Metode - Empat

1969 Kata
Adakah jaminan bersikap romantis memberikan efek harmonis?   Setengah dua belas, jam untuk istirahat. Mayyada yang berada di kantor dengan satu temannya yang di bagian teller itu bergantian untuk salat dzuhur. Dan menunggu pesanannya yang tadi ia chat melalui temannya yang sedang keluar. "Assalamu'alaikum," ucap Selin dengan nada kesal. "Wa’alaikumussalam," sahut Mayyada dengan dahi yang mengerut. Tumben. "Kenapa wajahnya? Kok jutek gitu?" sambungnya bertanya. "Kesel tau, Mbak," ujar Selin sembari duduk di tempatnya. "Si Selin dibentak sama Bu Jannah, Mbak," terang Della yang tadi menemani Selin keluar. "Bukan dibentak, Mbak. Tapi nadanya jutek gitu bikin kesel," timbrung Mayyada. Ceritanya mereka sedang menagih hutang pada salah satu nasabah yang sudah jatuh tempo untuk membayar. Tapi bukannya uang yang didapatkannya melainkan bentakan. Sakit hati. Tentu saja. Bukankah seharusnya hutang itu dibayar lunas, syukur-syukur dilebihkan hitung-hitung sebagai tanda terima kasih. Jika ikhlas tentu dapat pahala. Asalkan tiada unsur keterpaksaan dari salah satu pihak, nanti timbulnya malah menjadi riba. Riba itu haram hukumnya. Mayyada terkekeh. "Sabar," tuturnya. Filla datang. "May, buruan salat gih!" Mayyada menoleh dan mengangguk lantas segera beranjak bangun. Ia melangkah ke arah Selin, menempuk pundaknya. "Sabar, sabar. Orang sabar jodohnya cepet datang," kekehnya. Selepas kepergian Mayyada, Selin meneguk segelas air putih hingga tandas. Dengan niat untuk menghilangkan rasa kesalnya. Beberapa menit kemudian, Mayyada pun selesai dengan kewajibannya. Sembari makan siang ia pun menghubungi suaminya. Me: udah baikan? Menunggu balasan dari sang suami Mayyada menyuapkan nasi padangnya. Sambal ijonya, lele gorengnya bagi Mayyada itu menggoda. Pecinta makanan pedas. Apalagi ketika lagi frustasi, sebal, galau pelampiasan Mayyada yaa memakan makanan pedas. Daripada mulut buat ngomongin orang mending buat makan. Tambah berat badan tak masalah daripada tambah dosa. Suami Mayyada: alhamdulillah, baikan. Ini lg makan abis salat Me: syukur alhamdulillah :* Begitu selesai makan Mayyada meneguk air putih. Kenyang. Lalu ia melanjutkan pekerjaannya. Mengabaikan ponselnya sampai nanti jam pulang tiba. Komunikasi adalah hal terpenting dalam sebuah hubungan. Sesibuk apapun kegiatan luangkan sejenak untuk memberi atau menanyakan kabar. Karena hal itu salah satu yang akan mengawetkannya. *** Usai salat maghrib Demian dan Mayyada makan bersama. Sikap Mayyada biasa saja, masih sama seperti hari-hari sebelumnya—lebih tepatnya sebelum mendapat bentakan dari Demian. Sementara Demian, ia merasa risih tak nyaman. Setelah ini ia tak ingin menahannya lagi, harus selesaikan hari ini juga apapun yang terjadi dan bagaimanapun caranya. "Tadi nggak masak, aku beli lauk ini," jelas Mayyada seraya mengambilkan sepiring nasi untuk suaminya. Lalu menyerahkannya pada Demian. Demian menatap lauk yang dibeli Mayyada—capcay lalu ada tahu goreng tadi pagi dan kerupuk. "Nggak apa, yang penting bisa makan," sahut Demian kemudian dengan tersenyum manis. Setelah mengambil nasi untuknya sendiri, Mayyada pun duduk di sebelah Demian. Kemudian berdoa dan menikmati makanannya. Dalam diam. Demian lebih dulu selesai, ia pun meneguk air putih yang telah dituangkan oleh Mayyada. Lalu menatap Mayyada yang masih menikmati makanannya. "May," panggil Demian setelah sekian lama mengamati istrinya. Mayyada mengalihkan pandangannya guna menatap Demian, tak ingin menyahutnya ia menunggu maksud Demian memanggilnya. "Abis ini jalan-jalan, mau?" Mayyada yang mendengar kalimat itu langsung merasa sebal, seharusnya jika ingin mengajaknya pergi itu bukan seperti itu. Eh, tapi niatnya mengajak apa menawari. Harusnya kata terakhirnya itu, yuk! Bukan—mau? Ya, salam Kak Demian! Niatnya bagaimana. Itu sih, yang membuat Mayyada bingung jadinya. "Niatnya ngajak atau cuma nawarin?" tanya Mayyada kemudian. "Kalau kamu mau. Ayo, kita ke alun-alun kota!" Mendenguslah Mayyada sebelum kemudian berkata, "Terserahmu aja." Dan selesai makan, Mayyada pun mencuci piring bekasnya lalu menyimpan kembali lauk-lauk ke dalam lemari. Setelah itu mengganti pakaiannya untuk pergi jalan-jalan bersama Demian. Sementara Demian sudah siap dengan pakaian santainya. Sesantai apapun baju yang dikenakan Demian tetap saja, pesonanya tak pernah tertinggal. Mungkin dulunya, orang tua Demian sering membacakan surat Yusuf ketika masih dalam kandungan. "Udah siap?" tanya Demian saat mengetahui Mayyada sudah berdiri di hadapannya. Mayyada mengangguk. "Jadi, ke alun-alun?" Alih-alih menjawab, Demian langsung menarik tangan Mayyada lantas menggandengnya. "Pakai motor matic, ya?" "Kayak abis isinya," ujar Mayyada. Demian pun mengeceknya terlebih dahulu, melihat jarum pada speedometer. Benar, tandanya sudah mengarah ke E yang bahkan sudah berkelip-kelip. "Ya, udah. Nanti diisi dulu," ujar Demian. "Suka-suka Kak Demian aja," lirih Mayyada. "Ngomong apa?" Mayyada melebarkan matanya. "Nggak ada," jawabnya kemudian dengan gelengan kepala. Begitu motor matic-nya keluar, Mayyada pun segera mengunci pintu dan gerbang. Kemudian mereka pun bergegas membelah jalanan menuju alun-alun kota. Yang sebelumnya mengisi bensin terlebih dahulu di POM. Dan diam-diam Mayyada melebarkan senyuman tapi buru-buru ia hilangkan, karena motornya diisi full oleh Demian. Girang bukan main, sebab bisa dibisa dikendarainya selama satu pekan ke depan. "Matur suwun, Kak!" bisik Mayyada dalam hati. Dan ketika tiba di alun-alun, Demian langsung mengajak Mayyada naik bianglala. Kebetulan antrian tidak terlalu banyak sehingga memudahkan mereka untuk segera naik dan menikmati keindahan kota dari atas ketinggian. "Mayyada," panggil Demian ketika bianglala mulai berjalan. Mayyada yang tadinya menatap sekeliling dari posisinya—mulai ke atas itu mengalihkan pandangan ke arah Demian. Demian meraih tangan Mayyada. "Maafin, mau?" ujar Demian. "Dosa lho, May. Kalau nggak mau maafin, kamu mau masuk—" Mayyada tahu kemana arah pembicaraan itu langsung memotong. "Iya." Demian mengangkat alisnya. "Yang ikhlas dong, May." "Emangnya aku ikhlas sakit hati karena dibentak?" Mayyada berujar dengan nada jutek. "May!" Mayyada terdiam mendengar sentakan Demian. Seakan sadar dengan ucapannya Demian langsung beralih ke samping Mayyada—memeluknya. "Maaf." Alih-alih menyahut, Mayyada malah terisak dan bersamaan dengan itu bianglalanya macet. Namun mereka tak menyadarinya—malah mereka saling menikmati keheningan itu. "Kamu mau maafin?" Demian berkata setelah beberapa menit telah berlalu. "Asal nggak diulang lagi," sahut Mayyada. "Nggak lagi." Hening kembali merayap diantara keduanya. Dan mereka baru menyadari jika bianglala yang dinaikinya berhenti dengan posisi mereka berada di puncaknya. Tapi, masa bodoh aja. Toh, lagian enak juga di atas pemandangan kota terlihat begitu jelas dari sana. Keramaian, lampu yang berkelap-kelip, perumahan yang berjejer tampak terlihat semua. "Kak." Demian mengendurkan pelukannya lalu melihat wajah Mayyada. Mayyada pun mendongak seraya mengusap sisa air matanya. "Cuma manggil aja." Demian berdecak kesal kemudian memeluk Mayyada erat. "Sesak Kak!" "Biarin, buat kamu yang tukang menyimpan rahasia," ujar Demian. Mayyada mengerutkan keningnya. "Rahasia apa?" katanya sembari melepaskan dirinya kemudian membenahi hijabnya. Demian menggerakkan dagunya ke arah perut Mayyada. Dan Mayyada hanya memperhatikan Demian tanpa tahu maksudnya. "Apa, sih?" Kembali, Demian memeluk Mayyada dan meletakkan tangannya di perut datar Mayyada. "Disini ada apa, May?" Mayyada menundukan kepala dan menatap tangan Demian sejenak. "Ada capcay, tahu sama krupuk. Tadi, ‘kan makan sama itu, Kak." Demian yang gemas dengan jawaban Mayyada itu pun mencium pipinya dengan gemas. "Dasar bumil." "Emang siapa yang hamil?" Mayyada mulai paham dengan pembicaraan Demian langsung menahan senyumannya. "Kak Demi lagi kesel sama bumil apa gimana?" "Iya, dan itu kamu," kata Demian dengan membingkai wajah Mayyada lantas menekan pipinya sehingga seperti mulut bebek. "Masa, sih? Aku hamil, Kak Demi sekarang jadi dukun bayi?" ujaran Mayyada terdengar seperti berkumur jadinya dan itu membuat Demian tertawa. Dilepaskannya tangan Demian dari wajah Mayyada lalu ia memicingkan mata ke arah Mayyada. Sementara Mayyada, ia langsung mengerahkan jari telunjuknya ke pipi Demian lantas mendorongnya pelan. Bianglala mulai berjalan kembali, dengan pelan dan pasti. Sama seperti roda kehidupan. Berjalan terus ke masa depan—waktu pagi kembali pagi lagi. Setelah itu ketika berada di atas angin badai menerpa—bagaikan masalahnya. Sebenarnya, kejadian apapun itu nikmati saja. Apalagi dalam keadaan susah maupun senang tetap harus bersyukur. "Nggak mau kasih konfirmasi?" kata Demian seraya menatap Mayyada kembali. Mayyada tersenyum. "Oke, Bapak pemaksa!" ia mengambil udara lalu mengeluarkannya. "Selamat Bapak, anda mempunyai calon bayi." Demian tersenyum haru seraya memeluk Mayyada. Menghujani Mayyada dengan kecupan mesra. Hatinya merasa sangat bahagia. Amat sangat bahagia. Dari kebahagiaan yang pernah dialaminya, mungkin ini yang paling membuatnya bahagia. Batinnya terus mengucap syukur. "Kak, lepas," pinta Mayyada. "Take me five minutes again." Mayyada langsung mendorong tubuh Demian, bukannya tak nyaman. Tapi bianglala yang dinaikinya sudah kembali berada di bawah dan berhenti, bahkan pintunya juga sudah terbuka. Mayyada tentu saja malu dengan penjaganya. "Bianglalanya udah berhenti, Kak!" gemas Mayyada lalu beranjak keluar dari sana dengan menundukkan kepalanya. Malu tahu, nggak? Seperti orang pacaran yang tengah dimabuk asmara, bermesraan tak kenal tempat lalu ketahuan oleh ayahnya. Takut-takut kena semburan marah atau bahkan dapat cibiran. Anak gadisnya jatuh cinta. Demian yang ditinggalkan Mayyada itu langsung menyusulnya, berjalan cepat dan meraih tangannya. "Sayangku Mayyada," panggilnya. Mayyada menoleh ke belakang dan membelalakkan matanya, Demian memegang tangan wanita lain. "Kak Demian!" Sontak hal itu membuat Demian menoleh ke sebelah kirinya ada wanita lebih tepatnya ibu-ibu bukan Mayyada. Buru-buru ia memundurkan diri dan mengucapkan kata maaf. Lalu mengejar Mayyada yang sudah kembali meninggalkannya. Ternyata Demian salah orang pemirsa! "Mayyada." Kali ini benar sebab ketika Demian meraih tangan tersebut sang empu langsung menyentaknya dengan kasar. Demian kini pun beralih merangkul Mayyada yang memberengut sebal. "Kamu marah, May?" tanya Demian pada Mayyada yang berusaha memberontak—melepaskan dirinya, menjauh dari Demian. "Manggil orang lain aja pakai sayang, aku—istrimu cuma nama aja," sungut Mayyada. Demian terkekeh. "Mayyadaku, Sayang." "Udah kadaluwarsa." "Tapi cintaku nggak." "Idih, gembel!" Demian tak menyahut melainkan ia mencium pipi Mayyada. "Damai, Sayang. Jangan ngambekan mulu, emang kamu mau jadi temannya kambing yang suaranya ngambek-ngambek." Demian langsung mendapat hadiah dari Mayyada berupa pukulan di lengannya. "Embek, Kak embek." "Nah tuh! Jadi, kambing kan sekarang." "Kok ngeselin, sih?" Demian malah tergelak mendengar rajukan Mayyada. Mayyada pun akhirnya meninggalkan Demian, lagi. Ia pergi ke tempat penjual martabak yang ada di dekat taman kota itu. Sementara Demian yang mengetahui jejak Mayyada itu pun mengikutinya. Tiga antrian yang membuat Mayyada harus menunggu. Namun itu tak lama, saat martabak pesanan Mayyada telah jadi saat itu pula Demian sudah berada di samping Mayyada. "Bayarin, Kak. Aku nggak bawa uang," ujar Mayyada sembari menerima kotak isi martabak. Demian pun membayarnya, setelah itu mereka berjalan lagi mencari tempat duduk untuk menikmati martabaknya. Begitu tiba di tempat duduk yang masih kosong, Demian mengambil martabaknya. "Nggak bawa uang kok, beli martabak." "Orang lagi pengin ya nggak apa, dong. Lagian, kan ada Kak Demi," Mayyada berujar dengan entengnya. "Siniin martabaknya, udah manggil-manggil tuh!" pinta Mayyada. "Bayar dulu, dong. Tadi, kan nggak gratis." Demian belum juga memberikan martabaknya pada Mayyada, ia menyimpan martabaknya di sisi lain. "Kan, udah bilang nggak bawa uang, nanti aja atau besok sekalian aku gajian, gimana?" tawar Mayyada seraya hendak mengambil martabaknya. "Oke, nanti aja." Demian tersenyum smirk seraya memberikan martabaknya pada Mayyada. Mayyada mulai menikmati martabaknya, bahkan ia memangkunya tanpa menawarkan sedikit pun pada Demian yang terus memperhatikannya. "Kak mau?" tawar Mayyada, namun kemudian. "Nggak usah, ya. Kan, nggak hamil." Demian mengerjapkan matanya, ia merasa shock. Yang ada di hadapannya ini istrinya, Mayyada. Kenapa menjadi pelit seperti ini. Jika diingat kembali martabak itu yang bayar Demian. Eh, tapi nggak masalah nanti juga terbayar, kan. Lalu Demian menatap Mayyada dengan melebarkan senyumnya. "Habiskan." "Beneran?" Demian mengangguk. "Enak loh, Kak. Tapi emang sebaiknya nggak usah deh, ya. Udah habis. Eh, kalau mau bungkusnya juga nggak apa," cerocosan Mayyada kembali membuat Demian shock. Ia menatap kotak martabak yang ... isinya tinggal dua. Dua. Ini bukan acara lomba dan dalam waktu tujuh menit, isi kotak tersebut nyaris tak ada. Super sekali istrinya ini. Tapi dengan begitu Demian senang, tanpa dipaksa Mayyada akan makan sendiri. Sebab, sebelum hamil Mayyada sulit untuk dibujuk makan seperti anak kecil. Takut badannya gemuk, katanya. Terus nantinya Demian mencari wanita lain. Jaman sekarang ‘kan pelakor tidak pandang bulu, siapa saja direbut. So, Mayyada harus menjaga bentuk tubuhnya agar tetap ideal. Penampilan dan kecantikan pun sama. Tapi walaupun begitu, banyak yang menyangka jika Mayyada masih single bahkan sempat ada yang menjodohkan dengan anak nasabahnya. "Pulang yuk, Kak! Eh, beliin cakwe dulu, ya," ajak Mayyada. Demian menatap Mayyada tak percaya, setelah menghabiskan sekotak martabak yang berisi sembilan potong. Kini meminta dibelikan cakwe. Oke, tidak masalah lagian yang butuh asupan makanan bukan hanya Mayyada tetapi calon anaknya juga. Sabar Demian untuk kebaikan bersama. Gumama Demian.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN