“Aku dengar dari mama, ada yang cemberut sampai menangis seharian tadi,” ucap Reygan saat ia telah berada kembali kamarnya. “Aku tidak menangis sampai seharian, kok,” aku Wulan secara tidak sadar. “Memang orang yang dimaksud mama itu kamu?” Reygan pura-pura baru tahu dari ucapan Wulan. Menantu Dirgantara tersebut tak mampu menyembunyikan rona pipinya. Semburat bahagia bercampur rasa malu itu berusaha ia tutupi dengan menggigit bibir bawahnya. Acara jamuan makan di rumah keluarga Dirgantara masih berlangsung dan dilanjutkan dengan ramah-tamah yang diisi dengan obrolan antar keluarga. Keluarga Pak Hendar dari kampung beserta beberapa tetangga juga diajak oleh Reygan agar berkunjung ke rumahnya. Termasuk tiga gadis yang pernah menjadi asisten Wulan saat ia masih bekerja di klinik desa

