“Wil, pastikan jadwal saya kosong saat Valeri datang. Saya sendiri yang akan menjemputnya sendiri dan juga sediakan apartemen untuknya. Bilang saja itu fasilitas dari perusahaan.”
“Baik tuan, akan saya laksanakan. Pesawat Nona Valeri akan mendarat 2 minggu lagi pukul 5 sore.” Wil yang sedari tadi di sebelahku menjawab.
“Tempatkan dia jadi sekretasi saya.”
“Lalu bagaimana dengan saya tuan?”
“Kamu tetap akan jadi sekretarisku. Tapi setelah kakek siuman kamu akan kembali menjadi sekretaris kakek.”
Wil bernafas lega, dia sudah berpikir akan dipecat.
Paginya Valeri bangun dari tidur lalu membongkar kamarnya. Dia memilahkan mana barang yang akan dia bawa nantinya, mana barang yang akan dia simpan dan mana yang akan dibuang.
Dia berpikir, mungkin tidak akan kembali 1-2 tahun kedepan. Jadi merapikan kamar dan membuang yang tidak perlu akan memudahkan mama untuk membersihkan kamarnya nanti.
“Kau sedang apa Val?”
Papa berdiri di muka pintu kamarku.
“Aku lagi beres-beres aja pa. Ada waktu senggang sebelum sidang. Lagi pula sepertinya kamar ini uda sempit.”
“Ayo makan dulu. Mamamu sudah selesai memasak.”
Malamnya Valeri sudah mendapatkan tiket pesawatnya, Moskow. Pusat kota Rusia. Dia akan berangkat 10 hari lagi.
“Pa..ma…uda tidur?.”, aku mengetuk pintu kamar orang tuaku malam itu.
“Belum nak. Masuk sini.”, mama memanggilku dari dalam kamar.
Aku masuk dan mendapati papa sedang duduk bersandar di atas ranjang sambil membaca koran dan mama sedang menjahit baju papa yang sedikit bolong di bagian lengannya.
Aku menghampiri mereka dan merebahkan diri di kaki papa. Sepertinya sudah lama tidak manja-manja seperti ini.
“Tumben anak mama manja begini. Kangen ya karena kelamaan hidup sendiri?”
“Hehe…ga kok ma. Aku malam ini tidur sama papa mama ya?”
Langsung aku merayap dan tidur di antara papa dan mama.
Papa dan mama menghentikan kegiatannya dan ikut merebahkan diri bersamaku.
“Ada apa Val? Papa tau ada yang kamu pikirkan. Semejak kamu pulang, papa lihat kamu banyak termenung.”
“Kalau ada masalah bicarakan.”, mama menepuk-nepuk pantatku seperti waktu masih bayi.
Lama aku terdiam mengumpulkan keberanian untuk mengatakan yang sebenarnya pada kedua orang tuaku.
“Ma, pa, aku dapat pekerjaan. Tapi aku ga bisa tinggal di sini lagi untuk waktu yang lama.”
“Yah papa dan mama bisa tengokin kamu seminggu sekali atau sebulan sekali.”
“Kayanya ga bisa deh pa.”
“Memang kamu kerja dimana sampai papa mama ga bisa datang? Di bulan?”
“Aku dapat kerjaannya di Moskow.”
“APA?!?”, serentak papa dan mamaku berteriak.
“Iya. Aku berangkat 10 hari lagi.”
“No. Mama ga ijinin kamu ke sana. Disana kamu ga kenal siapapun, bahasanya aja kamu ga ngerti.”
“Tapi ma…ini kesempatan aku. Chesnov Industry itu perusahaan terbesar di Eropa ma. Kesempatan ini ga bakal dateng lagi. Pa…boleh ya?”
“Kita omongin lagi besok. Sekarang tidur. Sudah malam.”, papa beranjak dari ranjang untuk mematikan lampu kamar.
Malam itu aku tertidur dipelukan papa dan mama. Tapi yang aku tidak tahu, mereka tidak tidur. Masing-masing dari mereka memikirkan keputusan apa yang harus diambil atasku. Pikiran dan perasaan yang bimbang dan berkecamuk dirasakan mereka dalam diam.
Esoknya papa mama lebih banyak diam, dari memasak, makan, berkebun, dan lain-lainnya. Aku sadar ini keputusan yang berat untuk mereka. Aku hanya duduk termenung di dalam kamarku. “Fixed, aku ga bakal diijinin pergi.”
“Pa, mama ga akan ijinin Valeri pergi. Moskow itu jauh banget.”, mereka mengobrol di taman belakang.
“Tapi Valeri mau ma. Papa lihat dia sungguh-sungguh mau kerja.”
“Emang dia ga bisa kerja disini? Pantas aja kemaren dia beres-beres kamar. Mama udah curiga.”
“Papa sudah periksa, memang itu perusahaan internasional. Masa depan Valeri akan sangat menjanjikan. Dia sudah dewasa, kita sebagai orang tua ga bisa melarangnya untuk berkembang. Kita cuma bisa mendukung dan mendoakan anak kita agar dikelilingi orang-orang yang baik.”
“Kapan kamu pergi?”
Aku terkejut papa memulai pembicaraan saat aku bersiap untuk tidur.
Mereka masuk ke kamar Valeri dan mendapati putrinya selesai menyikat gigi.
“9 hari lagi pa.”
“Memang kamu uda pesen tiket?”
“Uda ma, mereka uda siapin semua sampai penginapan juga.”
“Papa dan mama ijinin kamu pergi.”
“Bener pa?”, aku melihat papa dan mama tidak percaya.
Mama hanya terdiam lalu menangis. Aku langsung menghapiri mama dan memeluknya.
“Baik-baiklah di negeri orang. Pintar-pintar jaga diri dan jangan mepermalukan keluarga.”
Kami saling berpelukan. Aku dan mama sama-sama menangis tapi tidak dengan papa. Mungkin karena papa itu laki-laki jadi tidak bisa menangis.
Besoknya aku pergi ke kampus untuk mengikuti sidang skripsi.
Dengan berpakaian rapi ala orang mau ngelamar kerja aku memasuki ruang sidang. Aku menjelaskan secara garis besar tentang skripsi yang aku buat. Menjabarkan studi kasus yang aku jalani. Dan menjawab pertanyaan dosen-dosen penguji dengan mantap.
Hasil skripsi akan keluar besok di papan pengumuman kampus.
“Kapan lu berangkat?”, aku dan Donny sudah nongkrong di resto.
“8 hari lagi.”
“Cepet ya. Kalo lu pergi gw sama siapa dong? Gw masih 1 semester lagi baru beres.”
“Yah abisnya tiket gw da ada.”
“Gw kumpulin diut lah, gw nanti maen ke sana ya.”
“Sip bro. Gw tunggu."
Valeri merangkul bahu sahabatnya.
Esoknya aku sudah mendapat hasil sidang dan juga sudah memberitahu dosen pembimbingku tentang rencana kepergianku. Tidak lupa mengucapkan terima kasih atas kesempatan dan kepercayaan yang diberikan.
"Selamat. Kau memang salah satu murid berprestasi."
Gadis muda belia itu tersenyum cengar cengir.
"Bawa harum nama universitas dan banyak belajar di sana. Bapak yakin kau pasti akan sukses nantinya."
Aku menjabat tangan dosenku. Kalau bukan karena kakek tua ini, dia tidak akan mendapatkan kesempatan emas seperti ini.
Semua berkas-berkas kuliah yang belum sempat aku ambil nantinya akan dikirim ke rumahku melalui pos, karena aku sudah tidak mungkin mengurus semuanya.
Aku juga sudah berpesan pada papa dan mama, jika ijasahku sudah ada, aku minta dikirimkan ke Moskow untuk melengkapi berkas CV-ku.