๐๐ช๐น๐น๐ ๐ก๐ฎ๐ช๐ญ๐ฒ๐ท๐ฐ ๐ฐ๐ช๐ช๐ฒ๐ฒ๐ฒ๐ผ๐ผ ๐ฅฐ๐ฅฐ
"Kamu itu punya pikiran gak si, aku harus ngomong apa sama orang tua dan keluarga aku ha!"
"Iya aku tau, sorry sayang, kemarin malam beneran semuanya gak bisa keluar dari kantor, selesai pemotretan jam delapan. nah, tiba-tiba kru-kru yang lain udah ngeluarin semua bahan makanan yang disediakan. Aku gak mungkin doalng sayang maksain diri untuk pulang, aku menghargai mereka juga" Erina berusaha selembut mungkin menjelaskan pada suaminya itu, mengapa ia tidak bisa ikut bergabung kemarin malam
Dalam kondisi Rehan yang marah seperti ini, ia tidak boleh ikut terpancing, bisa-bisa tamat sudah karirnya nanti
"Halah kamu itu memang pintar beralasan"
"Enggak sayang, memang itau nyatanya"
Erina meraih wajah suaminya yang sudah terdapat bulu-bulu halus bagian jambang Rehan
Mudah bagi Erina untuk menaklukkan Rehan kembali, sentuhan yang seksual serta pakaian yang Erina sangat mendukung untuk meredakan amarah Rehan
Erina mulai menjamah kancing piyama Rehan, dengan lihai jari lentiknya membongkar semua kancing sampai d**a berbulu dan perut sixpack Rehan terpampang jelas
Erina tersenyum manis, seraya menggerayangi tubuh bagian atas Rehan yang sudah telanjang, merasa menang atas kuasanya terhadap suaminya yang satu ini
Ketika Erina sibuk mencumbu nya sampai di bagian pusarnya, Rehan malah menahan tangan Erina
"Aku ke sini mau ganti baju, besok aku ada pertemuan penting sama client di bandung, malam ini aku harus berangkat sama devan" Ucapnya yang memindahkan posisi Erina duduk di tepi kasur
Erina membeku, baru kali ini ia ditolak oleh Rehan secara terang-terangan, apa lagi disaat Erina begitu menginginkannya, rasanya Erina ingin meledak saat itu juga, namun ia urungkan
Kalau Erina mengamuk atas penolakan Rehan barusan, yang ada karir Erina benar-benar selesai detik itu juga, lagian Rehan mengatakan urusan pekerjaan ke bandung, jika sudah keluar kota seperti ini dapat dipastikan jika client suaminya itu sangat-sangat penting. Batin Erina
"Jangan lupa hubungi aku kalau udah sampai sana sayang, love you"
"Love you to" Tidak ada kecupan yang di bales oleh Rehan, ia hanya membalas pernyataan istrinya itu singkat, sebelum ia keluar kamar dengan pakaian terbilang santai dan koper berukuran kecil yang ia bawa
**
Dentuman musik begitu menghentak-hentakkan jantung, jika orang yang tak kuat pasti akan mengatakan sakit sekali jantung ku akibat bas yang diperoleh musik ini, tapi begitulah susana setiap harinya di night club
Rehan benar-benar ke Bandung, ia tidak berbohong atas ucapannya pada istrinya tadi, ia bersama Devan menemui client, pukul delapan malam ia berangkat bersama devan, meskipun jalanan cukup padat serta waktu yang mereka habiskan lebih dari hari biasanya karena ini masih tahun baru tidak membuat keduanya tidak mampir ke salah satu night club yang ada di puncak
Meskipun orang tua Rehan itu terbilang alim, ia tetaplah dirinya sendiri, manusia yang masih tamak akan kenikmatan dunia, sangat pas jika disandingkan dengan teman bernama Devan, Edo dan Sandy. mereka masih tersesat mabuk dunia
Kali ini Rehan tidak memilih privat room untuk mereka duduki, tentu itu dengan Persetujuan Devan, mereka ingin mengulang bagaimana zaman waktu mereka kuliah setiap malam main ke club untuk mabuk-mabukan
Devan memicingkan matanya di ruangan yang begitu temaram, dengan lampu yang terus berkedip kedip, suasana yang begitu riuh
"Bro, itu temen adek lo bukan si" Devan yang bertanya pada Rehan sembari menjulurkan tangannya menunjuk wanita yang sedang bersama keempat teman laki-laki di salah satu meja di club
Mata Rehan mengikuti arah jari telunjuk Devan, dimana, menyuguhkan satu gadis dengan mini dress nya beserta empat teman laki-lakinya
Devan tidak salah lihat, karena apa yang ia lihat sama dengan apa yang dilihat oleh Rehan
"Hallo Ciara, sahabatnya Jasmine kan" Devan yang sudah dihadapan gadis itu, menyapa membuat tawa diantara remaja itu menghilang, memperhatikan kedatangan Devan yang menyapa Teman mereka wanita satu-satunya
Bukannya menjawab pertanyaan Devan, Ciara malah melihat orang yang berdiri di samping Devan, kakak sahabatnya yang sangat-sangat tampan
"Boleh gabung gak"
Belum dijawab pertanyaan pertama Devan sudah melontarkan pertanyaan kedua, tapi kali ini bukan pada Ciara, melainkan pada teman-teman Ciara yang ada di meja itu
Tentu mereka menerima kedatangan Devan dan Rehan dengan suka cita, mereka kan ke night club ini untuk bersenang-senang, terlebih Ciara mengenal dua orang dewasa dihadapan mereka ini, tentu sangat-sangat menerima
Rehan melihat sekilas layar ponselnya yang menyala, jarum jam sudah menunjukkan pukul stengah tiga pagi, tapi belum ada tanda-tanda remaja ini untuk menyudahi acara bersenang-senang mereka, malahan Devan yang terbilang tua ikut-ikutan dalam cirkel teman-teman Ciara
Sekembalinya Ciara pagi tadi dari rumah Jasmine gadis itu sudah di todong teman-teman komplek nya untuk ikut mereka merayakan tahun baru bersama malam nanti
Ciara yang hidupnya tidak seperti Jasmine tentu ikut saja, karena tidak ada larangan baginya, ia hidup bebas di dunia ini selama ia masih mampu menjaga dirinya dan ia senang melakukannya
Malam ini di sebuah club tempatnya di puncak, ia malah bertemu Rehan dan temannya, ntah sebuah keberuntungan ntah apalah menurutnya, tetapi itu satu hal yang perlu Ciara syukuri, terlebih ia bisa duduk bersebelahan dengan Rehan saat ini
Rehan melirik kearah Ciara yang ternyata Ciara juga melirik kearahnya, seakan tertangkap basah Ciara bangkit dari duduknya, berjalan menuju toilet, ia ingin membasuh matanya, untuk menghilangkan rasa kantuk yang sudah tak tertahankan
"Ciara, hayu cepetan balik" Ciara yang baru saja kembali dari toilet sudah di tarik kembali oleh jiwa yang menunggunya sendiri di meja tempat mereka duduk tadi
"Yang lain udah di mobil ji" Tanya Ciara yang mengimbangi langkah kaki jiwa
"Heem"
Sampai di basmen parkiran VIP club, Ciara malah melihat Rehan dan Royan temannya yang mabuk berat
"Loh, yang lain mana ji" Bukannya membantu Jiwa yang sedang kesusahan memasukkan Royan ke dalam mobilnya, gadis itu malah banyak bertanya pada Jiwa
"Udah duluan Ciara, pada mabuk semua, jadi tadi yang nyetirin mobil temennya kakak ini" Jiwa berkata sembari memasangkan sabuk pengaman
"Terus gw balik ke vila sama siapa, sama lo kan, gw gak mungkin ditinggal di sini kan" Gadis itu panik bukan main melihat Mobil Jiwa yang sudah menyala, namun pintu mobil laki-laki itu tidak bisa ia buka
"Sorry Ra, bukan gw gak mau nampung lo, mendingan lo sama kakak ini aja ya, dia masih aman untuk keselamatan lo sampai ke villa, gw juga gatau nasib gw di buat temen-temen laknat lo yang pada mabuk, lagi pula lo cewek sendiri bahaya ra dalam keadaan begini, by ra, gw tinggal duluan ya"
"Titip Ciara kak"
Jiwa yang sudah melajukan mobilnya, berkata panjang lebar dan ditutup menitipkan Ciara pada Rehan
Rehan melirik pada arloji di pergelangan tangannya, sudah pukul tiga dini hari, jika harus mengantarkan Ciara ke alamat vila yang Ciara dan teman-temannya tempati, akan dipastikan ia tidak tidur satu malam, itu akan membahayakan dirinya besok saat bertemu dengan client
"Loh kita mau kemana mas" Tanya Ciara melihat mobil Rehan yang sudah berbelok ke kiri, tidak sesuai arah mobil Jiwa yang tidak terlalu jauh di depan mereka
"Vila"
"Tapi vilanya masih dua puluh menitan lagi mas, lagian jalannya lurus bukan ke sini" Lagi-lagi Ciara bertanya, menatap wajah datar Rehan yang sedang fokus mengemudi
"Di sini juga ada vila"
Bersamaan dengan Rehan berkata seperti itu, mereka sudah sampai di salah satu bangunan yang terlihat jauh lebih elit dibandingkan vila yang Ciara dn teman-temannya sewa
"Mas rehan nginap di sini sama mas Devan" Tanya Ciara yang turun dari mobil mengikuti langkah kaki Rehan kemana laki-laki itu berjalan
"Kamu istirahat di sini saja, aku di sebelah sini"
Ternyata Rehan mengantarkan mereka berdua di salah satu kamar yang terdapat double bed
Awalnya Ciara ingin protes kenapa tidak di kamar yang terdapat satu kamar satu, tapi ya sudalahlah, mungkin Rehan berpikir jika Ciara akan takut jika ia tidur sendirian
"Tidur Ciara" Rehan melihat ke arah Ciara yang masih asik dengan game online di ponselnya
"Gak bisa tidur mas" Ucapnya yang meletakkan ponselnya di kasur
Rehan yang sudah selesai dengan pekerjaannya di laptop, mulai pasang telinga mendengarkan apa yang ingin Ciara ucapkan selanjutnya
"Ciara gak bisa tidur kalau pakai dress begini" Ucapnya lagi membuat bola mata Rehan mengikuti kemana kata benda gadis itu ucapkan
Masuk akal sekali, mana ada orang yang bisa tertidur dengan dress ketat seperti itu. Batin Rehan