Deva menghentikan mobilnya di tepi danau dekat rumahnya. Dia sengaja memilih tempat itu karena menyimpan kenangan indah. Vera memang mengingat kenangan ini. Namun rasa sakit di tubuh dan hatinya terlalu dalam sehingga tak mampu menikmati pemandangan ini. Ada sebuah bangku di pinggir danau tenang ini. Bangku yang dibangun memang untuk memandang matahari tenggelam. Sore ini.. beberapa menit sebelum matahari benar-benar kembali keperaduannya. Kedua orang ini duduk berdua disana. Deva membuka kantong belanjaan yang berisi kapas, antiseptik, beberapa plaster dan lain sebagainya. Dia dengan lembut membersihkan darah kering dari bibir Vera. "Kamu.. tinggalah di apartemenku dulu nanti, besok kita bisa mengunjungi orangtuamu lagi.." katanya membuka pembicaraan. Vera merasa sakit memandang ke

