga dibantu Demian, karena inisiatifnya itu Mayyada semakin cinta. Bagaimana tidak? Suami paket komplit. Tidak hanya menjadi imam dari segala hal, tapi bisa berperan dalam segala hal. "May, udah siapin berkas-berkas aku, belum?" tanya Demian begitu selesai berdandan rapi. Berkas yang dimaksud adalah persyaratan perpindahan rumah sekalian membuat kartu keluarga baru. Yang utama tentu jelas fotokopi KTP lainnya mungkin berkas seperti surat nikah. Hari ini mereka izin cuti bersama, karena ingin segera membuat dokumen keluarga."Udah, ini." tangan Mayyada menjunjung tinggi map warna biru. Demian mengangguk dan tersenyum. "Makasih." Setelah itu Demian mengeluarkan motor matic. "Ada yang ketinggalan nggak, May?" tanya Demian begitu berada di depan teras. "Nggak ada." Berhubung Mayyada menggunakan celana tanpa menyiksa keberadaan-nya, memudahkan Mayyada untuk duduk tanpa ribet dengan posisi nyaman. Memakai helm masing-masing setelah itu mereka siap membelah ruas jalanan. *** Begitu tiba di tempat pengurusan dokumen, mereka langsung diarahkan oleh petugas saat hendak memarkirkan motornya. “Ada perlu apa, Pak?” tanya salah petugas sembari memasang dan memberikan nomor parkir pada Demian yang sontak langsung menerimanya. “Mau urus KK, Pak?” Petugas yang tak diketahui namanya itu langsung mengangguk paham kemudian memberikan arahan pada Demian, kemudian setelah itu motor terparkir dengan benar. Demian membuka jok untuk mengambil berkas yang akan diminta oleh petugas sebagai persyaratan. Baru setelah itu berjalan menuju tempat pengurusan. Sangat ramai pengunjung. “Aku udah keliatan tua, ya?” gumam Demian bertanya. Mayyada menoleh lantas mendongak, ia terkekeh. “Wajar dong, Kak. Kalau dipanggil Pak. ‘Kan, emang mau jadi Bapak.” Usia mereka terpaut hanya 5 tahun saja dengan usia Demian yang menginjak angka ke 28 tahun. Sudah hal wajar kan, seharusnya. Kenapa Demian sensitif hanya masalah panggilan saja. Begitu di depan pintu masuk, mereka langsung disambut oleh satpam yang sekaligus membukakan pintu. Setelah masuk, mereka langsung ditanyai tentang keperluannya. Terang saja, Demian menjelaskan tujuannya ke kantor tersebut. Setelah mendapat arahan yang jelas dan detail, mereka langsung menuju ke ruangan yang akan mengurus bagian administrasi. Dan di sana langsung mendapat formulir dan beberapa berkas yang harus diisinya. “May, kamu yang nulis, ya? ‘Kan, tulisan kamu yang bagus.” Mayyada berdecak namun kemudian ia menerima kertas yang disodorkan Demian, mereka pun mencari tempat untuk duduk sekaligus untuk menulis yang nyaman. Begitu menemukan tempat yang pas, Mayyada langsung mencari pulpen dari dalam tasnya dan menuliskan biodata diri. Setelah dirasa tidak ada yang kurang maupun salah, Mayyada menyerahkan kembali kertasnya kepada Demian yang setelah itu diserahkan ke petugas administrasi. Selang beberapa menit Demian kembali dan langsung mengajak Mayyada pulang, karena berkas akan jadi sepekan kemudian. *** “May, mau apa?” tanya Demian sedikit berteriak. “Nggak ada, kita pulang aja.” Demian pun mengangguk lantas menambah sedikit kecepatan lajunya. Mumpung mengambil cuti, maka ia akan nikmati berdua dengan sang istri. Begitu sampai di rumah, Demian dan Mayyada langsung melepas semua pakaian lantas menggantinya dengan bersih—dari lemari lalu meletakkan di keranjang kotor setelah itu mencuci tangan dan kaki. "Kak, kamu dapat undangan reuni, nggak?" Tanya Mayyada pada Demian yang sedang tidur dipangkuan. Posisi mereka ada di kamar—dengan Mayyada yang bersandar pada tembok sembari mengelus rambut Demian yang masih tampak terlihat hitam legam. "Iya, kenapa?" Jawab Demian sekaligus bertanya. "Nggak apa, cuma tanya aja." Hening "Kak." "Hmmm."  Demian menyahutnya dengan deheman selagi matanya yang tertutup. "Emmm—a,  elusin perutku," kata Mayyada yang langsung membuat Demian beranjak bangun dan menghadap Mayyada. Demian pun merangkul sang istri lalu meletakkan kepalanya di pundak dan memejamkan mata tapi.... "Kak." Panggil Mayyada seraya melirik ke arah Demian . "Apalagi?" "Yang kamu elus perutnya siapa?" Gemas, jelaslah. Mayyada yang minta dielusin—eh adeknya, malah perutnya sendiri yang dielus, nggak  bisa bedain apa, Bambwank! Sudah buncit seperti itu. "Ya, perut kamu-lah," jawab Demian pelan. "Masa perutku kotak-kotak gitu?" kata Mayyada disertai dengan decakan. Seketika matanya Demian pun terbuka dan menatap tangannya. "Eh." Mayyada mendengkus lalu bersedekap d**a. "Yang hamil aku apa kamu, sih?" "Iya, maaf khilaf, Sayang," ujar Demian dengan cengengesan. "Sini, sini. Yang pengin dielus." Lalu tangannya pun bergerak di perut Mayyada yang buncit. "Kak." "Apa, Sayang?" Tangan Demian masih aktif mengelus Mayyada. "Aku pengin martabak telur," ucap Mayyada, entahlah perasaan dulu tak pernah Mayyada mencicipi makanan itu walaupun dulu abangnya sering menyuruh Mayyada membelikannya tapi sekalipun ia tak pernah menyentuh apalagi memakannya. Seketika tangan  Demian pun berhenti. "Kamu pengin martabak?" Mayyada mengangguk cepat. "Oke, aku beliin dulu, ya," balasnya dengan semangat seraya mengacak rambut Mayyada yang tergerai. Lalu ia pun beranjak bangun—mengambil jaket. "Aku ikut." "Nggak usah." "Ikut." "Di rumah aja." "Pokoknya ikut!" Setelah menghembuskan nafasnya dengan kasar akhirnya pun Demian memilih menganggukkan kepalanya pelan. "Pake jaket!" perintahnya. Lalu mereka  pun pergi ke penjual martabak langganan abangnya dulu. *** Sesampainya di penjual martabak Demian dan Mayyada pun memesan martabak yang dibungkus untuk dimakan di rumah. Kalaupun disediakan tempat duduk tapi tetap saja enak dimakan di rumah. "Hai, May!" sapa Ario yang baru saja tiba di tempat yang sama; penjual martabak. Mayyada menyipitkan mata, ia berusaha mengingat dan. "Hai!" sapa balik Mayyada. "Besok jangan lupa dateng ya," ujarnya dan Mayyada mengangguk lantas menjawab, "Pasti." "Mau aku jemput?" Tawar Ario yang tidak mengerti posisi Demian yang sedang menatapnya tajam. "Nggak perlu," jawab Demian cepat dan singkat. Mayyada tak berniat memperkenalkan Demian pada Ario dan itu sengaja. Mengingat dulu dia mendapat predikat janda dari Ario sewaktu berkencan dengan membawa keponakannya. "Oke, sampai ketemu." Ario pun berlangsung pergi dari hadapan Demian dan Mayyada berbarengan dengan martabak pesanan Mayyada yang sudah siap. Saat Mayyada hendak membayarnya, seperti biasa harus berdebat dulu. Sebab, Mayyada menginginkan martabak yang menjadi langganan abangnya. Ya, jadi seperti ini. "Nggak usah bayar, Neng. Abang ikhlas, kok." "Gue juga ikhlas." "Ah, beneran Neng. Nggak usah bayar." Mayyada menarik kasar tangan penjual martabak dan memberikannya selembar uang lima puluh ribu. "Nggak usah, Neng," ujarnya seraya memberikan uangnya pada Mayyada. Demian yang melihat adegan itu pun turun tangan. "Kenapa May?" "Biasa, si tukang songong. Nggak mau dibayarin." Si penjual martabak mengangguk sopan pada Demian. Demian pun meminta uangnya pada Mayyada lalu meludahi uang tersebut dan meletakkan pada dahi si penjual martabak. Setelah itu Demian dan Mayyada pun berlalu. Huh! Kalau saja ada penjual yang seperti itu semua juga mau.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN