perkara lipstick

1510 Kata
“Lu cari apa sih, dari tadi krasak-krusuk nggak jelas gitu, puyeng kepala gue lihatnya,” komentar Kartika melihat Khai yang sedari tadi mengeluar dan memasukkan isi tasnya berulang kali. “Lipstick gue! perasaan ada di dalam tas ini tapi kok nggak ketemu,” adu perempuan itu masih dengan aktivitasnya mengacak isi tasnya. “Pekara lipstick doang lu hebohnya udah kaya kehilangan apaan, pakai punya gue aja nih.” “Bukan gitu, masalahnya gue nggak pernah teledor sama barang-barang gue. Udah kebiasaan kalau ada yang hilang satu aja kepikiran parah.” “Masih ada tuh gangguan?” Khai mengangkat bahunya tak acuh. Khai pernah didiagnosa mengidap Hoarding Disorder, atau gangguan kesulitan untuk berpisah dengan barang-barangnya. Tidak terlalu parah memang tapi terkadang membuat perempuan itu terlihat aneh bagi orang yang tidak memahaminya. “Mungkin, masalahnya tuh lipstick masih baru banget sayang aja kalau hilang.” “Astaga Khai, uang lu banyak kali, nggak berseri kalau gue bilang mah! beli lagi aja.” “Masalahnya itu pemberian dari sahabat gue di Singapura, beliau buat khusus untuk gue. Gimana gue nggak ngerasa bersalah banget kalau tuh lipstick beneran hilang?” “Yah kalau emang lu sesayang itu minta lagi aja Khai, bilang aja lipstick yang kemsrin udah habis, kelar kan?” “Nggak solusi Kar, bantuin gue mikir lah minimal bukan solusi yang nggak masuk akal, tuh barang baru dikirim 2 minggu lalu masa udah habis aja.” “Bisa jadi.” Khai tak mengubris ucapan Kartika barusan melainkan mulai gelisah karena tidak bisa memroses ingatannya. “Jangan bilang kalau? Akh sial, kenapa bisa seteledor ini sih? Gimana caranya bisa dapat tuh lipstick kalau gini?” tanya Kartika pada dirinya sendiri dengan memukul kepalanya sendiri. “Lu lagi ngomongin apaan sih Kar? Nggak jelas banget sumpah. Ngapain juga tuh kepala sampai lu pukul begitu, dilihatin orang-orang kita.” Masih dengan raut campur aduknya, Khai berusaha untuk tenang. Bagaimana tidak, kemungkinan terbesar ia menjatuhkan lipsticknya di mobil pria Bernama Alfasya tersebut saat ia mengeluarkan dompetnya. “Khai, kamu kenapa sayang?” itu suara Regian yang baru saja tiba. “Biasa gilanya kumat.” “Kartika!” bentak Khai bertambah kesal dengan sahabatnya satu itu. “Dih beneran gue mah, pekara lipstick hilang lu uring-uringan gak jelas.” Sementara itu Regian hanya geleng-geleng kepala melihat dua sahabat yang sebentar-sebentar berantem setelahnya berbaikan seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya. “Udah ih, nanti aku belikan yang baru, nanti aku yang pilihin.” “Noh denger tuh udah deh nggak usah lu pikirin kita di sini mau happy kali bukan mau lihat wajah kusut lu itu.” kali ini Khai hanya diam saja, sepertinya ia tidak mungkin bisa Kembali memiliki lipstick itu lagi karena kemungkinan besar sudah berpindah tangan. *** Sesampainya di apartemen, Khai masih terus memikirkan kemungkinan lipsticknya terjatuh di mobil pria itu, pria yang membuatnya tidak bisa tidur siang malam memikirkan apakah pria itu benar-benar membuktikan ucapannya, kalau tidak menyentuh dirinya. Dan setelah melakukan pemeriksaan menyeluruh barulah Khai bisa bernapas lega, tapi kini justru lipsticknya lah yang tertinggal pada pria itu. “Kamu lupa kalau masih memiliki orang tua Nisa? Kenapa tidak pernah mengunjungi rumah?” Belum selesai maslaah lipsticknya, pesan singkat dari papinya menambah beban pikirannya malam ini. “Maaf pi, tapi Khai sibuk. Kantor lagi banyak kerjaan.” “Semua orang sibuk Nisa, tapi masih sempat berkumpul dengan keluarga. Sedangkan kamu menghubungi papi saja tidak pernah” Khai tidak berniat membalas pesan dari orang tuanya, dan mengabaikan pesan itu begitu saja. “Akhir pekan kamu harus pulang, atau papi akan jemput paksa kamu.” Khai yang sebenarnya merasa kesal dengan keegoisan papinya hanya bisa menahannya seorang diri. “Baiklah akan Khai usahakan.” “Papi merindukan kamu Nis.” Khai merasa kesal sekaligus sedih membaca pesan papinya, jauh dari lubuk hatinya Khai merindukan pria yang sudah berkepala 6 tersebut, namun ia masih tidak bisa memaafkan papinya itu. *** Ditempat berbeda. Alfasya tampak bersemangat membantu papanya membersihkan halaman belakang. Kebiasaan yang dulu selalu mereka lakukan dihari libur, meski ada orang yang bertugas membersihkan halaman indah ini, namun pak Baskara memiliki sebuah taman yang hanya ia seorang merawatnya. “Al, ambil karung putih itu.” Tanpa membatah Al melakukan apapun yang diperintahkan papanya. “Kenapa kamu peluk?” “Memangnya ini apa pah?” tanya dosen muda tersebut dengan penuh kebingungan. “Itu t**i kambing Al.” seketika Alfasya melempar karung tersebut membuat isinya berserakan. “Kenapa papa nggak bilang kalau ini t**i kambing baju Al putih pa?” “Kamu yang tidak bertanya lebih dulu. Sudahlah lagi pula ini kering.” “Tetap aja pah.” “Yah sudah lah mending kamu bantuin papa kumpulin t**i kambing yang sudah kamu serakin ini.” Setengah terpaksa, Alfasya memunguti kotoran kambing yang memiliki aroma cukup menyengat pada indera penciumannya. Setelahnya keduanya melanjutkan kegiatan masing-masing. Tak berselang lama, terlihat adiknya membawakan satu nampan berisi makanan kearah kolam renang, sepertinya mereka akan sarapan Bersama di sana seperti dulu. “Enak, pisang kipas buatan mama selalu nikmat seperti biasa dan tidak pernah berubah.” “Itu Putri yang buat, bukan mama.” Seketika Al terbatuk kecil dan menoleh kearah adiknya yang menatap cemberut kearah dirinya. “Apa?” Al diam saja mendapati pelototan tajam dari sang adik. “Al,” panggil mama menyudahi sarapannya. Alfasnya hanya menoleh kea rah mamanya sebagai respon, tanpa berniat menyudahi sarapan pisang gorengnya ditemani segelas teh Melati kesukaannya. “Umur kamu udah hampir 28 tahun bebera bulan lagi, kamu tidak ada kepikiran untuk menikah? Memangnya perempuan di kampus kamu tidak ada satupun yang membuat kamu tertarik?” Al yang sudah sangat hapal dengan pertanyaan mamanya sejak dua tahun belakang hanya bersikap santai. “Tertarik sebatas kagum ada ma, tapi lebih dari itu, Al belum kepikiran sama sekali, tapi bukan berarti Al tidak memikirkan ke arah sana. Hanya saha Al tidak berminat mencari pasangan hidup dari dunia kampus.” Seketika semua orang terdiam tanpa berniat menimpali, mereka paham sekali trauma yang Al rasakan. “Kalau semisal mama sama papa yang bantu cari pasangan kamu bagaimana? Ini tuh bukan pemaksaan kok, tapi sekedar usaha saja.” Al yang terlalu malas mendebat kedua orang tuanya hanya bisa diam memperhatikan keduanya sejenak. “Baik lah.” “Serius Al?” ini pertama kalinya Al mau menerima saran orang tuanya. “yah, tapi tetap keputusan ada pada Al, jadi mama sama papa jangan kecewa semisal Al menolak untuk melanjutkan hubungan dengan gadis pilihan mama dan papa.” *** “Nggak mau pi, Khai udah punya pilihan Khai sendiri, jadi papi nggak perlu repot-repot mencari pria manapun .” “Dengarin papi sampai selesai dulu Khai, sebelum kamu menyela ucapan papi.” “Enggak pi, Khai tetap nggak mau meskipun itu hanya perkenalan, Khai sudah punya pilihan sendiri kenapa harus repot-repot bertemu dengan orang lain? Khai nggak mau.” Eolah lupa sedang berbicara dengan siapa, Khai setengah membanting sendoknya ke meja makan. “Maaf Khai tidak bermaksud.” Setelah menenggak minumannya Khairunnisa memilih pergi dari sana, benar-benar pergi meninggalka kediaman orang tuanya, ia telah menepati janjinya untuk pulang, tapi tidak dengan menginap, terlalu banyak kenangan Bersama maminya. “Nih minum dulu, tenangin diri kamu.” Semalam-malamnya, Khai mengunjungi tempat praktek Regian, ia menumpahkan segala kekesalannya pada sang kekasih. “Kamu nggak marah gitu aku bakalan dijodohkan dengan orang lain?” kesal Khai melihat raut tenang dari pria itu. “Bohong kalau aku bilang biasa saja, tapi aku juga nggak bisa berbuat apapun kalau menyangkut papi kamu.” “Sayang,” rajuk Khai tidak percaya. “Jangan menyimpulkan semuanya sendiri, dengar! Kamu itu putri papi mu dan sudah sewajarnya beliau mengingikan kamu mendapatkan yang terbaik. Sementara aku hanya orang lain yang jatuh cinta dengan putrinya, mana bisa aku melarang beliau saying.” “Berarti kamu setuju gitu aku bakalan kenalan sama orang lain? Kamu nggak cemburu?” “Aku nggak bilang gitu sayang. Yah udah aku marah, aku nggak suka, aku nggak suka Ketika papi kamu mengenalkan kamu pada pria lain sementara ada aku yang begitu menyayangi kamu, tapi aku bisa apa? Aku bahkan belum memperkenalkan diri sebagai kekasih kamu.” Kali ini Khai lah yang justru diam, ia tahu betul kalau sebenarnya ia lah yang selalu mengundur-undur waktu setiap Regian menginginkan bertemu dengan papinya. “Kok kamu diam? Aku salah lagi yah?” Khai menggeleng pelan. Ia diam saja Ketika pria itu menariknya ke dalam dekapan pria itu. “Makanya kasih aku kesempatan untuk bertemu dengan papi sebagai kekasih kamu dan memperjuangkan kamu dengan layak.” Belum sempat Khai menimpali terdengar ketukan dari arah pintu luar. “Pak, maaf menggangu. Di luar ada pasien darurat pak.” Momen manis keduanya terhenti Ketika mendengar suara perawat yang menegtuk pintu ruangan Regian. Regian menatap kekasihnya penuh sesal dan berharap kekasihnya memahami tugasnya. “Keluar gih, ada yang butuh bantuan kamu.” “Kamu tunggu di sini yah.” Khai mengangguk paham. Lama menunggu Khai mulai bosan dan memilih untuk keluar melihat sekilas kekasihnya sedang bekerja. Namun sepertinya pilihannya untuk keluar adalah kesalahan, pasalnya ia Kembali melihat sosok pria yang ia kenal sebagai Alfasya tenga bersedekap d**a sedang menunggu seseorang yang sedang Regian periksa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN