“Ma, malam ini makanannya banyak sekali.” Wulan menatap pada meja makan dan ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruang tempat biasanya mereka berkumpul untuk makan. “Ada yang bisa dibantu, Bu?” Wulan menawarkan diri dan mendekati mertuanya. Perempuan paruh baya itu hanya tersenyum lebar. “Ini sudah selesai kok.” “Wulan kamu ambil buah-buahannya, kalau ada yang belum dibersihkan kamu lap dulu!” titah sang nenek yang mengejutkan keduanya. Sekar pun terkekeh. Dia memberi kode pada Wulan untuk segera menuruti saja perintah dari sang nenek. “Baik, Nek.” Anak perempuan itu langsung menuruti saja perintah sang nenek. Di dapur ada beberapa buah-buahan yang memang masih harus dibersihkan. “Bibi tahu ini mau ada acara apa?” tanya Wulan pada Bi Ai sambil berbisik. Akan tetapi saya

