Khai memamerkan senyum terbaiknya ketika mendapati Regian yang berjalan kearahnya lengkap dengan snelli yang membuat laki-laki itu terlihat tampan berkali lipat di matanya.
“Tampan banget sih pacar aku.” Puji Khai setelah laki-laki itu mengecup cukup lama puncak kepalanya tanpa sungkan di hadapan Kartika, karena memang mereka sudah saling mengenal satu sama lain.
Sepulang kerja, Khai mengundang Kartika juga Agas untuk merayakan kenaikan jabatannya, hanya saja Agas mengatakan tidak bisa ikut karena sedang memiliki kerjaan lain, alhasil hanya ia dan Kartika yang bisa ikutan, dan tentu saja ia mengajak Regian untuk merayakan pencapaiannya.
“Baru sadar kalau pacar kamu memang tampan?” sela Regian memberikan paperbag berlogokan merek jam tangan yang sangat terkenal.
“Aku nggak sempat pilih-pilih, jadinya asal ambil semoga suka. Aku cukup kaget mendengar kamu naik jabatan kenapa nggak bilang-bilang? Pantes tadi malam kamu ngeyel banget mau pulang cepet.”
“Kan biar kejutan, kamu pulang jam berapa tadi malam? Mata kamu sampai ngitam gitu? Langsung pulang atau melipir dulu?” pertanyaan itu seperti tamparan tersendiri untuk dirinya yang ah sudah lah Khai tak ingin mengingat malam sialan itu lagi.
“Hmm langsung pulang setelah mendapati kamu tidak di sana lagi, aku ke apart kamu tapi nggak ada jawaban apapun, aku masuk apart kamu ternyata kosong yah udah aku balik lagi. Kamu nginap di mana tadi malam?”
“Owh yah, aku nginap di rumah papi, beliau minta aku pulang jadinya gitu aku nggak balik ke apart. Terus kamu mau pesan apa? Aku traktir,” ujar Khai mencoba mengalihkan pembicaraan mereka, dan untungnya, Regian tidak menanyakan yang lainnya, bahkan laki-laki itu semakain intens mencium pipinya gemes.
“Duh panas-panas, prasaan matahari belum satu jengkal di atas kepala, tapi kok udah panas aja sih,” bukannya berhenti Regian semakin memperdalam ciumannya di pipi Khai seolah sedang memanasi Kartika.
“Dih udah kali jijik gue, lihatin pasangan haram modelan kalian.” Mendengar nyinyiran Kartika, Khai hanya tertawa pelan namun tidak menolak apapun hingga pesanan mereka semua datang mereka melanjutkan membahas kerjaan masing-masing.
***
Di apartemennya, Al sedang bersiap-siap menjemput Tasya, sepupunya yang kedapatan lembur diminggu pertamanya bekerja. Pasalanya mobil sepupunya itu belum sampai alhasil dirinyalah yang harus mengantar dan menjemput perempuan tukang ngambekan satu itu.
Langkah Al terhenti ketika mendapati sososk wanita anggun yang dulu sangat ia cintai berdiri tepat di depan pintu apartnya.
“Hai.” Sapa perempuan itu dengan senyumnya yang masih sama lembutnya seperti beberapa tahun lalu, bahkan tampak lebih dewasa dan cantik.
“Boleh aku masuk?” setelah beberapa detik mencerna apa yang diucapkan oleh Reva, tanpa banyak bicara Al menganggukkan kepalanya, dan mempersilahkan perempuan itu masuk ke apartemennya.
Al segera merapikan beberapa keratas yang berserakan di atas meja kerjanya, beberapa target yang diberikan papanya serta bahan penelitiannya.
“Maaf apart aku sedikit berantakan, sebentar aku buatkan minuman tunggulah di sini.” Masih dalam keterkejutan mendapati perempuan yang dulu sangat ia cintai, Al berusaha tetap tenang seolah tidak ada kejadian apapun di masa lalu.
“Kamu apa kabar?” Untuk pertama kalinya, setelah terdiam cukup lama Al membuka suaranya meski dengan perasaan yang masih diliputi tanda tanya.
“Baik.” Mendengar jawaban itu Al hanya mengangguk pelan, ia seperti kembali menjadi remaja, persis seperti pertama kali bertemu dengan perempuan indah di hadapannya ini.
“Bagaimana dengan S2 kamu?” dari sekian banyak topik, entah mengapa lagi-lagi Al menanyakan mengenai pendidikan? Namun justru sepertinya pertanyaannya itu tidak terlalu buruk, terlebih ketika perempuan itu tersenyum.
“pertanyaannya anda sangat akdemisi sekali yah pak dosen?” Al hanya terdiam dengan memamerkan senyum tipis seolah menunggu kelanjutan cerita perempuan itu yang sedang menyeruput minumannya.
“Aku tidak menyelesaikan studiku di Jerman, ditahun ke dua pendidikan ku, papa harus diopname hingga pertengah semester, aku memutuskan untuk balik. 6 bulan lalu papa menghembuskan napas terakhir.”
Al membatalkan niatanya untuk menyeruput tehnya. “Maaf aku tidak tahu.” Al cukup lega ketika perempuan itu masih bisa tersenyum, meski itu terlihat senyum yang dipaksakan.
“Tapi akhir-akhir ini aku kembali kepikiran untuk melanjutkan cita-cita ku kembali, meski tidak harus di luar negeri, di sini pun pendidikannya sudah sangat baik.” Kali ini Al benar-benar kebingungan harus menjawab seperti apa, pandangan perempuan itu seolah tidak bercerita dengannya, melainkan pada dirinya sendiri.
“Kamu sendiri bagaimana? Pasti menyenangkan bisa bertemu mahasiswi cantik-cantik.”
Kali ini Al tak tersenyum tulus seperti tadi, melainkan ada smirk yang terlukis dari wajahnya. “Aku sudah tidak tertarik dengan mahasiswi ku sendiri.”
Reva adalah mahasiswi tercantik dengan pola pikir yang membuat laki-laki umur 23 tahun yang sedang bekerja sebagai asisten dosen terpukau dan perempuan yang sama membuatnya harus merasakan patah.
“Jadi apa yang ingin kau bicarakan setelah sekian lama akhirnya menemui ku?”
“Aku ingin kita kembali bersama.”
Alfasya terbatuk hebat seketika mendengar ucapan perempuan itu yang tiba-tiba meminta hubungan mereka kembali bersama dengan santainya.
***
Alfasaya berlari kecil memasuki salah satu pusat perbelanjaan yang tampak sudah gelap, bahkan mobilnya pun terparkir di luar, dengan terburu-buru Al menemui adik sepupunya yang pasti sudah ngambek karena dirinya terlalu kemalaman menjemputnya, bahkan para SPG pun sudah mulai pulang.
“Dek, pulang yuk.” Al benar-benar kebingungan menghadapi adik sepupunya satu itu yang tampaknya benar-benar sudah kesal dengan mengabaikan dirinya.
“Sya, kok diam aja dek?”
“Nggak usah, aku bisa pulang naik taksi online.”
“Jangan ngambek dong, mas telat bentar jemput kamu, mas janji besok bakalan jemput tepat waktu, bila perlu mas udah nyampai sebelum kamu pulang.”
“Nggak perlu, besok mobil udah di sini, sana pulang taksi aku bentar lagi sampai.”
“Lho yah jangan, bisa-bisa mas mu kena amuk om sama tante kalau anak kesayangannya aku telantarin, pulang yuk udah malem banget lho ini.”
“Apaan sih, noh taksi gue udah datang, pulang sono.” Belum sempat Al menjelaskan perempuan itu sudah berlari lebih dulu.
“DEK!” Al berteriak ketika mobil CRV hampir menabrak Tasya, mobil yang dikira sebagai taksi pesanannya ternyata salah.
“Mbak kalau mau mati jangan bawa orang lain, masnya juga kalau berantem sama pacarnya jangan di tepi jalan.”
“Iya mas, maafin adik saya yang ceroboh mas, mbak.”
“Udah yuk pulang sama aku ada yang mau aku bicarain sama kamu.”
***
“Apa? Ngapain tuh perempuan datang lagi ke kehidupan kamu? Nggak puas dulu udah ninggalin kamu? Sekarang malah minta balik? Nggak punya muka kali? Terus kamu jawab apa mas?” tanya perempuan itu usai menghabiskan jus pesanannya, sebelum balik Al membawa sepupunya satu itu ke salah satu resto yang buka 24 jam karena sang adik mengeluh kelaparan.
“Aku nggak jawab apa-apa.”
“Nggak usah terima, enak aja dikiranya kamu apaan seenaknya dia aja mutusin terus minta balik?”
“Kalau kamu balikan sama dia, aku adu sama om tante biar mereka yang turun tangan.” Al tidak menimpali ucapan sepupunya itu karena memang ia tidak tahu harus menjawab apa.
“Eh mas, kayanya itu laki-laki tadi deh yang marah-marah karena hampir nabrak, eh kok cewenya beda? Tapi sama-sama mesrah gitu, yang ini lebih lagi.”
Al yang semulanya malas, hanya menoleh sekilas dan bertapa terkujtnya ia ketika melihat laki-laki yang dimaksud Tasya bersama seorang perempuan yang membuat ia harus mandi malam usai menumpahkan muntahnya setelah memancing naluri biologisnya, benar-benar hari yang sial untuknya. Sekilas terpikir olehnya siapa yang mengerjai perempuan itu hingga b*******h seperti itu, buru-buru al menepis pikirannya toh itu bukan urusannya.
“Mas, kamu kok kaya kaget gitu? Jangan bilang kamu kenal sama mereka?”
“Enggak.”
***
“Pak Al.” mendengar namanya dipanggil laki-laki berusia 29 tahun itu menoleh ke sumber suara, ternyata itu adalah suara bu Nia.
“Ada apa bu Nia?”
“Bapak mau pulang? Saya boleh nebeng dengan bapak? Mobil saya masuk bengkel, kebtulan rumah saya searah dengan tempat tinggal bapak.” Mendengar pernyataan barusan, Al hanya diam, ia cukup terkejut mengetahui kalau perempuan itu mengetahui hingga tempat tinggalnya.
“Bapak nggak perlu antar sampai rumah, setelah lampu merah kedua saya bisa naik ojek ke dalamnya.” Setelah menimbang, akhirnya Al menganggukkan kepalanya.
“Baiklah, kalau gitu saya siap-siap sebentar,” ujar bu Nia dengan senyum lebarnya. Al tahu betul senyum apa itu, namun ia memilih bungkam seolah tidak tahu apapun.
“Saya turun lebih dulu, sekaligus mau mampir ke BAK, mengurus sesuatu.”
Selama diperjalanan keduanya diliputi keheningan, bahkan radio pun sengaja Al matikan, karena menurut laki-laki itu menghidupkan radio untuk mencairkan suasana dan ia sedang tidak ingin melakukan hal itu, berharap perempuan itu tidak lagi meminta apapun pada dirinya.
“Kalau saya boleh tahu apa bapak memiliki saudara perempuan?” Al menoleh sekilas sebelum akhirnya mengangguk pelan.
“Punya, saya punya adik perempuan.”
“Begitu kah?” Al tidak mengerti kenapa perempuan itu tersenyum lega dengan jawabannya barusan.
“Saya pikir anda sudah memiliki kekasih ketika saya menemukan lipstick di mobil anda,.” Bu Nia mengangkat lipstick yang entah sejak kapan ada di mobilnya.
“Sayangnya adik saya sedang menyelesaikan program magisternya di luar kota, dan kemungkinan besar itu memang milik kekasih saya yang ketinggalan.” Tentu saja Al sedikit berdusta mengenai kekasihnya.
“Oh begitu yah?” Al menangkap raut sedih dari wajah perempuan di sampingnya, meski begitu Al tidak ingin mengambil pusing dan berharap perempuan itu bisa segera melupakan dirinya.
“Pak Al, 100 meter lagi ada swalayan, saya kelupaan membeli bahan-bahan dapur yang sudah habis. Kalau tidak keberatan saya minta diturunkan di situ saja, nanti saya naik taksi saja.”
“Baik lah.”
***
“Sya, aku pulang yah, mackbook kamu udah bisa digunakan lagi, untung aja semua data-datanya masih bisa di back up dulu, jadinya nggak ada data kamu yang hilang,” ujar Alfasya menyerahkan macbook milik perempuan itu.
“Yeay makasih mas Al udah mau bantuin balikin data-datanya, bisa begadang berhari-hari kalau datanya beneran hilang, kerjaan semua isinya.” Al hanya mengangguk pelan menyeruput kopi miliknya usai mengemas semua barang-barangnya.
“Lain kali jangan lupa selalu back up data, karena nggak ada kata gratis untuk yang kedua kalinya,” ujar Alfasya dengan nada bercanda.
“Oh iya dek, ada barang kamu yang ketinggalan di mobil aku.” Spontan Alfasya melempar lipstick yang disambut oleh Tasya.
“Lipstick? Bukan punya aku.”
“Hah? Terus punya siapa kalau bukan punya kamu di mobil aku?”
“Mana aku tahu mas, tapi yang pasti aku nggak pernah pakai merek ini, warnya juga terlalu lembut aku kurang suka.” Al menatap sekilas lipstick yang sudah kembali berada di tangannya sembari memikirkan siapa tuan dari benda itu, kalau bukan sepupunya lalu milik siapa lagi?