๐๐ช๐น๐น๐ ๐ก๐ฎ๐ช๐ญ๐ฒ๐ท๐ฐ ๐ฐ๐ช๐ช๐ฒ๐ฒ๐ฒ๐ผ๐ผ ๐ฅฐ๐ฅฐ
โฌ๏ธโฌ๏ธ
Wanita yang tidak memakai apapun, hanya selimut tebal yang menutupi sebagian badannya itu tersenyum senang, menatap wajah teduh laki-laki yang ada di hadapannya saat ini yang sedang tertidur
"Beb, ayo lagi" Bisiknya tepat di telinga laki-laki itu dengan sesekali menjilatnya sensual
Ia sudah merangkak memposisikan tubuhnya di atas laki-laki yang menatapnya samar, laki-laki itu sudah membuka matanya, kedua tangannya meraih pinggul wanita yang berada di atasnya
"Aku atau kamu yang di atas"
"Aku la, kan dua ronde tadi udah kamu" Sahutnya tak sabaran mencumbu d**a bidang laki-laki yang memiliki kulit putih pucat
"Shhhh Erinaaa, baru ke gesek aja sama punya kamu adik aku udah tegang begini" Ucapnya yang menggeram, meremas b****g wanita yang ia sebut Erina
Erina melebarkan kakinya memasukkan benda pusaka laki-laki yang berada di bawahnya, "emmmhh" Benda itu sudah masuk dengan sempurna di dalam surga kenikmatan Erina
Pergulatan antara sepasang kekasih itu kian memanas, yang awalnya Erina berada di atas, kini sudah berbalik, laki-laki itu mengambil alih kekuasaan
"Faster baby, come on Geraaald" Erangnya, meminta pada laki-laki yang menjadi kekasihnya bernama Gerald
Tentu, Gerald menghujam Erina dengan segala tenaganya yang tersisa, kasur seakan mengikuti irama pinggulnya yang bergoyang, decitan pada kaki kasur mengalun merdu beradu dengan desahan sepasang kekasih itu, kamar apartemen itu menjadi saksi bisu kisah cinta mereka selama bertahun-tahun
Seakan kurang puas akan permainan mereka, Gerald membalik tubuh Erina membelakanginya menjadi menungging, menarik satu kakik Erina ia letakkan di bahu kirinya, Gerald terus menghujam Erina tanpa ampun
Menarik rambut panjang Erina yang berwarna kecoklatan, membuat wajah cantik itu mendongak ke atas, Erina merem melek merasakan sensasi yang diberikan oleh Gerald kekasih hatinya
Meskipun milik Gerald tidak sebesar milik Rehan suaminya,walaupun tubuh Gerald tidak se atletis Rehan dengan profesi Gerald seorang model internasional, ia lebih menyukai gaya bercinta dengan Gerald yang terbilang cukup kasar
Laki-laki itu kerap melakukan eksperimen yang kadang membuat Erina menjerit kesakitan, menangis meminta ampun atas permainan yang diberikan Gerald, ntah kenapa ia juga menyukai itu
Itu sebabnya jika ia melakukan hubungan badan dengan suaminya selalu meminta ampun atau malah ingin menyudahi, bukan karena Rehan kurang gagah, atau kurang perkasa, tetapi karena Erina terbiasa mendapatkan kekerasan saat melakukan hubungan badan dengan kekasihnya, jadi ia merasa ada yang kurang dengan Rehan
Ya, meskipun Erina mengakui jika milik Rehan itu jauh lebih besar dan berurat, bahkan surga kenikmatan milik Erina saja terasa tidak cukup untuk menampung sangking besarnya milik Rehan
**
Siang ini Ciara tidak ada jadwal kelas susulan, ia sudah free sejak pukul dua belas siang tadi
Ia berinisiatif untuk mengerjakan beberapa tugas-tugasnya di salah satu cafe yang tidak terlalu jauh dari kampus, saat mengajak Jasmine tadi, ternyata gadis itu masih sibuk di lab untuk rekaman ulang medis, akhirnya hanya Ciara saja
Ciara memilih kursi paling pojok, terdapat Kursi panjang yang menurutnya ia memiliki space selama ia berada di cafe tersebut
Lagi pula, pengunjung cafe siang ini tidak terlalu ramai, jadi Ciara sangat bisa sekali memanfaatkan waktunya untuk fokus pada tugasnya
Lagi fokus fokusnya menatap layar laptop, Ciara didatangi salah satu petugas cafe membawa beberapa cake cokelat dan farian lainnya
Ciara celingak celinguk, seakan petugas cafe itu salah memberikan pesanan, "saya tidak memesan cake apapun mbak"
"Atas nama mbak Ciara kan"
Ciara hanya mengangguk, petugas cafe itu tidak salah, nama dalam kertas pesanan itu benar adanya, nama dirinya,. Tapi, ia merasa tidak memesan makanan apapun
"Dimakan aja Ciara, cake di sini enak-enak tau, kamu wajib coba" Ucap Rehan yang datang dari balik punggung Ciara, mencomot salah satu cake yang terhaji di hadapan Ciara
Ciara tidak munafik, ia menyukai cake cokelat, terlebih gratis. Ia merapihkan laptop dan printilan lainnya ke dalam tas ransel yang ia bawa
"Kok udah selesai"
"Tadi mas nyuruh aku makan cake nya, sekarang aku mau makan malah nanyak, gimana si mas Rehan" Ciara yang sudah menutup tasnya membukanya kembali
"Nyebelin banget, niat ngasih gak si sebenarnya"
Gadis itu mendumel sembari mengeluarkan laptopnya kembali, ia kesal sekali melihat Rehan yang sok baik padanya, padahal ia hanya basa basi
"Stop, sini aku beresin, kamu makan cake punya kamu, oke" Rehan mengambil alih semua barang Ciara, menyimpannya pada tempatnya
Ciara menikmati cake pemberian Rehan, sesekali ia menggeleng-gelengkan kepalanya, menandakan cake yang ia makan begitu enak dan sangat nikmat
Sementara Rehan, laki-laki itu duduk santai di hadapan Ciara, menopang dagunya menggunakan kedua tangan
Sadar akan diperhatikan oleh Rehan, Ciara menatap Rehan dan meletakkam cake yang baru saja ingin ia makan, namun belum selesai Ciara memotong cake dengan garpu baru, Rehan lebih dulu mengambil potongan cake yang sudah ada di atas garpu milik Ciara
"Kenapa"
Tanya Rehan memotong cake dengan ukuran yang lebih kecil dari sebelumnya, masih dengan garpu milik Ciara
Ciara hanya menggelengkan kepalanya, ia kembali fokus dengan potongan cake yang baru saja ingin ia beri pada Rehan tadi
"Ini" Rehan menyodorkan cake di hadapan Ciara, Ciara hanya menaikan alisnya, ia bingung harus bagaimana
"Aaaa, buka mulut kamu Ciara"
Rehan lagi-lagi berucap, menempelkan cake cokelat yang sangat lumer di bibir Ciara, mau tak mau Ciara langsung melahapnya, takut kalau cokelat lumer itu jatuh mengenai pakaiannya
Cafe sore ini benar-benar sepi tidak seperti biasanya, posisi duduk Ciara dan Rehan begitu mendukung, jarang terjamah oleh banyak orang jika seperti ini, Orang-orang lebih memilih duduk di bagian depan atau malahan di rooftop
Pukul lima sore Ciara pamit untuk pulang, Rehan mengatakan ia akan mengantar gadis itu, Ciara sudah berusaha menolak, karena ia membawa mobil kesayangannya ke kampus
Rehan tetap dengan pendiriannya, mengatakan pada Ciara kalau orang suruhannya yang akan mengambil mobil Ciara nanti, gadis itu bisa apa kalau sudah seperti ini
Sesampainya di depan pintu gerbang rumah Ciara nyang menjulang tinggi, Rehan menyodorkan ponselnya pada Ciara
Gadis itu menatap bingung pada Rehan dan ponsel laki-laki itu yang masih di tangan rehan, melayang di hadapan Ciara
"Nomor kamu"
"Untuk apa mas" Sahutnya melihat ke arah Rehan
"Ketik aja nomor kamu Ciaraaa" Rehan kembali berucap, tetapi laki-laki itu mengunci pintu mobil kembali, kalau sudah begini, Ciara bisa apa, mau tak mau ia harus mengetikkan nomornya di ponsel Rehan, agar ia bisa segera masuk ke dalam rumah
***
Sorry gais baru bisa update, soalnya aku hari ini ngantuk parah
Keep calm, aku bakal kasih kalian makan sampai kenyang malam ini, hihihi