Tidak tahu lagi harus bicara apa, dalam kamar mandi yang sebelumnya beraroma wangi menenangkan itu, kini berubah menjadi pengap nan panas. Membuat kepalanya terasa semakin pening. Adik kesayangannya itu masih saja berdiri mematung sambil tertunduk, memainkan jemarinya satu sama lain seperti anak kecil yang sedang sedih setelah melakukan kesalahan. "Apa alasannya kau menolak untuk pulang, Kania? Apa kau takut, jika tidak ada jalan keluar yang bisa kita lewati?" tanya Venia. "Seharusnya kau tidak perlu takut itu, karena aku akan mencari cara bagaimana kita bisa keluar dari rumah ini." Pengolahan nafas dalam-dalam sambil memejamkan matanya kemudian detik berikutnya membukanya, mengayunkan kaki secara perlahan menghampiri sang adik memegang kedua pundak ia ingin bicara dari hati ke hati.

