Metode – Tiga

2085 Kata
Cinta itu seperti rabun, tak terlihat jelas bentuk dan wujudnya.   Sore itu tampak begitu terik, Mayyada yang baru saja bangun sedikit terkejut. Sebab, dirinya berada di kamar dan ada tangan yang melingkari pinggangnya. Tanpa berpikir panjang, ia tahu itu tangan siapa dan saat itu juga Mayyada menyentakkannya dengan kasar. Lalu ia beranjak bangun dengan pelan dan saat hendak melangkahkan kakinya, hal itu urung terjadi. Demian memeluk Mayyada dari belakang sembari bergumam, "Maaf." "Lepasin." "Maafin dulu." "Memangnya ada salah?" Demian semakin mengeratkan pelukannya. Takkan membiarkan Mayyada lepas sebelum mendapatkan maaf. Demian lalu memilih diam begitu saja. "Kak," Mayyada memanggil Demian dengan nada kesal, Mayyada berusaha meronta tapi Demian semakin mengeratkan pelukannya. Diamnya Demian membuat Mayyada ingin memaki jika saja yang tengah memeluknya ini bukan suami sendiri. "Aku mau mandi terus salat," terang Mayyada kemudian. Demian melonggarkan pelukannya, lalu berkata, "Yuk, kita jamaah, ya." "Terserah." Demian pun akhirnya melepaskan Mayyada dan ia segera bangkit saat Mayyada beranjak pergi ke kamar mandi. Ia bahkan mengikuti Mayyada. Mayyada yang bingung itu terkejut saat Demian mengikutinya masuk ke kamar mandi. "Kak?" Demian malah terkekeh untuk menyahuti Mayyada dan Mayyada sendiri langsung paham, ia mencoba bersabar dan mengikhlaskan dirinya. Satu jam kemudian. Mayyada dan Demian telah selesai mengerjakan salat asarnya, yang diakhiri Demian dengan doa. Setelah itu Demian menoleh ke belakang, dimana Mayyada yang menatapnya tanpa ekspresi. Demian mengulurkan tangannya dan langsung disambut Mayyada lantas mencium punggung tangannya. Setelah itu Mayyada langsung menarik tangannya pelan, lalu kemudian melipat mukenanya dan meletakkannya di tempat semula. Sementara Demian yang merasa didiamkan oleh Mayyada itu pun memanggilnya, "Mayyada." "Iya." "Masih marah?" Mayyada seketika menatap Demian. "Bukannya, Kak Demi tadi yang marah?" sahut Mayyada. Demian pun bangkit dari posisinya dan menghampiri Mayyada yang menatapnya datar. Lalu Demian menggenggam salah satu tangan Mayyada. "Aku minta maaf." Mayyada bergeming, ia menarik tangannya pelan lalu pergi meninggalkannya. Namun hal itu urung terjadi, Demian mencekal lengannya. Mayyada menghela napasnya. "Aku mau makan, laper," gumam Mayyada. Demian melepas cekalannya dan beranjak merangkul Mayyada. Ia mencium pipi Mayyada. "Love you." Mereka pun akhirnya makan bersama dalam suasana hening. Demian yang bingung dengan cara apalagi agar ia mendapat maaf Mayyada, sementara Mayyada memang memilih diam karena sedang makan. Demian puas dengan masakan Mayyada yang semuanya adalah kesukaannya; sayur asem, sambal terasi, ikan yang diasam manis. *** Langit malam yang gelap serta kilatan petir yang menggelegar membuat Mayyada sedikit berjingkat. Ia membenci suasana seperti ini. Sekarang dirinya sedang berada di kamar, bergelung dengan selimut tebal yang membungkus tubuhnya. Sedangkan Demian, ia sibuk. Entahlah, apa yang disibukkannya Mayyada tak ingin mengetahui itu. Ia masih sakit hati dengan kejadian siang tadi. Tiba-tiba pintu kamar terbuka, Mayyada buru-buru memejamkan matanya—mencoba tenang. Mayyada mendengar suara lemari terbuka, tanpa membuka matanya Mayyada tahu—Demian sedang mengganti pakaiannya; kaos pendek dan celana pendek selutut. Setelah selesai berganti pakaian, Demian pun berbaring di samping istrinya. Ia merapatkan tubuhnya ke arah Mayyada lalu memeluknya. DUARr! Suara gelegar itu membuat Mayyada terperanjat dan refleks memeluk Demian dengan erat bahkan kepalanya ia sembunyikan di d**a Demian. Demian yang merasakan Mayyada memeluknya erat itu mengelus punggungnya lembut hingga Mayyada merasa tenang. "May," panggil Demian. Ia ingin permasalahannya segera terselesaikan, hari ini juga. Tak ingin ada beban untuk hari esok, perjalanan hidupnya masih panjang. Jangan menyimpan benci dalam waktu yang lama. "Apa?" sahut Mayyada kemudian masih menyembunyikan wajahnya di bagian tubuh tegap milik Demian. "Maafin, ya."  "Kenapa minta maaf?" Mayyada bertanya membuat Demian merasa gemas. Terlalu berkelit. Padahal ingin secepatnya masalah ini selesai tapi Mayyada malah pura-pura tak mengingatnya. Demian terdiam sejenak, padahal daritadi mereka melakukan kegiatannya bersama-sama. Seperti biasanya bahkan tadi sempat juga mandi bareng, tapi sikap Mayyada benar-benar tak bisa dipikirkan secara jernih. "Kenapa tadi kamu mau mandi bareng, salat jama'ah, siapin makanan?" tanya Demian sesaat setelah ia terdiam. Ia ingin mengetahui apa yang terjadi dan apa alasannya. "Emang itu kewajiban istri, ‘kan?" Demian melepas pelukannya lalu menundukkan kepalanya guna menatap Mayyada. "Bukan karena udah maafin aku?" "Beda masalah beda solusi," sahut Mayyada. Demian menghela napasnya lantas bertanya, "Terus biar dapat maafmu, aku harus ngapain?" Mayyada tersenyum tipis. "Kita bahas besok aja, aku udah ngantuk." lalu ia sedikit menguap seraya kembali menyembunyikan wajahnya di d**a Demian. "Gudnite, Kak," ucap Mayyada. Demian tak membalas karena ia merasa dongkol dengan tindakan Mayyada. Akhirnya dengan perasaan tak tenang, ia pun menyusul Mayyada ke alam mimpi. Intinya; kewajiban dan permasalahan itu beda teori dan solusi. *** Azan subuh berkumandang, Mayyada terbangun dari tidurnya. Ia segera beranjak keluar kamar untuk menanak nasi, setelah membersihkan beras Mayyada meletakkannya ke dalam rice cooker. Kemudian ia mandi dan mengambil air wudu. Begitu selesai dengan ritualnya, Mayyada pun segera masuk kamarnya. Di sana Demian baru saja membuka matanya dan saat melihat Mayyada yang terlihat segar itu ia segera beranjak bangun. Demian tersenyum melihat Mayyada yang sudah memakai mukenanya. "Tungguin, May. Kita salat jamaah." Mayyada mengangguk untuk menanggapinya. Selepas kepergian Demian yang mensucikan diri dari hadast kecil, Mayyada menyiapkan sarung dan menggelar sajadah untuk Demian. Setelah itu sesambil menunggu Demian yang masih di kamar mandi Mayyada membuka lembaran mushaf; Al-Qur'an yang biasa dibacanya ketika waktu senggangnya kosong. Tapi, bukan berarti Mayyada jarang membacanya sedikit banyak ia selalu menyempatkan waktu dalam sehari untuk membacanya. Karena banyaknya manfaat dari membaca kitab Allah tersebut, salah satunya mendapat rahmat-Nya. Selain itu, penenang hati dikala gelisah melanda. Dan masih banyak lagi manfaat yang bisa didapatkannya. Lantunan tartil dengan cara tajwid yang benar, Mayyada membacanya dengan lirih. Meresapi ayat-ayat yang menyimpan candu baginya, memahami setiap makna yang tertuai. Mendapat selembar bacaan, Demian sudah kembali dengan wajah yang basah oleh tetesan air wudu. Mayyada menatap Demian yang langsung memberikan senyuman padanya. Tapi Mayyada enggan untuk membalasnya dan memilih untuk menutup mushafnya. Lalu meletakkannya di atas meja. Demian pun segera memakai sarung dan kopyahnya setelah memimpin salat subuh bersama istrinya; Mayyada. Mayyada selalu menyukai pemandangan seperti ini, Demian yang memakai sarung dan kopyah lalu mengimaminya salat dengan lantunan tartilnya membuat d**a Mayyada sejuk ketika mendengarnya. *** Ketika Mayyada hendak keluar kamar ia menatap Demian terlebih dulu. Sementara Demian yang ditatap Mayyada itu mengangkat alisnya lantas bertanya, "Ada apa?" "Eumm, mau sarapan apa?" tanya Mayyada kemudian. Demian menatap Mayyada lembut. "Sayur sop, tahu goreng sama sambal kecap aja." Mayyada mendengarkannya secara seksama lantas mengangguk untuk menanggapi. Setelah itu ia pun pergi keluar untuk mencari penjual sayur keliling. Ya, walaupun ditunggu pun bisa tapi Mayyada memilih untuk menelusuri kompleks perumahan itu sekalian jalan-jalan. Berjarak lima rumah Mayyada menemukan tukang sayur yang sudah dikerumuni oleh ibu-ibu. Mayyada segera merapat agar mendapatkan apa yang dibutuhkannya. "Pak, sayur sopnya ada?" tanya Mayyada langsung begitu ia sudah ada dihadapan tukang sayur yang mengendarai motor. "Ada, Mbak. Butuh berapa?" jawab pak Bung. "Satu aja, sama tahunya ini satu." Mayyada mengambil bungkusan plastik putih yang berisi tahu. "Eum, ada makaroni nggak, Pak?" tambah Mayyada bertanya. Sebelum pak Bung—tukang sayur itu menjawab, ada wanita yang sedang mengandung bertanya padanya. "Mau masak sayur sop, Mbak?" Mayyada menoleh kearahnya lantas memberikan senyuman lalu kemudian mengangguk ramah. Mayyada memang bukan tipe orang yang banyak bicara—cerewet terhadap orang yang begitu dikenalnya. Jadi, hanya menanggapinya dengan begitu simple. Kemudian pak Bung menyahut, "Ini, Mbak makaroninya. Tambah apalagi?" "Eum, udah ini aja, Pak. Berapa semuanya?" Pak Bung itu pun segera menghitungnya. "Sayur sopnya tiga ribu, tahunya tiga ribu terus makaroninya seribu. Jadinya, enam ribu sama seribu. Semua tujuh ribu, Mbak," ujarnya lantas menyerahkan bungkusan plastik pada Mayyada. Setelah membayarnya dengan uang pas Mayyada pun beranjak pergi dan berpamitan pada ibu-ibu di sana yang entah membicarakan siapa, ya sedikit banyak Mayyada mendengarnya. Jelasnya membicarakan orang lain, ck. Bahkan sarapan paginya saja begitu. Gizinya dapat darimana. Saat masuk ke dalam rumah, pemandangan pertama yang ditemukan oleh indera penglihatannya adalah Demian yang sedang menyapu. Owh, bukan hal yang asing baginya. Memang sedikit banyak Demian selalu membantunya untuk membersihkan rumah, salah satunya ya.... menyapu ini. Kak Demian!! Buru-buru Mayyada pergi ke dapur untuk memasak, waktu akan terus berputar jika saja ia tak segera bergerak untuk bekerja—memasak sudah barang tentu nanti ia telat bekerja. Dan sudah pasti dengan perut kosong. Dua buah kentang, satu buah wortel, sehelai seledri dan daun bawang lalu terakhir potongan kecil kubis. Mayyada mengupas dan membersihkannya serta memotongnya. Memasak air terlebih dahulu dan menyiapkan bumbunya; merica, bawang putih dan garam untuk sayur sopnya. Lalu, garam dan bawang untuk menggoreng tahu. Setelah mengulegnya secara bergantian Mayyada pun membumbui tahunya sebelum digoreng. Dan ketika airnya mendidih ia memasukkan wortel dan kentang yang telah dipotongnya. Kemudian, memasukkan kubis, seledri dan daun bawang yang sudah dipotongnya. Sembari menunggu sopnya matang Mayyada meniriskan tahu yang sudah matang. Untung saja kompor yang digunakan Mayyada berisi dua tungku jadi memudahkannya untuk memasak seperti ini. Lalu Mayyada menata tahu tersebut ke dalam piring bersih. Setelah itu beralih ke sayur sop, wortel dan kentangnya sudah empuk. Mencicipi bumbunya, pas. Eum, tambah sedikit penyedap rasa. Perfect. Sambal kecap, Mayyada percayakan pada produk pabrik yang katanya menganggap seperti anak sendiri; bernama Malika. Mayyada memindahkan sayur sopnya ke dalam mangkok besar. Lalu mencuci semua perabotan yang digunakannya dan meletakkan ke tempat semula. Selesai. Menoleh ke arah dinding, pukul 6 lebih. Oke, saatnya siap-siap untuk mengganti pakaian. Begitu selesai, Mayyada berganti mencari keberadaan suaminya. "Kak Demian," panggil Mayyada begitu menemukan punggung suaminya yang berada di pintu gerbang. Disana ada seorang pria yang berusia lebih tua dari Demian, rambutnya sedikit memutih. Oh, itu Pak RT—Isman, namanya. Begitu pak Isman mengetahui keberadaan Mayyada itu meleparkan senyuman—menyapa dan Mayyada pun membalasnya dengan ramah. Bersamaan dengan itu pak Isman pun berpamitan dengan menganggukkan kepalanya sopan. Yeah, tak selalu yang muda menghormati yang tua. Tapi juga begitu sebaliknya. Karena itulah cara menghargai orang dengan baik. "Jum'at nanti ada acara pengajian di desa sebelah. Setiap rumah diminta sumbangan konsumsi," beritahu Demian seraya menyerahkan surat yang diberikan oleh pak Isman tadi. Mayyada menerimanya lantas membaca isi surat tersebut secara seksama, tanggal dan waktunya setelah itu membaca bagian akhirnya. NB: tiga nasi kotak dan sepuluh biji makanan ringan. Lalu Mayyada menatap Demian. "Sayur sopnya udah matang, mau sarapan di rumah apa dibawain bekal?" "Sarapan di rumah aja." Mayyada mengangguk saja lalu menyimpan kertas tersebut dan menuju dapur—menyiapkan sarapan. Saat hendak sarapan Demian malah muntah-muntah. Buru-buru Mayyada membantu untuk memijat tengkuk Demian. "Huek, huek.... uhuk-uhuk.." Sembari memijit Mayyada pun bertanya, "Sopnya nggak enak, kah?" Demian diam, menetralkan keadaanya yang mendadak lemas sehabis muntah. Padahal tak ada yang dikeluarkannya selain cairan bening nan kental. Demian memutar tubuhnya pelan, lalu menatap Mayyada dan menggeleng. "Enak kok, tapi nggak tau kenapa mualnya kebangetan hari ini." "Ya udah, nggak usah masuk ngajar dulu. Kita periksa ke dokter," tutur Mayyada lembut. Demian beranjak duduk di kursi makan yang mana disana telah tersaji masakan Mayyada yang sudah direquest-nya subuh tadi. Tapi entah kenapa minatnya untuk menyantap sajian itu menghilang. Sayur sop yang berisi butiran bakso, makaroni juga sosis tampak nikmat hanya dipandang tapi kenapa lambungnya tak memberinya ACC. "Aku anterin ke dokter, ya." lagi, Mayyada menatap Demian khawatir. Yang didapat Mayyada hanya gelengan tak berdaya dari suaminya. "Aku beliin bubur, mau?" Demian hanya menggeleng. Mayyada menghembuskan napasnya pelan, merutuki sifat Demian. Dasar kepala batu, batinnya. Namun detik kemudian ia tersadar seketika ibu jarinya mengusap pelan bagian perut datarnya yang berisi kehidupan lain. Amit-amit jabang bayi, adegan jangan ditiru ya, Sayang. "Aku kasih olesan minyak goreng, mau?" tawar Mayyada tanpa sadar dengan nada gemas dan seketika matanya melebar lalu menutup mulutnya rapat-rapat saat Demian menatapnya. Kepala Mayyada tak sengaja menoleh ke arah dinding, God! Sudah jam 7 lebih. Mayyada dilan—da bingung. Lalu kembali beralih ke Demian yang menatapnya dengan kerutan dahi yang terkumpul jadi satu. "Mau berangkat kerja?" tanya Demian yang tak kunjung dengar ujaran Mayyada. Mayyada tersenyum dengan menunjukkan deretan giginya—seperti iklan pasta gigi. Kemudian menganggukkan kepalanya sebanyak dua kali. "Berangkat aja, nanti aku juga mau ngajar kalau udah mendingan," sambung Demian lagi. Mayyada menatap Demian tak enak hati, istri macam apa dia yang tega membiarkan suaminya tersiksa dengan mual yang tak jelas seperti itu. "Nggak apa, kah?" Demian mengangguk. Mayyada membalas dengan anggukan pula, lalu ia ke kamar untuk berdandan dan memakai hijabnya. Setelah dirasa cukup, Mayyada pun menyelampirkan tas selempangnya di pundak kanan. Mayyada pun keluar kamar dan menghampiri Demian untuk berpamitan. "Aku berangkat dulu, ya. Nanti kalau ada apa-apa Kak Demian tinggal WA aja." "Hati-hati." Mayyada mengangguk. "Assalamu'alaikum." "Wa’alaikumussalam." Mayyada pun berlenggang pergi dan memanasi motor matic-nya terlebih dulu. Setelah itu ia siap membelah jalanan yang hanya ditempuhnya lima belas menit untuk tiba di tempat kerjanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN