BAB VI

1023 Kata
Pagi itu kami sekeluarga sarapan bersama. Papa dan mama terlihat bahagia, apa lagi papa yang tidak ada habisnya membanggakanku. Dia sudah sesumbar pada rekan kerjanya kalau anak satu-satunya akan lulus kuliah. Dan mama, tentu saja pada tante Diana dan teman-teman arisannya. “Pa…ma…kalo aku…misalkan saja…aku dapat pekerjaan tapi mengharuskan aku tidak tinggal di rumah…bagaimana menurut papa dan mama?”, aku memulai pembicaraan. “Ya ga boleh lah. Sudah cukup kamu tinggal di apartemen selama 3 tahun lebih.” “Iya, papa tidak setuju. Tidak apa kamu kerja agak jauh, papa akan belikan mobil nanti.” “Memang kamu sudah dapat pekerjaan?” “Belum ma. Aku cuma tanya aja, misalkan kalau kejadiannya begitu.” Aku melanjutkan makanku sambil berpikir bagaimana cara membujuk papa dan mama kalau lamaranku diterima. “Siang…!!! Valeri…!!!” “Eh nak Donny. Bagaimana kabarnya? Cari Valeri ya? Masuk aja, dia ada di taman belakang sama papanya” “Iya tante. Saya permisi ya.” Donny yang seringkali datang sudah hafal dengan tata letak tiap ruangan di rumahku. “Oi Val.” Tiba-tiba Donny berdiri di belakangku. “Oi…kaget gw. Baru dateng lu?” “Iya. Pergi temenin gw nonton yuk.” “OK. Gw ijin sama papa mama dulu ya. Eh tapi lu uda makan belom? Mau makan dulu ga di rumah gw?” “Makan di mall aja deh. Gw yang traktir.” Sesampainya di mall kami menuju bioskop dan memesan tiket. “Film apa nih?” “Ini nih. Gw mau ajak lu nonton film komedi ini buat ilangin stress karena pusing kuliah.” Kami memesan minuman dan popcorn lalu menonton film komedi itu. Tidak berhenti-hentinya kami tertawa karena film itu benar-benar lucu dengan kekonyolan tokoh utamanya. Setelah kami selesai menonton, “Haha…gila…perut gw sampe sakit ketawa terus. Uda kram nih usus gw.” “Haha…bagus kan film pilihan gw. Eh makan yuk…laper nih abis ketawa kebanyakan.” Kami menuju resto burger cepat saji yang ada di lantai bawah mall. Aku memesan burger paket medium beserta ice lemon tea dan Donny memesan burger paket besar dan soda. “Lu da balik ke rumah, emang skripsi lu da selesai?” “Minggu depan gw sidang.” “Enak ya punya otak encer. Gimana soal kerjaan itu? Uda lamar lu?” “Uda. Tinggal tunggu kabar aja.” “Uda ngomong sama orang tua lu?” “Belom. Nanti aja kalo uda keterima. Kalo uda keburu ngomong tapi ga keterima sama juga boong.” Kami makan sambil melihat orang-orang yang lalu lalang di sekitar resto tempat kami makan, persis seperti orang ga ada kerjaan. “Eh abis ini kita liat komik yuk.”, ajakku pada Donny yang langsung disetujui olehnya. Kami pergi ke toko buku yang masih ada di dalam mall dan menuju rak buku khusus bagian komik. Terlihat banyak orang-orang dari yang dewasa sampai anak kecil, dari berdiri sampai duduk di lantai, mereka sedang membaca komik secara gratis. Istilahnya, ga perlu beli, cukup baca di tempat. Dan itu yang aku dan Donny lakukan. Setelah mendapat komik yang kami mau, aku dan Donny mencari spot nyaman untuk membaca komik. Tidak terasa sudah 2 jam kami membaca komik dan jam sudah menunjukkan pukul setengah 7 malam. “Balik yuk Don. Uda malem.” “Lu mau makan lagi ga sebelum balik?” “Ga. Makan dirumah gw aja. Gw tinggal ngomong sama mama minta di sisain makan buat kita berdua.” “OK sip.” Setelah Donny pulang dan aku selesai mandi, di dalam kamarku aku membuka laptopku. Aku hendak bermain game namun sebelumnya aku memeriksa email yang masuk. Ada 1 email yang membuat aku berdebar, Chesnov Industry membalas emailku. “Kepada Nona Valeri. Selamat berkas lamaran anda sudah kami proses dan anda diterima sebagai karyawan di Chesnov Industry. Untuk tiket, akomodasi, uang saku dan segala keperluanya akan dibiayai oleh perusahaan. Dalam kurun waktu 2 hari kedepan kami akan mengirimkan tiket pesawat kepada anda melalui email. Selamat bergabung di Chesnov Industry. Terima kasih.” “O my God….gw keterima.” tanpa sadar aku berteriak malam-malam. “Valeri…kamu tau sekarang sudah jam berapa? Tidur!” Mama berteriak dari kamarnya. “Gw harus kasih kabar ke Donny.” aku mengetik pesan singkat dan memberi kabar kepada Donny, tidak ada balasan. “Max lagi sibuk ga ya? Aku coba hubungi ah.” aku langsung menekan tombol video call. “Hi Val. Kau belum tidur?” “Hi Max. Maaf apa aku mengganggumu?” “Tidak. Kebetulan aku sedang ada di luar. Ada apa?” Padahal dia sedang meninjau proyek-proyek Chesnov Industry yang sempat terhenti karena beberapa masalah. “Aku ingin memberi tahumu. Aku di terima di Chesnov Industry. 2 hari lagi mereka akan mengirimkan tiketnya.” “Selamat girl. Aku tahu kamu pasti bisa. Kalau begitu aku akan menjemputmu di bandara.” “Tidak usah, aku akan merepotkanmu. Lagipula akan ada yang menjemput nantinya.” “No. Kau tidak merepotkanku. Aku akan mengajak kau berkeliling, kau tidak kenal siap pun disini.” “Kau yakin? Bukan kah kau harus bekerja?” “Tidak apa. Aku ada urusan yang harus dikerjakan disini. Jadi sementara tugas menjaga hutan aku limpahkan pada penggantiku. Aku akan sangat senang bisa bertemu denganmu.” Wil masih setia berdiri di samping Max yang tanpa sengaja melihat ke arah gawai Max. “Bagaimana dengan orang tuamu?” “Aku belum memberitahu mereka.” suaraku seketika itu langsung sendu. “Mereka akan mengerti. Selama ini kau adalah gadis yang mandiri. Kau pasti bisa.” “Terima kasih. Sebaiknya aku tidur. Selamat bekerja Max.” “Bye Val. Mimpi indah gadis cantik.” Valeri tersipu mendengar pujian Max. Terus terang dia menyukai Max. Biasanya orang-orang barat tidak sopan karena tidak mengerti budaya Asia, tapi berbeda dengan Max sikapnya lembut dan tau batasan yang tidak boleh dilewati. Lagi pula tawanya sangat enak didengar, mata birunya….ohhh…benar-benar membawanya terhanyut dalam dunia penuh mimpi. Malam itu Valeri tidur dengan nyenyak, dia senang karena mendapat pekerjaan yang dia impikan dan juga dia bahagia karena Max. Yang bisa dibilang, dia tergila-gila pada wajah rupawannya. Biarlah besok menjadi urusan besok, dia harus mendapat ijin dari orang tuanya. “Selamat malam Max-ku. Biarlah perasaan ini hanya untukku saja.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN